Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch42 Kesepakatan


__ADS_3

Saat ini Flares memutuskan untuk tidak meninggalkan Asta berlatih sendirian, dikhawatirkan ia akan kembali tidur dan bermalas-malasan.


"Bagaimana bisa aku masih ingin setelah guru memukul pantatku dengan seperti itu!" Ujar Asta ketika Zaru bilang bahwa ia mungkin akan tidur kembali jikalau Flares meninggalkannya lagi.


"Benar apa yang Zaru katakan mungkin sebaiknya guru memang memperhatikanmu secara penuh tanpa celah sedikitpun," ujar Flares.


Asta menyipitkan matanya kesal, karena Zaru ia mendapat hukuman itu lagi, seandainya saja ia tidak datang merusak ketenangannya mungkin ia sudah dengan tenang tertidur.


"Mulailah sekarang, apa kau tidak tahu betapa aku ingin lihat kau meledakkan tungku api, cepatlah," Zaru pun memburu-burunya.


"Diam kau brengsek! Kau pikir aku akan menurutimu meledakkan tungku api, kau diam dan lihat kehebatan dari tuan mudamu yang hebat ini," balas Asta.


"Hahahahaa..!!! Baiklah bagaimana kalau kita buat kesepakatan, jika setelah ini kau tidak meledakkan tungku apinya aku akan memanggilmu tuan muda, tapi jika kau meledakkannya aku akan memukul pantatmu seratus kali," ujarnya mengajaknya membuat kesepakatan.


"Baik, kesepakatan!" Ujar Asta setuju.


Flares tersenyum tipis melihatnya, ia benar-benar tidak mengerti mengapa Zaru begitu suka mengganggunya sampai saat ini.


Asta memulai proses penempaan dengan memasukkan besi-besi itu kedalam tungku api dan memulai peleburan. Sedikit demi sedikit Asta mencoba menaikan suhu apinya agar tidak meledakkan tungku api itu lagi.


Api terlihat tenang dan terkendali hingga beberapa saat, terlihat keringat mengucur deras, Asta tak menyangkal mengontrol api akan sesulit itu. Kekuatan jiwanya hampir habis namun Asta tetap optimis mempertahankan konsentrasinya.


Terlihat raut wajah penuh senyum licik di wajah Zaru, "Sepertinya aku sudah salah menilaimu, kau cukup hebat hanya dalam percobaan ini," ucap Zaru memperhatikannya lebih dekat, akan tetapi Asta mengabaikannya karena ia tahu tujuan Zaru hanyalah ingin mengganggu konsentrasinya.


"Plakkk....!!!"


"Akhh...!!! Kauu...!!!!"


"Booommm....!!!!"


Flares dan Zaru tertawa melihat raut wajah kesal Asta dipenuhi dengan arang, siapa sangka Zaru akan memukul pantatnya ketika ia sedang dalam konsentrasi penuh.


"Sepertinya kau tidak sebaiknya yang kupikirkan, kau masih belum cukup untuk membuatku memanggilmu tuan muda. Cepat kemari, kau tidak lupa kesepakatannya kan,"ucap Zaru.


"Apa kau bilang?! Setelah menggangguku kau masih berani meminta kesepakatan itu, apa kau tidak malu dengan ucapanmu sendiri..?!" Ujar Asta menolak, tentu saja ia menolak karena kegagalannya sendiri bukanlah kesalahannya melainkan karena Zaru yang mengganggunya.


"Kesepakatan tetaplah kesepakatan, lagipula sebelumnya tidak ada kesepakatan dimana aku tidak boleh mengganggumu jadi apa boleh buat itu tetap kekalahanmu," ujar Zaru sambil tersenyum licik.


"Kau-?!" Asta pun terdiam merapatkan giginya, meskipun memang tidak ada kesepakatan dilarang mengganggu tapi tetap saja itu merupakan tindakan yang memalukan menurutnya.


Zaru pun berjalan mendekat kearahnya sambil penuh senyum kemenangan, "Mari kita selesaikan kesepakatan ini," ucapnya.


Tanpa pikir panjang Asta pun langsung melesat dengan cepat meninggalkan ruangan tempa tersebut, meninggalkan Zaru dan gurunya disana.


"Kau..?!!! Jangan lari..!!!" Teriak Zaru lalu ikut mengejarnya sedangkan Flares hanya menatap mereka heran sambil menghela nafasnya pelan.


"Zaru tampaknya sedikit berubah menjadi lebih periang dan usil ketimbang ia yang dulu, mungkin karena rasa kesepian yang ia rasakan saat di segel menjadikannya seperti ini," gumam Flares berjalan ikut meninggalkan ruangan tersebut.


Aula Asosiasi tampak ramai saat Asta keluar dari Aula Tempa, terlihat banyak sekali tamu yang datang mengunjungi Asosiasi, disana terlihat juga Yuan yang sedang melihat-lihat koleksi Asosiasi.


"Siapa anak kecil itu, apa yang ia lakukan dengan bermain-main di dalam Asosiasi,"


"Hei, nak apa yang sedang kau lakukan berlarian kesana-kemari didalam asosiasi,"


Ucap orang-orang yang melihatnya sedang berlari dengan terengah-engah dari kejaran Zaru, orang-orang itu mulai bertanya-tanya siapakah sebenarnya anak itu dan mengapa Manager tak juga langsung datang menghentikannya berlarian kesana-kemari didalam asosiasi, orang-orang pun mulai berpikir apakah anak itu adalah cucunya atau barangkali putra bungsunya.


Melihat ada sedikit keributan Yuan Tiandu pun berjalan ke arah sana untuk melihatnya, ia membuka matanya lebar-lebar melihat Asta yang tengah berlari dari kejaran seseorang. Tak lama dibelakangnya Zaru menyusulnya sambil terus meneriakinya agar berhenti dan menyerahkan diri.


"Berhenti disana, bocah..!!! Kau tidak akan bisa kabur dariku, serahkan dirimu padaku...!!!" Teriak Zaru yang tentu saja membuat salah paham di telinga orang-orang tersebut yang mengira bahwa Asta mungkin akan terbunuh di tangan beruang kecil tersebut, karena semua orang itu sudah siapa ia karena Manager sendiri telah mengumumkannya pada saat di acara pelelangan.


"Cepat panggil Manager...!!! Anak itu dalam bahaya..!!"

__ADS_1


"Cepat cari Manager...!!!"


Semua orang pun panik bukan main terlebih Zaru mengatakannya dengan sangat-sangat jelas di telinga mereka, tentu mereka akan panik saat melihat seorang anak muda yang akan terbunuh hanya karena tidak sengaja mengganggunya.


Melihat kepanikan para orang-orang tersebut membuat Yuan hanya bisa menepuk jidatnya, ia sendiri heran mengapa Asta bisa menghilang dan belum kembali saat Manager hendak memulai pelelangan, ia bahkan tak melihatnya sama sekali setelah ia pergi meninggalkannya di kota.


"Tuan-tuan mohon harap tenang, ia adalah Tuan Muda Asta, seseorang yang akan bertarung untuk mewakili Asosiasi Fajar Merah di Turnamen Seni Bela Diri. Tuan-tuan tolong tenang, yang mulia Zaru takkan mungkin menyakitinya, karena yang datang ke Asosiasi Fajar Merah bersama yang mulia Zaru adalah ia, Asta," ujar Yuan Tiandu mencoba menenangkan mereka.


Tentu semua orang tidak akan percaya dengan perkataan itu jikalau orang lain yang mengatakannya, bagaimana bisa seorang anak muda sepertinya bisa menundukkan sosok agung yang juga mempunyai legenda kelam dimasa lalu. Namun hal ini berbeda jika yang mengatakannya merupakan Tuan Muda dari keluarga Tiandu, Yuan Tiandu. Salah satu keluarga besar di Kekaisaran Arkhan.


Semua orang pun menghela nafas tenang, untunglah jikalau anak itu tak akan terbunuh di tangannya akan tetapi muncul sebuah pertanyaan baru di benak orang-orang dari mana asal anak itu.


Beberapa orang yang pernah melihat Asta di restoran Wan Xeng tentu mengenalnya sebagai sosok yang telah membuat mereka terkejut.


"Aku pernah melihatnya ia adalah anak muda yang di restoran Wan Xeng itu,"


"Setelah kulihat-lihat ia memang mirip dengannya, ia adalah Kultivator Sejati itu, pantas saja ia punya kekuatan yang hebat di usianya yang masih sangat muda ditambah Asosiasi Fajar Merah membantunya,"


"Sepertinya Faksi kita akan mempunyai tambahan kekuatan besar di masa depan, pilihannya bernaung di bawah Asosiasi sungguh hal yang bijak atau jika tidak para Pendosa itu pasti akan mengejarnya setelah ini,"


"Tapi Roh Sejati apa yang ia miliki?"


Kini identitas Asta sebagai Kultivator Sejati telah terbongkar namun hanya saja mengenai Esensi Rohnya masihlah belum terbongkar, setidaknya meskipun orang-orang itu tahu bahwa ia merupakan Kultivator Sejati, namun saat di restoran Wan Xeng Asta tak memperlihatkan tato rohnya dengan cukup jelas untuk bisa membuat orang mengidentifikasinya.


Yuan Tiandu sempat terkejut mendengarnya ia sendiri tak mengetahui bahwa kejadian di restoran Wan Xeng ada kaitannya dengan Asta.


"Tuan!! Junior!! Apa yang sedang kalian lakukan apa kalian sedang bersenang-senang..?!!" Teriak Yuan Tiandu bertanya penasaran apa yang sedang mereka berdua dengan berlarian kesana-kemari didalam Asosiasi.


"Senior apa kau bisa membantuku untuk menghentikannya...?!!" Teriak Asta meminta pertolongannya.


"Kau pikir kau dia bisa membantumu, seratus orang seperti dia pun takkan mampu menahanku!!! Cepat berhenti, apa kau sebegitu tidak tahu malunya menghindari sebuah kesepakatan!!!!" Teriak Zaru.


"Senior....!!!!"


"Berhenti..!!! Cepat serahkan pantatmu itu, kau berhutang padaku seratus tamparan untuk pantatmu..!!! Kau tidak bisa kabur dari kesepakatan setelah kau kalah..!!!" Teriak Zaru terus mengejarnya sampai mereka berdua keluar dari asosiasi dan berlari di kota.


"Jangan bercanda...!!!! Jika kau tak mencurangiku dengan memukul pantatku yang sudah sakit karena hukuman dari guru, mana mungkin aku gagal dan meledakkan tungku apinya, kau hanya tidak ingin kalah...!!" Balas Asta tetap tak mau berhenti.


"Ehhhh?!"


"Pantat?! Seratus tamparan?!"


"Ahh, haha, sepertinya anak muda itu akan baik-baik saja. Itu hanya seratus tamparan kan?"


"Heii, apanya yang tidak apa-apa itu seratus tamparan di pantat apa kau bercanda,"


Orang-orang pun tertawa kaku melihat tingkah laku mereka berdua yang begitu konyol dalam membuat kesepakatan, tentu lebih tepatnya mereka menertawai Asta yang telah begitu polos membuat sebuah kesepakatan dengan seekor Roh Hewan Kuno yang tentu takkan pernah mau mengalah.


"Ehhh, kupikir ada apa ternyata Asta hanya tak ingin kabur dari kesepakatannya,"gumam Yuan Tiandu sambil tersenyum tipis, tak menyangka bahwa dibalik kisah kelam sesosok Zaru di masa lalu ternyata ia merupakan sosok yang suka bercanda.


***


Disisi lain Asta yang tengah melarikan diri dari Zaru terus berlari hinggap berkeliling kota Tiandu hingga sampai sore hari barulah akhirnya Zaru dapat menangkapnya setelah ia tak cukup kuat untuk terus berlari.


Zaru pun kembali mengubah ukurannya menjadi ukuran pria dewasa dan memanggul Asta kembali ke Asosiasi.


Di Asosiasi orang-orang dikejutkan dengan kedatangannya kembali ke Asosiasi sambil memanggul Asta, sesekali ia memukul pantatnya sambil meneriakkan sudah berapa kali ia memukulnya.


Yuan dan yang lainnya hanya tersenyum kaku melihat Zaru yang terus tertawa sambil melakukannya, disisi lain Asta terus mengumpatinya dengan segala macam umpatan yang ada ia lontarkan.


Setelah selesai dengan Zaru hari sudah begitu larut ia pun kembali ke kamarnya untuk istirahat sembari menyembuhkan luka di pantatnya.

__ADS_1


"Sial, siapa yang sangka ia benar-benar melakukan tindakan curang hanya karena tidak ingin kalah," gumam Asta pelan.


Setelah selesai menyembuhkan keadaan pantatnya dengan memakan pil penyembuh juga dengan mengandalkan penyembuhan dari penguasaan raganya, pemulihan berakhir cepat hanya sekitar 10 menit.


Kali ini ia tak mau bergadang semalaman seperti hari kemarin dikarenakan ia cukup jera dengan hukuman dari gurunya yang tak masuk akal itu.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali lebih pagi dari sebelumnya Flares datang ke ruangan Asta. Dilihatnya sang muridnya itu masih tengah tertidur dengan lelap, untungnya kali ini ia datang dengan ember air di tangannya.


"Bangun muridku tercinta, waktunya pergi berlatih..."


"Byuuurr..."


Dan untuk keduakalinya Asta dibuat kelabakan oleh gurunya, ia benar-benar tak menyangka gurunya akan datang lebih awal daripada sebelumnya, pikirnya gurunya benar-benar seperti sedang mengerjainya.


"Ayo bangun, ini dia guru sudah siapkan bahan-bahannya. Pergi berlatihlah di Aula Tempa dengan ini, jangan kembali sebelum merubahnya menjadi Artefak," ucapnya sambil memberikan Material Besi tingkat 1 padanya.


"Apakah ini tidak terlalu awal guru, kemarin kita memulainya tak sepagi ini, ini masih shubuh bagaimana kalau sebentar lagi..?" Ucap Asta memohon pada gurunya.


"Tidak. Karena kemarin kau telah membuang-buang waktu seharian bermain dengan Zaru maka hari ini kau harus berlatih dengan lebih keras," jawabnya menolak.


"Apanya yang bermain-main jelas itu adalah penyiksaan, bagaimana bisa guru menyebutnya sebagai bermain-main, guru malahan terlihat sangat menikmatinya!!" Ujar Asta.


"Hari ini buatlah sebuah Artefak dari material tersebut, minimal kau harus bisa menciptakan 10 Artefak hari ini atau akan ada sebuah hukuman dari guru," ujarnya sambil mengalihkan pandangannya menahan tawa.


"Lihat, apa-apaan tawa guru itu! Dan juga bagaimana bisa aku menciptakan 10 Artefak dengan hanya 7 Material ini, ini terlihat sangat jelas bahwa guru hanya ingin menyiksaku!!" Jawab Asta.


"Terserah kamu mau berkata apa terhadap guru tapi yang pasti akan ada hukuman jika sampai malam belum ada 10 Artefak, kau bebas membuat apa saja. Zaru juga hari ini akan pergi dengan Guru mungkin kami kami berdua akan pulang sedikit malam," ucapnya sambil berlalu pergi.


"Ohh iya, kamu tidak boleh meminta tambahan material ke pihak Asosiasi atau siapapun itu kalau tidak guru akan tetap memberimu hukuman. Percayalah bahwa ada seseorang yang mengawasimu setiap saat," ujarnya lalu menutup pintu.


Flares pun pergi meninggalkannya disana dengan raut wajahnya yang terlihat kesal.


"Guru benar-benar hanya ingin mengerjai ku, sebaiknya aku mulai berlatih sekarang, aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Permasalahan kekurangan material ini aku akan memikirkannya nanti,"


Asta pergi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang basah sebelum pergi ke Aula Tempa.


Hari ini Aula Tempa terlihat sangat ramai dipenuhi oleh Master Penempa yang dipekerjakan oleh pihak Asosiasi, bahkan Manager Row sendiri berada disana dan sedang melakukan proses penempaan.


Sebenarnya Asta juga tahu bahwa Manager Row sendiri merupakan seorang Penempa juga dibalik kultivasinya yang begitu tinggi, akan tetapi kini baru terpikirkan olehnya darimana datangnya api yang Manager Row kendalikan untuk menempa, sedangkan dari beberapa kejadian sebelumnya Asta tahu pasti bahwa Esensi Roh Manager Row sendiri tak ada hubungannya dengan api, lebih tepatnya Spirit Roh Alat, Lingkup Ruang.


Ia pun mendekatinya untuk melihat proses Penempaan sekaligus untuk menghilangkan rasa penasarannya tersebut.


"Ada apa, apa kau membutuhkan sesuatu disini?" Tanya Manager menyadari kedatangannya.


"Guru memintaku berlatih menempa Artefak, ia memintaku untuk menciptakan 10 Artefak dengan 7 bahan ini, apakah menurut Manager mungkin untuk melakukannya?" Tanya Asta.


"Kalau ia tidak memintamu untuk membuat sesuatu dengan spesifik atau kau bebas untuk membuat apa saja asal 10 Artefak, tentu saja bisa," jawab Manager.


Sembari mengerjakan Penempaan Artefak Manager menjelaskan bahwa mungkin untuk membuat beberapa Artefak hanya dengan satu bahan, akan tetapi prosesnya sedikit sulit karena harus membagi material itu menjadi berapa bagian sesuai jumlah yang ingin dibuat ketika dalam proses peleburan.


Selain diperlukan kekuatan jiwa yang cukup kuat untuk bisa mempertahankan suhu dan stabilitas api juga kegagalannya sangat tinggi. Jika sudah seperti itu maka material itu akan menjadi tidak berguna dan tidak bisa digunakan lagi, karena Roh Materialnya sudah mati.


"Lalu adakah Master Penempa yang melakukan proses Penempaan seperti ini sekarang..?"tanya Asta.


Manager Row pun menganggukan kepalanya pelan,"ada banyak yang menggunakannya, namun hampir semua penempa hanya melakukannya ketika membuat Artefak tingkat 4 kebawah karena bisa menghemat material dan juga waktu. Akan tetapi hampir tidak ada yang melakukannya pada Artefak tingkat 5 dan 6 karena Material yang digunakan juga sangat berharga sehingga sebisa mungkin penempa menghindari kegagalan yang sangat besar. Sedangkan untuk Artefak tingkat 7 tidak ada satupun yang berani melakukannya pada material tingkat 7 yang memilik tingkat kegagalan 95 persen. Satu-satunya orang yang melakukannya hanyalah Master," jelas Manager.


Asta hanya diam mematung mendengarkan cerita dari Manager, siapa yang kira gurunya yang terlihat lebih sering dan suka bercanda ternyata benar-benar orang yang berada di puncak segalanya. Asta pun sampai terpikirkan sekarang, sebenarnya sosok seperti apa yang bisa membunuh orang sehebat gurunya itu.


****


Catatan Surgawi

__ADS_1


Dalam melakukan pemurnian Artefak Roh ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Yaitu peleburan, Penempaan, Pembentukan Inti, Penyatuan, dan Pembersihan.


Namun Pemurnian Artefak Biasa proses nya hanya Peleburan, Penempaan, dan Pembersihan saja


__ADS_2