
Dalam satu tebasan pedangnya Asta menghempaskan 7 roh pedang Ye Juan, tak menyerah Ye Juan terus berusaha membalas setiap tebasan pedangnya.
Ye Juan mengeluarkan formasi Sihir 7 Pedang untuk menekan kekuatannya namun bukannya kekuatannya di tekan malahan serangan Asta semakin gila dan cepat. Sekalipun dengan formasi sihir pedangnya Ye Juan masih tak mampu menyamai kekuatannya.
Cukup dengan hempasan aura semangat bertarungnya formasi itu tak bisa menahannya lebih lama.
Ye Juan awalnya berpikir meskipun kekuatan Kenshin dan Asta sangatlah kuat mereka berdua hanya mengalahkan musuh-musuhnya ketika mereka sedang lengah, begitu pula yang ia pikirkan tentang kekalahan Yami. Namun setelah ia bertanding dengannya di atas Arena, anggapannya yang berpikir bisa menandingi Asta dengan kekuatan penuhnya sekalipun salah, ia tetap jauh darinya.
Ia pun dipaksa ke posisi tak mempunyai pilihan lain selain menggunakan tekhnik yang sangat beresiko bagi keselamatannya sendiri.
"Maafkan aku saudara Ye, aku tak bisa membiarkanmu melakukan hal yang beresiko bagi keselamatanmu. Sekalipun kau menggunakannya kau tak akan bisa mengalahkanku, maafkan aku Saudara Ye," ucapnya pelan lalu tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di belakangnya.
Sesaat Asta membuka ranah kultivasinya membuat Ye Juan mematung terdiam karena penekanan ranah yang Asta lepaskan padanya.
Ye Juan tertunduk lemas di atas arena, apa yang Asta ucapkan memang benar. Mustahil baginya dan Yami sekalipun bisa menang dari Asta dan Kenshin, ranah mereka berbeda level dengannya.
Saat ini ranah Asta merupakan Spiritualis Guru 3 Bintang, setelah ia berlatih meracik obat bersama dengan gurunya semalam tak hanya jiwanya yang bertambah kuat tetapi ia juga mendapatkan peningkatan pada esensi rohnya meski hanya sebanyak satu level.
Sebelum mengucapkan kata menyerah Ye Juan tersenyum dan berterima kasih padanya karena telah menghadangnya untuk melakukan sesuatu yang sangat beresiko,. Ye Juan pun menyerah di tengah-tengah pertarungan.
"Saudara Asta kuharap suatu saat kita bertemu lagi kau bisa menerima tantangan latih tanding dariku," ujar Ye Juan padanya.
"Tentu saja aku akan dengan senang hati menerimanya," jawab Asta.
Peserta yang lolos pertama ke fase keenam dari ke-16 peserta adalah Asta dari Asosiasi Fajar Merah.
Pertarungan selanjutnya adalah pertarungan Hao Chen melawan Yin Fushu, mereka berdua pun menaiki arena bersiap untuk bertarung. Yin Fushu naik ke arena dengan esensi roh mode busurnya.
Setelah dimulainya pertandingan Yin memberikan serangan pertama demi merebut kesempatan Hao Chen sebelum ia mulai melemparkan Teratai Biru Surgawi miliknya, yang merupakan salah satu Roh Sejati yang sangat kuat sebagai Roh Semesta.
Dengan cekatan Yin langsung melompat ke depan setelah ia melepaskan panahnya dan mengarahkannya ke belakangnya, benar saja Hao Chen tiba-tiba muncul dari belakang. Panah pertamanya hanya mengenai bayangan yang di ciptakan dari Teratai Biru Surgawi.
Chen merubah tampilan teratainya menjadi sebuah pedang spirit, nampak keahliannya dalam tekhnik pedang juga tak lebih rendah daripada Kenshin. Kecepatan gerak Chen tak lebih lambat daripada gerakan mematikan ilmu pedang tak berwujud milik Kenshin yang juga sangat cepat seolah-olah ia terlihat menghilang dan tiba-tiba muncul di sisi yang lain.
Meski tak bisa mengimbangi kecepatan geraknya, Yin terlihat masih bisa memprediksi serangan Chen sehingga ia bisa terlepas dari tebasan pedangnya.
Mengandalkan kecepatan refleks serta ketepatan prediksi waktu serangan Chen membuat Yin terlihat mengimbangi permainan pedang Hao Chen, meskipun pada kenyataannya Yin hanya berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa melawannya.
Sekejap mata menghilang sekejap kemudian muncul di belakang ataupun di sampingnya membuat Yin kewalahan.
Lama-kelamaan gerakan Chen menjadi semakin tak terbaca sehingga Yin berhasil mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya. Dengan sangat terpaksa meskipun sangat beresiko fatal Yin mengaktifkan Transformasi pertama dari Elang Sayap Merah sehingga ia mendapatkan kemampuan untuk terbang sekaligus membaca taktik pergerakan.
Disisi lain Hao Chen hanya tersenyum di balik topengnya melihat Yin yang mengeluarkan tekhnik terakhirnya. Seketika Chen menghilang lalu muncul di hadapannya sambil memegang teratai biru.
"Seni Surgawi Ajaib, Ledakkan Teratai Api Suci,"
Seketika tercipta ledakkan yang sangat kuat sehingga menghancurkan semua lantai batu arena. Yin Fushu terjatuh dengan tak sadarkan diri setelah menerima ledakkan sekuat itu di depan matanya sendiri.
Dari sana pemenang pun sudah kelihatan, melihat Yin yang tak sadarkan diri pertarungan pun sudah tak bisa di lanjutkan.
Pertandingan di tunda sejenak demi memberikan waktu para ahli perbaikan arena demi memperbaiki aren seperti semula seperti saat Hao Chen belum meledakkannya.
__ADS_1
Setelah perbaikan selesai pertandingan pun dilanjutkan dengan Yu Tiandu melawan Kenshin, pertandingan yang sudah Yu Tiandu tunggu-tunggu untuk membalas kekalahan Yami yang saat itu dikalahkan dengan telak oleh Kenshin.
Sebelumnya Yu Tiandu sangat cepat mengalahkan lawan-lawannya dengan tekhnik pedang aliran Bulan Sabit miliknya.
Sembari menaiki arena Kenshin memegang gagang pedangnya, setelah dimulainya pertarungan Kenshin pun melancarkan serangan tebasan ketiga ilmu pedang tak berwujud, mata pedang tak berwujud, tekhnik yang sama ia gunakan pada Yami.
Belum sempat Yu Tiandu ingin menyerang ia merasakan sensasi sakit yang belum pernah ia rasakan di punggungnya. Samar-samar ia hanya melihat sosok Kenshin yang berjalan menjauh mengarah ke tangga menuruni arena.
"Kau.. bagaimana..mungkin...ukh-!" Ucap Yu dengan lirih padanya.
Sebentar Kenshin melepaskan tekhnik penyembunyian ranahnya padanya, "Baiklah karena kau sepertinya sangat penasaran maka akan ku beritahu mengapa aku mengakhiri kau dan temanmu dalam waktu singkat. Asta, Gao Li, serta tiga orang itu Hao Chen, Cang Hue, Tang San, dan aku, bukanlah seseorang yang bisa kau lawan meskipun kau berniat bertarung habis-habisan, aku tahu karakter kalian dari Keluarga Tiandu, itulah mengapa aku mengakhiri kalian berdua dengan cepat," balas Kenshin pelan.
Setelah merasakan ranahnya Yu Tiandu pun harus menelan pahit dari kekalahan tersebut. Apa yang diucapkannya benar, jika saja Kenshin tak mengakhirinya dengan cepat bukan tidak mungkin ia akan melakukan hal beresiko untuk bisa melawannya. Hanya saja setelah tahu kekuatan Kenshin hanya dalam sejenak ia langsung sadar bahwa ia bukan tandingannya.
"Terima kasih...."
Dalam sekejap saja pertarungan antara Kenshin dan Yu Tiandu selesai begitu cepat tak sampai 5 tarikan nafas pertandingan baru dimulai.
Selanjutnya ada pertarungan antara Tang Wu melawan Wen Han si Kera Emas dari keluarga Han. Pertarungan ini akan menjadi pertarungan antara tombak melawan tongkat.
Wen Han melompat ke atas arena dan bersila dengan tongkatnya menunggu Tang Wu ikut naik ke atas arena.
Tang Wu langsung mengaktifkan esensi rohnya, Tombak Awan Angin. Seketika tampilan tombaknya sedikit berubah setelah ia mengaktifkan esensi rohnya. Disisi lain Wen Han juga ikut mengaktifkan esensi rohnya, Kera Emas.
Wen Han melompat memukulkan tongkatnya dengan cekatan Tang Wu menahan tongkat emas tersebut dengan gagang tombaknya.
Tang Wu mencoba melawan balik dengan memberinya serangan akan tetapi gerakan cepat dan rangkap Wen Han membuat Tang Wu kesulitan untuk memberikan serangan. Tongkat emasnya terus-menerus menepis tombaknya.
Tang Wu dari Sekte Alam Langit juga ikut dikalahkan dengan cepat oleh Wen Han dari Keluarga Han yang dikenal di kalangan jenius muda sebagai Kera Emas.
Selanjutnya adalah pertarungan Yan Jian dari Sekte Tanah Leluhur melawan Kiena Saki dari Sekte Tanah Neraka Keabadian. Pertarungan berakhir dengan kemenangan untuk Yan Jian.
Racun dari Bunga Neraka esensi roh milik Kiena tak mempan sedikitpun terhadapnya, sehingga Yan Jian dengan mudah mengakhiri pertandingannya.
Lalu ada Tang San melawan Shiro, yang mana pertarungan kembali berakhir cepat dengan dimenangkan oleh Tang San. Seni membunuh Shiro seakan tak ada gunanya dihadapan Palu Pemecah Angin miliknya, cukup satu pukulan lantai arena hancur karenanya. Shiro pun kehilangan kendali atas pijakannya sehingga jatuh pada serangan telak palu miliknya.
Pertarungan berikutnya adalah Asila Moegi melawan Cang Hue, dihadapan kekuatan tapak Cang Hue yang sudah mengalahkan banyak lawan juga tak sanggup Moegi hadapi. Moegi kalah telak darinya.
Teratai Api Jingga miliknya bukanlah suatu masalah bagi Cang Hue, ia merasakan tekanan darinya yang membuat kekuatan serangannya seperti tergerus menjadi lebih lemah. Bahkan Cang Hue terlihat tak mengalami luka sedikitpun setelah teratai apinya mengenainya.
Bahkan setelah ia menggunakan tekhnik Tarian Dewi Mentari yang meningkatkan kompatibilitas kekuatan serta esensi rohnya tetap saja masih bukan tandingannya.
Kemudian ada Han Bin dari Sekte Biru Bulan Sabit melawan Sun Ling dari keluarga Ling.
Sun melepaskan pisau angin dari kipasnya, memberikan serangan pertama yang terlihat sederhana namun sangat ekstrim.
Han Bin memutar pedangnya menghilangkan pisau angin tersebut, ia maju menyerang Sun memberikan beberapa tebasan pedang tajam. Dengan cekatan Sun membuka kipasnya menahan tebasan pedang Han Bin.
Tak berhenti di sana Han Bin mengeluarkan beberapa jurus es pedang membekukan area sekitar Sun berada. Mana dingin memancar deras dari pedangnya memenuhi arena pertarungan.
Tak ingin kalah begitu saja Sun melompat mengaktifkan esensi Sayap Naga Besi sehingga ia bisa terbebas dari kekangan pedang dingin Han Bin.
__ADS_1
Han Bin menancapkan pedangnya ke arena sebelum ia kemudian melepaskan sebuah Susunan Es Pembeku, sebuah tekhnik yang hanya bisa dimiliki oleh Master Susunan.
Susunan tersebut tak hanya membekukan lawan secara perlahan namun meningkatkan kekuatan serangan es si pemilik secara signifikan.
Tak mau terkekang dalam susunan tersebut Sun mencoba menghancurkan susunannya dengan Hujan Sayap Pembunuh nya, namun alhasil usahanya hanya berakhir sia-sia. Kekuatan susunan tersebut berada di tingkat yang lebih tinggi darinya.
Dengan santai Han Bin mencabut kembali pedangnya melompat ke atas memberikan tebasan pedang es terakhir untuk mengakhiri pertandingan.
Sun Ling pun terjatuh ke atas arena di kalahkan dengan tebasan pedang tersebut. Setelah itu Wasit pun mengumumkan Han Bin sebagai pemenang dari pertarungan terakhir di fase ke lima. Dengan begitu pertandingan Fase Kelima pun berakhir.
Para peserta yang lolos ke Fase Keenam 8 Besar antara lain adalah; Asta dari Asosiasi Fajar Merah, Hao Chen dari Sekte Bunga Teratai, Kenshin dari Kelompok Sayap Kegelapan, Wen Han dari Keluarga Besar Han, Yan Jian dari Sekte Tanah Leluhur, Tang San dari Sekte Pulau Dewa, Cang Hue dari Sekte Istana Awan, dan Han Bin dari Sekte Biru Bulan Sabit.
Dengan begitu pertandingan hari ini pun berakhir, para peserta dan penonton di persilahkan untuk kembali.
Di luar arena Asta di cegat oleh Moegi beserta yang lainnya, mereka mengucapkan selamat padanya karena telah berhasil lolos ke 8 Besar.
"Karena kau sudah memenangkan pertandingan 16 besar dan lolos ke fase berikutnya kau harus mentraktir kami sekarang," ujar Zaraki.
"Bukankah agak tidak adil jika sang pemenang yang mentraktir,", ujarnya.
"Saran yang bagus, Zara. Mari kita pergi sekarang," ujar Kesha.
"Aku setuju denganmu," ujar Gao Li.
"Aku juga," ujar Shiro ikut setuju.
"Baiklah aku juga ikut setuju," ujar Kesha.
Mereka berlima kemudian menarik Asta ke sebuah restoran untuk merayakan kemenangannya di fase 16 besar dan lolos ke fase 8 besar. Mereka menariknya dengan paksa tanpa menunggu dan mendengarkan apa yang ingin di ucapkannya.
"Kalian ini benar-benar," gumam Asta pasrah.
***
Disisi lain Misaki sedang membicarakan sesuatu dengan Rai mengenai Asta dan kapan mereka harus menemui dan mencarinya. Misaki sudah tak sadar menahan kerinduannya terhadap putra kecilnya yang dulu, dimana sekarang ia telah menjadi sosok jenius bela diri hanya dalam beberapa tahun.
"Jika saja Pegunungan Negeri Terlantar tidak membelot pada Kekaisaran mana mungkin kita akan berpisah dengannya seperti ini! Ayolah Rai..."bujuknya sudah tak sabar.
Sedari kemarin ia sudah menahan keinginannya untuk tidak menemui Asta karena takutnya mengganggu konsentrasinya di Turnamen. Akan tetapi karena hal tersebut sudah tak bisa ia tahan lagi hari ini, ia ingin sekali memeluknya dengan erat, bagaimana pun ia adalah ibunya sosok yang melahirkannya sedari kecil.
Sebenarnya bukan hanya Misaki yang ingin bertemu dengannya, Rai sebagai ayahnya pun tentu saja ingin menemuinya. Tetapi ia masih takut untuk menemui Asta setelah apa yang mereka lakukan dahulu. Mereka sudah meninggalkannya dan lagi Helio Utake malah membuat drama tentang kematiannya, ia takut bahwa Asta akan berpikir mereka berdua membuangnya.
"Tetapi kita bisa menjelaskannya secara baik-baik padanya mengenai perang itu, aku yakin anak kita juga pasti dapat mengerti mengapa kita harus meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Kita harus menemuinya sekarang. Entah mereka berlima sudah memberitahunya atau belum kita tetap harus menemuinya sekarang,"bujuk Misaki padanya.
Rai pun hanya bisa menghela nafasnya pelan, istrinya itu merupakan salah seorang wanita dikenal kuat di kalangan kultivator sebagai Ketua Sekte Besar Tanah Neraka Keabadian, namun seseorang yang sangat kuat seperti dirinya pun akan luluh jika berhadapan dengan seorang putra. Sikapnya sebagai Ketua Sekte Besar serasa hilang dan menjadi seperti seorang wanita biasa yang merindukan putranya.
"Baiklah, baiklah. Mari kita temui Manager Row lebih dahulu, bagaimana pun juga meskipun kemungkinan besar anak bertopeng serigala itu adalah putra kita tetap saja kita harus memastikannya terlebih dahulu lewat Manager,"
"Rai! Bagaimana mungkin dia bukan Asta, ada Ace di samping Manager bagaimana mungkin itu bukan putra kita...!" Ujarnya kesal.
"Iya, iya, dia putra kita , Oke? Tapi tetap saja kita harus menemui Manager terlebih dahulu untuk bertemu dengannya. Kebetulan aku menemukan beberapa hambatan dalam kultivasiku dan aku hendak bertanya pada Manager," ujar Rai pelan, Misaki pun mengangguk pelan sambil tersenyum, raut wajahnya yang tadi tiba-tiba marah seketika menghilang begitu saja.
__ADS_1
Mereka berdua pun pergi meninggalkan penginapan mereka menuju ke tempat dimana Manager Row menginap bersama dengan Asta.