
Rai pun menjelaskan semuanya sedetail-detailnya. Mulai dari perginya Kenshin hingga di tugaskannya Helio olehnya. Untuk menghabisi sisa-sisa kelompok musuh yang tertinggal. Dengan cepat Taki memahami semua hal yang Rai Ken jelaskan padanya.
"Tak kusangka akan menjadi seperti ini," ucap pelan Taki.
"Yah siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan aku sendiri terkejut melihat perkembanganmu kultivasimu Kau benar-benar menembus Ranah Suci di usia mu yang ke-20, kau telah mengukir prestasi yang begitu besar. Aku menunggu saat-saat dimana kau mencapai ketinggian yang sama sepertiku. Dengan begini, aku takkan khawatir lagi untuk menyerahkan posisiku kepada siapa nantinya," ujar Rai Ken memujinya.
"Ketua, kau terlalu memujiku. Aku tidak sehebat yang kau pikirkan. Masih banyak yang kurang dariku. Posisi itu mungkin lebih pantas diberikan pada Tetua Api tertinggi," ujar Taki menolak pujian Rai Ken yang terlalu tinggi terhadapnya.
"Taki aku suka dengan sifatmu. Kau selalu saja merendah ketika seseorang memujimu. Ahh, sudahlah. Mari kita bahas mengenai misi yang akan kuberikan selanjutnya," ujar Rai Ken.
Sebenarnya Taki sudah menebak misi apa yang akan diberikan Ketua Sekte kepadanya dan kenapa harus ia yang menjalankannya. Meski begitu ia tetap memilih diam dan mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan terlebih dahulu kepadanya.
"Turnamen Seni Bela Diri akan diadakan kurang lebih 3 bulan lagi. Aku ingin kau mengawal mereka berlima untuk berpartisipasi dalam turnamen tersebut. Kuharap kau bisa melaksanakannya dan mampu menjaga mereka berlima dari serangan musuh," ujar Rai Ken.
Taki pun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kembalilah lebih dulu. Mulai bersiaplah untuk menjaga mereka hingga sampai ke Ibukota Kekaisaran Arkhan, Hansu. yang mana tempat diadakannya Turnamen Seni Bela Diri. Kau tahu kan tempatnya, Taki?" Tanya Rai Ken.
Taki pun terkekeh mendapati pertanyaan tersebut. Aneh rasanya jika ia tak mengetahui lokasi turnamen tersebut diadakan. Karena ditempat inilah ia mendapat julukan Kaisar Kecil. Seorang bocah jenius berusia 5 tahun yang mampu mengalahkan lawannya yang berusia 10 tahun diatasnya.
"Hahahaha,,, Ketua Sekte bercanda. Mana mungkin aku melupakan tempat itu. Karena tempat itulah aku sampai sekarang dipanggil dengan sebutan anak kecil," ujar Taki mengingat-ingat kembali Turnamen Seni Bela Diri sebelumnya.
"Hahahaha,,, untunglah kau masih ingat. Ya sudah kalau begitu. Kau kembalilah dan istirahat. Karena perjalanan ini demi mendapatkan pengalaman maka dari itu perjalanannya akan dilakukan dengan berjalan. Tanpa menggunakan portal dimensi," jelasnya lagi.
Taki pun pamit dan langsung undur diri dari sana. Selesai dari kediaman Ketua Sekte, Taki berjalan menuju Asosiasi Fajar Merah cabang Kota Api. Alasan ia datang ke toko tersebut adalah untuk menukarkan barang-barang yang telah ia dapatkan dari perjalanan sebelumnya.
"Artefak pedang tingkat dua dan tiga sangatlah rapuh. Sepertinya aku perlu mendapatkan artefak yang tingkatannya lebih tinggi," gumam Taki.
Taki pun mendekati seorang pelayan dan bertanya mengenai Artefak Pedang tingkat 4 atau yang lebih tinggi di Asosiasi Fajar Merah di cabang Kota Api.
Kemudian pelayan pun mengantarkan beberapa set pedang untuk dilihatnya. Taki pun memilih salah satunya dan membayar nya dengan Material yang ia dapatkan.
Tak hanya mencari artefak. Alasan lain Taki mengunjungi Asosiasi Fajar Merah yakni untuk mencari pil obat yang dapat menyembuhkannya.
"Tak kusangka. Perjalanan ini akan memberikanku banyak keuntungan. Dengan pil-pil ini, meskipun luka ku cukup dalam. Setidaknya aku bisa menyembuhkannya sebelum pagi," ujar Taki sambil memandangi pil obat yang didapatkannya dari hasil menukarkan barang-barang rampasan dari musuh.
Sesampainya di kediamannya, Taki pun segera mengonsumsi pil tersebut. Dan mulai melakukan penyembuhan.
Tak terasa malam pun berganti pagi. Taki bersiap untuk pergi ke gerbang kota menemui kelima orang anak yang akan ia antarkan ke Kota Hansu. Tempat diadakannya Turnamen Seni Bela Diri.
Dari kejauhan, terlihat Shiro, Moegi, Kesha, Zaraki, dan Gao Li tengah berbincang-bincang. Mereka terlihat tak sabar untuk segera melakukan perjalanan tersebut.
"Baguslah kalau kalian bersemangat seperti ini. Apa kalian sudah siap semuanya..?" Tanya Taki mengagetkan mereka berlima.
"Tetua..!!! Bisakah kau tak mengejutkan kami semua. Kelakuan usilmu ternyata tak banyak berubah, Tetua Taki," ujar Kesha mencibirnya.
"Haha,.. maaf, maaf,"ujarnya meminta maaf.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Menuju Kota Hansu. Tempat diadakannya Turnamen Seni Bela Diri. Yang diadakan setiap 15 tahun sekali oleh Kekaisaran Arkhan,"
"Yeeaahhhhh...!!!" Balas mereka serentak. Dengan begitu perjalanan mereka pun dimulai.
***
Ditempat lain,
"Guru..! Kau bilang kau akan mengajariku untuk menjadi seorang Penempa dan Peracik Obat. Apa guru berbohong soal itu..?" Tanya Asta.
"Ehh, kapan guru berbohong. Memangnya apa yang kau tahu tentang Artefak itu sendiri. Kalau kau saja tak mengetahui arti dari Artefak itu sendiri, sejauh mana pemahamanmu tentang Artefak..?" Tanya balik gurunya.
"Bukankah Artefak hanyalah senjata? Memangnya apa lagi pengartian dari sebuah Artefak selain sebagai senjata," jawab Asta sambil mengernyitkan dahi heran.
"Phuahahahaha," Zaru pun tertawa keras mendengar jawaban yang keluar dari mulut Asta,
"Kau benar..!! Artefak hanyalah sebuah senjata..!!! Hahahahaa...!!! Kalau begitu coba tunjukan padaku kekuatan dari senjata cincin Jade Samudera milikmu itu, Hahahahaa," ucap Zaru mencibir.
"Ahh, Hahahahaa," Asta pun tertawa malu dengan ucapannya.
Flares menggelengkan kepalanya pelan sebelum mulai menjelaskan pengartian dari Artefak itu sendiri.
Artefak merupakan peralatan yang dibuat menggunakan Material Jiwa. Material Jiwa sendiri merupakan bijih yang hidup, layaknya tumbuhan ataupun hewan.
Artefak sendiri pada umumnya dibagi menjadi 7 tingkatan. Yang mana tingkatan artefak ditentukan oleh berdasarkan umur Material Jiwa yang digunakan.
Level Rendah (1-10 tahun),
Menengah (11-50 tahun),
3.Tinggi (51-100 tahun),
Epik (101-300 tahun)
Ajaib (301- 800 tahun),
Legendaris (801-1200 tahun),
__ADS_1
Dewa (1200-5000 tahun).
Untuk menambah daya serta kekuatan artefak. Tak asing jika seorang pandai besi memadukan Material Jiwa dengan Bagian tubuh Hewan Ghaib ataupun Permata Hewan, untuk menciptakan sebuah artefak dengan karakteristik tertentu, yakni Artefak Roh.
Artefak Roh agak berbeda dengan Artefak biasa. Karena itu Artefak Roh selalu lebih kuat dari Artefak bisa di tingkatan yang sama. Karena setidaknya Artefak Roh menyimpan kekuatan dari Hewan Ghaib.
Meski begitu tak banyak pandai besi yang berani menempa Artefak Roh. Sekalipun ada resiko kegagalan dalam pembuatan yang begitu tinggi dan proses pembuatannya yang rumit akan selalu mengakibatkan sebuah bencana.
Menempa Artefak Roh sangat berbeda dengan menempa Artefak biasa. Karena memadukan Material Jiwa dengan Permata Hewan ataupun bagian tubuh Hewan Ghaib, sama saja seperti menyatukan Roh Hewan Ghaib dengan Roh Material Jiwa. Hal ini tentu akan berakibat penolakan satu sama lain. Bahkan tak jarang petir surgawi menghujani si Penempa yang sedang menempa.
Keberhasilan dari proses penempaan Artefak Roh adalah saat Roh Hewan Ghaib berhasil menaklukkan Roh Material. Dengan begitu terciptalah Artefak Roh dengan karakteristik hewan ghaib tersebut. Namun jika Roh Material Jiwa yang berhasil menelan Roh Hewan Ghaib. Maka penempaan Artefak Roh pun gagal. Roh Material akan mengambil bentuk fisik serta kekuatan dari Roh Hewan tersebut. Dan terlahir kembali menjadi Hewan Ghaib Mutasi.
Asta pun mengangguk pelan mengerti. Ia pun kembali bertanya kepada gurunya lagi.
"Lalu Guru, bagaimana kau menjelaskan mengenai pil obat dan semacamnya? Meskipun aku pernah memakannya beberapa dan bahkan melihat guru secara langsung meraciknya, aku tidak punya pemahaman apapun tentang itu," ujar Asta kembali bertanya.
"Pil obat dan herbal obat pun sama halnya dengan Artefak. Tingkatannya dibagi menjadi 7 tingkat. Tapi ingat, seorang peracik bisa meracik pil apapun selama pil itu yang paling tinggi adalah setingkat dengan sang peracik. Namun jika lebih dari itu maka peracikan akan gagal dan bahan obat terbuang sia-sia. Begitu juga dengan seorang Penempa," jelas Flares.
Flares pun kemudian memberikan sebuah buku yang berisi pemahaman tentang menjadi seorang Penempa. Yang berisikan tentang informasi bahan-bahan, tekhnik pengendalian api tingkat dasar, dan bahkan cara-cara menempa Artefak dengan tingkat yang paling dasar.
Setelah membaca dan memahami buku tersebut, Asta pun meminta waktu pada gurunya untuk mencoba apa yang ia pelajari selama beberapa hari terakhir. Asta memutuskan untuk mencoba mengaktifkan esensi rohnya dan mengendalikan api pemakan cahaya lebih baik lagi.
Mendengar hal itu Flares pun tidak keberatan dan mengijinkannya. Asta pun memulainya, tato hitam pun muncul menyelimuti kedua tangannya.
"Kupikir ini tak semudah yang tercatat dalam buku," ucapnya sedikit terkejut dengan kenyataannya dibandingkan apa yang tercatat dalam buku tersebut.
"Perhatikan konsentrasimu dan fokuskan pada pengendalian suhunya. Lupakan ukurannya, jangan terlalu menahannya atau kau tak akan pernah bisa mengendalikan kekuatan dirimu sendiri," ujar Flares memberinya masukan.
"Baik Guru...!!" Asta pun menuruti ucapan gurunya dan mulai menenangkan diri melepaskan potensi esensi rohnya. Seketika itu juga esensi roh Asta pun menghembus keluar dari dalam tubuhnya.
"Akhh-!!! Ternyata ada baiknya meningkatkan penguasaan dasar hingga ke tingkat tinggi. Akhhh...!!!! Jika disaat penguasaan rohku yang mencapai tingkat tinggi saja sesulit ini, lalu bagaimana dengan mereka yang penguasaan dasarnya masih di tingkat rendah," ujar Asta kesulitan mengendalikan suhu apinya supaya tetap stabil.
"Penguasaan Roh hanya untuk membuatmu dapat menggunakan kekuatan Esensi Rohmu sendiri dan bahkan dan berkreasi menciptakan tekhnik rohmu sendiri. Tingginya penguasaan roh mu bukan berarti akan memiliki efek yang sama dalam pengendalian api. Tidak semua Penempa ataupun Peracik terlahir dengan Esensi Roh jenis Api. Mereka memanfaatkan Api Hewan Ghaib yang bisa mereka dapatkan dari Hewan Ghaib,"
"Ingat ini, pengendalian api tidak bertumpu pada penguasaan dasar melainkan pada kekuatan jiwa. Semakin kuat kekuatan jiwamu maka semakin memudahkan mu dalam mengendalikan api,"
Asta pun terbelalak mendengar hal tersebut. Ia pikir awalnya hanya kultivator yang terlahir dengan Esensi Roh Api saja yang bisa menjadi Penempa ataupun Peracik. Ternyata tidak begitu keadaannya.
"Tapi Asta, setidaknya kau cukup berbakat bisa mengendalikan suhu api pemakan cahaya selama ini dalam percobaan pertama. Terlebih lagi, Roh Api Sejati bukanlah api biasa, karena Api dari Roh Api Sejati adalah api yang paling gila dan sulit di kontrol panas suhunya. Sekarang kau sudah satu langkah menuju ke Jalan Tempa," ujar Zaru memujinya.
"Ehhh...?!! Apa benar begitu..?!!" Ujarnya mendengarkan pujian tersebut hingga lupa bahwa ia tengah berusaha mengendalikan rohnya. Seketika ia pun kehilangan kontrol dan membuat spiritnya langsung mengering dengan cepat.
"Ohh, sial," ucapnya pelan sebelum tak sadarkan diri. Esensi Rohnya pun kembali tidak aktif setelah ia pingsan.
"Ahh, sepertinya kau mengalami kemunduran lagi,"ucap Zaru menarik ucapannya yang sebelumnya.
Seketika ia pun dijatuhkan ke tanah, ia yang masih belum sepenuhnya tersadar pun terkejut.
"Aduhh...!!!"
Zaru pun menjatuhkannya ke tanah dan tertawa. Sedangkan Flares menggeleng pelan melihat kelakuan mereka.
"Ini ada dimana..? Aku rasa ini bukanlah Lembah Neraka. Pasalnya aku tak merasakan adanya penekanan itu lagi," ucapnya bertanya kepada mereka sambil melihat-lihat sekitarnya.
"Sepertinya kau hilang ingatan. Tetap diam seperti itu aku akan langsung memulihkannya kembali," ujar Zaru.
"Bagaimana-"
"Tuuunggg..!!"
"Ahh..!! Aku hanya bercanda tapi mengapa kau sekasar itu, hah..?!!" Teriak Asta tak terima Zaru yang tiba-tiba saja memukul kepalanya dengan batang kayu. Namun Zaru tak menanggapinya dan terus tertawa.
"Kita sedang berada di Hutan Tanah Lembab. Saat ini kita sedang menuju Kota Hansu, tempat dimana Turnamen akan di adakan satu bulan lagi," ucap Flares memberitahunya.
"Jadi begitu," Asta pun mencoba berdiri dan berjalan disamping mereka berdua.
"Guru apa kau ingin aku ikut serta dalam Turnamen Seni Bela Diri tersebut? Memangnya bisa orang tanpa dukungan sekte sepertiku mengikutinya..?" Tanya Asta.
Flares pun tersenyum. Menurutnya Asta sebenarnya anak yang pintar dan cepat mengerti. Selain itu ia juga pandai melihat situasi. Hanya saja sifatnya yang suka bercandanya itu seringkali membuatnya seperti tidak tahu apa-apa.
"Itulah mengapa guru memutuskan untuk berangkat sekarang. Itu karena kita ingin mengunjungi tempat dari salah satu kenalan guru dulu," jelas Flares.
Asta pun menganggukan kepalanya mengerti. Ia tak lagi memikirkan bagaimana caranya untuk ikut serta dalam turnamen tersebut.
Jika sebelumnya anda mendapatkan buku yang berisikan pemahaman dasar untuk menjadi Penempa, kini gurunya kembali memberinya buku mengenai pemahaman dasar tentang Peracik Obat. Yang ternyata menurutnya dua hal ini meskipun berbeda tetapi memiliki suatu kesamaan, yakni pengendalian dan penciptaan.
Jika dalam proses penempaan dibutuhkan skill pengendalian api, maka saat meracik pil pun sama juga. Dan setelah itu iaa pun mulai mempelajarinya lebih lanjut.
Setelah beberapa jam berjalan Asta yang pandangannya terfokus pada buku terjatuh setelah menabrak punggung Zaru, saat mereka berdua tiba-tiba berhenti tanpa aba-aba. Zaru pun menarik kedua tanduknya.
"Sepertinya kita menemukan mangsa disini," ucap Zaru.
"Heii..!! Bisakah memberikan aba-aba sebelum berhenti..? Apa yang terjadi sebenarnya kena- oh sial..!!"
***
__ADS_1
Catatan Surgawi
Kultivasi umum terdiri dari level 1-80. Atau biasa disebut sebagai Memahami Jalan Kultivasi.
Gerbang (level 1-10),
Baru (level 11-20),
Petarung (level 21-30),
Jiwa (level 31-40),
Guru (level 41-50),
Raja (level 51-60),
Senior (level 61-70),
Suci (level 71-80).
Yang artinya, 1 level sama dengan 1 bintang.
Kultivasi Lanjutan terdiri dari level 81-200. Atau biasa di sebut Menuju Jalan Keabadian.
Sedangkan untuk 3 Ranah lanjutan yaitu ;
Tetua Suci (level 81-120),
Master Suci (level 121- 160),
Dewata Agung (level 161-200).
Yang artinya, 1 bintang setara dengan 8 level.
Kultivasi Ahli terdiri dari level 201-999. Yakni Menuntun Jalan Takdir Surgawi.
Dao Agung 201-400 level
Dao Master 401-600 level
Dao Leluhur 601-800 level
Dao Surgawi 801-999 level
Kultivasi Kaisar di level 1000. Sang Pemilik Jalan Takdir Surgawi.
Untuk tingkatan Hewan Ghaib, sama halnya dengan tingkatan kultivasi yakni ada 12 tingkat.
Tingkatan Peracik Obat, Penempa, Ahli Susunan, Peracik Racun, Budak Iblis, dan Setan Pembunuh. Dan juga Seni Surgawi, Pil Obat, Artefak, Racun, Tanda Iblis, dan Roh Iblis.
Rendah
Menengah
Tinggi
Epik
Ajaib
Legendaris
Dewa
Tingkat Penguasaan dasar
Rendah
Menengah
__ADS_1
Tinggi