Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 010 Di Sisi Lain (revisi)


__ADS_3

Di suatu tempat yang lumayan jauh dari Desa Kuil Tersembunyi, berdiri sebuah benteng pertahanan sementara di perbatasan barat antara Provinsi Huo dan Provinsi Shan, yaitu Pegunungan Iblis.


Sebuah ketegangan tengah terjadi saat ini, terlihat dua faksi tengah bersiap-siap untuk sebuah peperangan yang mungkin akan berlangsung sebentar lagi.


Di atas benteng pertahanan tersebut, seorang pria berdiri tegak memandang lurus ke depan, mengamati sebuah perkemahan yang terletak jauh dari benteng. Perkemahan itu tampak mampu menampung ratusan ribu pasukan, dan kerutan di dahinya mencerminkan beban pikiran yang sedang dihadapinya.


Ketua Sekte Kobaran Api Sejati, Arai Ken, 30 tahun.


Arai Ken, yang merupakan Ketua Sekte Kobaran Api Sejati, sedang bertugas memimpin pasukan dalam menjaga perdamaian antar ras yang saat ini tengah terancam di Kekaisaran Arkhan. Provinsi Shan Pegunungan Iblis sedang dilanda krisis akibat pembantaian yang dilakukan oleh bangsa Manusia terhadap bangsa Iblis dan mereka tengah melakukan kudeta saat ini.


"Tak bosankah kau memperhatikan para iblis itu setiap hari? Mengenang yang sudah tiada bukanlah tindakan yang bijak. Mereka takkan kembali, seberapapun lama kau meratapinya," ujar seorang pria sepuh berusia sekitar 60 tahun yang naik ke atas benteng dan mengejutkan Arai Ken.


Pria sepuh itu datang menghampiri, menepuk pundaknya sambil tertawa.


Pria sepuh itu adalah Fujan Daru, Ketua Sekte Biru Bulan Sabit, dan saat ini usianya telah menginjak 65 tahun.


"Masih saja kau merenungkannya? Lebih baik fokuslah pada cara mengakhiri perang ini. Bagaimana dengan kesepakatan yang kau buat bersama Serigala Dewata? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Fujan Daru sambil mengelus janggutnya.


Arai Ken menghela nafas panjang, "Tolong biarkan aku beristirahat sebentar. Jangan terus menghasutku, senior. Aku bisa gila karena hal itu," jawab Arai Ken dengan sedikit kesal.


"Masalah kesepakatan itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu," tambahnya.


Fujan Daru tertawa melihat Arai Ken yang kesal, "Hahaha... Jangan bercanda, anak muda! Aku tidak bisa membiarkanmu beristirahat, sedangkan kami orang tua tetap bekerja," ucap Fujan Daru dengan riang.


"Lagipula, wajar bagi seseorang yang tinggal menunggu waktu seperti aku merasa sangat menyayangkan pemuda-pemudi hebat seperti mereka harus pergi lebih dulu dariku. Bukankah tak adil rasanya?" lanjutnya sambil tersenyum penuh makna.


"Senior, bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal yang menakutkan seperti itu? Lagipula, seharusnya Anda masih bisa hidup selama puluhan tahun ke depan," keluh Arai Ken.


Fujan Daru semakin tertawa terbahak-bahak, "Tidakkah kau merasa ini lucu? Setahun yang lalu, kita masih bisa menekan mereka, tapi kemudian kau sendiri bisa melihat bagaimana keadaannya sekarang."


"Bahkan selama dua tahun berturut-turut, yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan dari serangan mereka tanpa memberikan serangan balasan. Apakah sang Kaisar benar-benar tidak berniat membantu dalam situasi ini? Jika saja aku tahu akan menjadi seperti ini, mungkin sejak awal aku takkan membiarkan para muridku pergi meninggalkanku lebih dulu," Fujan Daru mengeluh tentang kebijakan yang dipilih Kaisar terhadap situasi saat ini. Namun, bahkan jika ia mundur dari medan perang, semuanya tetap sudah terlambat.


Arai Ken pun kembali muram dan hanya memilih diam memperhatikan kondisi medan yang selalu menjadi medan pertempuran di setiap generasi.


"Katakan padaku, sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Aku yakin kau tidak sedang khawatir dengan bala bantuan yang mungkin saja tak akan datang, melainkan ada sesuatu yang lain," tanya Fujan Daru.


Arai Ken tersenyum tipis ke arahnya, "Hanya beberapa hal sepele di Sekte yang belum sempat kuselesaikan dengan tuntas," jawabnya mencoba mengelak dan tak mau memberi tahu apapun.


"Aku harap itu hanya permasalahan sepele yang memang tak akan mengganggu kondisi jiwamu. Di saat seperti ini, kau tak boleh menurunkan kemampuanmu," Fujan Daru memperingatkannya.


"Senior, apakah Anda sedang meremehkanku?" Arai Ken menyipitkan matanya.


Namun di saat itu, seseorang datang dengan tergesa-gesa seolah-olah hendak menyampaikan pesan penting kepada salah satu dari mereka.


"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan?" Fujan Daru menyadari dan segera menanyakan tujuan kedatangan orang tersebut.


"Hormat Ketua Sekte Fujan Daru dan Ketua Sekte Arai Ken! Ada seorang utusan dari Sekte Kobaran Api Sejati yang ingin menyampaikan pesan. Katanya, ia ingin Ketua Sekte Arai Ken sendiri yang mendengarnya," jawab sang pengantar pesan.


"Baiklah, aku akan segera pergi ke sana. Selain itu, apa ada kabar mengenai bala bantuan dari 7 Sekte Besar?" tanya Arai Ken.


"Ada. Tadi pagi, kabar baru saja datang bahwa bala bantuan dipastikan akan tiba esok pagi," jawabnya lagi.


"Lebih cepat dari perkiraan. Kupikir mereka benar-benar tidak mempedulikan perang ini, apalagi setelah Kaisar Arkhan memutuskan untuk tidak ikut andil dalam masalah ini," Arai Ken memegang dagunya sambil memikirkan sesuatu.


"Kembalilah dan suruh orang itu ke ruanganku. Aku akan pergi kesana beberapa saat lagi," lelaki itu pun mengangguk dan pergi untuk menyampaikan apa yang Arai Ken perintahkan.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit," jawabnya lalu pergi.


"Aku harap itu benar-benar masalah sepele, Nak. Jika tidak, aku khawatir performamu akan menurun dalam pertempuran nanti," ujar Fujan Daru setelah pengantar pesan itu pergi.


Demi menyembunyikan keresahannya, Arai Ken tersenyum padanya, "Senior, kau tak perlu khawatir. Ini benar-benar hanya masalah keluarga, dan aku yakin bisa mengatasi semuanya dengan baik."


Fujan Daru tertawa terbahak-bahak mendengarnya mengucapkan kata "hanya masalah keluarga" dengan entengnya, "Sejenius apapun dirimu dalam hal kultivasi, itu takkan mengubah sikap keras kepala seorang wanita. Cepat temui dia segera, atau kau takkan mendapatkan apapun darinya ketika malam tiba."


Tanpa pikir lama, Fujan Daru kemudian menyuruhnya segera pergi menyusul istrinya sebelum semuanya benar-benar kacau. Arai Ken hanya tertawa canggung karena Fujan Daru benar-benar salah menangkap maksud pembicaraannya, tapi karena itulah Arai Ken juga bernafas lega, ia tak lagi mencoba menginterogasinya lebih lanjut.


"Baiklah, baiklah Senior. Kalau begitu, izinkanlah aku untuk pergi terlebih dahulu. Kita bisa melanjutkan obrolannya nanti saja. Jikalau senior masih ingin berada di sini, aku takkan menghalanginya," ujar Arai Ken sambil turun dari atas benteng, meninggalkan Fujan Daru yang sendirian di sana.


"Dasar ya kau ini! Ingatlah untuk selalu bercerita jika ada masalah! Begini-begini saja, aku lebih berpengalaman dalam hidup daripada dirimu!" seru Fujan Daru dengan penuh perhatian, namun senyum lembut tetap menghiasi wajahnya saat melihat Arai Ken pergi.


Arai Ken tertawa kecil, setidaknya Fujan Daru tak lagi menanyainya lebih lanjut. "Tentu saja. Kalau aku ada masalah, aku pasti akan menghubungi senior untuk meminta saranmu," balas Arai Ken.

__ADS_1


---


Setelah turun dari benteng, Arai Ken langsung menuju perkemahannya untuk bertemu dengan seseorang yang dimaksudkan sebelumnya. Orang itu tak lain adalah Taki Garaki, Tetua Aula Balai Pelatihan Kultivasi.


"Kupikir Helio yang akan datang sendiri, ternyata kau yang datang," sapa Arai Ken sambil tersenyum.


"Tentu saja, Senior Helio sedang sibuk mengurusi para murid, jadi aku yang pergi menggantikannya. Ada dua pesan yang ingin disampaikan oleh Senior Helio, salah satunya mengenai Sekte Kobaran Api Sejati dan Sekte Tanah Keabadian yang sudah bersiap untuk mengirimkan bala bantuan tambahan," jelas Taki.


"Lalu satunya lagi...?" tanya Arai Ken penasaran.


Sebelum melanjutkan, Taki sempat menghela nafas terlebih dahulu, "Lalu pesan yang kedua adalah mengenai putra Anda, Asta Raiken. Menurut Senior Helio, setelah mencapai Ranah Ahli, putra Anda berniat meninggalkan Desa Kuil Tersembunyi. Kabarnya dalam beberapa hari ini, mungkin ia akan memulai perjalanannya bersama dengan Senior Ace," jelas Taki mengakhiri laporannya.


"Ahh, jadi Helio tidak mampu menahannya ya? Ya sudahlah, biarkan saja. Lagipula, anak itu memang sangat keras kepala. Jika pun Helio mencoba menahannya, ia pasti akan melarikan diri," ujar Arai Ken sambil menghembuskan nafas pelan, lalu tersenyum mendengar cerita putranya.


"Tapi apa yang mendasari keputusannya untuk meninggalkan Sekte...?" Tanya Arai Ken sekali lagi.


Taki Garaki tersenyum canggung sebelum menceritakannya, "Saya hanya tahu alasannya adalah sama seperti saat ia berniat mulai berkultivasi, yaitu untuk mencari keberadaan Anda dan Ketua Sekte Aina Misaki yang menghilang. Selebihnya, ia ingin memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, itu yang aku tahu," jelas Taki Garaki, masih tersenyum canggung.


"Ahh, untuk mencariku...? Memangnya apa yang Helio katakan padanya agar ia mau berkultivasi...?" tanya Arai Ken bingung mendengar bahwa alasannya pergi adalah mencarinya, padahal seharusnya ia telah menyuruh Helio untuk tidak memberitahunya apapun.


"Tentu, itu karena Senior Helio saat itu tidak tahu harus berkata apa agar Asta mau berkultivasi. Jadi, kami pun membuat skenario dengan mengatakan bahwa Anda telah menghilang saat diserang oleh sekelompok perampok, dan untuk menutupi identitasnya sebagai putra Anda, kami berbohong bahwa hanya cincin penyimpanan yang kami temukan di lokasi kejadian," jelas Taki Garaki mengenai skenario tersebut.


Arai Ken menepuk kepalanya pelan, "Aku memang memintanya untuk menuntun Asta agar mau berkultivasi sekaligus menutupi identitasnya sebagai putraku, tapi bukan begini juga caranya." Arai Ken baru mengetahui hal ini.


"Apakah ia juga belum tahu mengenai Sekte Kobaran Api Sejati sekaligus tempat tinggalnya sendiri?" lanjutnya bertanya.


"Melihat sikapnya, sepertinya tidak ada yang memberitahunya, bahkan Senior Helio sekalipun. Karena ia sendiri masih mengira bahwa Desa Kuil Tersembunyi merupakan sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian. Ia tidak diberitahu mengenai asalnya sekaligus siapa Anda sebenarnya, seperti yang Anda minta," jelas Taki Garaki.


Arai Ken sedikit bernafas lega, "Baiklah, sudah cukup ceritanya. Pergi dan sampaikan ke barak, temui istriku, aku yakin dia ingin mendengar kabar putranya," perintah Arai Ken.


Taki pun mengangguk, "Baik, Ketua! Tetapi ada satu hal yang sama pentingnya yang harus aku sampaikan kepada Ketua,"


"Apa itu..?" tanya Arai Ken penasaran.


Taki kemudian menjelaskan mengenai kejadian sekitar dua minggu yang lalu, di mana Asta mengacau di tengah hutan dan menerobos masuk wilayah Provinsi Senlin Hutan Mistik Elf tanpa izin. Awalnya, Arai Ken tampak marah mendengar Asta dipukuli oleh Joashua Ramier, tapi setelah Taki menceritakan bahwa Asta juga dipulihkan kembali, ia pun tertawa. Ia terpikirkan berbagai pertanyaan yang saat itu pastinya Asta tanyakan pada dirinya sendiri, mengapa ia dihajar habis-habisan oleh orang asing.


"Ambil ini, mungkin kamu memerlukannya untuk menguatkan pondasi Kultivasimu di Ranah Raja. Juga, jangan ceritakan mengenai hal ini padanya, ia pasti akan marah besar," pesan Arai Ken agar Taki tidak menceritakan tentang kejadian Asta yang menerobos masuk tanpa izin ke Provinsi Senlin tersebut.


Pil Bunga Teratai Suci merupakan sebuah pil yang sangat berguna bagi Kultivator yang baru saja naik ke Ranah Raja untuk menstabilkan kondisi Ranah.


Arai Ken hanya tersenyum kecil seraya mengatakan bahwa memang sudah sepantasnya pil itu ia dapatkan setelah menjabat sebagai Tetua di Sekte. "Ace telah memberitahuku mengenai kinerjamu yang cukup memuaskan, jadi terimalah pil ini,"


Taki Garaki hanya bisa menerima pil tersebut tanpa bisa menolak. Setelah itu, ia pun pamit untuk menemui Ketua Sekte Tanah Keabadian, yakni Aina Misaki, istri dari Arai Ken sekaligus ibu kandung Asta Raiken.


---


Di sisi lain, Asta yang tengah kelelahan mencari-cari Ace, awalnya berniat untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pencariannya. Namun, siapa sangka, sedari tadi Ace tidak pernah jauh darinya, melainkan hanya melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lain mengikutinya.


"Ayolah, Ace... Jika memang itu kau, cobalah berbicara. Kenapa kau tetap diam sekarang? Aku harus memastikan apakah itu dirimu atau bukan!" seru Asta, berusaha membujuknya untuk berbicara.


Ace melompat ke tanah, merubah tubuhnya menjadi serigala berbentuk raksasa. Sangat berbeda dengan penampilannya sebelumnya.


"Melihat postur tubuhmu yang berbeda, aku kurang yakin apakah itu kau atau Haru!" tambahnya.


Asta sedikit ragu bahwa serigala bertubuh besar di depannya adalah Ace, serigala yang selama ini menemaninya. Memang Ace adalah serigala dewasa, tapi perawakannya saat ini tidak cukup bisa disebut sebagai serigala dewasa, melainkan lebih mirip serigala raksasa.


Dengan tubuh besar, kaki berotot, dan bulu-bulu halus nan indah bersinar, Ace terlihat berbeda dari sebelumnya. Ukurannya saat ini sekitar lima kali ukuran pria dewasa dengan tubuh berotot. Meski begitu, Asta tidak yakin apakah Ace yang seperti ini masih bisa ditundukkan, bahkan oleh ratusan orang sekalipun.


Asta sedikit tertunduk lesu melihat Ace tetap mengabaikannya. Maka, ia pun memikirkan berbagai cara untuk membuatnya mau berbicara.


"Baiklah, terserah saja, aku mau tidur," ujarnya lalu duduk menyender dan memejamkan matanya.


Ace masih tetap terdiam, tidak menanggapi Asta sama sekali. Akhirnya, ia pun ikut tertidur di atas dahan pohon besar tersebut. Angin semilir menyapu bulu-bulu indahnya yang berkilauan.


"Kena kau!" Saat Asta melihat Ace yang sedang lengah, buru-buru ia melompat ke atas dan meremas ekor Ace.


"Aauuu...!!!!" Ace melolong panjang kesakitan, suaranya mengusir sekelompok burung yang sedang bertengger di dahan pohon.


"Brengsek! Kuhajar kau, bocah!" Teriak Ace penuh amarah lalu melompat turun dan mengejar Asta yang sudah pergi melarikan diri setelah meremas ekornya.


"Bocah...! Kau pikir kau bisa kabur dariku, hah?!! Dasar Keparat..!!" panggilnya lagi. Asta hanya tertawa terbahak-bahak karena berhasil meremas ekor milik Ace setelah sekian lama ia dibuat geram oleh serigala tersebut.

__ADS_1


"Kalau tak mencobanya, bagaimana aku tahu!" jawabnya berlari sambil tetap tertawa mengabaikan Ace yang penuh amarah di belakang. Tidak hanya Asta, sebenarnya Flares pun ikut tertawa sejak tadi.


Setelah berbicara seperti itu, Asta benar-benar mencoba melarikan diri dengan sekuat tenaga, bahkan ia sampai menggunakan sumber surgawinya hanya untuk bisa lari dari Ace.


Namun, Ace pun tak tinggal diam dan melakukan hal serupa. Meskipun tubuhnya besar, namun dengan langkah cepatnya, ia dengan mudah dapat menyusul Asta.


"Masih terlalu dini bagimu untuk bisa lepas dari cengkramanku!" ucap Ace, saat berhasil menyusulnya. Asta menundukkan kepalanya untuk menghindari sabetan kaki berbulunya.


"Dan masih terlalu cepat bagimu untuk merasa bangga, Tuan Serigala!" balas Asta, meledeknya.


Semakin lama, Ace semakin geram dan kesal, namun Asta justru semakin senang. Baginya, inilah cara bermain-main dengan Ace seperti dulu lagi.


"Setelah menerobos ranah ahli, kau benar-benar sombong ya, bocah kecil. Tunggu saja, saat aku berhasil menangkapmu, akan kuberikan hadiah spesial untukmu," ancam Ace.


"Ohh, apa kau pikir aku akan tertipu? Tapi maaf, sayangnya kau salah sasaran jika berniat menipuku," balas Asta percaya diri.


Sebenarnya, Ace bisa saja menangkap Asta dalam satu gerakan jika ia benar-benar menggunakan kemampuannya, akan tetapi ia terlalu malas jika harus menggunakan sumber surgawinya hanya untuk hal bodoh seperti ini. Sehingga, kedua teman ini terus berlari dan bermain-main di tengah hutan, sementara Flares yang setia terus mengikuti dan menikmati momen kegembiraan mereka.


Di sisi lain, Asta juga sadar akan hal itu, namun ia memahami bagaimana pikiran Ace berjalan. Sifat terlalu percaya dirinya itulah yang Asta manfaatkan agar bisa bermain-main dengannya saat ini.


Ace menggeram kesal, "Diberi kesempatan, kau malah memilih hukuman. Aku akan serius kali ini," ujarnya dengan nada bergetar emosi.


"Berani-beraninya kau meremehkan ku!" serunya lagi.


Asta mencoba melihat ke belakang untuk menyelamatkan diri, sehingga ia tak menyadari adanya akar pohon di depannya.


Sedangkan di saat yang bersamaan, Ace tiba-tiba menghilang dari pandangannya dalam sekejap mata. Saking cepatnya, Asta tak dapat mengikuti gerakannya.


"Sial! Aku ceroboh!" Asta tersandung akar pohon tersebut dan tersungkur ke tanah. Sudah terlambat baginya jika ingin kembali melarikan diri, Ace datang dengan melompat dari atas pohon dan menginjak punggungnya.


"Bruakk!"


"Uhukk! Kau sangat kejam..." Ucapnya lirih. Tubuh besar dan berbulu itu tak seringan kapas melainkan sebaliknya. Tubuhnya sangat berat, seolah-olah Asta tertimpa batu seberat satu ton dari langit.


Ace tersenyum tipis dan licik seolah sedang merenungkan sesuatu yang ingin ia lakukan padanya. Asta merasakan bulu kuduknya merinding melihatnya tersenyum seperti itu.


"Seperti yang sudah kujanjikan sebelumnya, ini hadiah istimewa dariku atas kenaikan ranahmu," kata Ace sambil menggigit bokong Asta dengan keras, membuat Asta berteriak kesakitan seolah sedang sekarat.


"Akhhhh--!!!!! Dasar sialan--!!!! Cepat lepaskan itu--!!! Akhhhh--!!! Keparat kau-!!! Lepaskan-!!!" Teriak Asta, merasakan bokongnya hampir terpisah dan berusaha melepaskan diri.


Namun, Ace tidak peduli malah menggigitnya lebih keras. Teriakan keras itu kemudian didengar oleh seseorang yang kebetulan sedang mencarinya. Flares menyadari situasi tersebut dan berhenti tertawa, namun setelah tahu siapa orang itu, Flares melanjutkan kembali tawanya yang sempat terhenti.


Orang itu sedikit meneguk ludahnya sendiri melihat pemandangan itu dari kejauhan. Meskipun ada niat untuk mendekat, namun tak berani. Jadi ia hanya diam di sana memperhatikan keadaannya sampai saat yang tepat untuk menghampiri Asta Raiken.


"Ace, ayolah! Apa kau ingin membunuhku?!" Teriak Asta kesakitan.


"Memang tidak, tapi bukan berarti aku tidak akan melakukan apapun atas sikap kurang ajar darimu itu, bocah nakal!" Balas Ace sambil tetap mempertahankan gigitannya.


"Akhhh..!! Ayolah aku minta maaf...!!"


Ace tidak mempedulikan teriakannya dan tetap mengukuhkan gigitannya hingga satu jam lamanya. Barulah setelah itu ia melepaskannya.


Asta merasakan bokongnya mati rasa akibat gigitan tersebut, bahkan hanya untuk duduk rasanya sangat ngilu. Bekas taring yang menancap di bokongnya terlihat jelas, Asta berdecak kesal melihat Ace yang terus-menerus menertawakannya yang kini tak bisa duduk karena rasa sakit. Flares dan Ace terus tertawa menyaksikan Asta dalam kondisi seperti itu.


"Apa masih belum selesai..?" Ujar Asta kesal.


"Tentu saja belum. Hahahahaha," lanjutnya tertawa lagi.


Asta mendengus kesal, tak sangka Ace akan melakukan hal yang memalukan seperti itu. Pikirnya Ace akan memberinya hukuman penambahan latihan, tapi ternyata itu jauh dari bayangannya.


"Jangan kau kira aku bodoh. Aku tahu apa yang kau rencanakan, mau kau berteriak-teriak atau tidak sekalipun. Hahahaha…!!" Ace terlihat sangat puas mempermalukannya.


"Jadi apa yang kau maksud dengan 'serigala istimewa'? Setelah semua yang kau katakan tentang keistimewaanmu, sekarang kau malah bertingkah seperti serigala biasa, dasar tak tahu malu," Asta berucap ketus, tetapi terlihat jelas bahwa Ace tidak peduli dengan kata-kata Asta tentangnya.


Dalam hatinya, Ace benar-benar puas setelah melakukan hal itu padanya. Ia tidak merasa kesal mendengar ocehan Asta, karena yang penting baginya adalah memberikan pelajaran. Anak nakal memang perlu diberi pelajaran agar kapok dan tak lagi bersikap kurang ajar.


---


Saya ucapkan terima kasih, bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya ini. Juga, saya meminta maaf atas keterlambatan saya dalam menyelesaikan proses revisi.


Saya harap, kawan sekalian juga ikut bersabar untuk menantikan kelanjutan cerita ini. Meskipun sekarang ini masih dalam proses pengerjaan revisi...

__ADS_1


:)


__ADS_2