
Pelelangan pun kembali dilanjutkan, dan seorang pelayan wanita anggun serta cantik masuk sambil membawakan barang kedua di atas tangannya. Kain penutup yang digunakannya seakan tak mampu menahan cahaya biru yang menyala dari dalamnya.
"Tak terasa, barang pertama sudah terjual dengan begitu cepatnya. Izinkan saya memperkenalkan, barang kedua kali ini adalah 2 pasang Belati Taring Biru, masing-masing merupakan Artefak Berkarakteristik peringkat 5 menengah, memiliki kemampuan roh api biru dari Singa Bulu Biru. Sangat cocok untuk mereka yang melatih seni belati atau membutuhkan senjata rahasia berbentuk belati. Harga pertama untuk dua pasang belati ini adalah dua puluh ribu keping emas, dengan harga penawaran berikutnya tidak boleh kurang dari seribu keping emas," jelas Manager Row dengan suara tegas.
Shiro pun tersenyum tipis, tak menyangka bisa menemukan sesuatu yang mungkin berguna baginya malam itu. Ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat langka baginya.
"Shiro, jangan bilang kau..."
"Diamlah. Aku pasti akan melakukannya. Kau pikir aku seperti dirimu?"
Zaraki hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ia menyesal karena tidak membawa cincin penyimpanan miliknya sendiri.
---
Di penginapan, setelah membersihkan diri, Kenshin merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Hari-harinya tidur di atas rumput akhirnya berakhir. Matanya perlahan mengatup, namun ingatannya kembali memenuhi pikirannya, dan Kenshin terbangun dari tidurnya. Yang pertama kali dipikirkannya adalah Ilmu Pedang Tak Berwujud yang diberikan oleh orang tak dikenal.
Matanya menyusur gulungan di tangannya, seni surgawi tingkat legenda putih. Matanya berbinar saat membaca gulungan itu. Kenshin terperangah saat menemukan pemahaman yang lebih tinggi tentang ilmu pedang dan rohnya. Setelah beberapa jam mempelajarinya, Kenshin mengerti bahwa ilmu pedang tak berwujud merupakan nama dari sebuah kitab surgawi Dewa Hitam yang kuat, sebanding dengan kitab surgawi Dewa Api Kegelapan. Hal yang mengejutkannya lagi, ilmu pedang tak berwujud terdiri dari 10 gerakan berbeda, dan gulungan di tangannya saat ini hanya menuliskan 3 gerakan saja.
"Ini bukan hanya satu gerakan, melainkan tiga seni surgawi peringkat legenda putih. Dengan ini, pemahamanku terhadap jalan pedang dan roh akan meningkat pesat, aku harus mencobanya," kata Kenshin penuh semangat.
Kenshin memasukkan kembali gulungan itu, lalu pergi meninggalkan penginapan menuju tempat sepi. "Sepertinya aku bisa melakukannya di sini," ucapnya pelan setelah memeriksa sekitar.
Kenshin mengeluarkan pedang, berdiri mantap, dan tangannya menggenggam erat gagang pedang tersebut. "Ilmu Pedang Tak Berwujud, Gerakan Pertama, Jejak Pedang Tak Berwujud," ucap Kenshin dengan penuh semangat.
Mata Kenshin melebar tak percaya. Teknik pedang ini lebih baik daripada teknik pedang yang dimilikinya saat ini. Matanya berbinar senang.
"Tak hanya kuat, tetapi teknik ini juga fleksibel. Aku bisa menggunakannya untuk serangan diam-diam atau mengelabui musuh. Padahal yang ku pelajari ini bukan versi penuhnya. Aku sangat penasaran jika bisa mempelajari jejak pedang tak berwujud dengan versi sempurna," gumam Kenshin.
Kenshin terus mencobanya beberapa kali, sampai ia terbiasa dan menghafalkan gerakannya dengan baik. Hari semakin larut, dan Kenshin bergegas kembali ke penginapan, takut sahabatnya mencarinya.
"Menarik! Meskipun baru mempelajarinya, nampaknya ia langsung mahir menggunakannya. Kakak, lihatlah, bakat dan kejeniusanmu menurun pada putramu," kata suara dari bayangan gelap, sosok berjubah hitam itu muncul. Setelah Kenshin pergi, sosok itu pun menghilang dengan mengibaskan sayap hitamnya dan terbang ke langit dengan cepat.
Tiba di penginapan, Kenshin membersihkan diri lalu beristirahat. Melihat ruangan yang begitu sunyi, dia mengira yang lainnya sudah tidur. Namun, dia tak menyadari bahwa yang lain masih asyik bersenang-senang.
---
Ketika fajar mulai menyingsing, mereka pun bergegas kembali ke sekte. Sebagai murid luar, setelah menyelesaikan misi dari ujian pertama, para murid luar akan diangkat menjadi murid dalam.
Tidak ada masalah besar yang menjadi penghalang sepanjang perjalanan. Mereka hanya membicarakan tentang turnamen sepanjang jalan. Semangat mereka sangat tinggi karena mereka akan bersiap untuk mengikuti ajang bela diri yang akan diadakan dalam waktu kurang dari 2 tahun lagi.
Turnamen Seni Bela Diri ini adalah sayembara penentu jenius tiap generasi yang diadakan setiap 15 tahun sekali. Ini adalah acara yang disiapkan oleh Kekaisaran Arkhan untuk para kultivator muda berbagi pengalaman.
"Zaraki, ada apa denganmu? Sedari pagi kau memasang wajah datar seperti itu," ucap Kesha sambil tertawa melihat Zaraki yang tidak seperti biasanya, yang biasanya ceria dan banyak bicara.
"Wajahmu terlihat tertekan. Apa yang sebenarnya terjadi di pelelangan?" Tanya Kenshin yang sudah tahu kemana mereka pergi semalam dari Moegi.
"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, mungkin dia bisa gila," timpal Shiro tanpa ekspresi wajah.
"Dari ekspresi wajahnya saja sudah jelas seperti raut wajah seorang miskin. Jadi, tak perlu lagi kau bertanya," canda Moegi sambil tertawa.
"Ha..ha.. mengapa kalian tertawa?" Kenshin bingung melihat teman-temannya menertawakan Zaraki.
"Apa dia dicuri semalam tadi? Mengapa kalian tidak memberitahuku dengan cepat? Zaraki adalah teman kita, jika dia kesusahan maka kita harus membantunya. Cepatlah kemari, Zaraki, katakan padaku berapa uangmu yang hilang biar kututupi sekarang," Kenshin lalu mengeluarkan kantong kepingan emas di tangannya.
"Seratus keping, dua ratus keping, atau berapa? Kau tak perlu ragu untuk menjelaskannya. Aku membawa cukup banyak tabunganku juga, jadi berapapun itu aku bisa menggantikannya," tanya Kenshin, masih belum mengerti kenapa teman-temannya malah tertawa semakin keras.
Zaraki mengangkat kepalanya muram, "Kenshin, apa kau membawa uang sekitar puluhan ribu keping emas di cincinmu?" Tanyanya dengan nada dilema.
"Eh.. Memangnya ada masalah apa? Aku membawa semua harta milikku. Mungkin totalnya lebih dari empat puluh ribu kepingan emas," Kenshin meringis canggung memberitahunya.
Zaraki terdiam lalu berjongkok di tanah, tangannya meraih ranting pohon di dekatnya. Tatapannya kosong tanpa ekspresi. Ia mulai menggambar lingkaran di tanah dengan ranting tersebut.
Kenshin semakin bingung dengan sikapnya. Namun sebelum ia menyentuh pundaknya, Moegi dengan cepat menarik tangannya.
"Ken, kau tak boleh terlalu dekat dengannya. Biarkan dia merenungkan semuanya sendiri," bisik Moegi sambil tertawa. Shiro dan Kesha yang sejak tadi tertawa, bahkan sampai perut mereka sakit.
"Apa maksudmu? Zaraki adalah teman kita! Jika dia dalam kesulitan, maka kita harus membantunya, bukan malah membiarkannya begitu saja," Kenshin menepis tangan Moegi dengan emosi, ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap mereka.
__ADS_1
"Zaraki, berapapun uang yang hilang cukup katakan padaku. Berapapun itu, selama aku memiliki cukup, aku juga bisa meminjamkannya padamu," tawar Kenshin dengan penuh semangat.
Tertawaan Moegi dan yang lain semakin membuat situasi menjadi lebih lucu, Kenshin merasa semakin tertekan. Zaraki tetap tidak bergeming sedikitpun, hanya diam melamun dalam posisinya.
"Kesha, tarik dia. Kita tidak bisa berlama-lama di sini," Kenshin akhirnya menyerah untuk membujuknya.
"Tapi, Ken, aku tidak pernah punya teman yang hanya membawa enam ribu keping emas ke pelelangan Asosiasi Fajar Merah. Sekte Kobaran Api kita, bukan sekte yang berisi orang-orang miskin," tolak Kesha, masih sambil tertawa.
Kenshin berdiri mematung. Ia ingin tertawa tapi ia tidak bisa. Perbuatan tadi pasti telah membuatnya semakin tertekan. Sekarang ia menyadari mengapa Zaraki hanya diam membisu sejak tadi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, meskipun akhirnya mereka terpaksa berhenti beberapa kali di tengah jalan karena Zaraki.
---
Di depan gerbang Kota Api Suci, terlihat banyak orang yang masih berlalu-lalang. Di tengah kesibukan itu, sembilan Tetua Aula Balai Pelatihan berjalan keluar gerbang sekte. Helio Utake terlihat sangat semangat menunggu kepulangan putranya, begitu juga dengan yang lainnya.
Tak lama kemudian, anak-anak yang mereka tunggu pun pulang dengan selamat. Hanya Zaraki yang terlihat agak murung, tidak seperti biasanya.
"Bagaimana perjalananmu? Apakah kau menikmatinya?" tanya salah seorang pria dengan gaya rambut panjang yang diikat ke belakang, Tetua Aula Balai Pelatihan Roh, Asila Ryu.
"Huh... Menyenangkan? Tidak juga. Aku merasa sangat bosan. Kalau bukan karena ayah yang memintaku, mungkin aku akan lebih memilih tinggal di sini. Semuanya terlalu mudah bagiku," ucap Moegi dengan remeh. Asila Ryu dan Lan Yue Ru meringis canggung melihat tingkah laku putrinya, sementara yang lain tertawa riuh.
"Lalu bagaimana denganmu, bocah nakal? Aku khawatir kau membuat masalah dan membawa masalah pada yang lain selama perjalanan, kan?" tanya seorang wanita berambut pendek dengan goresan luka di pipi kirinya, Tetua Aula Balai Pelatihan Roh, Rize Onoki.
"Ayolah, Bu, tak bisakah engkau berpikiran baik terhadap putramu yang membanggakan ini? Aku sedang dalam masalah saat ini," ucapnya mengeluh.
"Rize, aku yakin putra kita tidak seburuk itu. Betul, Zaraki?" tanya seorang pria dengan gaya rambut panjang terurai, Tetua Aula Balai Pelatihan Jalan Surgawi, Zarasu.
"Tetua, Zaraki hampir saja mempermalukan sekte di depan umum. Dia ikut serta dalam pelelangan Asosiasi Fajar Merah di kota Vorheis mewakili sekte, namun hanya membawa enam ribu keping emas. Jika bukan karena aku ada di sana, mungkin sekte kita akan menjadi bahan ejekan," Shiro mengadukan hal itu kepada kedua orangtuanya.
Zaraki melotot, namun tatapan Rize lebih tajam pada dirinya, "Zaraki... Apa kau ingin mempermalukan ibu dan ayahmu, hah?!" bentak Rize.
"Bu, dengarkan aku. Aku benar-benar tidak menyangka harga barang-barang di pelelangan melebihi puluhan ribu keping emas. Lagi pula, itu adalah jumlah uang yang kubawa, aku tidak membawa cincin penyimpanan," ujar Zaraki mencoba menjelaskan.
"Sudah, sudah. Tidak baik bertengkar dengan mereka yang sudah lelah setelah melakukan perjalanan ini. Pasti mereka ingin beristirahat," kata Arai Ken yang tiba-tiba muncul di sekitar mereka, entah dari mana datangnya.
Sudah lama sekali mereka tidak melihatnya setelah pergi ke medan perang. Mereka sungguh merindukan kehadirannya yang ramah dan sopan terhadap seluruh anggota sekte, seakan-akan anggota keluarga dekat.
---
Sebelum pergi ke Sekte Kobaran Api Sejati yang baru, mereka dibiarkan beristirahat di kota terlebih dahulu. Mereka berlima pulang dengan orang tua masing-masing ke kediaman yang mereka miliki di kota.
"Kenshin, bagaimana ujian dan perjalanan pertamamu kali ini? Apakah ada sesuatu yang menyulitkan kalian berlima?" tanya Helio, memulai pembicaraan.
Kenshin menggeleng pelan, mengatakan bahwa perjalanannya sangat lancar tanpa ada hambatan apapun. Bahkan, Hewan Ghaib pun sama sekali tidak menghadang mereka.
"Perjalanan ini setidaknya menjadi pengalaman berharga. Sekelompok Goblin yang meresahkan banyak berada di Ranah Petarung. Meski itu tidak menjadi masalah bagi kami berlima, tapi kita tetap harus berjuang keras menghadapi jumlah mereka yang banyak," Kenshin menghela nafasnya pelan sebelum melanjutkan ceritanya.
"Hanya saja aku sedikit tidak menyangka, Senior Taki tiba-tiba bisa menemukanku dan memberitahu bahwa kami lulus ujian. Dia juga memberitahu bahwa misi tambahan telah dipindahkan kepadanya. Aku benar-benar tidak memperkirakan ini semua, atau mungkin ayah sudah tahu kemana aku akan pergi sehingga dia bisa menebaknya?" tanya Kenshin.
"Tidak, tidak. Kau berpikir terlalu jauh tentang ayahmu. Apa kau pikir ayahmu ini seorang peramal yang mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan?" balas Helio sambil sedikit tertawa, menanggapi pertanyaan putranya tersebut.
Kenshin pun tersenyum canggung. Memang tidak mungkin ayahnya dapat mengetahui segala hal dan apa yang mungkin terjadi di masa depan, pikirnya.
"Ahh, iya. Aku hampir saja lupa. Apakah kau mengikuti pelelangan Asosiasi Fajar Merah? Apakah kau memenangkan sesuatu disana? Mereka bilang saat kalian berada di Vorheis, Manager Row sendiri yang mengadakan acara pelelangan," tanya Helio, penasaran apakah Kenshin juga mengikuti pelelangan Asosiasi Fajar Merah pada malam itu.
"Ah, aku tidak mengikutinya. Meskipun Zaraki memberitahuku tentang pelelangan tersebut, aku tidak ikut. Menurut yang aku tahu, Zaraki mengatakan pelelangan itu diadakan secara tiba-tiba. Kebetulan saat itu kami bertemu Manager di Gerbang Kota dan dia mengundang kami. Namun saat itu hanya Zaraki yang pergi, sementara aku dan Moegi bertemu dengan Senior Taki, dan Kesha serta Shiro pergi mencari penginapan. Dan Zaraki mengetahui tentang pelelangan itu karena Manager yang mengundangnya," jelas Kenshin.
"Lalu, apa yang mereka berdua dapatkan saat mengikuti pelelangan tersebut?" tanya Helio penasaran.
"Aku mendengar Zaraki tidak mendapatkan apa-apa karena dia tidak membawa cukup uang untuk membeli sesuatu. Sedangkan Shiro berhasil mendapatkan dua pasang Artefak Belati Taring Biru. Ia mendapatkannya setelah berhasil menawar hingga ratusan ribu kepingan emas," jawab Kenshin.
"Hah...?! Benarkah begitu? Apa sehebat itu Belati Taring Biru sehingga Shiro bersedia menghabiskan begitu banyak uang?" tanya Helio heran.
"Bisa dibilang Shiro juga beruntung. Artefak itu merupakan Artefak Berkarakteristik peringkat 5 kelas menengah. Wajar jika itu menghabiskan ratusan ribu keping emas. Peringkat 5 kelas menengah untuk satu belati, sedangkan ia mendapatkan dua pasang, artinya Shiro memiliki total empat buah Artefak Berkarakteristik peringkat 5 kelas menengah," jelas Kenshin.
Helio terkejut sampai tersedak nafasnya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa Asosiasi Fajar Merah akan melakukan pelelangan barang-barang tingkat tinggi dengan harga yang masih bisa dibilang 'cukup murah' di tingkatannya.
__ADS_1
"Apa benar Belati itu Artefak Berkarakteristik peringkat 5? Apakah mereka tidak takut ditipu oleh Asosiasi Fajar Merah? Agak aneh, bukan, jika Asosiasi menjual artefak setinggi itu dengan harga hanya ratusan ribu keping emas?" ujar Helio.
"Sepertinya itu memang benar. Shiro pernah memperlihatkannya sekali pada kami. Namun, aku cukup yakin bahwa itu adalah Roh Singa Bulu Biru yang memiliki kekuatan tingkat Ahli," jelas Kenshin.
"Apakah Manager Row sendiri yang mengadakan acara lelang tersebut? Jika memang iya, maka wajar saja Shiro bisa mendapatkan artefak tingkat tinggi hanya dengan harga segitu," tanya Helio.
"Ya, Shiro mengatakan kalau Manager Row sendiri yang memimpin acara pelelangan tersebut. Dan kebetulan sekali kami berempat pernah berbicara dengannya. Itu terjadi saat sore hari di gerbang kota. Saat itu kami bahkan tidak mengenalinya dan menganggapnya sebagai seorang pedagang biasa," ujar Kenshin.
Helio mengangguk mengerti. Hal seperti ini memang akan biasa terjadi. Setiap kali Manager Row mengunjungi salah satu Asosiasi Fajar Merah miliknya, ia pasti akan mengadakan acara pelelangan dadakan, di mana barang-barang yang dilelang selalu memiliki tingkatan yang tidak rendah.
Setelah itu, ia pun tidak melanjutkan pembahasan soal belati tersebut lebih jauh lagi.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka pun sampai di kediaman Helio. Sesampainya di sana, Helio kemudian menyuruh Kenshin untuk segera beristirahat dan memulihkan kondisi tubuhnya. Ia yakin puteranya akan kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang ini.
---
Kenshin merebahkan tubuhnya di atas kasur. Saat ini, begitu banyak hal yang tengah ia pikirkan, salah satunya adalah Seni Surgawi Ilmu Pedang Tak Berwujud yang ia dapatkan dari seseorang yang tidak ia kenal.
Pada awalnya, Kenshin berpikir bahwa sosok itu adalah ayahnya, namun setelah ia melihat ekspresi wajahnya, ia tahu bahwa sosok itu bukanlah ayahnya. Teknik berpedang yang diajarkan ayahnya sangat berbeda dengan Seni Surgawi tersebut.
"Apa mungkin aku harus memberitahukan hal ini padanya, siapa tahu ayah mengetahui siapa sosok dibalik jubah bertudung itu. Tapi, sepertinya sekarang bukanlah situasi yang tepat. Mungkin lain kali aku akan memberitahunya," gumam Kenshin pelan.
Setelah merenunginya cukup lama, Kenshin pun bangkit dari tempat tidurnya dan meninggalkan ruangan.
"Mau kemana, Ken?" tanya Helio yang tengah duduk di halaman depan kediamannya.
"Aku ingin pergi sebentar ke hutan Hewan Ghaib untuk berlatih. Aku pergi dulu," jawab Kenshin.
"Bagaimana dengan istirahatmu?" seru Helio.
"Tidak perlu. Lagipula, kondisiku saat ini bisa dibilang sangat prima. Aku tidak perlu beristirahat lama-lama," jawabnya lagi.
Helio hanya menatap putranya pergi semakin jauh. Jika ia berkata kondisinya baik-baik saja, maka ia pun jadi tak khawatir akan kesehariannya.
Setelah meninggalkan kediamannya, Kenshin berlari ke arah gerbang kota. Di perjalanan, orang-orang tampak segan kepadanya. Kenshin tersenyum balik menanggapi mereka.
"Baru pulang sudah ingin berlatih kembali?" Tanya penjaga gerbang padanya.
"Ahh... iya. Aku bosan di kediaman ayahku. Aku merasa lebih baik berlatih ketimbang hanya berdiam diri di sana," ujar Kenshin.
"Ehh, bukankah kau baru saja kembali dari ujianmu? Mengapa terburu-buru sekali untuk kembali berlatih? Apa kau benar-benar tak ingin menikmati waktu santaimu sebentar?" Tanya penjaga yang lainnya.
"Sebenarnya aku ingin menikmati waktu santai. Namun, saat aku mulai teringat akan Turnamen, aku termotivasi untuk berlatih dan bersiap untuk itu. Entah mengapa aku jadi tidak bisa beristirahat kalau sudah mengingatnya," ujar Kenshin sambil tertawa canggung.
"Anak muda memang penuh akan semangat yang membara. Kalau begitu, berhati-hatilah saat kau pergi berlatih di hutan Hewan Ghaib. Dan juga, jangan memaksakan dirimu sendiri. Beristirahat bukan berarti menyerah, ingat itu," pesan para penjaga.
"Tentu, aku akan mengingatnya," tanggap Kenshin.
"Hati-hatilah, jangan sampai hewan Ghaib di hutan menemukanmu, ya," ujar penjaga gerbang bercanda.
"Hahaha... pasti," balas Kenshin. Setelah itu, ia pun berlari menuju hutan.
---
Di tengah hutan Hewan Ghaib, Kenshin pun duduk sebentar untuk memeriksa keadaan di sekitarnya. Setelah merasa aman dan tidak ada siapapun, ia pun mengeluarkan pedangnya.
"Sepertinya tidak ada siapapun di sini. Akhirnya aku bisa mempelajarinya lagi. Aku masih penasaran dengan kekuatan sebenarnya dari Seni Surgawi ini," gumamnya.
Kenshin memulai latihannya kembali untuk mempelajari bagian kedua dan ketiga dari Seni Surgawi Ilmu Pedang Tak Berwujud. Ia ingin tahu seberapa kuat teknik ini setelah mempelajari bagian pertamanya, yang sudah sangat kuat meskipun versi yang diterimanya belum sempurna.
"Ilmu Pedang Tak Berwujud, Gerakan Kedua, Tarian Bayangan Pedang,"
Kenshin bergerak meliuk-liuk dengan pedangnya, menebaskan beberapa kali untuk menciptakan tebasan pedang yang berbayang-bayang. Setiap tebasan begitu kuat sehingga memotong udara.
Saat menggunakan teknik dari Seni Surgawi tersebut, Kenshin merasa tidak hanya pemahaman teknik berpedangnya yang meningkat, tetapi juga penguasaan rohnya mengalami peningkatan. Ia terus melanjutkan latihannya dengan penuh semangat.
Waktu berlalu begitu cepat, dan Kenshin tetap asyik dalam latihannya. Semangatnya tak pernah luntur, dan semakin lama, ia merasa semakin terhubung dengan Seni Surgawi Ilmu Pedang Tak Berwujud ini. Setiap gerakan menjadi lebih lancar dan presisi, seolah-olah pedangnya mengikuti irama alam semesta. Kesatuan antara dirinya dan alam semesta semakin terasa, dan ia merasa bahwa kekuatan ini membuka potensi baru yang tersembunyi dalam dirinya. Kenshin yakin bahwa dengan tekad dan kerja kerasnya, ia akan bisa menguasai Seni Surgawi ini dengan sempurna dan menggapai puncak kehebatannya di Turnamen Seni Bela Diri yang akan datang.
__ADS_1