Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch51 Fase Kedua


__ADS_3

Melihat kegigihan yang di perlihatkan Fulan Bin membuat Asta tak bisa ikut bersemangat untuk bertarung dengan serius meskipun pada akhirnya pertarungan menjadi tidak seimbang. Akan tetapi hal tersebut hanya pemikiran Asta sendiri.


"Aku takkan keberatan jika aku dikalahkan dalam babak pertama hanya saja bukan berarti kau bisa mengalahkanku dengan mudah," ujar Fulan Bin sembari mengaktifkan esensi rohnya, seketika suhu di sekitar arena turun drastis.


Dibalik topengnya Asta mengernyitkan keningnya menyadari perubahan suhu tersebut.


"Bagaimana dengan esensi Angin Musim Dinginku apa kau sudah merasakannya sekarang..!!" Fulan Bin kembali melancarkan setiap serangan yang lebih berbahaya dibanding sebelumnya.


Asta tak lagi bisa menyentuh pedang yang Fulan Bin gunakan meskipun dengan ia mempunyai Cakar Taring Duri setelah pedang bercahaya biru itu membekukannya.


"Kelihatannya anak itu hanya mempunyai bakat kultivasi yang tinggi akan tetapi bakatnya dalam tekhnik bertarung jauh di bawah Fulan Bin,"


Begitu banyak pertanyaan dan ujaran yang dilontarkan para penonton terhadap kemampuan Asta yang sebenarnya. Karena terlihat jelas sekali bahwa pemahaman bertarungnya jauh sekali dibawah Fulan Bin yang saat kini terlihat mendominasi pertarungan dengan tekhnik dua pedangnya.


"Semenjak kapan dia menggunakan pedang...?" Begitulah yang Kenshin gumamkan sedari awal mereka bertarung secara terus-menerus.


Kecepatan tekhnik pedang Fulan Bin terus meningkat dan semakin tajam, tebasannya yang dilapisi dengan aura dingin itu membekukan spiritnya.


Meskipun Asta terus mencoba menahan serangannya dengan pedang namun Qi dingin pedangnya tetap menembus hingga mengenainya.


Asta pun terhempas ke belakang setelah tubuhnya di penuhi dengan luka pedang, melalui lukanya Qi dinginnya membekukan beberapa bagian tubuhnya dari dalam sehingga membuatnya lebih sulit tuk bergerak.


Asta merapatkan giginya menggenggam gagang pedangnya erat-erat.


"Bukankah kau ingin serius bertarung mengapa kau terus bermain-main Asta!"


Fulan Bin kembali menerjang memberikan serangan dengan harapan ia bisa mengalahkannya, firasatnya mengatakan bukan pertarungan jangka lama bukanlah sesuatu hal yang baik baginya. Ia masih merasakan aura penekanan darinya.


Asta pun mengangkat pedangnya tinggi-tinggi bersiap melancarkan serangan. Esensi rohnya menyelimuti pedang hitam tersebut ia pun mengayunkannya dengan sangat cepat.


"Tekhnik Roh, Tebasan Membara"


Fulan Bin terhenti sejenak sesaat jantungnya hampir saja berhenti berdetak melihat tebasan pedang yang memiliki daya kekuatan penghancur tersebut mengarah dengan cepat kearahnya.


"Seni Surgawi Ajaib, Tarian Pedang Musim Dingin,"


Kekhawatiran Fulan Bin terjawab sudah merasakan kuatnya serangan dari spirit pedangnya, qi pedang dinginnya dihancurkan dengan sangat cepat bahkan pedangnya pun mulai terkikis oleh spirit serangan tersebut.


Tak ada yang bisa di lakukan dengan serangan itu Fulan Bin melompat ke samping menghindarinya, sesaat ia melompat pertarungan pun berakhir dengan kekalahannya.


"Hahahahaha...!!! Aku terlalu fokus dengan serangannya sampai-sampai tak sadar dimana posisiku berdiri! Asta! Mari kita bertarung lagi lain kali..!!" Ujar Fulan Bin mengakuinya kekalahannya.


Asta pun mengangguk mengiyakannya sambil menjawab ia akan selalu siap untuk pertarungan itu kapanpun Fulan Bin ingin bertarung kembali.


Di atas podium 7 Ketua Sekte Besar Fujan Daru menghembuskan nafasnya pelan melihat perwakilan terbaiknya harus gugur di babak pertama.


"Maafkan aku, Ketua Sekte! Karena harus kalah di babak pertama sehingga mempermalukan nama baik sekte kita!!" Teriak Fulan sembari membungkuk ke atas podium dimana ketua sektenya berada.


Fujan Daru hanya membalasnya dengan senyuman ramah sambil menganggukkan pelan. Dari dalam hatinya ia merasa tidak dipermalukan sedikitpun kekalahan bukanlah hal yang harus di permasalahkan dalam sebuah pertarungan. Ia hanya menyayangkan bahwa keberuntungan perwakilan terbaik dari sektenya itu sedang buruk karena bertemu Asta di fase pertama.


Pertarungan pun di lanjutkan kembali setelah pembawa acara mengundi kembali delapan peserta selanjutnya.


Beberapa ronde berikutnya pertarungan berjalan dengan lancar dan singkat, setelah memperhatikan pertarungan Asta dengan Fulan Bin para penonton merasa pertarungan-pertarungan selanjutnya terasa lebih membosankan.


Setelah pertarungan ronde ke-30 selesai sang pembawa acara pun meneriakkan angka peserta terakhir yang lolos ke fase kedua tanpa bertarung. Sosok tersebut adalah Tang San dari Sekte Pulau Dewa.


Setelah fase pertama selesai 121 peserta yang lolos ke fase kedua pun di berikan waktu istirahat selama satu jam untuk beristirahat.


"Akhirnya selesai juga waktunya untuk makan," gumam Asta pelan sambil beranjak pergi dari arena pertarungan menuju ke pasar jajanan yang menjual berbagai makanan yang belum pernah ia cicipi.


Mata Asta membuka lebar melihat sepanjang jalanan tersebut begitu banyak penjual makanan dan minuman yang berjejer rapi memamerkan jualan mereka.


"Untungnya aku tak menggunakan terlalu banyak uangku sebelumnya, saat ini adalah saat yang tepat untuk menggunakannya,"

__ADS_1


"Yap! Waktunya untuk jalan-jalan dan mencicipi seluruh jajanan..!! Go Asta, Go...!!!" Teriak Gurunya bangun dari tidurnya.


Asta terkejut melihat gurunya yang muncul di hadapannya secara tiba-tiba sembari berteriak.


Asta pun membungkuk malas sembari menghembuskan nafasnya keluar,"kenapa guru bangun bukankah tidur lebih nyaman siapa tahu guru bisa melihat bunga...."


Flares memotong ucapannya dengan memukul kepalanya.


"Go...!! Asta..!! Go...!!"


Asta pun mengikuti apa yang gurunya katakan untuk pergi mencicipi satu persatu makanan di setiap kedai tersebut tanpa takut kehabisan uang sedikitpun. Ia masih mempunyai ribuan keping emas di cincinnya, sedang satu keping emas sudah cukup untuk membeli hampir seluruh jajanan tersebut yang mana hanya berharga beberapa keping perunggu.


Satu keping emas setara dengan seribu keping perak dan seribu keping perunggu sama dengan satu keping perak.


Selepas kenyang dengan semua jajanan itu Asta pun kembali ke ruang istirahat di arena pertarungan menunggu pertandingan fase kedua akan di mulai belasan menit lagi.


'Guru benar-benar hanya bangun ketika makan dan tidur ketika kenyang. Ternyata istilah hanya tau makan dan tidur adalah sebuah kenyataan bukan pengibaratan semata,' gumam Asta di dalam hatinya melihat kelakuan gurunya tersebut.


Di ruang istirahat tak hanya ada dirinya seorang, peserta yang lain juga sudah ada disana bersiap-siap untuk fase kedua.


"Asta darimana saja kau..?" Ujar Zaraki mengejutkannya.


"Pagi hari tadi saat aku kemari aku melihat banyak sekali kedai yang menjual makanan dan minuman enak, aku baru saja kembali setelah mencicipi semua makanan di jalanan dan rasanya benar-benar enak," jawabnya sambil tersenyum di balik topengnya.


"Mencicipi makanan..? Kupikir hanya dengan latihan sudah cukup membuatmu kenyang," ujarnya lalu tertawa.


"Latihan dan makan adalah dua hal yang berbeda, Zara. Kau tak bisa mencampur adukkan keduanya, makan untuk hidup dan hidup untuk latihan begitulah kehidupan,"


"Pfftt.. Hahahahaha. Apa-apaan ucapanmu itu, dengan tingkatanmu saat ini tidak tidur dan makan selama beberapa hari pun itu tak akan membahayakan hidupmu apanya yang makan untuk hidup," ujarnya sambil menggeleng pelan.


"Hei! Itu perutmu bukan perutku! Apanya yang tidak berbahaya bisa-bisa aku mati kalau tidak makan sehari saja," ujarnya menolak asumsi bahwa ia bisa tetap baik-baik saja sekalipun tak makan dan tidur selama beberapa hari.


"Aku serius! Apa kau pikir ucapanku bercanda cobalah kalau kau tak percaya!" Ujarnya lagi.


"Ohh, tidak tertarik!" Timpalnya.


Arena turnamen kembali meriah setelah satu jam istirahat. Para penonton sudah kembali berantusias menyambut setiap pertarungan para jenius muda menjanjikan tersebut.


Asta menggosok kepalanya bingung melihat hanya ada dua panggung arena di depannya. Perasaan sebelumnya ia yakin ada empat panggung yang di gunakan sebagai arena.


"Apakah ingatanku yang salah atau memang arenanya yang berubah," gumam Asta pelan sambil mencoba mengingat-ingat kembali.


"Aku yakin itu ada empat arena mengapa sekarang hanya dua saja...?" Gumamnya bingung.


"Oyy, Asta apa yang sedang kau pikirkan..?" Tanya Zaraki melihat sikap Asta yang sedikit kebingungan.


"Menurutmu ada berapa arena sebelumnya..?"


"Empat,"


"Empat?! Kau buta ya lihatlah bagaimana kau bisa mengatakan itu empat?!" Ucap Asta tak setuju meskipun ia juga yakin bahwa sebelumnya arena yang mereka gunakan setidaknya ada empat akan tetapi ia tetap lebih mempercayai penglihatannya saat ini yang jelas hanya ada dua arena sekarang.


Tanpa segan Zaraki memukul kepalanya dengan keras.


"Apa kau bodoh?! Kau yang buta?! Tentu sekarang hanya ada dua arena yang di gunakan namun jika kau bertanya sebelumnya itu ada empat! Apa kau lupa kalau kita diberi waktu istirahat satu jam hah?!" Ujarnya sedikit kesal.


"Memangnya apa yang terjadi dengan dua arena yang lainnya dalam waktu satu jam tersebut apa kau pikir mereka menyatu menjadi dua arena yang lebih besar ini?!" Ujarnya sambil balas memukul balik kepala Zaraki.


"Tentu saja para penjagalah yang mengubah susunan arenanya demi kepentingan turnamen!!" Ucapnya geram dan kesal ia lalu memukul kepalanya lagi.


"Aihh jadi begitu ya," ucapnya pelan sambil terkekeh pelan.


"Aihhh matamu..!!!" Teriak Zaraki kesal sambil memukul kepalanya lagi.

__ADS_1


Selama Asta dan Zaraki berdebat pertarungan ronde pertama sudah dilakukan. Meski tak berlangsung begitu lama namun cukup menarik untuk di saksikan.


Tak seperti pertarungan dalam fase pertama yang berjalan cukup cepat meskipun ada 4 pertarungan, di fase kedua walaupun hanya terdapat 2 pertarungan diatas dua arena akan tetapi berjalan sedikit lambat karena persaingan antar peserta yang mulai tinggi.


Kali ini giliran Zaraki yang maju melawan salah seorang dari Sekte menengah, ia pun melompat segera ke arena dengan kapak yang sudah ia genggam.


"Sungguh kehormatan bagiku bisa menjadi lawan dari seseorang seperti mu, saudara Zaraki dari Sekte Kobaran Api Sejati," ujarnya.


"Kau sungguh pandai merangkai kata-kata saudara Tian Ling, meskipun Sekte Dewa Langit hanyalah Sekte menengah, namun kemampuanmu bukanlah sesuatu yang bisa di remehkan," balasnya.


Wasit pun memulai pertarungan para penonton yang menyaksikan pertarungan itu bersorak antusias karena akan menyaksikan pertunjukan yang menarik kembali.


Pasalnya Tian Ling dari Sekte Dewa Langit adalah jenius yang terkenal karena tekhnik palu lemparnya, Palu Langit itu sendiri adalah Esensi Rohnya.


Disisi lain Zaraki adalah penerus Pentagram Sekte Kobaran Api Sejati yang setidaknya selalu berisi pemuda jenius dari Sekte Kobaran Api Sejati.


Bentrokan antara kapak dan palu Tian Ling menciptakan gelombang kejut yang kuat, dentingan pertarungan yang sengit terjadi di segala sisi arena.


Tak segan-segan Zaraki menyerang Tian Ling dengan segala kekuatannya begitupula sebaliknya yang Tian Ling lakukan.


Zaraki tak hanya bertarung mengandalkan kemampuan bertarungnya saja, sesekali ia juga mengaktifkan Esensi Rohnya untuk mengacaukan pergerakan Tian Ling. Namun Tian Ling dengan cepat memukulkan palunya ke tanah untuk merusak serangan esensi roh Zaraki.


Esensi Roh Zaraki sendiri merupakan Roh Semesta, Nadi Bumi. Saat itu di aktifkan Zaraki bisa mengontrol gravitasi dalam area jangkauannya, sedangkan Palu Langit Tian Ling adalah Roh Alat.


Kesabaran Tian Ling lama-lama habis dipermainkan Zaraki yang bisa mengendalikan gravitasi sesuai kehendaknya sendiri.


Ketika Zaraki menghilangkan gravitasi di pijakannya Tian Ling memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melemparkan palunya ke atas langit sehingga ia pun terbawa terbang ke atas.


Zaraki pun mengernyitkan dahinya melihatnya yang malahan terbang ke atas.


Disaat merasa cukup tinggi Tian Ling kembali menarik palunya dan memukulkannya ke udara mengarah ke arena di bawahnya.


Dari pukulan palu itu tercipta meriam angin yang menghujani arena meriam angin tersebut bahkan memiliki lebar sepuluh kali dari palu yang sedang Tian Ling pegang.


Zaraki melotot terkejut tak disangka ternyata Tian Ling mampu memanfaatkan tekhniknya untuk menyerangnya. Sambil memejamkan matanya pelan Zaraki memutarkan kapaknya cepat membelah setiap hujan meriam angin yang mengarah padanya.


Serangan terus gak berhenti disana. Hujan meriam angin tersebut sungguh memporak-porandakan arena di sekitarnya, akan tetapi serangan tersebut belum cukup membuatnya tumbang di atas arena.


Zaraki tak hanya semata-mata menghancurkan meriam angin tersebut untuk terhindar dari serangannya, ia juga mempelajari tempo dan kekuatannya agar bisa mencari celah untuk menyerang balik.


Sesaat ia sudah mengetahui tempo serangannya Zaraki melemparkan kapak ke arahnya, dengan esensi rohnya ia menghilangkan gravitasi pada kapak tersebut sehingga melesat lebih cepat.


Lemparan Zaraki tepat mengenainya ia pun terjatuh keluar dari arena.


Disisi Arena yang lain, Kiena Saki dari Sekte Tanah Neraka Keabadian melawan Huang Zhong cukup sengit. Akan tetapi pertarungan tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh Kiena Saki setelah ia lagi-lagi memenangkan pertandingan setelah lawannya menyerah karena racun dari esensi rohnya.


Pertarungan pun dilanjutkan setelah pembawa acara mengumumkan peserta selanjutnya. Kali ini giliran Asta yang maju lebih dulu ke atas arena dan di arena satunya lagi Hao Chen juga yang ke atas.


Lawan dari Hao Chen dan Asta yang merupakan dari Sekte Menengah kedua-duanya sama-sama menyerah. Semenjak angka mereka dipertemukan dengannya mereka sudah tahu pasti hasil dari pertarungannya.


Karena lawan mereka menyerah, Asta dan Hao Chen kembali menuruni arena dan hanya menonton pertarungan selanjutnya.


Setelah beberapa ronde kejadian yang sama kembali terulang saat Kenshin dan Cang Hue menaiki Arena lawan mereka dengan sepakat untuk menyerah.


Para penonton setidaknya tahu mengapa lawan Kenshin langsung menyerah tanpa bertarung, akan tetapi yang membuat mereka bingung adalah mengapa lawan dari sosok manusia setengah elf itu juga menyerah itu masih menjadi pertanyaan.


"Ada apa ini mengapa lagi-lagi ada peserta yang menyerah begitu saja,"


"Memang pilihan terbaik adalah menyerah jika menemui lawan yang mustahil untuk dihadapi,"


Para penonton pun sedikit kehilangan antusias mengapa para peserta itu tak mau bertarung sedikitpun dan malah memilih langsung menyerah.


Di pertarungan selanjutnya ada Zhang Rou Zi dari Sekte Mawar Darah melawan Harumi Ayano dari Sekte Dewa Langit di Arena A membuat semangat antusias penonton kembali bangkit.

__ADS_1


Pertaruhan antar gadis tersebut sungguh menawan mata para penonton yang sudah kebosanan akan duduk menunggu pertarungan yang menarik untuk di lihat kembali.


Di sisi Arena yang lain ada Sang Ryun dari Sekte Alam Langit melawan Wen Han dari Keluarga Han juga sengit, keahlian Sang Ryun dalam memainkan tekhnik dua kapaknya masih begitu membekas diingatan para penonton.


__ADS_2