Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch71 Eliza Lira


__ADS_3

Asta menjadi merasa bersalah pada paman tersebut, karenanyalah beberapa orang kehilangan pekerjaannya sebagai pemetik tanaman obat.


“Asta kau sungguh hebat! Kita seumuran tapi kau berbeda denganku yang hanya manusia biasa,” puji gadis tersebut.


“Saudari terlalu memuji,” balasnya tersenyum canggung.


“Paman kudengar saat ini kota dalam masalah jadi aku tak bisa berlama-lama dengan kalian, masih ada banyak orang yang membutuhkan bantuan,” lanjut Asta mengenakan topengnya.


Anak gadis tersebut terlihat terkejut mendengar ia akan segera pergi,“Asta tunggu sebentar,”pintanya.


“Ada apa?” tanya Asta heran begitu pula dengan paman itu.


“Bisakah kau mengajariku cara berkultivasi? Aku juga ingin sekuat dirimu agar bisa melindungi ayah,”pintanya.


Asta terkejut mendengarnya,“Ehh..?!! Mengajarimu..?”


“Putriku apa yang kau bicarakan! Cepat minta maaf,” ayah gadis tersebut langsung panik ketika melihat tanggapannya.


“Ayah tenang saja Asta ini orang baik, Asta pasti mau mengajariku,” ucapnya menolak.


Ayahnya panik kebingungan karena putri satu-satunya itu sangat keras kepala sekali, ia takut Asta tiba-tiba marah pada mereka.


Asta menggosok-gosok rambutnya bingung,“jujur saja aku tak terlalu paham cara mengajari seseorang, tapi mungkin guruku bisa membantuku untuk mengajarimu,” pada akhirnya ia pun setuju.


“Yeayy..!!!” gadis itu bersorak riang.


“Aku, Eliza Lira memberi hormat pada guru,” gadis itu memperkenalkan diri.


“Ini.. tuan apakah anda benar-benar tidak berkeberatan..?” tanya ayahnya ragu.


Asta tersenyum sambil mengangguk,“tentu saja tidak, ini lebih baik kalau ia sendiri yang berkemauan tapi asal kau tahu Lira, dunia para kultivator bukanlah dunia yang seperti biasanya kau akan lihat apa kau benar-benar serius ingin melakukannya?” tanya Asta.


Lira tersenyum ragu,“lagipula ada guru di sampingku aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja,” ucapnya lalu tersenyum.


Asta hanya bisa menepuk jidatnya,“entah siapapun itu pikiran seorang gadis memang sesuatu,” Asta membatin.


“Tuan karena kau sudah menyusahkan dirimu untuk mengajari putriku aku, Yao Shen berterima kasih sekali lagi padamu,”


“Sama-sama. Tapi sebelum itu Lira bisakah kau diam disini bersama paman Yao aku harus menyelesaikan para demon itu dulu,” perintah Asta padanya.


“Apa aku tak boleh ikut?”


“Ini perintah guru! Sebagai murid kau harus menuruti apa perkataan gurumu!” ucapnya menolak.


“Perkataan apapun?”


“Ya. Apapun itu,” jawabnya singkat.


“Heemm. Baiklah,” Lira akhirnya setuju untuk tetap tinggal dirumahnya terlebih dahulu bersama dengan Yao Shen menunggu Asta yang menjemputnya.


“Guru berjanji untuk kembali ya, jangan lupa...!!” teriaknya membuat Asta sedikit tersentak.


“Kapan aku berjanji akan kembali, ah sudahlah lagipula aku juga sudah terlanjur menerimanya,” batin Asta.


Sesaat Asta keluar dari rumah Yao Shen ia langsung menyebarkan auranya untuk mencari apakah ada orang lain di sekitarnya yang membutuhkan bantuan segera.


“Selain Paman Yao dan Lira tak ada siapapun di sekitar sini, aku hanya merasakan banyak orang-orang yang berkumpul di arah sana, sepertinya ada sesuatu di sana,” Asta melompat ke atap bangunan bergerak memasuki kota lebih dalam dari atas.


“Cepat..!!! Berbarislah yang rapi..!!!”


“Tuan kumohon jangan ambil putriku..”


“Diam..!!! Cepat berbaris..!!!”


“Kumohon..!!! Jangan..!!! Kumo....”


Dari atap bangunan Asta tertegun melihat pemandangan dimana banyak orang berkumpul di satu tempat, laki-laki dan perempuan yang masih muda terlihat dibiarkan dan hanya disuruh berbaris sedangkan orang-orang lanjut usia dan juga anak laki-laki mereka bunuh tapi tidak dengan anak kecil perempuan.


Sesaat ia datang baru saja mereka selesai mengeksekusi seorang kakek-kakek, melihat banyak nyawa yang sudah bergelimpangan hatinya seperti diiris-iris pisau.


“Jika aku tak membalaskan dendam mereka maka aku bukanlah manusia,” Asta melepaskan cakar taring duri dan menaruhnya kembali ke dalam cincin.


“Lebih efektif memegang pedang secara langsung untuk melawan mereka,” Asta menyalurkan esensi rohnya langsung kedalam pedang iblis malam juga langit kelam, pedang tersebut terbungkus oleh api pemakan cahayanya.


"Kita Surgawi Dewa Api Kegelapan, Api Pemakan Cahaya"


Asta melompat turun sembari mengayunkan pedangnya ke para demon tersebut, energi pedangnya langsung membunuh beberapa dari mereka. Kedatangannya membuat mereka terkejut membuka mata lebar.


“Siapa kau! Berani sekali kau membunuh orangku tepat dihadapanku!” teriak salah satu demon yang Asta yakini adalah pemimpin mereka.


Asta meyakini setidaknya pemimpin demon tersebut adalah Dewata Agung 1 bintang namun tatapan matanya tak menunjukkan bahwa ia takut padanya.


Asta mengabaikannya berjalan ke arah para tahanan mereka, dalam satu gerakan kurungan mereka hancur berantakan.


“Maaf aku sedikit terlambat, tunggu disini sebentar,”


Mata sang pemimpin demon tersebut memerah, tampaknya apa yang ia lakukan telah memancing amarahnya.

__ADS_1


“Bunuh dia...!!” perintahnya ke pasukannya.


“Domain Dewa Api Kegelapan”


“Uhukk-!!”


“Akhh-!!”


“Panas-!!”


Dalam waktu singkat lebih dari setengah demon tersebut mati mengalami kesakitan di bagian organ dalam, para warga yang melihat kejadian itu secara langsung menjadi sedikit ngeri meskipun tahu dia kedatangannya adalah untuk menyelamatkan mereka.


Pelepasan domain dewa api kegelapan menghancurkan semangat bertarung para demon, bahkan pemimpinnya pun meneguk air ludahnya sendiri merasakan domain tersebut.


“Siapa dia? Aku belum pernah mendengar ada seseorang yang sepertinya,” batin pemimpin demon tersebut.


“Bukankah kau ingin bertarung mengapa kalian diam saja,” ucap Asta pelan.


Hanya dengan beberapa kata darinya tak ada satupun dari mereka yang berani mengatakan ingin bertarung.


“Seseorang yang mampu menguasai domain bukanlah kultivator biasa, aku harus berhati-hati menghadapinya,” gumamnya pemimpin demon pelan.


“Ada apa?!! Apa hanya satu orang saja membuat kalian ketakutan, hah?!! Pengecut..!!!” teriak pemimpin demon tersebut.


“Tapi Tuan kita....”


“Slashh..!!!”


“Pilih! Mati di pedangku atau bertarung!” ia tak segan membunuh satu orang pasukannya di depan mata mereka.


Asta tersenyum sinis dibalik topeng melihat mereka,“paman dan bibi sekalian bisakah kalian mundur ke belakang, sebentar lagi tempat ini akan jadi arena penuh darah aku tak ingin paman dan bibi kecipratan darah kotor mereka,” pinta Asta.


Mereka pun mengangguk mengerti lalu mengambil jarak darinya seperti yang Asta inginkan.


“Sepertinya kau butuh bantuan untuk membersihkan para sampah itu,” ujar Asta pada pemimpin demon itu.


“Tunggu apa lagi..?!! Serang..!!!” meski ragu pada akhirnya mereka tetap menuruti perintah pemimpin mereka.


“Ras demon sungguh luar biasa! Tak peduli jiwa ketakutan tapi kalian tetap mengikuti perintah atasan!” teriak Asta.


“Keparat..!!”


Para demon yang tersisa itu kebanyakan ranah senior dan suci, yang paling tinggi hanya pemimpin mereka saja.


Asta bergerak menyerang mereka dengan dua pedangnya ia menghabisi nyawa mereka satu persatu dengan sangat cepat. Kecepatannya dalam membunuh itulah yang membuat mereka semakin ketakutan.


Melihat pasukannya takkan mampu untuk membunuhnya akhirnya ia pun turun tangan sebagai pemimpin, ia bergabung dalam pertarungan bersama.


“Kita selamat..!! Dewa telah menjawab doa kita semua..!! Kita selamat..!!” teriak salah seorang warga yang lalu diikuti dengan yang lainnya.


“Dewa apa?” batin Asta keheranan.


Melihat pasukannya terus saja bergelimpangan membuatnya semakin menjadi-jadi,“Keparat Qiu Hun itu dimana?!! Kenapa dia belum juga kembali!!” teriaknya.


“Apakah kultivasinya Master Suci? Kebetulan sebelum kesini aku sempat memenggal kepala seorang demon dengan kultivasi Master Suci,” ujar Asta.


Ia tertegun mendengarnya,“kau... Kau... Siapa sebenarnya kau...?!!” tanyanya dengan nada tak percaya,“mustahil kau bisa membunuhnya semudah itu, aku tak percaya!”


“Hahahahahaha..... Aku tak memaksa ataupun memintamu untuk percaya, karena yang akan ku lakukan adalah mengirim kalian semua ke alam baka yang sama dengannya,” ujar Asta.


“Jangan sombong..!!”


Melihatnya lengah Asta pun menyerangnya dengan sekuat tenaga,“sudah ku bilang aku akan mengirimmu kesana, jangan lupa untuk memberitahunya namaku adalah Asta Raiken, orang yang membunuh kalian yang mempunyai gelar sebagai Topeng Api Suci,” Asta menarik pedangnya keluar dari tubuhnya.


“Kau-! Uhukk-!! Uhukk-!! Kak Wei-!! Uhukk-! Pasti takkan membiarkanmu...” sang pemimpin demon itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Melihat pemimpin mereka saja mati dengan begitu mudah di tangannya tak ada lagi keberanian bagi mereka untuk menyerangnya. Satu persatu para demon itu mulai berlarian kesana-kemari melarikan diri.


“Sepertinya kalian sudah melupakan sensasi yang sebelumnya,”


“Domain Dewa Api Kegelapan”


Asta sekali lagi melakukan pelepasan domainnya untuk menekan mereka supaya tidak pergi.


“Jika aku melepaskan satu saja dari kalian aku pasti akan mendapat masalah nantinya,”


“Tekhnik Roh, Tebasan Membara”


Asta melepaskan beberapa tebasan pedang yang langsung membunuh mereka semua, ia tak melepaskan satu orang pun. Para warga pun bersorak senang dan gembira karena akhirnya mereka telah terbebas dari belenggu demon tersebut.


“Tuan terimakasih banyak! Jika bukan karena kedatangan tuan kami semua sudah dipastikan mungkin akan mati di tangan mereka, paling baik kami akan menderita,”


Asta mengangguk pelan,“ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai sesama manusia tentu aku akan menolong kalian semua,”


“Berikan aku sedikit jalan, aku ingin berbicara dengan tuan pahlawan,” ucap seorang pria paruh baya pada mereka.


“Pak Walikota!” mereka pun memberi jalan pada sosok yang mereka panggil sebagai walikota itu.

__ADS_1


“Tuan perkenalkan saya adalah Yun He, walikota Kota Permata Biru saat ini,” ujarnya memperkenalkan diri.


“Maafkan atas kelancanganku ini tapi bisakah tuan pahlawan tidak buru-buru pergi kami pasti akan mengadakan pesta untuk tuan...”


“Aku mengerti maksudmu pak walikota, anda tenang saja aku juga memang tak terlalu terburu-buru untuk pergi, aku masih harus ada sesuatu yang di kerjakan terlebih dahulu disini,” potong Asta.


Walikota Yun pun tersenyum senang mendengarnya dan berterima kasih sebesar-besarnya.


“Ohh iya bisakah aku meminta bantuan beberapa orang? Aku meninggalkan paman Yao bersama putrinya di rumahnya tolong beritahu dia soal ini,” ujar Asta.


“Biar aku saja, aku mengenalnya dekat,” ucap salah seorang menawarkan dirinya.


“Adakah orang lagi yang ingin membantuku? Aku mempunyai dua peliharaan dan saat ini mereka masih menunggu tak jauh dari gerbang kota sekalian untuk memberitahu paman penjaga,” tanya Asta.


Belum walikota meminta seseorang sudah menawarkan dirinya lagi untuk tugas tersebut, ia pun bergegas pergi menuju ke gerbang kota.


“Walikota Yun bisakah kita mencari tempat lain? Tak enak jika berbicara di tempat yang berdarah seperti ini,” ajak Asta.


“Tentu,”


“Bisakah beberapa orang tinggal dan membersihkan kekacauan ini?” pinta Walikota.


“Walikota tenang saja kami pasti akan membersihkannya,” setelah itu walikota Yun pergi bersama dengannya menuju kediamannya.


-----


“Ayah mengapa guru lama sekali apa ia lupa dengan kita berdua disini?” Lira terlihat mondar-mandir kesal karena menunggunya yang belum saja datang.


“Putriku tenanglah sedikit, kalau ada mereka disekitar sini kita akan bahaya kalau kedengaran,” bisik Yao Shen membujuknya untuk tetap tenang.


“Tak peduli!! Pokoknya aku akan pergi mencarinya..!!” ucapnya keras.


Yao Shen terlihat panik melihat putrinya tiba-tiba berteriak dengan keras seperti itu.


“Tok! Tok! Tok!”


Lira menarik nafasnya terkejut mendengar ada suara ketukan di pintu begitu juga dengan Yao Shen.


“Sial! Kenapa harus sekarang!” batin Yao Shen ketakutan ia langsung buru-buru menarik putrinya untuk bersembunyi.


“Tok! Tok! Tok!”


Ketukannya semakin keras, Lira sedikit menyesal karena sebelumnya tak menuruti ayahnya, sekarang ia tidak tahu nasibnya akan seperti apa.


“Guru kau dimana...” batin Lira ketakutan.


Yao Shen yang melihat putrinya meneteskan air matanya tak bisa menghiburnya saat ini dan hanya berharap demon itu tak masuk ke rumahnya.


“Yao Shen bajingan..!!! Buka pintunya..!!!” teriaknya dari luar.


Seketika raut wajah Yao Shen menjadi kesal karena ternyata yang mengetuk pintunya adalah salah satu temannya, begitu pun dengan Lira.


Mereka berjalan dan membuka pintu dengan raut wajah kesal menatapnya.


“Ada apa..?” tanyanya bingung.


“Raka brengsekkk..!!!” ucap ayah dan anak itu memukul kepalanya bersamaan.


Sosok yang dipanggil Raka itu terkekeh melihat ekspresi mereka berdua, ia bisa menebak kenapa mereka memukulnya seperti itu.


“Kenapa paman Raka yang datang kemana guru..?” tanya Lira.


“Hah? Guru? Siapa?” ucapnya balik bertanya.


“Melihatmu yang begitu senang sepertinya keadaan sudah terkendali bukan?” tanya Yao Shen mengalihkan pertanyaan putrinya.


“Ayah apa-apaan ucapanmu itu, kau mengalihkan pertanyaanku,” ucap Lira kesal.


Raka mengangguk pelan,“tuan pahlawan topeng api suci untungnya segera datang menyelamatkan kita dan sekarang situasinya sudah terbilang aman, tapi kedatangannya agak sedikit terlambat kita kehilangan banyak orang sebelum ia datang meskipun begitu kami tetap bersyukur karena ia sudah datang. Entah akan berapa banyak orang yang mati jika tuan topeng api suci tak datang,” jelasnya sedikit murung.


“Apa topeng yang dipakainya bermotif kepala serigala?” tanya Lira yang kemudian dibalas anggukan kepala olehnya.


Mendengarkan penjelasan itu Lira sedikit terpukul hatinya, jika bukan karenanya yang menahan Asta lebih lama mungkin ia masih sempat menyelamatkan semua orang. Tapi karena keegoisannya tersebut banyak orang yang mati karenanya.


“Ada apa Lira?” tanya Yao Shen melihat putrinya tiba-tiba diam.


“Tidak apa-apa ayah aku baik-baik saja. Ohh iya sekarang berada dimana guruku?” tanya Lira pada Raka.


“Guru? Pffft.. hahaha...!!” Raka tertawa dengan keras ia baru sadar bahwa orang yang dimaksudnya adalah tuan topeng api suci.


“Bagaimana dia bisa mengangkatmu sebagai muridnya? Kau jangan bermimpi di siang bolong begini Lira, Hahahahaa,” ujar Raka menertawainya.


“Apa katamu?! Guru adalah guruku! Dia sendiri yang setuju untuk menjadikanku muridnya! Kalau tidak percaya lihat saja nanti!” bentak Lira emosi.


Raka tak bisa menghentikan tawanya melihat sikap Lira tersebut,“Yao Shen lihat putrimu, anak gadismu ini sepertinya menyukai tuan pahlawan itu dan bermimpi menjadi muridnya disiang bolong begini,” ujarnya masih tertawa.


Yao Shen pun tak membalasnya dan hanya tersenyum canggung.

__ADS_1


--


Jangan lupa makan;)


__ADS_2