
“Kaisar dan bala bantuan yang lain datang..!!!!”
“Omong Kosong dengan kalian..!!! Para sampah...!!!”
“Tutup mulutmu demon rendahan..!!!”
“Ku bunuh kau sampah...!!”
Teriakan perang bergema penuh semangat memenuhi medan pertempuran di Benteng Perbatasan Utara, Negeri Bulan Beku.
---
Sekte Biru Bulan Sabit yang paling dekat dengan wilayah tersebut tentu langsung pergi membantu pasukan kekaisaran, juga jika bukan karena Sekte Biru Bulan Sabit yang langsung bergerak setelah menyadari peperangan tersebut tak akan ada seseorang yang dapat menyampaikan informasi kepada Kaisar Arkhan saat itu juga.
Mendengar informasi dari salah satu bawahannya terhadap penyerangan di Benteng Perbatasan Utara, Fujan Daru sebagai Patriark langsung mengambil langkah cepat memerintahkan seseorang untuk menyampaikan informasi tersebut.
“Dengan adanya Tuan Pemburu Iblis yang kemari menandakan bahwa Kaisar dan yang lain sedang dalam perjalanan kesini. Aku harus bertahan sebisa mungkin membantu meringankan beban Tuan Pemburu Iblis disini,” Fujan sedikit lega setelah melihat kedatangan Hao Ryun yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kerumunan pasukan musuh.
“Bertahanlah karena sebentar lagi pasukan bala bantuan segera datang,” Hao Ryun berkata pada Fujan melalui pikirannya.
Fujan tersenyum tipis sedikit malu, “Ahaha, sepertinya raut wajahku terbaca olehnya dengan sangat jelas ya,” meskipun penampilan Fujan Daru memang terlihat lebih berumur ketimbang dengan Hao Ryun kenyataan yang sebenarnya sungguh sangat berbeda, Hao Ryun bahkan ratusan tahun lebih tua darinya.
Tak berapa lama kemudian berdatangan kultivator tingkat tinggi yang bergabung ke dalam pertempuran, setidaknya adalah Kultivator Lanjutan dan yang paling rendah adalah Kultivator Suci.
---
Kultivator di bagi menjadi 3 bagian berdasarkan Ranah Kultivasi yaitu Kultivator Umum, Lanjutan dan Surgawi.
Kultivator Umum adalah sebutan untuk kultivator dari Ranah Gerbang yang terendah dan tertinggi adalah Ranah Suci, disetiap ranahnya terdapat tingkatan lagi sebanyak 10 bintang.
Lalu Kultivator Lanjutan dimulai dari Ranah Tetua Suci, Master Suci dan Dewata Agung, disetiap ranahnya juga terdapat ada tingkatan 5 bintang.
Sedangkan Kultivator Surgawi adakah penyebutan untuk para Master Ahli Surgawi, juga ada tingkatan tersendiri bagi Master Surgawi yang dibagi menjadi 4 Dao yaitu Dao Agung, Dao Master, Dao Leluhur dan Dao Surgawi.
---
Fujan sedikit kebingungan ketika melihat kultivator tersebut tak mengenakan pakaian dari sekte manapun atau bisa dibilang beberapa orang bahkan memakai pakaian biasa.
“Semenjak kapan rakyat biasa mempunyai kemampuan bertarung dan kultivasi setinggi itu...?” Fujan mengernyitkan dahinya heran mencoba untuk mengenali mereka.
“Pak Tua! Berani sekali kau mengabaikan musuhmu dalam pertarungan!”
Fujan sedikit pun tak menanggapi ucapan tersebut melainkan langsung membalasnya dengan tebasan pedangnya.
“Berkatalah dengan sopan saat berhadapan dengan seniormu,” seru Fujan Daru setelah membunuhnya.
Perlahan-lahan keberanian mereka untuk menyerang Fujan sedikit demi sedikit semakin menciut, merasa tak sanggup menghadapinya mereka memanggil beberapa komandan pasukan yang berada di ranah yang sama dengan sang Patriark Sekte Biru Bulan Sabit tersebut.
Empat kultivator dengan ranah dewata agung mendatanginya dengan wajah penuh amarah setelah mendengar laporan bahwa ada banyak kultivator yang mati di tangannya. Keempatnya sama-sama seorang demon.
“Pak Tua! Sepertinya kau bernyali besar, apa kau berani menyebutkan namamu?!” seru salah seorang dari mereka berempat.
Fujan tersenyum tipis padanya, “Aku? Ingat namaku Fujan Daru, seseorang yang memenggal kepalamu di sini,” jawabnya dengan sangat santai.
“Cihh! Inilah mengapa aku tak pernah suka dengan para manusia, mereka pandai sekali bermain kata,” ucap yang lainnya sinis.
“Hei, Pak Tua! Meskipun kau adalah Kultivator Dewata Agung puncak tapi tetap saja tak menutup bahwa kau hanya sendirian, berhentilah berpura-pura sok kuat,” mereka berempat meremehkan Fujan Daru yang hanya sendirian.
Fujan tersenyum tipis membalas perkataan mereka,“Tak seharusnya seorang junior berkata seperti itu pada seorang senior,” ucapnya sembari memainkan pedang.
Dengan raut wajah kesal mereka berempat maju melancarkan serangan pukulan bersamaan.
“Patriark Fujan..!! Serahkan orang-orang ini pada kami!! Kami dari Asosiasi Fajar Merah datang menerima perintah untuk membantu..!!”
“Manager akan segera datang..!!! Tuan Pemburu Iblis juga sedang bertarung..!! Kita pasti menang..!!”
Teriakan perang bergema di seluruh medan pertempuran dibarengi dengan suara keras adu senjata dan serangan dari kedua belah pihak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh langkah yang berasal dari arah selatan. Debu membumbung tinggi ke langit menandakan datangnya pasukan dalam jumlah yang besar.
“Saudaraku.....!!! Serang...!!!” terdengar suara yang begitu lantang menggema di telinga semua orang.
__ADS_1
Pasukan kekaisaran bernafas lega setelah mendengar teriakan sang Kaisar Arkhan yang telah datang membawa bala bantuan yang sangat banyak.
“Pasukan bantuan datang..!!! Kita selamat..!!!”
“Hidup yang mulia Kaisar Arkhan..!!!”
Fujan tersenyum tipis mendengar teriakan lantang dari sang Kaisar yang memberikan perintah, “Sepertinya hari ini memang bukan hari kematian,” ujar Fujan tersenyum tipis kepada mereka berempat.
"Seni Surgawi Legendaris, Tebasan Mural Es"
“Patriark Sekte Biru Bulan Sabit memang seperti yang di beritakan. Uhuk-!! Uhuk-!!”
Fujan memojokkan mereka berempat hanya mengandalkan tekhnik pedang dinginnya, sedangkan disisi lain mereka mati-matian mengeluarkan seluruh serangan dan jurus namun tidak ada satupun yang berhasil melukainya.
Awalnya mereka masih belum sadar siapa sosok yang mereka hadapi sampai ketika Fujan mengeluarkan jurus tebasan mural esnya, yang sangat terkenal sebagai salah satu jurus yang digunakan sang Patriark Sekte Biru Bulan Sabit.
Pertempuran pun meledak hebat disaat-saat susunan benteng hampir hancur sepenuhnya, kekalahan pun seperti sudah berada di depan mata. Pikir mereka hanya kematian yang menunggu mereka di depan sana.
Tak di sangka-sangka Kaisar Arkhan datang tepat waktu membawa bala bantuan besar dan membalikkan keadaan pertempuran yang sebelumnya hampir dimenangkan oleh musuh.
---
Disisi lain Hao Ryun yang bertarung melawan 3 Pemimpin Negara Lembah Terkutuk hanya bisa menahan mereka agar tidak pergi membantai kultivator tingkat rendah.
Zheng Yuan menahannya dengan budak iblisnya dibantu oleh Go Jing San, Su Yang Ji dan Tian Huaue yang memberinya serangan secara terus menerus.
“Zheng Yuan! Jangan harap setelah ini selesai kau bisa menjalani hari-harimu yang tenang seperti sebelumnya!”
Hao memainkan tekhnik pedang pembunuh iblisnya dengan sangat baik. Tebasan pedangnya bahkan bisa membunuh seorang demon ranah suci dengan sangat mudah, layaknya mengiris sebuah tahu dengan pisau tajam.
“Hao Ryun! Kau begitu mengejutkan! Ternyata semua rumor tentangmu itu hanya kebohongan! Kau lebih kuat daripada yang di bicarakan! Hahahaha..!!” Zheng Yuan tertawa senang penuh semangat.
Hao memutarkan pedangnya sembari mencari celah diantara mereka berempat untuk memberikan serangan telak.
Hao Ryun bergerak dengan sangat cepat menghindari penglihatan mata mereka lalu tiba di depan Go Jing San sembari mengayunkan pedangnya.
"Seni Surgawi Legendaris, Pedang Pembunuh Iblis"
“Go Jing San..?!!!”
Tian Huaue dan Su Yang Ji panik melihat kematian Go Jing San yang tak terelakkan lagi. Mereka berdua hanya bisa merapatkan gigi sembari berdecak kesal.
Disisi lain Zheng Yuan terlihat tak menunjukkan perubahan pada raut wajahnya seolah-olah kematian dari mereka itu seperti biasa saja.
“Tuan Zheng! Bukankah kau sudah berjanji akan melindungi kami! Sekarang bagaimana dengan kematiannya?!” ujar Su Yang Ji.
Zheng Yuan tersenyum tipis, “Baiklah kalau begitu tunggu dulu,” Zheng Yuan melangkah ke mayat Go Jing San, namun Hao segera bergerak untuk menghadangnya.
“Tahan dia untukku,” perintah Zheng Yuan.
Meskipun mereka tidak tahu apa yang ingin Zheng Yuan lakukan dengan mayat Zheng Yuan mereka berdua tetap mengikuti perintahnya.
Hao Ryun memfokuskan ketiga pedangnya untuk menyerang Tian Huaue untuk membuka celah dan membunuhnya.
Tian Huaue tampak kesulitan menangani pedang tersebut, “Tuan Zheng! Kapan anda selesai?!” teriaknya dengan keras.
Zheng Yuan membalasnya dengan senyuman tipis lalu kemudian mayat Go Jing San tiba-tiba saja menghilang dari tempatnya.
"Trannggg..!!!”
Go Jing San yang sebelumnya sudah terbunuh kini malah berdiri kembali dan bertarung bersama dengan Tian Huaue, hanya saja ada yang berbeda daripada biasanya dengan dirinya.
“Jing San?! Kau?! Mustahil!!” teriak mereka berdua terkejut.
“Dia bukan orang yang kalian kenal lagi, Zheng Yuan orang yang kalian percayai itu menggunakan mayatnya sebagai wadah untuk budak iblisnya. Asal kalian tau wadah budak iblis bukan hanya sekedar boneka namun menggunakan mayat manusia pun bisa,”
Zheng Yuan terkejut saat mendengar ucapan tersebut, tak disangkanya Hao Ryun memahami apa yang terjadi pada mayatnya.
Zheng Yuan tertawa dengan sangat keras, “Meskipun bala bantuan datang dan kau tahu tekhnik yang ku gunakan, hari ini tak akan ada yang bisa menyelamatkanmu dari kematian. Hao Ryun...!!!” ujarnya lalu mengeluarkan belasan boneka lagi untuk membantu mereka.
Dari arah benteng sebuah tombak melesat dengan sangat cepat meratakan seluruh musuh dalam garis lajurnya, saking terkejutnya Su Yang Ji tertusuk tombak tersebut yang entah siapa pemiliknya.
__ADS_1
Zheng Yuan langsung memalingkan wajahnya ke arah dari mana tombak tersebut berasal, terlihat jelas seseorang yang terlihat sangat berwibawa tengah menunggangi kuda ke arah mereka.
“Kaisar Arkhan..!!! Sial..!!”
Zheng Yuan buru-buru membereskan boneka iblisnya dan pergi melarikan diri sebelum Kaisar Arkhan sampai di tempatnya.
“Kau..!!! Keparat apa yang kau lakukan, Zheng Yuan..!!!” melihat Zheng Yuan yang tiba-tiba berlari meninggalkan pertarungan Tian Huaue langsung berteriak emosi di tambah lagi dengan Su Yang Ji yang terluka parah karena tombak tersebut.
“Keparat.. seharusnya.. kita tak.. harus membawanya...” Su Yang Ji terbata-bata melihat kepergian Zheng Yuan yang tak terduga dan meninggalkan mereka berdua, ia bahkan membawa mayat Go Jing San di tangannya.
Merasa tak ada kesempatan untuk memenangkan pertarungan Tian Huaue pun hanya bisa berdecak kesal dan ikut berlari meninggalkan pertarungan, tentu ketika ia membalikkan badannya itu adalah kesempatan yang sangat besar untuk Hao Ryun membunuhnya dengan sekali serang.
“Dasar.. bodoh..” Su Yang Ji hanya bisa menyesali keputusannya sendiri yang memilih ikut dalam peperangan ini sebelumnya. Hao Ryun pun membunuhnya dengan sekali tebas.
Kaisar Arkhan sampai di lokasi dimana Hao bertarung, “Kak Hao apa kau baik-baik saja?” tanya Kaisar sembari turun dari kudanya dan mengambil tombaknya kembali.
“Aku tidak apa-apa hanya saja aku membiarkan salah satunya lolos. Tak ku sangka larinya kencang sekali,”
Arkhan membuka matanya lebar-lebar terkejut mendengar, “seseorang melarikan diri dari pedangmu?” ucapnya heran.
“Dia berbeda dengan mereka bertiga yang pada dasarnya hanyalah Ahli Surgawi Dao Agung awal, sedangkan ia yang melarikan diri adalah Dao Master Puncak. Ia juga membawa salah satu dari mereka bertiga dan menjadikannya sebagai wadah untuk budak iblis,” terang Hao Ryun.
Beberapa saat kemudian Row pun juga datang dan bertanya apa yang terjadi, dengan singkat Arkhan menjelaskan hal yang terjadi padanya.
Tanpa pemimpin mereka para demon, goblin dan werewolf itu mulai kehilangan rasa semangat mereka dan mulai putus asa. Hasil akhir dari peperangan pun sudah terlihat dengan sangat jelas.
---
Di arah yang berlawanan dengan Negeri Bulan Beku Asta bersama dengan gurunya diikuti Ace dan Zaru menuju ke Lembah Negeri Batu, wilayah kekuasaan milik Kekaisaran Arkhan yang berada di Selatan.
“Guru apa kau yakin kesini arahnya?”
“Tentu saja guru yakin. Asta di depan ada Hewan Ghaib tingkat 6 cepat hadapi dia,” ujar Gurunya sembari menunjuk ke arah depan.
“Ia lebih tinggi satu tingkat dariku yang hanya Guru Spirit 3 bintang, bukankah ia bisa membunuhku?”
Flares menatapnya tajam, “Kau mempunyai Esensi Roh yang sangat kuat dan kau masih kurang yakin dengan kemampuanmu? Itu hanya hewan ghaib,” ujar gurunya.
“Guru apa kau ingat waktu di Lembah Neraka, domba-domba itu juga hanya hewan ghaib dan lagi mereka hanya tingkat 5, aku hampir mati di makan hewan herbivora,”
Flares pun tertawa mengingat kembali kejadian tersebut, “percayalah pada kemampuanmu sekarang. Hewan Ghaib hanya hewan ghaib mereka bukan tandingan kultivator,” ujar Flares.
---
Tingkatan hewan ghaib hampir setara dengan Ranah Kultivasi. Hewan Ghaib tingkat 1 setara dengan Ranah Gerbang puncak dan tingkat 12 setara dengan Master Ahli Surgawi puncak.
---
“Apa kau menjadi pengecut karena dikalahkan di turnamen, mana sifat sombongmu yang sebelumnya,”
“Sebenarnya aku juga agak malu menjadikan bocah pengecut sepertimu sebagai masterku,”
Mendengar ledekan dari Zaru dan Ace membuat emosinya semakin meninggi Asta pun memberanikan dirinya.
“Kalian berdua tunggu saja disini dan liat tuan muda kalian ini menjadikannya sebagai daging panggang,” ujarnya menyombongkan diri.
Flares dan mereka berdua tiba-tiba tersenyum mencurigakan, “Ada apa dengan senyuman itu?” gumam Asta pelan.
Asta pun berjalan menuju ke depan sendirian untuk melihat hewan ghaib tingkat 6 yang gurunya jelaskan itu.
Seekor Beruang dengan tubuh setinggi 3 meter terlihat sedang menikmati madu di tangannya. Beruang itu berbalik ke arah Asta, dengan cepat Asta bersembunyi di balik pohon besar di sampingnya.
Asta menelan ludahnya sendiri terkejut, “Sialan apa-apaan dengan beruang ini! Auranya sana sangat menakutkan bagaimana caraku membunuhnya?!” Asta mencoba untuk memikirkan sebuah strategi untuk menyerangnya duluan secara diam-diam.
Terlalu fokus berpikir tanpa disadarinya beruang itu kini berdiri di belakang pohon tersebut sembari bersiap menggunakan cakarnya.
“Apa?!!” alangkah terkejutnya Asta saat ingin melihat beruang itu lagi ternyata sosok beruang itu sudah berdiri tegak di balik pohon tersebut.
Asta pun berguling ke depan menjaga jarak darinya, “Apa-apaan dengan kekuatan cakar biasanya itu,” gumam Asta melihat kekuatan yang di pancarkan darinya.
“Baiklah karena kau sudah menyerangku lebih dulu, kau jangan marah kalau aku menyerangmu balik,”
__ADS_1