
Dalam radius puluhan kilometer, semua orang seketika merasakannya. Tak ada satupun yang lolos dari tekanan tersebut.
Asta memaksakan ruang lingkup domainnya hingga meliputi satu kota, akan tetapi efek sampingnya adalah domainnya sedikit melemah.
Domain Dewa Penghancur yang tadinya akan menghancurkan mental siapapun yang terkena, menjadi hanya menundukkan setiap orang yang merasakannya. Disisi lain, Domain Dewa Api Kegelapan yang dapat menghancurkan organ dalam, hanya sedikit menciptakan efek terbakar pada musuh.
Disisi lain, Domain Teratai Surgawi yang Hao Chen keluarkan hanya untuk melindungi gadis-gadis yang baru saja ditangkap itu. Meskipun sebenarnya yang ingin Hao Chen lindungi hanyalah seorang gadis bernama Xia.
Yang namanya domain, yakni tekhnik area tingkat tinggi tetap akan memberikan dampak penundukkan. Meskipun efek dari domain Hao Chen adalah untuk meningkatkan kekuatan Esensi Rohnya. Efek lainnya adalah, siapapun yang Hao Chen anggap teman, jika ia berada di dalam lingkup domainnya maka akan mendapatkan efek penyembuhan.
Gadis bernama Xia itu mencoba menenangkan yang lainnya, agar tetap tenang dan percaya padanya.
“Percayalah padaku! Chen dan temannya pasti akan menang!” ujarnya menghibur yang lainnya.
“Kakak! Kakak! Kami percaya pada teman kakak, yang kami takutkan adalah itu..!” ucap seorang anak laki-laki, menjulurkan telunjuknya ke arah kepala salah seorang goblin yang tergeletak di atas tanah.
Gadis yang bernama lengkap Xia Lea, menelan ludahnya sendiri melihat mayat kepala yang ditunjuknya.
“Kalau itu yang kalian takutkan, aku pun tak mempunyai cara untuk mengatasinya. Saranku lebih baik jangan perhatikan mereka bertarung, karena perutku pun serasa mual melihat mayat-mayat itu,” ujarnya mengajak mereka untuk menutup mata.
Dibalik topengnya Hao Chen tersenyum tipis melihat Xia Lea yang berusaha untuk menenangkan mereka, “padahal sebelumnya ia yang paling ketakutan, lalu sekarang ia bersikap seolah menjadi yang paling berani,” gumamnya pelan.
Dengan cara melebarkan domain ke seluruh kota, Asta langsung bisa mengetahui dimana letak orang terkuat di kota tersebut. Yang mana sangat ia yakini adalah sebagai pemimpin kota Goblin tersebut.
“Maaf! Tapi aku tak mempunyai urusan dengan kalian!” Asta memutarkan pedangnya sembari terus berlari, menuju ke arah dimana ia merasakan yang terkuat berasal.
Teriakan demi teriakan bergema ke seluruh kota, dari satu goblin ke goblin yang lainnya. Namun dibawah tekanan domainnya, mereka hanya bisa merapatkan gigi dengan kesal karena kesulitan untuk berjalan. Ditambah lagi dengan efek yang dihasilkan domain Dewa Api Kegelapan, yang membuat mereka merasakan hawa terbakar pada tubuh sedikit demi sedikit.
“Keparat! Siapa yang berani mengusik dan membuat kekacauan di rumahku! Maka ia akan mati!” goblin dengan tubuh kekar dan tinggi, bangun dari singgasananya.
Sang penguasa kota turun dari tahtanya, berjalan dengan gada besar di bahunya menuju ke pintu keluar.
“Ayah..!! Pemberontak telah dikonfirmasi ada dua orang! Menurut laporan dari penjaga, mereka adalah anggota dari Regu 3 Darah..!!” ujar salah seorang goblin yang baru saja masuk melaporkan situasinya.
“Regu 3 Darah..?!” ucapnya penuh emosi.
“Jeduaarrr..!!!”
Sang penguasa kota menghantamkan gadanya ke lantai, gelombang energi kuat keluar menghempaskan semua budak manusia yang saat itu ada di ruangannya. Hanya dalam satu ayunan tersebut, mereka langsung terbunuh.
“Betul. Tapi setahuku, Regu 3 Darah tak pernah sekalipun mengirimkan dua orang dengan kemampuan seperti ini. Bahkan dari laporan penjaga gerbang saja, lencana yang mereka tunjukkan adalah lencana merah. Jelas sekali ini sangat tak masuk akal,” ujarnya melaporkan informasi yang lainnya.
Penguasa memanggul kembali gadanya, wajah tampak dipenuhi oleh amarah yang sudah tak terbendung lagi.
Regu 3 Darah adalah kelompok pembunuh bayaran yang bekerja di bawah 3 orang Ahli Surgawi Dao Agung. Sebelumnya mereka adalah organisasi yang berdiri sendiri tanpa ada yang mengontrol mereka, namun semenjak kemunculan Tian Wei kembali sekarang Regu 3 Darah berada di bawah kendalinya.
Setiap anggota Regu 3 Darah memiliki lencana pengenal masing-masing. Lencana Merah, diperuntukkan bagi bawahan dengan Ranah Suci dan yang lebih rendah. Lencana putih diperuntukkan untuk Kultivator abadi, lalu seseorang yang memiliki lencana hitam adalah 3 pemimpin Regu 3 Darah.
“Gal Jun! Kau pergi temui ke pasar perbudakan, biarkan aku yang menghadapi satunya lagi! Kebetulan, dia juga tampaknya sedang menuju kemari!”
Gal Jun langsung menganggukkan kepalanya cepat. Ia lalu pergi ke lokasi dimana Hao Chen berada.
Asta sebenarnya bisa saja sampai di tempat penguasa kota hanya dengan beberapa helaan nafas. Akan tetapi ia tak bisa menghiraukan manusia yang ditemuinya. Karena sesaat mereka melakukan penyerangan, pria serta anak-anak yang diperbudak itu langsung menjerit minta pertolongan. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi, disaat para goblin itu tak mampu bergerak.
“Pergilah ke arah sana! Kalian akan aman kalau bersama dengan temanku!” perintah Asta.
Asta tentu tak pilih kasih dengan hanya melepaskan anak-anak dan pria saja. Ia juga melepaskan para wanita yang sudah ditahan dan dilecehkan setiap waktu itu.
“Tuan.. aku harap.. kau tak melepaskan mereka.. bunuh.. mereka.. semua..” ujar salah satu wanita paruh baya, sebelum kemudian menggorok lehernya sendiri.
__ADS_1
“Kami sudah tak mempunyai keinginan untuk hidup. Jadi kumohon pada tuan untuk menegakkan keadilan di dunia ini,” ujar seorang gadis ikut menggorok lehernya sendiri.
Belum sempat Asta bereaksi lebih, mereka yang lainnya mengikuti jejak dua wanita tersebut.
Asta terdiam memandangi mayat-mayat para wanita biasa yang kini terbelenggu di hadapannya. Hatinya serasa diremukkan hanya dengan pemandangan tersebut.
“Aakkhhhhhh....!!!!!”
Emosinya seketika langsung memuncak, tanpa basa-basi Asta mengayunkan pedangnya membunuh semua goblin di sekitarnya.
“Asta! Tenang!” ujar Flares.
“Guru! Saat ini aku benar-benar sangat tenang! Saking tenangnya aku bisa melihat kematian mereka dimataku!”
“Tekhnik Roh, Tebasan Membara”
Tebasan pedangnya bagaikan kilat yang menyambar ke segala arah. Sekejap puluhan goblin mati terbakar oleh tebasannya.
“Cepat panggil Ayah..!!! Kita tak bisa menghada...”
“Ya! Cepat panggil penguasa kota kalian...!!!!” bagian yang manapun yang Asta tebas, pada akhirnya mereka yang berada di bawah ranah Senior akan langsung mati terbakar.
Asta mencoba penggunaan metode penyatuan aura yang pernah diajarkan oleh Liu Shan Shi, kepada aura pedang iblis malam dengan Esensi Rohnya. Asta menghempaskan aura pedang tersebut ke udara, membungkus seisi kota dalam seketika. Langit yang sebelumnya terang menjadi gelap gulita.
Dibawah tekanan dua domain dewa miliknya, semua orang sudah merasakan betapa sesak dan panasnya organ dalam karenanya. Sekarang ditambahkan dengan aura pedang iblis malam. Aura pedang yang digabungkan dengan esensinya menciptakan sebuah domain baru.
“Tekhnik Area, Domain Iblis Kobaran Api”
Awan hitam lekat di atas langit kota, mulai menjatuhkan tetesan api ke bawah tanah. Kota tersebut seakan-akan sedang dilanda hujan api.
“Jelaskan pada guru, dari mana kau mempelajari tekhnik ini? Guru awalnya tidak terkejut kau mempunyai kemampuan untuk memodifikasi pukulan penghancur gunung. Karena Tebasan Membara pun kau menciptakannya secara tak sengaja. Tapi sekarang, penciptaan sebuah domain bukanlah sesuatu yang mudah,” tanya Flares.
“Mustahil!” teriak Flares tak percaya. Karena kelakuannya teresebut, Asta kehilangan konsentrasinya dan hampir mendapatkan serangan pada tubuhnya.
“Bisakah guru jangan tiba-tiba berteriak seperti itu? Aku hampir terbunuh olehnya,” buru-buru Asta menebas leher goblin yang mati-matian berusaha untuk menyerangnya tersebut.
“Omong kosong! Tubuhmu bukan sesuatu yang bisa ditebas dengan mudah. Apalagi mereka yang hanya merupakan kultivator umum,” teriak Flares sekali lagi. Asta terkekeh dibalik topengnya.
Disaat hatinya sedang gundah karena tak bisa menyelamatkan para wanita dan gadis-gadis itu, gurunya selalu membuatnya sedikit merasa lebih tenang. Asta penasaran dengan kisahnya semasa hidup.
Flares tak lagi menggangunya, membiarkan Asta menyelesaikan pertarungannya terlebih dahulu. Barulah nantinya mereka bisa kembali membahas mengenai darimana Asta mengenalnya.
“Master Liu sudah benar-benar menghilang dari daratan ini semenjak 500 tahun yang lalu. Bagaimana caranya ia bisa tahu,” gumam Flare di dalam pikirannya.
Di sisi lain, Hao Chen sangat terkejut melihat bagaimana Asta memperlihatkan satu domain lain. Yang tak kalah kuat dengan dua domain yang ia perlihatkan awal.
“Jika kalian ingin selamat, jangan sekali-kali untuk keluar dari sini. Aku tak yakin dia bisa mengendalikan tekhniknya yang ini,” Hao Chen mengingatkan.
Pertarungan menjadi semakin memanas, semakin lama goblin ranah suci semakin berdatangan. Meskipun mereka tak sebanding dengannya, akan tetapi sedikit merepotkan jika melawan mereka sekaligus hanya mengandalkan ayunan pedangnya.
“Aku mengandalkanmu!” Hao Chen melempar pedang iblis langit ke depan, membunuh setiap goblin di lajurnya.
Salah seorang goblin berusaha untuk menangkap pedang tersebut, namun pedang itu berbalik dan memenggal kepalanya. Sekarang mereka tahu, pedang tersebut bukanlah pedang biasa.
“Hati-hati dengan senjatanya! Itu adalah artefak roh tingkat 7!”
Para goblin itu berusaha untuk menahan pedang tersebut akan tetapi tak satu pun orang yang dapat menahannya. Hao Chen menciptakan belasan teratai kecil kebiruan, lalu melemparkannya ke segala penjuru dari dalam domainnya.
“Cepat menghindar..!!”
__ADS_1
Sesaat belasan Teratai Surgawi itu bersentuhan dengan tetesan api yang menghujani kota, teratai biru surgawi tersebut langsung menciptakan sebuah ledakan besar. Seketika puluhan dari mereka mati karenanya.
Dari balik asap ledakkan tersebut, seseorang muncul mengayunkan pedangnya ke arah domain Teratai Surgawi Hao Chen. Ia adalah Gal Jun.
Buru-buru Hao Chen membentuk sebuah pedang degan Teratainya untuk menangkis pedang tersebut.
“Kupikir kota ini hanya dihuni oleh sekumpulan sampah biasa, ternyata ada juga sampah yang lainnya,” cibir Hao Chen mengejeknya.
“Seorang tikus yang menyusup diam-diam sepertimu tak pantas membicarakan hal seperti itu,” balas Gal Jun.
Gal Jun bisa dibilang adalah tangan kanan dari penguasa kota. Kekuatan bertarungnya pun bisa dibilang yang terbaik setelah penguasa kota. Sebagai seorang Kultivator Dewata Agung 3 Bintang, menjadikannya sebagai lawan yang lumayan sulit.
“Perbedaan kita hanya dua bintang, lalu untuk apa sombong begitu. Sampah tetaplah sampah,” cibir Hao Chen lagi.
Gal Jun langsung tersulut emosinya, ia langsung memperlihatkan bentuk transformasi roh hewannya, Kadal Pemakan Darah.
“Pfftt..!!! Kau sekarang lebih mirip dengan reptilia kadal ketimbang seorang goblin. Tapi aku lebih suka wajahmu yang ini, karena sebelumnya wajahmu yang itu benar-benar membuatku muak,” Hao Chen tak henti-hentinya mengejeknya. Gal Jun yang memang mudah terpancing emosi semakin tersulut karenanya.
Dibalik topengnya Hao Chen terus tersenyum selama pertarungan. Sangat yakin ia bisa mengalahkan Gal Jun dengan kekuatannya.
“Hanya karena kau mempunyai kemampuan untuk menciptakan tekhnik area mu sendiri, kau menjadi sangat sombong manusia,” ujarnya sembari melepaskan sebuah tekhnik area.
Domain Teratai Surgawi milik Hao Chen berbentrokan dengan tekhnik area yang dikeluarkan oleh Gal Jun. Tekhnik yang digunakannya tersebut lebih ke kemampuan ilahi dari Kadal Pemakan Darah, bukan murni dari kemampuannya sendiri.
“Setidaknya menciptakan sebuah domain lebih baik ketimbang memanfaaatkan kemampuan roh ilahi. Terlebih lagi seekor kadal,” cibirnya.
Hao Chen tentu tak tinggal diam, membiarkan domainnya terus terkikis oleh aura dari tekhnik area miliknya.
“Transformasi, Naga Api Biru Sejati,”
Hao Chen lalu bertransformasi dan menggunakan tekhnik intimidasi jiwa naganya. Aura yang diciptakan olehnya langsung dihancurkan dengan tekhnik tersebut.
Gal Jun memuntahkan darah dari dalam mulutnya, ia benar-benar tak menyangka bahwa lawannya ternyata adalah seseorang dengan roh hewan kuno sebagai roh hewannya.
Tanpa menunggu lama, Hao Chen bergerak maju menyerangnya dan memberikan pukulan yang sangat keras. Gal Jun terlempar hingga puluhan meter darinya.
“Tunjukkan kemampuanmu! Apa kau benar-benar Kultivator Dewata Agung 3 Bintang!” ujarnya meremehkan.
Gal Jun sekuat tenaga mencoba bangkit kembali, buru-buru menghindari tekhnik Nafas Naga yang Hao Chen keluarkan. Gal Jun sangat sadar sekali, ia bisa mati kalau sampai tekhnik Nafas Naga itu mengenainya.
“Tekhnim Area 3 domain yang sangat kuat dan mengerikan, ditambah dengan seseorang yang mempunyai Roh Hewan Naga Sejati juga Kultivator Sejati. Siapa sebenarnya mereka berdua?!” Gal Jun bertanya-tanya dalam hati.
Melihat kesempatan itu Hao Chen langsung kembali menerjang. Ia tak berniat memberinya kesempatan untuk bernafas sama sekali.
“Jika kau ingin duduk tenang, maka diamlah ditempat. Aku akan membuatmu tenang selama-lamanya!” ujarnya lagi.
Gal Jun merapatkan giginya sebelum kembali melanjutkan serangannya.
“Mana kemampuan mu sebelumnya?! Aku bahkan belum mengerahkan segenap kekuatan ku sama sekali! Dan sekarang kau sudah mau tumbang, hah?!” cibir Hao Chen melihatnya yang mulai kesulitan bernafas.
“Jika ini bukan karena domain aneh ini, aku pasti sudah membunuhmu sedari tadi,” balas Gal Jun mencoba menarik nafasnya perlahan.
“Domain aneh? Bukan aneh, tapi dewa. Itu adalah yang kawanku beritahukan, dua dari tiga domain ini adalah domain dewa miliknya. Namun untuk awan yang itu..” Hao Chen menunjukkan awan hitam yang menghasilkan hujan api di atas kota,“ia belum mengatakannya satu katapun,” jelas Hao Chen.
Gal Jun seolah tersentak mendengarnya,“apa kau sedang membual? Domain dewa bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari oleh kalian,” ujar Gal Jun tak percaya.
“Kau pikir begitu? Tapi apa kau tahu siapa gurunya?” ucapnya lagi, Hao Chen tiba-tiba menghilang dari pandangan dan muncul disampingnya.
“Gurunya adalah orang yang telah kalian khianati. Master Flares, sang Dewa Api Kegelapan,” Hao Chen membatalkan tekhnik tranformasinya, kepala Gal Jun tergeletak di atas tanah meninggalkan tempatnya.
__ADS_1