
Setelah aura keberadaan Asila Moegi menghilang, Asta Raiken memutuskan untuk menyeberangi sungai sebagai persiapan jika dia hanya sedang bersembunyi di balik pepohonan.
“Sepertinya aku benar-benar selamat kali ini darinya. Aura yang dipancarkannya benar-benar menakutkan sampai membuat bulu kudukku merinding,” gumamnya pelan.
“Guru, apa kau masih belum bangun juga?” panggilnya, namun tak ada sahutan darinya.
Asta berjalan memasuki hutan, mengeluarkan sepasang pakaian kering dari dalam cincin yang akan ia gunakan. Bajunya basah kuyup karena sebelumnya.
Baru saja selesai mengenakan pakaian, Asta merasakan ada sesuatu yang melesat ke arahnya.
“Syuhh”
Kilatan bercahaya melintas di atas tanah tempatnya berdiri. Beruntungnya, Asta Raiken dapat dengan cepat menyadarinya sehingga bisa menghindar. Sebuah anak panah yang terbuat dari cahaya menancap pada batang pohon di depannya. Sedetik saja ia telat merasakannya, kemungkinan bukan hanya tubuhnya yang terpanah, melainkan nyawanya pun bisa ikut musnah.
“Siapa..?!!” teriaknya, langsung memasang sikap siaga dan waspada.
Matanya menyusuri tempat anak panah tersebut berasal, namun sebelum itu empat anak panah lainnya menyusul. Dengan ketangkasannya, Asta Raiken berusaha menghindari panah tersebut, hanya saja hal yang tak terduga bisa terjadi kapan saja. Belasan panah cahaya menyusul setelah Asta Raiken berhasil menghindari empat panah sebelumnya.
“Kau yang memaksaku..."
"Pelepasan Esensi Roh Api Pemakan Cahaya. Seni Surgawi Rendah Emas! Pukulan Peremuk Raga!” tak punya pilihan lain, Asta Raiken langsung melepaskan teknik bertarung serta mengaktifkan Esensi Rohnya kembali yang susah payah ia padamkan sebelumnya.
Sesaat tinju apinya bertabrakan dengan panah cahaya tersebut, dan panah cahaya itu langsung terserap olehnya. Menyadari hal itu membuatnya tak merasa takut sama sekali menghadapi belasan panah cahaya sekalipun.
“Jika kau melakukannya sekali lagi, maka berharaplah aku takkan membakar hutan ini!” ancamnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara tepuk tangan dari belakangnya. Seorang pemuda dengan paras yang rupawan, berkulit putih bersih sebening salju, keluar dari balik pohon. Bola matanya berwarna kebiru-biruan, dan daun telinganya yang runcing membuat Asta Raiken sedikit terkagum-kagum melihatnya.
Hal yang membuatnya terkagum-kagum tentu saja adalah parasnya yang tampak berbeda dengan manusia umumnya. Asta Raiken mulai berpikir bahwa mungkin ini disebabkan oleh kemampuan esensi rohnya yang mempengaruhi fisiknya. Namun, dia tidak yakin apakah itu anugerah atau malah sebaliknya.
“Meskipun panah itu hanya beberapa persen saja dari kekuatanku, tapi melihatmu dapat menghindarinya, sepertinya kau sedikit berkemampuan,” ucap pemuda itu sambil tersenyum dengan mata tertutup. Asta Raiken tak bisa menyimpulkan apakah itu pujian atau ejekan.
“Tunggu sebentar. Apa kau benar-benar seorang lelaki? Wajahmu sangat cantik, dan lagi kulitmu lebih bersih dari kebanyakan gadis. Ditambah lagi, dari sini pun terlihat sekali bulu matamu yang sangat lentik. Selain itu, apa-apaan dengan telingamu itu? Apa kau menambahkan sebuah riasan di ujungnya agar bisa menjadi seperti itu?” ujarnya dengan blak-blakan.
“Apa kau...?! Apa kau sedang mempermainkanku, bocah manusia! Tentu saja aku seorang lelaki, apa kau buta?!” teriak pemuda itu, marah atas pertanyaan yang diajukan Asta.
“Tidak, maksudku bukan begitu. Sejujurnya, aku kagum sekali denganmu. Ini baru pertama kalinya aku melihat seorang manusia...”
“Aku ini Elf! Keparat!” potongnya menegaskan.
“Ohh, begitu rupanya. Pantas saja,” Asta Raiken menganggukkan kepalanya.
“Tunggu sebentar. Apa?! Elf kau bilang?! Apa kau pikir aku ini bocah yang dapat kau bodohi dengan cerita dongeng?!” ucapnya lagi dengan nada terkejut.
Ini adalah pertama kalinya Asta melihat elf secara langsung. Hal yang sebelumnya ia pikir hanya ada dalam cerita-cerita khayalan ternyata benaran ada di dunia nyata.
Wajahnya sedikit memerah menahan emosi, "Sekali lagi kau mempermainkanku dengan pertanyaan-pertanyaan bodohmu, akan kucincang dua bola mata di bawah perutmu!" ancamnya.
"Hei! Itu bukan bola mata!" teriak Asta membenarkannya.
Pemuda Elf itu menghela nafas panjang, mencoba meredamkan emosinya yang terpancing hanya gara-gara beberapa pertanyaan dari Asta Raiken. Ia berusaha untuk tidak memikirkannya kembali dan mencoba tenang.
"Siapa dan untuk apa kau kemari? Apa kau ingin berkata bahwa kau tak tahu apa-apa mengenai larangan memasuki wilayah lain kecuali dari jalan yang sudah ditentukan?" tanya pemuda Elf itu setelah suasana hatinya kembali tenang.
Asta Raiken mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan tersebut. Kini, justru ia yang kebingungan. Pikirannya pun seharusnya bertanya seperti itu kepadanya. Tapi, mengapa malah pemuda elf itu yang menanyakan hal itu kepadanya?
"Wilayah lain? Aku tak tahu mengenai hal itu sejak kecil. Yang kusampaikan dari apa yang orang tuaku ceritakan hanyalah semakin jauh aku pergi, semakin dalam aku masuk ke Hutan Surgawi. Aku benar-benar tak tahu bahwa ada pemukiman lain di pedalaman Hutan Surgawi," jelas Asta Raiken ketidaktahuannya.
Pemuda itu diam sejenak sebelum kemudian mengangkat lengan kanannya. Busur panah cahaya terbentuk yang berpusat dari kepalan tangannya, "Aku sudah memperingatimu sekali tapi kau malah mengabaikannya. Jangan menyebutku kejam jika aku menyerang," ancamnya sambil menarik anak panah cahaya yang tercipta langsung dari tangan kirinya.
Namun, Asta Raiken tidak tampak takut. Malah, ia menunjukkan raut wajah tertarik dan penasaran seolah-olah hal tersebut menarik perhatiannya.
"Apa itu sebuah pelepasan Esensi Roh milikmu? Bisakah kau mengajariku cara membentuk sebuah senjata dari Esensi Roh? Atau mungkin Esensi Roh milikmu adalah panah cahaya?" ucapnya bersemangat.
Pemuda Elf itu menghiraukan segala ucapannya. Ia melepaskan satu anak panah ke arahnya.
“Hei...!! Apa yang kau lakukan?!” teriak Asta Raiken sambil menepis panah tersebut menggunakan tinju apinya.
__ADS_1
Pemuda Elf itu tak berhenti di situ. Kini, ia mulai membidiknya lagi dengan lebih hati-hati. Namun, Asta Raiken malah membuatnya tertawa terbahak-bahak saat mencoba menekannya dengan aura miliknya.
“Apa yang kau tertawakan?! Kau pikir aku bercanda tentang akan membakar hutan ini?!” teriak Asta Raiken kesal. Tangan kirinya menyentuh batang pohon di sampingnya.
“Guru, cepat bangun! Muridmu sedang dalam bahaya! Bantu aku menggunakan teknik pengendalian aura seperti yang Asila Moegi lakukan! Ayolah Guru!” teriak Asta Raiken dalam pikirannya. Namun, Flares tetap saja tidak terbangun, seolah-olah ia memang sengaja mengabaikannya.
“Kau mempunyai Esensi Roh yang sangat kelam dan menakutkan, namun sayangnya kau masih terlalu muda. Banyak hal yang belum kau pelajari, seperti kemampuan pengendalian aura-mu yang sangat buruk. Seperti anak kecil yang sedang marah,” ujarnya setelah berhenti tertawa.
“Awalnya aku mengira kau adalah seseorang yang lain, tapi aku salah. Lagipula, mustahil bagi mereka, para Kultivator Iblis, mempekerjakan seorang bocah sepertimu dalam misi pengintaian. Meski kau mempunyai aura kelam yang mendominasi, aku tak merasakan hawa iblis di dalamnya,” lanjutnya lagi mengidentifikasi Asta Raiken.
“Tentu saja aku bukan! Jangan samakan aku dengan para Kultivator Iblis itu!” teriak Asta Raiken.
“Tapi tetap saja,” ucap pemuda Elf itu. Tiba-tiba, Asta Raiken merasakan beban berat di kedua pundaknya dan seolah-olah ada lempengan baja yang menjepitnya dari segala arah.
Instingnya berdenging keras menandakan bahaya yang akan datang. Namun saat ini ia tak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya hanya mematung di tempat, tak peduli sekeras apa ia mencoba menggerakkan badan. Keringat dingin mengucur deras, diikuti detak jantungnya yang berdentum kencang.
“Meskipun kau bukanlah bagian dari Kultivator Iblis, hukum tetaplah hukum. Bangsamu sendiri yang memaksakan hal itu sejak dulu, tak peduli siapapun itu, jika mereka melanggar aturan, maka pantas bagi mereka mendapatkan sebuah hukuman,” pemuda Elf itu seketika hilang dari pandangannya, seolah-olah ia tak pernah berada di sana.
“Crash!”
"Uhukk…!! Bagaimana mungkin…!! Badanku… kenapa…” tak pernah Asta Raiken menduga bahwa pemuda Elf itu akan menusuknya dari belakang.
“Crash!”
Pemuda Elf itu menarik kembali pisau cahayanya dari tubuh Asta Raiken. Darah mulai bercucuran, mengalir keluar membasahi tubuhnya. Kesadarannya perlahan memudar, Asta Raiken menyentuh luka tusukan yang menembus dari punggung hingga ke dada bagian kiri.
“Hukuman tetaplah hukuman. Tapi tenang saja, kau takkan kenapa-kenapa. Setidaknya aku tak mengenai jantungmu. Ingatlah namaku Joashua Ramier, sang Light Elf Guardian Hutan Mistik. Jangan lupa berterima kasih padaku karena aku tak membunuhmu,” setidaknya sebelum Asta Raiken tak sadarkan diri, ia akhirnya tahu siapa Elf di depannya ini.
Setelah Asta Raiken terjatuh dan tak sadarkan diri,“Rasya, Vormir, Yelaina, Voiaxy! Sampai kapan kalian ingin bersembunyi di sana? Terutama Rasya, keluarlah. Aku butuh bantuanmu untuk menyembuhkannya,” panggil Joashua, memanggil ke empat orang rekannya yang sedari awal berada tak jauh dari sana.
Dua lelaki dan dua perempuan melompat turun dari atas pohon mendekatinya,“Kau memanggilku saat membutuhkanku namun setelah itu kau membuangku begitu saja,” seru salah seorang Elf perempuan berambut biru, Rasya Marona.
“Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak, apalagi dengan nada bicara seperti itu. Cepat sembuhkan dia sebelum terlambat,” perintah Joashua Ramier.
“Tanpa kau suruh pun akan kulakukan,” ujar Rasya Marona mulai membacakan mantra penyembuh.
Hanya dalam hitungan detik, luka tusukan tersebut kembali menutup dengan sendirinya berkat mantra penyembuh yang Rasya Marona bacakan untuknya.
Joashua Ramier tak menjawab pertanyaan Vormir Heyan, melainkan langsung menarik kaki Asta Raiken dan melemparnya ke sungai. Keempat rekannya terkejut melihat apa yang dilakukannya.
“Masalah beres. Ayo kita kembali dan laporkan hal ini,” ujar Joashua Ramier sambil membersihkan telapak tangannya.
“Joashua Ramier, apa yang...”
“Dasar tak manusiawi! Lantas untuk apa kau memintaku menyembuhkannya kalau kau sendiri hendak membunuhnya lagi, hah?!” teriak Rasya Marona memotong ucapan Yelaina Kiri, salah satu Elf perempuan lainnya.
Tahu hal ini akan terjadi, Joashua Ramier langsung melarikan diri menghindari amukan Rasya Marona yang meledak-ledak.
“Maaf!” teriak Joashua Ramier sambil berlari.
“Tidak akan!” teriak Rasya Marona lalu ikut mengejarnya. Tiga orang lainnya hanya menggelengkan kepala melihatnya.
“Dia benar-benar tak pernah belajar dari pengalaman,” komentar pemuda Elf lainnya, Voiaxy Fiar .
Setelah itu mereka pun berjalan kembali mengikuti mereka berdua yang sudah pergi, meninggalkan Asta Raiken yang hanyut terbawa arus di sungai.
---
Di sisi lain, Dao Li akhirnya berhasil menyusul Taki Garaki di lokasi ledakan dan menyampaikan apa yang telah Asila Moegi dapatkan dari aktivitasnya sebelumnya.
Tapi tak disangka, lokasi ledakan sebelumnya kini telah dipenuhi oleh beberapa Hewan Ghaib yang nampak tertarik dengan tempat tersebut.
“Di sini berbahaya. Kau cepatlah kembali dan sampaikan kepada Murid Sekte Kobaran Api yang berada di bawah Ranah Master untuk tidak meninggalkan pemukiman dan memasuki hutan sejauh 2 kilometer,” pesannya sebelum Dao Li kembali ke pemukiman.
Dao Li pun mengangguk dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut secepat-cepatnya seperti yang diperintahkan oleh Taki Garaki.
“Padahal belum lama aku kembali, tapi mengapa sekarang ada begitu banyak Hewan Ghaib tingkat 3 dan 4? Meskipun ini bukan masalah bagiku, namun mereka merupakan ancaman bagi murid Sekte Kobaran Api Sejati yang masih di bawah Ranah Master,” gumam Taki Garaki mencoba mengidentifikasi peringkat para Hewan Ghaib tersebut.
__ADS_1
Dengan kemampuannya, bukan hal sulit baginya untuk menghabisi semua penghadang tersebut. Setelah mengumpulkan bangkai-bangkai Hewan Ghaib tersebut, Taki Garaki melanjutkan kembali perjalanannya.
Ditengah perjalanan, lagi-lagi Taki Garaki dihadang oleh Hewan Ghaib yang jenisnya sama seperti sebelumnya, yaitu Serigala Merah, Banteng Bertanduk Api, Rubah Berekor Panjang, dan Burung Jengger Api.
Taki Garaki sangat mengenal beberapa Hewan Ghaib jenis ini, yang mana merupakan Hewan Ghaib langka yang sulit ditemui. Hal ini juga yang membuatnya tak merasa kesal karena perjalanannya terhenti beberapa kali di tengah jalan. Taki Garaki berharap Joashua Ramier takkan menyakiti Asta Raiken sebelum ia berhasil menyusulnya.
Lagi dan lagi, Taki menyelesaikan pertarungannya dengan cepat. Setelah membereskan hewan-hewan ghaib yang terus-menerus datang menghadangnya, akhirnya Taki Garaki sampai di sungai perbatasan antara Provinsi Huo Tanah Api Suci dengan Provinsi Senlin Hutan Mistik.
Taki lalu mengeluarkan batu giok berwarna merah dari dalam Cincin Jade Samudera miliknya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Giok tersebut menyala terang berwarna merah, menampilkan visualisasi daftar identitas Taki Garaki. Setelah beberapa saat, ia pun memasukkannya kembali ke dalam cincin.
Lebar sungai tersebut sekitar tiga puluh meter, dan Taki Garaki tentu tak mau menceburkan diri serta membasahi pakaiannya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menggunakan kekuatan dari Hewan Roh miliknya untuk melewati sungai perbatasan tersebut.
“Pelepasan Roh Rajawali Awan Api, Sayap Awan Api!”
Sebuah sayap putih muncul dari punggungnya, dan sayap itu menyala dengan api kemerahan di setiap ujung bulunya. Setelah mendarat di seberang sungai, Taki Garaki memutuskan untuk duduk dan menunggu kedatangan Joashua Ramier.
---
Di tempat lain, Joashua Ramier terlihat babak belur setelah Rasya Marona memukulinya. Ia terbaring di padang rumput saat sebuah pesan tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya.
“Rasya benar-benar tak mempunyai belas kasihan sama sekali... Uhukk! Uhukk! Sialan! Baru saja aku bisa tenang,” Joashua tersedak dan kesal saat pesan masuk mengganggu waktu ketenangannya.
“Dasar kau ini! Andai saja aku tak mengenalmu, mungkin sudah kuhajar pantatmu sebagai ganti dari menyita waktu luangku kini,” gerutu Joashua Ramier kesal sambil mencoba bangkit dan berjalan menuju sungai perbatasan, tempat di mana Taki Garaki sedang menunggu.
Dari kejauhan, Joashua Ramier sudah bisa melihat sosok Taki Garaki yang duduk di pinggiran sungai, sembari memainkan giok penanda identitas miliknya.
“Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menyambut sang Tetua Sekte Kobaran Api Sejati. Ada apa gerangan, tuan Kaisar Kecil datang kemari tiba-tiba?” ujar Joashua Ramier menggodanya.
“Berhenti memanggilku dengan... Pfftt! Apa yang terjadi dengan wajahmu?” hampir saja Taki Garaki tertawa melihat wajah Joashua Ramier yang babak belur akibat dipukuli Rasya Marona. Namun, pada akhirnya Taki Garaki tetap menertawakannya.
Joashua Ramier langsung memanyunkan bibirnya kesal melihatnya menertawakannya dengan sangat puas.
“Lupakan wajahku. Jadi ada apa dengan kedatangan Sang Kaisar Kecil kemari? Jangan bilang kau hanya bosan dan ingin mencari teman ngobrol untuk bersantai,” ucap Joashua Ramier bertanya maksud kedatangan Taki Garaki.
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Joashua Ramier. Saat ini aku tidak punya waktu seluang itu, pertempuran semakin menyeruak luas, mana mungkin aku bersantai. Tujuanku kemari adalah untuk mencari salah seorang bocah berusia 10 tahun. Apa kau melihatnya?” tanya Taki Garaki tanpa berbasa-basi.
Joashua Ramier memiringkan bibirnya, ia sedikit ragu untuk berbicara mengenai bocah berusia 10 tahun yang sebelumnya telah ia hadapi. Tetapi, melihat keseriusan dalam tatapan Taki Garaki, ia tentu tak bisa menyembunyikannya.
“Aku melihatnya, atau lebih tepatnya aku menghajarnya dan membuangnya di sungai. Lagipula, hukum tetaplah hukum. Aku melakukannya sesuai dengan apa yang sudah tercatat dalam perjanjian. Siapakah bocah itu?” tanya Joashua Ramier penasaran mengenai identitas Asta Raiken.
Mendengar hal itu, Taki Garaki tersentak kaget dan langsung berdiri dari duduknya, “Apa katamu?! Menghajarnya?! Akhhh! Sial! Dia adalah orang yang sangat penting di Sekte-ku. Bukankah kau bisa menangkapnya terlebih dahulu? Bukankah itu lebih baik daripada menghajarnya dan membuangnya ke sungai begitu saja? Bagaimana jika ia dimakan oleh Hewan Ghaib?” seru Taki Garaki panik.
“Ah, itu aku tidak kepikiran,” ujar Joashua Ramier membuatnya semakin kebingungan.
“Tapi kau tenang saja. Meskipun aku memberinya pelajaran, sebelum aku membuangnya ke sungai, Rasya Marona telah menyembuhkan semua luka fisiknya terlebih dahulu. Aku yakin saat ini ia mungkin telah tersadar di suatu tempat di hilir sungai,” jelas Joashua Ramier sedikit menenangkan kekalutan Taki Garaki.
“Syukurlah kalau begitu. Kupikir kau melemparkannya dalam keadaan terluka. Selain bocah ini, apa tidak ada orang lain lagi yang melewati perbatasan wilayah?” tanya Taki Garaki.
“Tidak ada. Dia satu-satunya bocah berusia 10 tahun yang menerobos masuk kemari. Memangnya kenapa dia bisa pergi sampai meninggalkan tempat aman dan berlari kemari? Apa yang kalian lakukan hingga menakutinya?” tanya Joashua Ramier sedikit mengajaknya bercanda.
“Teman seangkatannya melihatnya pergi berlatih, namun tak lama setelahnya, ia meledakkan sepetak hutan dengan kemampuannya, hingga menimbulkan sedikit kerusakan di hutan. Alasan mengapa ia kabur hingga kemari, aku belum tahu,” jelas Taki Garaki.
“Dia masih anak-anak, mungkin dia takut jikalau kalian sampai memergokinya membakar hutan, dia akan dihukum. Itulah mengapa ia pergi sejauh mungkin,” Joashua Ramier sedikit menyimpulkan alasan mengapa Asta Raiken memutuskan menerobos perbatasan.
“Anak itu bahkan tak tahu menahu soal hukum perbatasan. Seperti ada banyak potongan penting yang belum kalian sampaikan kepadanya. Bagaimana bisa kalian tak mengajarinya dengan baik?” ujar Joashua Ramier.
“Bukan kami yang tak mengajarinya, hanya saja ia sendiri yang memutuskan jalan hidupnya. Dahulu ia menolak berlatih, namun 3 tahun yang lalu, ia pun memutuskan untuk mendalami dunia kultivasi,” jelas Taki Garaki.
Joashua menghela nafasnya pelan, kini ia sudah sadar bahwa semua keterkejutan yang Asta Raiken ungkapkan ternyata bukanlah sebuah kebohongan. Kini ia sedikit menyesal karena telah menyakitinya sebelumnya.
“Kalau ku tahu dia adalah orangmu, aku pasti akan menjaganya. Hanya saja, ia sendiri tak mengatakan identitasnya dengan jelas sehingga aku tak tahu itu. Sekarang kau cepatlah pergi sebelum hal buruk terjadi padanya,” suruh Joashua Ramier padanya.
“Ahh, benar juga. Aku harus bergegas mencarinya sekarang. Kalau begitu aku pamit pergi, terima kasih atas informasinya,” setelah mendapatkan informasi tersebut tanpa menunggu lebih lama, Taki Garaki pun pergi meninggalkan tempat tersebut menyusuri sungai ke hilir.
“Aku benar-benar menyesal telah menghajarnya dengan cukup keras. Kuharap bocah itu baik-baik saja saat ini,” gumam Joashua Ramier sedikit menyesali perbuatannya.
“Apa yang ku bilang. Bukankah ini sama seperti yang sudah ku katakan, Joashua Ramier?” ujar Voiaxy Fiar mengejutkannya.
__ADS_1
“Dasar ceroboh dan sok pintar!” ujar Yeleina Kiri.
Di hadapan mereka berdua, Joashua Ramier hanya bisa memperlihatkan sedikit senyuman canggung di bibirnya.