Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch68 Memulai Pelatihan


__ADS_3

Asta meninggalkan Ibukota Hansu menuju ke suatu tempat di Lembah Negeri Batu bersama dengan gurunya, kini mereka sedang berada dalam perjalanan untuk berlatih meningkatkan kekuatannya.


“Sial! Beruang ini kuat sekali, akan cukup sulit untukku mengalahkannya jika aku tak menggunakan seluruh kekuatanku,” batin Asta.


Asta dibuat kesulitan melawan beruang itu yang bisa menahan pukulan yang diperkuat dengan peremuk raga sekalipun hanya dengan satu tangannya, bantalan tangan beruang tersebut seolah-olah menetralisir tekanan dari serangannya.


Beberapa kali Asta terkena serangan beruang tersebut sehingga kemudian ia pun mengaktifkan esensi rohnya dan menggunakan tekhnik dalam kitab dewa api kegelapan yakni api pemakan cahaya untuk menghindari serangannya.


Beruang itu tiba-tiba mengamuk dan meningkatkan kekuatannya lebih-lebih dari sebelumnya.


“Celaka-!!”


“Duarr..!!! Duaarrr..!!! Duaarrr..!!! Duaarrr..!!”


Asta bergegas melompat mundur menghindari serangan tersebut daripada menerimanya secara langsung, namun tetap saja ia mengenainya secara langsung.


“Bahkan serangannya masih melukaiku meskipun aku menggunakan tekhnik merubah tubuhku menjadi api-!! Akh-!!” Tak hanya ritme serangan dan gerakannya yang bertambah cepat namun kekuatan daya serangnya pun benar-benar meningkat drastis, tekhnik api pemakan cahaya tak dapat menahan serangan sekuat tenaga beruang tersebut.


Asta terbatuk-batuk lalu memuntahkan darah segar, darah mengalir deras keluar dari mulutnya, “Uhukk-! Uhuk-!! Uhuk-!! Kau-!! Keparat-!!!” Asta merapatkan giginya lalu mulai menyerang balik beruang tersebut.


Namun seperti yang sebelum-sebelumnya pukulan sekuat tenaga Asta dinetralisir oleh bantalan tangan beruang tersebut. Beruang itu kemudian memukul Asta hingga terpental menabrak beberapa pohon di belakangnya.


“Uhuk-!! Sial-!!”


-----


“Hahahaha....” Zaru dan Ace terlihat sedang menikmati pemandangan waktu bertarung Asta dengan beruang itu.


Disisi lain Flares mengevaluasi kemampuannya untuk mengambil keputusan dalam menyerang yang menurutnya cukup gegabah, tak seperti saat ia bertarung mati-matian dengan Hao Chen.


“Apa yang dilakukannya...?” gumam Flares heran mengapa Asta tak mengeluarkan tekhnik pedangnya.


“Jangan heran kalau dia tak menggunakan pedangnya sama sekali, dia terlihat meremehkannya namun kenyataannya dia tak seperti itu,” ujar Ace memberitahu Flares yang keheranan.


“Bagus! Itulah yang seharusnya muridku lakukan,” Flares tersenyum bangga karenanya.


-----


Kembali lagi pada Asta yang sedang menghadapi hewan ghaib, Beruang Madu Penyendiri.


“Uhukk-! Uhukk-!! Beruang Madu Penyendiri apakah memang semerepotkan ini pukulanku benar-benar dinetralkan oleh bantalan tangannya. Jika bukan karena Cakar Taring Duri mungkin seluruh seranganku takkan berefek apa-apa padanya,” gumam Asta pelan.


“Nak, apa kau bisa mendengarku?”


“Siapa?”


“Kau tak perlu tahu siapa aku. Tetapi jika kau ingin mengalahkannya dengarkan kata-kataku,”


Asta terdiam sejenak sebelum membalasnya,“Suara ini bukan berasal dari guru ataupun Zaru dan Ace. Siapa dan darimana sebenarnya suara ini berasal,” batin Asta.


“Aku mendengar apa yang kau ucapkan tentangku, aku memang bukan gurumu ataupun peliharaanmu. Tapi jika kau ingin menang maka tak ada keputusan lain selain mengikuti arahanku,”


Asta membuka matanya lebar tak diduga pikirannya terbaca,“itu tergantung pada apa yang akan kau katakan selanjutnya, jika menurutku cara itu bisa dilakukan maka akan kulakukan jika tidak bisa ya bagaimana lagi,” jawab Asta.


“Baiklah kalau begitu. Pertama, kau mempelajari tekhnik aura yang berbeda dari dua Kitab Surgawi bukan? Kalau begitu keluarkan keduanya,”


“Tidak. Meskipun aku mempelajari tekhnik aura dari Kitab Surgawi tapi pemahamanku masih kurang sehingga masih jauh dari kekuatan aslinya. Kalau aku mengeluarkannya sekarang beruang itu pasti akan merasa tertantang apa kau ingin membunuhku?”


Sosok itu diam sejenak,”Kedua, gunakan tekhnik Peremuk Raga lapisan tertinggi,” lanjutnya berbicara. Asta tak menggubrisnya sama sekali dan mengabaikannya.


“Ketiga, tarik kedua aura milikmu lalu pusatkan pada salah satu tanganmu, kemudian satukan kedalam seranganmu dalam sekali serang,”


Mendengarkan sarannya yang ketiga Asta mulai sedikit tertarik dengan arahannya.


“Keempat, kau memahami dasar dari tekhnik pukulan penghancur gunung, jika kau bisa menggabungkannya ke dalam pukulan ketiga dari penghancur gunung maka lebih baik. Kau ingat peristiwa dimana kau pertama kali mengaktifkan esensi rohmu dan membakar hutan dengan tekhnik penghancur gunung kan?”


“Kau-?! Darimana kau tahu itu?!!” sembari berusaha menghindar dari serangan beruang tersebut Asta mencoba memalingkan wajahnya ke segala arah.


“Percuma saja. Aku ini adalah iblis hatimu, aku hidup di alam bawah sadarmu dan mengetahui semua yang kau lakukan,”

__ADS_1


-----


Iblis hati adalah cerminan dari sifat seorang kultivator yang tercipta dibawah alam bawah kesadaran dan mengendap di lautan jiwa. Seiring berjalannya waktu iblis hati akan semakin kuat sehingga akan lebih sulit dikendalikan.


Pada saat itu pilihannya hanya ada dua, menyingkirkannya atau bergabung dengannya. Dari sinilah letak perbedaan antara kultivator jalan iblis yang memilih bergabung dengan iblis hatinya berbeda dengan jalan cabang surgawi lainnya.


-----


Asta terkejut membuka matanya lebar,“Bukankah ini terlalu awal untuk menembus ranah suci? Tapi metode yang kau jelaskan tadi aku sedikit tertarik. Aku akan mencobanya,” ujarnya.


“Kau ingin menyingkirkanku? Hahahahaha. Meskipun aku memang menjadi iblis hatimu tapi pemahamanku terhadap kultivasi jauh darimu, kau hanya seujung kuku dariku,”


Asta tak membalasnya lagi dan bersiap mencoba tekhnik yang iblis hatinya arahkan. Beruang itu yang memang sudah dalam keadaan mengamuk ditambah dengan Asta yang menampilkan dua tekhnik auranya menjadi semakin marah.


“Sepertinya dia sudah pergi. Aku tak bisa merasakan lagi hawa keberadaannya atau pun mendengarkan ocehannya,”


Pada percobaan pertama Asta mengalami kegagalan karena ternyata proses menyatukan dua tekhnik aura dan memusatkannya kedalam pukulannya ternyata bukan perihal yang mudah. Apalagi ia harus melakukanya dalam waktu singkat dan tepat.


Beberapa kali Asta beradu pukulan dengan beruang tersebut dan gagal berulang kali hingga tubuhnya sudah tak sanggup menerima kerusakan lagi, kobaran api peperangan seperti tak berguna dihadapan serangan beruang tersebut.


Asta pun terduduk di bawah pohon merasakan rasa sakit ditubuhnya, beruang tersebut tak memberinya kesempatan istirahat sama sekali.


“Tekhnik Roh, Penghancur Gunung”


Secara spontan disaat dirinya hanya mampu menggerakkan satu tangannya Asta akhirnya berhasil menguasai tekhnik tersebut dan memberinya nama Penghancur Gunung.


Pukulan Asta bertemu dengan pukulan beruang tersebut, Beruang Madu Penyendiri itu terlempar jauh ke belakang dan langsung mati seketika. Setalah itu barulah Asta bisa menghela nafasnya pelan.


“Akhirnya selesai juga,”


Ketika Flares dan yang lainnya sedang bergerak untuk mencegah beruang tersebut menyerangnya lebih jauh tak mereka duga Asta akan memberikan satu serangan kuat yang mengakhiri hidup beruang tersebut.


“Tubuhnya terluka parah namun untungnya tak ada luka dalam yang akan membahayakan keselamatannya,” Ucap Zaru setelah memeriksa keadaanya.


“Darimana ia mempelajari metode penggabungan tekhnik roh dan aura, apa ia ingin mati,” ujar Ace heran dengan tekhnik tersebut.


Flares berjalan ke arah mayat beruang tersebut dan memandangi bekas luka dari serangan Asta sebelumnya.


“Tidak salah lagi. Metode ini adalah metode yang di temukannya, ternyata saat itu aku tidak sedang bermimpi,” Flares memalingkan wajahnya memandangi Asta yang tengah tak sadarkan diri.


“Aku bisa menanyakannya nanti setelah ia bangun,”


-----


Asta membuka matanya melihat keluar,“Dimana ini?” tanyanya pada diri sendiri.


Ia mencoba bangkit dari hamparan rumput tersebut, ia berjalan menuju ke arah cahaya menyoroti matanya.


“Ini, indah sekali. Dimana sebenarnya ini...?” sesaat keluar Asta disambut dengan pemandangan air terjun dimana-mana dengan hamparan padang rumput penuh dengan berbagai tumbuh-tumbuhan, bahkan tak sedikit tumbuhan obat tumbuh di sana.


“Bagaimana dengan kondisi tubuhmu,” ujar Flares muncul dari samping mengejutkannya.


Asta terkejut menarik nafasnya,“Guru, kau kebiasaan,” Asta berdecak kesal melihat tingkah gurunya tersebut, “Aku sudah baik-baik saja, tapi dimana ini?” lanjut Asta bertanya.


Flares tampak berpikir sejenak, “Mungkin kita berada diperbatasan antara Negeri Tanah Api dengan Lembah Negeri Batu,” jawabnya terdengar kurang meyakinkan.


“Lalu dimana mereka berdua..?” tanya Asta mencari Ace dan Zaru.


Flares menunjuk ke arah mereka dengan dagunya, Asta memalingkan wajahnya untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan berdua di sana.


Ace dan Zaru terlihat sedang bertarung beradu tekhnik, Asta yang memperhatikannya paham kalau mereka tak benar-benar serius bertarung karena kalau iya maka tempat tersebut tak akan mampu menahan guncangannya.


“Muridku, tempat ini dipenuhi dengan berbagai tanaman obat yang berharga kita bisa menggunakannya untuk bahan latihanmu,” ujar Flares.


“Persis seperti yang ingin ku katakan pada guru, tapi perutku lapar sekali aku mau makan dulu,” ujar Asta.


“Makan? Tidak ada makanan jika kau tidak menyelesaikan latihannya terlebih dahulu,” ujar Flares melarangnya.


Asta melongo mendengarnya,“Kenapa harus melakukanya seperti itu?” protesnya.

__ADS_1


“Jangan banyak basa-basi segera keluarkan tungku naga kembar, kali ini tema latihanmu adalah membuat pil tingkat 2 Pil Pembuluh Darah,”


Asta menurut mengeluarkan tungku, setelah itu ia mencari bahan-bahannya di sekitar tempat tersebut. Tak lama kemudian ia pun selesai menemukan bahan-bahan yang diperlukannya.


“Guru aku sudah menemukan semua bahan-bahannya sesuai dengan yang ada di buku, untuk berjaga-jaga aku mengambil sangat banyak untuk beberapa kali percobaan,” Asta menunjukkan pada gurunya, ia mengangguk. Proses peracikan pun dimulai.


Pada percobaan pertama Asta langsung berhasil menciptakan pil pembuluh darah namun dengan efektifitas dan efisiensi pil tersebut hanya berkisar sepuluh persen dari yang aslinya, namun Flares justru tersenyum bangga.


“Kita hentikan dulu peracikannya, mari kita isi tenaga terlebih dahulu,” ajak Flares.


“Oyy!! Apa kalian sudah selesai?! Ini waktunya makan!!” teriak Asta panggil Ace dan Zaru.


“Guru dimana beruang itu? Aku yakin sebelumnya aku telah membunuhnya,”


“Guru telah memasukkannya ke dalam cincin milikmu, kau periksa saja,” ujar Flares.


Asta mengangguk pelan sembari membuat perapian untuk memanggang daging tersebut, Ace yang bertugas untuk mencincang dagingnya beberapa bagian agar lebih mudah saat dipanggang, sedangkan Zaru yang bertugas membuat bumbunya.


Kemudian mereka berempat pun makan dengan lahap sebelum kemudian kembali beraktivitas.


“Sekarang perutmu sudah terisi kembali kan? Sekarang saatnya kita balik berlatih membuat pil pembuluh darah tingkat 2 dengan sempurna,” ujar Flares, Asta pun mengangguk cepat.


Asta pun kembali memasukkan bahan-bahannya ke dalam tungku naga kembar dan memulai proses peleburan.


Kali ini ia tergesa-gesa karena ingin cepat-cepat naik menjadi peracik pil tingkat 2 sehingga ia kehilangan kontrol apinya dan meledakkan tungku.


Flares memandangnya kesal, satu pukulan melayang mengenai kepalanya,“Jangan tergesa-gesa! Apa kau tak mendengarkan ajaran guru?!” Flares kesal.


“Jika kau tetap seperti itu akan sulit bagimu untuk meracik pil suci, proses meracik obat adalah proses yang harus membutuhkan kontrol tinggi dan tergesa-gesa bukanlah syarat untuk meracik pil,” lanjut gurunya bicara.


“Pil suci...?” Asta mengulang ucapan gurunya heran.


“Pil Suci adalah suatu keajaiban yang diciptakan oleh seorang peracik obat, yakni pil yang kemanjurannya akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Dibutuhkan kemahiran dan pemahaman tinggi terhadap meracik obat untuk bisa menciptakan sebuah pil suci,” jelas Flares.


“Sebegitu sulitnya?” tanya Asta penasaran.


“Tentu saja. Bahkan lebih sulit ketimbang menempa artefak roh, pil suci ditandai dengan guratan pada pil, semakin banyak guratannya maka akan semakin tinggi peningkatan kemanjuran pil tersebut,” sambung Flares.


Asta pun mengangguk mengerti maksud dari ucapan gurunya tentang betapa sulitnya untuk menciptakan pil suci seperti yang gurunya katakan.


“Jika bisa menciptakan pil obat tingkat 7 hanya dengan 1 guratan pun bisa menjadi seorang peracik tingkat 7. Namun menciptakan satu guratan pada pil tingkat 1 pun bukan perkara hal yang gampang apalagi tingkat 7,” lanjutnya menjelaskan.


“Ternyata jalan seorang peracik obat lebih sulit daripada seorang penempa,” batin Asta didalam hatinya.


Selesai mengetahui tentang pil suci Asta pun memulai latihan meracik pil kembali dengan diawasi oleh gurunya.


Flares mengajarkan langkah-langkah yang harus Asta lakukan dan pertimbangkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik ketika meracik sebuah pil. Karena meracik sebuah pil bukan hanya tentang melebur bahan dan menyatukannya semata.


Setelah mencoba berkali-kali Asta tetap saja belum mendapatkan hasil yang memuaskan, paling tinggi ia hanya bisa membuat pil dengan khasiat 20 persen dari yang aslinya.


“Ternyata meracik pil lebih sulit ketimbang menempa senjata, padahal proses menempa dan meracik sama,” Asta terengah-engah kelelahan setelah beberapa kali mencoba meracik pil pembuluh darah tersebut.


Flares tertawa mendengarnya mengeluh,“Meskipun sangat melelahkan tapi yang namanya belajar kau tahu kan sekarang apa kekuranganmu dan bagaimana caramu mengatasinya,”


Asta tergelak lemas di atas padang rumput tersebut mencoba mengembalikan nafasnya yang kembang-kempis.


“Menyerah begitu saja?” ujar Ace mencibirnya.


“Tingkat 2 saja dan kau sudah kelelahan seperti itu? Pil yang kau butuhkan untuk membentuk tubuh master bahkan lebih-lebih tak masuk akal lagi tingkatnya apa kau sudah menyerah sekarang? Lemah!” Zaru ikut mencibir.


Mendengarkan cibiran mereka berdua wajah Asta langsung memerah,“Siapa yang bilang menyerah?!” tanya Asta balik.


“Memang tak bisa diandalkan baru segitu saja sudah menyerah, hanya pil tingkat 2 saja,” cibir Zaru.


“Bilang apa kau barusan?!” Asta langsung bangun dengan wajah yang kesal, “Tetap disini dan lihat aku akan tunjukkan padamu bahwa aku bisa membuatnya,” teriaknya dengan kesal lalu memasukkan kembali bahan-bahan pil tersebut dan segera mulai meracik obat kembali.


Sambil mendengus kesal Asta memasukkan bahan-bahan pil tersebut kedalam tungku dan memulai proses peleburan bahan, namun tiba-tiba tungkunya meledak mengakibatkan wajah Asta menjadi hitam.


Ace dan Zaru menertawainya dengan keras,“Kau lebih baik dengan itu di wajahmu,” ujar Ace lalu tertawa. Asta hanya bisa menahan malunya di depan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2