
Bersama keempat sahabatnya, Kenshin Utake bergegas menuju sumber ledakan tersebut. Di dalam hatinya, ia sudah memperkirakan siapa yang mungkin melakukan hal tersebut, dan demikian pula dengan yang lainnya.
Kenshin sangat yakin bahwa ledakan yang terjadi di hutan adalah ulah Asta yang tengah berlatih. Karena yang ia ketahui, Asta adalah yang terakhir tinggal di hutan. Jadi, siapa lagi kalau bukan dirinya, pikir Kenshin.
Di pertengahan perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang juga menuju ke lokasi kejadian, dengan tujuan untuk memeriksa apa yang terjadi. Semua orang ini adalah anggota dari Sekte Kobaran Api Sejati, sekte yang saat ini diakui sebagai yang terkuat di Kekaisaran Arkhan.
Kekaisaran Arkhan merupakan tempat di mana beberapa Sekte dan Kultivator hebat bernaung, dengan berbagai kemampuan yang mereka miliki. Salah satu sekte yang menonjol di sana adalah Sekte Kobaran Api Sejati, yang saat ini diakui sebagai sekte terkuat. Tidak hanya kultivator dari bangsa manusia, tetapi juga terdapat beberapa ras lain yang berada di bawah naungan kekaisaran ini, seperti Demon, Elf, Dark Elf, Monster, Dwarf, dan Goblin.
Tempat kelahiran Asta Raiken adalah Desa Kuil Tersembunyi, yang merupakan salah satu wilayah tersembunyi yang dimiliki oleh Sekte Kobaran Api Sejati. Hanya Asta yang tidak mengetahui hal ini.
Seperti namanya, tempat ini sangat tersembunyi dan sulit untuk dimasuki. Hanya ada satu cara yang aman dan satu cara yang berisiko dan dapat mengancam nyawa untuk memasuki tempat ini.
Desa Kuil Tersembunyi dikelilingi oleh Hutan Surgawi, sebuah benteng pertahanan alami yang memiliki banyak jenis hewan ghaib tingkat tinggi. Cara aman untuk memasuki tempat ini adalah melalui gerbang dimensi yang terhubung langsung dari Sekte Kobaran Api Sejati.
Seorang pemuda berusia sekitar 21 tahun dengan pakaian merah datang mendekati Kenshin Utake saat mereka berpapasan.
"Kenshin, apakah kau mengetahui sesuatu tentang ini?" tanya pemuda itu, yang tidak lain adalah Taki Garaki, orang yang disebutkan oleh Zaraki Onoki sebelumnya.
Taki Garaki, berusia 21 tahun, adalah seorang jenius di generasinya dan juga Tetua Api Termuda dari Sekte Kobaran Api Sejati. Dia memiliki sifat yang ramah, baik, dan perhatian, dan sangat menghormati wanita.
Kenshin menggelengkan kepala pelan, "Kami belum mengetahui apa pun tentang hal ini. Namun, aku memiliki kecurigaan terhadap seseorang yang mungkin menjadi pelakunya," jelas Kenshin Utake.
"Seseorang?" ucap Taki Garaki heran.
"Menurut pengetahuanku, Asta Raiken adalah orang terakhir yang berada di hutan, dan Shiro Nekoshi serta Zaraki Onoki baru saja bertemu dengannya di sana beberapa saat yang lalu," ujar Kenshin Utake.
Taki Garaki mengangkat kedua alisnya bertanya pada mereka berdua, yang dibalas dengan anggukan.
"Kalau begitu, kita harus segera menuju ke sana untuk memeriksa keadaannya. Ledakan sebesar itu bukanlah hal yang sederhana, hanya tingkat Senior yang mampu melakukannya. Aku khawatir Asta melampaui batas daerah aman dan bertemu dengan Hewan Ghaib tingkat 5 di sana," kata Taki Garaki, lalu mempercepat langkahnya.
Dengan kekhawatiran akan keselamatan Asta, Taki Garaki memimpin mereka dengan cepat menuju asal ledakan tersebut. Dia membawa sekitar sepuluh orang untuk memeriksa keadaan.
"Semuanya, cepatlah!" seru Taki Garaki.
Dengan kecepatan penuh, mereka tiba di perbatasan aman dengan Hutan Surgawi. Di depan mereka, terlihat dengan jelas jalur api hitam yang membakar hutan sepanjang puluhan meter.
"Nampaknya ini sesuai dengan dugaanmu, Kenshin Utake," kata Taki Garaki kepada Kenshin.
Saat melihat pemandangan itu, wajah Kenshin Utake langsung berubah pucat, "Ini tidak mungkin! Dia benar-benar ingin membakar hutan," ucapnya terkejut.
Semua orang segera bergerak untuk memadamkan api sebelum meluas lebih jauh ke dalam hutan. Kecepatan api dalam melalap hutan sangat mengerikan, dan dalam waktu singkat, kebakaran semakin meluas.
"Benar-benar tidak bertanggung jawab. Dia yang menyalakan api ini, tapi sekarang di mana dia?" kesal Kesha Timber sambil menepuk jidatnya.
"Esensi Roh Dewa memang luar biasa, seperti yang tertulis dalam sejarah. Kekuatan ini tidak bisa dianggap enteng," seru salah satu orang sambil berusaha memadamkan api.
"Lihatlah, bahkan api ini memiliki kekuatan yang begitu kuat dan dalam. Sangat sulit untuk memadamkannya, meski kita telah mencampurkannya dengan sedikit sumber surgawi ke dalam air," tambah orang lain.
"Ada yang melihat tubuhnya? Atau mungkin dia melarikan diri setelah menyebabkan kekacauan ini?" tanya seseorang.
"Sepertinya dia sedang menguji teknik pertarungan, tapi tanpa sengaja menyebabkan kekacauan seperti ini," spekulasi lainnya dilontarkan.
Sambil berusaha memadamkan api, mereka saling berspekulasi tentang apa yang dilakukan Asta Raiken dengan membakar hutan tanpa memadamkannya kembali.
Api tersebut menjalar begitu cepat ke pepohonan, menciptakan kebakaran hutan yang terus merembet kesana-kemari. Kebakaran hutan pun semakin meluas dengan kecepatan yang tak dapat dikira.
Beruntungnya, lokasi kebakaran berdekatan dengan sungai, sehingga proses pemadaman bisa dilakukan dengan cepat. Meskipun api masih liar dan sulit dikendalikan, perlahan-lahan kebakaran berhasil dipadamkan. Semua orang berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan kebakaran hutan tersebut.
"Meskipun api ini ganas, namun masih bisa diatasi dengan air. Mungkin karena kultivasi Asta masih rendah sehingga kami dapat memadamkannya," ujar Taki Garaki setelah mereka berhasil memadamkan api.
"Kuatnya api ini sulit untuk dibayangkan ketika dia telah mencapai tahap Ranah Raja," komentar seorang murid senior.
"Sekarang mari kita kembali untuk membahas tugas yang akan diberikan saat para Murid Senior dan Tetua pergi membantu di Gunung Tengkorak. Perihal Asta Raiken, kita akan melaporkan kejadian ini kepada Tetua Helio Utake di desa," perintah Taki Garaki sambil memerintahkan mereka untuk kembali.
"Tetua, maaf, maksudku Senior. Apakah Anda tidak merasa ada yang aneh dalam kejadian ini? Saya sangat mengenal Asta Raiken. Dia bukanlah seseorang yang sengaja menciptakan masalah sebesar ini. Pasti ada alasan di balik tindakannya ini. Bukankah kita tidak dapat menemukannya di sekitar sini?" kata Shiro Nekoshi.
Taki Garaki mengangguk pelan, "Itulah yang ku khawatirkan juga. Mungkin dia sedang berlatih dan terjatuh ke tempat terpencil secara tidak sengaja, atau kemungkinan yang lebih buruk adalah dia bertemu dengan Hewan Ghaib tingkat Tinggi. Namun, melihat bahwa ada Senior Ace bersamanya, rasanya tidak mungkin Asta Raiken bertemu dengan Hewan Ghaib tingkat Senior atau lebih tinggi."
__ADS_1
"Bukankah situasinya agak mengkhawatirkan sekarang?" Cemas Kesha Timber.
"Aku yakin melihatnya. Sebelumnya aku melihatnya berjalan sendirian menuju desa," kata Asila Moegi sambil memegang dagunya. Lalu dia mundur ke belakang.
"Saat situasinya kacau, dia malah membuat kita harus menyelidiki hal ini juga. Dia benar-benar nakal," komentar Zaraki Onoki.
"Coba katakan itu langsung padanya, apakah kau berani melakukannya?" tantang Kenshin.
"Tentu saja. Aku akan memukul pantatnya seperti seorang ayah yang menghukum anaknya saat aku menemukannya," kata Zaraki Onoki.
"Aku akan mengingat itu dan menyampaikannya kepada Asta segera," timpal Shiro Nekoshi, membuatnya terkejut.
"Oke, siapa takut," ucap Zaraki Onoki sedikit terkejut.
"Sudahlah. Waktunya terbatas. Mari kita kembali sekarang. Siapa tahu Asta Raiken sudah kembali ke rumah saat kita tiba di sana," kata Taki Garaki.
Kesha Timber menepukkan palu dengan tangannya, "Oh, mengapa kita tidak memikirkan itu sebelumnya? Dia mungkin panik dan langsung kembali ke rumah setelah meledakkan tempat ini," ucapnya.
Setelah memadamkan sisa-sisa api, mereka semua bergegas kembali ke desa untuk memeriksa apakah Asta Raiken berada di rumah atau tidak.
"Meskipun aku tidak melihatnya sendiri, aku yakin aku tahu apa yang dia pikirkan. Mungkin dia sedang mencoba menciptakan jurus baru atau sesuatu yang baru dengan pemahamannya," pikir Kenshin Utake, yang telah lama mengenal sifat Asta Raiken.
Di sisi lain, tanpa diketahui oleh siapa pun, Asila Moegi menyelinap ke atas pohon. Setelah Taki Garaki dan yang lainnya tidak terlihat lagi, dia turun dan mulai melakukan aksinya.
Setelah mengelilingi area tersebut, matanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Dia melihat tumpukan daun kering yang membentang keluar dari tempat itu.
Asila Moegi tersenyum kecil melihat jejak samar-samar dari sandal yang tertinggal di jalan menuju Hutan Surgawi.
"Apakah aku harus memanggilmu bodoh atau jenius, Asta Raiken? Mungkin kamu bisa mengelabui Senior dan yang lainnya, tapi tidak dengan aku," katanya sambil tertawa kecil.
Ini bukan pertama kalinya Asila Moegi melacak keberadaan Asta di tengah hutan. Selama ini, Asta seringkali menutupi jejak kakinya untuk mengaburkan lokasinya dari Asila Moegi yang sering mencarinya untuk menghilangkan rasa bosannya.
Moegi dengan cepat melangkahkan kakinya mengikuti jejak kaki yang ia temukan. Wajahnya terlihat ceria dan senang seperti mendapatkan sebuah hadiah.
---
Ditempat lain, Asta Raiken terlihat sedang beristirahat di bawah pohon yang lebih besar dari yang lain.
Kejadian ini dimulai setelah Zaraki dan Shiro meninggalkannya sendirian untuk berlatih. Di bawah bimbingan Flares, Asta Raiken ingin mencoba meningkatkan pengendalian Esensi Rohnya.
Flares dengan senang hati mengajarinya metode penggabungan Esensi Roh ke dalam Seni Surgawi untuk meningkatkan kekuatan Seni Surgawi tersebut. Sebagai permulaan, Asta akan mencoba memasukkan kekuatan Esensi Rohnya ke dalam Seni Surgawi Rendah Emas, yaitu Pukulan Peremuk Raga.
Setelah mendapat izin dari Gurunya, Asta Raiken memutuskan untuk mempelajari Kitab Surgawi yang diberikan oleh Flares, yaitu Kitab Surgawi Dewa Hitam, Dewa Api Kegelapan.
Halaman pertama Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan berisi catatan tentang metode kultivasi Esensi Roh Dewa Api Pemakan Cahaya dan metode pengaktifan penggabungan Esensi Roh ke dalam teknik bertarung.
Kitab Surgawi adalah sebuah buku catatan yang memuat kombinasi berbagai jenis Seni Surgawi dengan tipe yang sama, atau bisa dikatakan sebagai asal mula Seni Surgawi. Pada dasarnya, Seni Surgawi yang ada saat ini tersebar di seluruh tempat merupakan pecahan dari sebuah Kitab Surgawi utuh yang terpecah menjadi beberapa bagian di berbagai belahan Benua Alam Surgawi.
Saat ini, keberadaan Kitab Surgawi sangat langka, dan hanya ada beberapa yang tersisa. Semuanya berada pada tingkatan Dewa Hitam.
"Guru! Bangunlah! Muridmu sedang dalam kesulitan, mengapa kau tidur!" teriak Asta, mencoba membangunkan gurunya yang meninggalkannya berlatih tanpa arahan.
Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Esensi Rohnya akan tetap aktif meskipun ia telah menghentikan aliran sumber surgawi ke tangannya saat menggunakan Seni Surgawi Pukulan Peremuk Raga. Namun, Esensi Rohnya terus berdenyut.
Asta Raiken meninggalkan hutan dengan alasan yang bukan tanpa dasar setelah meledakkannya. Ia panik dan berlari mencari sungai. Tanpa menyadari bahwa di sebelah utara tempatnya berlatih terdapat sebuah sungai besar, Asta Raiken malah berlari ke arah timur, berpikir bahwa dengan air sungai ia bisa memadamkan api di tangannya.
Asta terdiam saat merasakan sesuatu yang familiar. Ia melirik ke sampingnya. Perasaannya semakin tidak nyaman, terutama saat ia merasakan keberadaan seseorang, seolah sedang menjelajahi sekitarnya dengan bantuan aura.
"Aduh! Dari semua orang yang bisa datang, mengapa harus Asila Moegi!" Asta Raiken langsung pergi dari tempat itu.
Asta Raiken terus berlari menjauh dari jangkauan deteksi aura Asila Moegi yang masih mencoba mengejarnya. Matanya terbuka lebar saat melihat aliran sungai di depannya. Ia melompat ke dalam sungai tersebut untuk menghilangkan jejaknya dan memadamkan api di tangannya.
Tidak lama kemudian, Asila Moegi mengejarnya hingga ke sungai. Ia frustasi karena kehilangan jejaknya.
"Kalau kau berani meninggalkanku dan pergi dari tempat ini tanpa membawa aku bersamamu, saat kita bertemu lagi, aku akan memukulmu!" teriaknya sambil berbalik dan kembali menuju desa untuk melaporkan kejadian tersebut.
---
__ADS_1
Setelah kembali dari tempat ledakan, di bawah pimpinan Taki Garaki, mereka mengadakan rapat dan membagi tugas untuk pencarian Asta Raiken. Sebelumnya, Taki Garaki sempat melaporkan hal tersebut pada Helio Utake, tetapi karena Helio Utake harus pergi ke Sekte Kobaran Api Sejati saat itu, tugas itu pun diserahkan kepadanya sebagai Tetua Sekte Kobaran Api Sejati.
Rapat berjalan dengan lancar hingga saat pembagian tugas pada kelompok Kenshin Utake, yang terlihat sedang bingung.
"Senior, maaf. Apakah Anda sudah menugaskan Asila Moegi untuk berada di tempat ledakan? Dia tidak ada di sini sekarang," ujar Kenshin, melaporkan ketidakhadiran Asila Moegi.
Mendapat pertanyaan itu, Taki Garaki menjadi bingung. "Bukankah dia masih bersama kalian di sana sebelumnya? Bahkan Junior Asila Moegi memberitahuku bahwa Senior Ace tidak berada bersama Asta," ujar Taki Garaki.
Seseorang yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Kenshin dan teman-temannya mendekat. "Jika kalian bertanya tentang Junior Asila Moegi, kebetulan aku melihatnya berjalan sendirian menyelinap ke belakang setelah berbicara dengan Tetua Taki sebelumnya. Aku pikir Tetua-lah yang memerintahkannya, jadi aku tidak menegurnya," ujarnya, orang itu adalah Dao Li.
Dao Li adalah salah satu Murid Sekte Kobaran Api Sejati, sama seperti Kenshin Utake, hanya dengan perbedaan usia dua tahun. Dia memiliki sifat yang tenang dan rendah hati.
Kenshin Utake menghela nafas perlahan. "Aku seharusnya sadar lebih awal tentang ini. Dia pasti menyelinap untuk mencari jejaknya sendiri," ucap Kenshin Utake.
Sebelum kejadian buruk terjadi, Kenshin Utake meminta untuk menggantikan tugasnya dan ditempatkan di sekitar area ledakan. Ia khawatir Asila Moegi akan menemui bahaya di sana.
Namun Taki Garaki segera menolaknya dengan tegas. "Jika ada hal yang membahayakan keselamatannya, itu juga akan membahayakan kalian semua. Aku telah dipercaya untuk mengatasi situasi ini oleh ayahmu. Percayakan semuanya padaku. Aku sendiri yang akan pergi mencarinya," ujar Taki Garaki.
Namun, belum Taki Garaki membubarkan rapat tersebut, dari kejauhan terlihat Asila Moegi masuk ke dalam ruangan sambil bersenandung pelan.
"Syukurlah. Sepertinya kalian tidak perlu lagi khawatir," ucap Taki Garaki saat melihat Asila Moegi masuk.
Kenshin Utake merasa lega dan menganggukkan kepalanya. Kemudian satu per satu mereka meninggalkan ruangan rapat tersebut. Banyak mata yang menatap Asila Moegi dengan kesal dan geram.
"Ehh?! Senior, kalian semua mau pergi ke mana? Bukankah rapat belum dimulai?" tanya Asila Moegi dengan muka polosnya.
"Hei, Singa! Kau dari mana saja?! Apakah kau tidak tahu betapa kami semua khawatir tentangmu, huh?!" teriak Zaraki Onoki langsung menegur Asila Moegi begitu ia tiba di sana.
Mata Asila Moegi langsung berubah seketika. "Siapa yang kamu panggil singa, sialan?!" balasnya dengan kata-kata kasar.
"Kami semua sangat khawatir tentangmu, bodoh! Apakah kau berpikir ayahmu akan tenang-tenang saja jika terjadi sesuatu padamu, huh?! Pikirkan keselamatanmu! Jangan bertindak sendirian sok berani!" teriak Zaraki Onoki lagi-lagi menegurnya, hingga mereka saling berbalas kata-kata kasar.
Namun, berbeda dengan mereka, Kenshin Utake mencoba bersabar dan memperlambat suaranya. "Asila Moegi, jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan ragu untuk melaporkannya pada ayah-" belum selesai Kenshin Utake berbicara, Asila Moegi langsung memotongnya.
"Siapa kamu sehingga berani mengancamku, huh?!" teriaknya dengan marah. Karena terlalu emosional, ia berdebat dengan Zaraki Onoki hingga lupa dengan siapa ia sedang berbicara.
"Tidak, maksudku bukan itu. Kamu tahu kan, Kenshin? Aku minta maaf," ucapnya sambil menutup mulutnya, gelagapan.
"Sepertinya tadi aku pikir itu adalah Shiro yang berbicara padaku," lanjutnya.
"Untuk apa aku ikut menegur? Bagiku, itu hanya membuang-buang waktu, terutama jika itu tentang dirimu," ujar Shiro Nekoshi.
"Sudahlah, lain kali biarkan dia sendirian. Biar dia tahu apa itu bahaya," ujar Zaraki Onoki.
"Bisakah kau diam? Kamu mencintaiku, kan? Makanya kamu terus dan terus mengkhawatirkan aku secara berlebihan begitu. Lagipula, wanita cantik sepertiku, mana mungkin tak menarik hatimu," ucap Asila Moegi sambil menjulurkan lidah ke arah Zaraki.
Shiro langsung bergegas memegangi tangan Zaraki Onoki yang mulai geram ingin memukul Asila Moegi, "Asila Moegi, berhentilah membuat orang lain kesal, apalagi salah satu dari kita berlima," ujarnya.
Asila Moegi pun langsung mendelik ke arahnya, "Oh, apa sekarang kau berubah pikiran?"
"Cepat lepaskan! Biarkan aku memukulnya kali ini saja!" Zaraki berusaha memberontak.
Namun Shiro tetap menahannya agar tidak melakukan apapun, terutama sampai menyakiti Asila Moegi yang merupakan rekan mereka sendiri.
Melihat pertengkaran mereka akhirnya kesabaran Kenshin Utake memuncak. "Bisakah kalian berdua diam? Dan kau, Asila Moegi! Bisakah kau bertindak setelah meminta izin? Entah harus bagaimana lagi aku memberitahumu agar kau mengerti. Jika kau masih keras kepala, ceroboh, dan gegabah seperti ini, aku akan berbicara dengan ayahmu dan ayahku agar kau dipindahkan ke Sekte Kobaran Api Sejati," ujar Kenshin Utake yang sudah kesal.
Barulah setelah itu, keduanya terdiam dan menundukkan kepala. Mereka tidak berani lagi berselisih kata di hadapannya.
"Kenshin, apa itu tidak terlalu berlebihan? Selain itu..." Kesha belum selesai bicara, Kenshin memotongnya.
"Jika dia diserang oleh Hewan Ghaib tingkat Tinggi dan terluka, apakah kau masih bisa mengatakan bahwa teguranku terlalu berlebihan, Kesha Timber?" ucapnya, membuat Kesha terdiam.
Setelah itu, Kenshin meminta Asila Moegi untuk menceritakan apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Asila Moegi mulai menceritakan pengejarannya yang pada akhirnya tidak berhasil. Hal itu karena ia tidak dapat melanjutkan pengejaran dan melewati sungai yang merupakan batas antara Provinsi Huo Tanah Api Suci dan Provinsi Senlin Hutan Mistik.
Provinsi Huo Tanah Api Suci merupakan salah satu dari 7 Provinsi di Kekaisaran Arkhan. Di dalamnya terdapat 2 Sekte Besar, yaitu Sekte Kobaran Api Sejati yang berlokasi di sisi Barat Laut Provinsi Huo dan berbatasan langsung dengan Provinsi Senlin Hutan Mistik, serta Sekte Tanah Keabadian yang terletak di sisi Barat Daya dan berbatasan dengan Provinsi Yagu Lembah Tebing.
Kenshin Utake menghela nafasnya pelan, "Apakah kau meninggalkan jejak atau tanda di sepanjang jalan? Jika tidak, sepertinya kita harus segera menyusul Senior sekarang juga untuk memberitahunya. Para Elf penjaga Hutan Mistik pasti akan segera bergerak setelah Asta memasuki wilayah mereka tanpa izin," ujar Kenshin.
__ADS_1
"Tak perlu. Biarkan aku yang pergi sendirian. Dengan kecepatan kalian, mustahil bisa menyusul Tetua," ucap Dao Li yang muncul tiba-tiba dan mengambil alih tugas tersebut.
Dao Li dengan gesit berlari menyusul Taki Garaki. Sesaat ia memasuki hutan, Dao Li mendengar bunyi pertarungan tak jauh dari tempat dimana ledakan itu sebelumnya berada. Samar-samar ia melihat Taki yang sedang menghabisi para hewan ghaib yang menghadangnya satu persatu.