Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch77 Perkemahan Musuh 2


__ADS_3

Setelah membunuhnya Flares pun kembali memberikan tubuhnya lalu lanjut beristirahat didalam cincin.


Lira berlari menuju kerangkeng dan menghancurkan gembok yang mengunci mereka didalam sana, terlihat wajahnya tampak pucat dan kasihan melihat mereka seperti itu.


“Apa kalian tidak apa-apa..?” tanya Lira setelah membuka kerangkeng besar itu dan memberikan mereka pakaian untuk menutupi tubuh mereka.


“Guru benar-benar sudah menebaknya sejauh ini, apa yang dikatakannya benar,” batin Lira ia mencoba mengajak mereka berbicara.


Di saat ia sedang mencoba mengajak para perempuan itu berbicara disisi lain Niu Yang sedang sekarat menunggu ajalnya.


“Niu..!! Bertahanlah..!! Cepat makan ini..!!” ujar Xiao Jun memangkunya, air matanya menetes melihatnya yang terkapar lemah tak berdaya.


“Senior! Bisakah kau menolong Niu Yang?! Kumohon padamu senior..!!” Chen Yan memohon bantuan pada Asta sembari mengusap air matanya.


Fen Shan pun sama terpukulnya melihatnya terkapar seperti itu, bagaimanapun Niu Yang sudah seperti saudara sehidup semati mereka. Melihatnya terkulai lemas seperti dengan luka seperti itu mereka bertiga tak tega melihatnya.


Asta menggelengkan kepalanya pelan, melihat keadaannya yang seperti itu Asta tak bisa membantunya sama sekali meskipun ia seorang peracik obat tingkat 4.


“Sudahlah.. Xiao Jun.. lagipula sekarang aku sudah tidak bisa disembuhkan lagi.. keadaanku sudah sangat buruk.. jikapun sembuh aku harus memulai semuanya dari awal lagi.. jaga diri kalian baik-baik..” ucapnya lirih mencoba tersenyum.


“Senior.. terima kasih.. berkatmu setidaknya aku bisa mati secara terhormat..” lanjutnya.


“Maafkan aku. Jika seandainya aku...”


“Cukup senior.. ini bukan salahmu.. semua ini murni takdir.. aku harap kalian bertiga juga tak menyalahkan diri nantinya.. jaga kota permata biru baik-baik..” potongnya.


“Apa yang kau katakan?! Kau pasti bisa sembuh dan kita bisa berjuang bersama dalam kekacauan ini, benarkan senior, benarkan?!” ujar Xiao Jun.


Asta membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya,“maafkan aku, tapi Niu Yang..” Asta tak bisa melanjutkan kata-katanya dan hanya menatapnya dalam.


“Senior.. anda nampaknya seumuran dengan senior Tang Wu.. apa anda peserta turnamen itu juga...?” ucapnya lirih.


“Maafkan aku karena tak pernah memberitahu kalian soal ini, namaku adalah Asta Raiken, seharusnya pil sembilan nyawa kehidupan bisa menyelamatkannya akan tetapi aku tak mempunyai satu pun pil itu,” ujar Asta menyesal.


Meskipun mereka ingin terkejut setelah mengetahui siapa dirinya tapi tak ada waktu untuk itu bagi mereka. Niu Yang tersenyum karena setidaknya sebelum ia mati ia bisa melihat wajah asli Asta dibalik topeng serigalanya, sosok fenomenal yang keberadaan tiba-tiba menghilang begitu saja setelah turnamen selesai dan era kekacauan melanda.


Niu Yang pun menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya, kepergiannya terlihat begitu tenang namun Xiao Jun, Fen Shan dan Chen Yan terlihat tak bisa menerimanya. Mereka menangis sejadi-jadinya, melihat saudara seperjuangan mereka pergi meninggalkan mereka lebih dulu.


Asta pergi membiarkan mereka yang sedang berduka, melihat Lira yang sedang mencoba menenangkan dan memberikan motivasi pada gadis dan perempuan itu Asta memutuskan untuk tidak mengganggunya.


Ia berjalan menuju ke arah lain sambil mencoba mencari hawa keberadaan Ace dan Zaru, setelah beberapa saat kemudian ia pun dapat menemukan dimana lokasi mereka berdua sedang berada.


“Sepertinya mereka sedang bersama apa yang sedang mereka lakukan..?” gumam Asta pelan menyadari hawa keberadaan mereka berdua sedang bersama. Jadi Asta pun bergerak menuju ke sana, ia merasakan firasatnya buruk.


Namun sesampainya di sana ia tak melihat keanehan apapun selain mereka yang sedang berdebat mengenai jumlah bunuhan mereka dalam perburuan mereka yang mencoba melarikan diri itu.


“Bagaimana dengan keadaan disini?”


Asta berjalan mendekati mereka berdua dan menanyakan keadaan di sini selama ia bertarung di dalam perkemahan musuh. Matanya melirik melihat tumpukan mayat demon dan goblin tersebut yang nampaknya sengaja mereka tumpuk.


“Bocah! Kau datang tepat waktu! Sekarang lihat punya siapa yang paling tinggi menurutmu?” Zaru memintanya untuk menjadi juri.


“Sudah pasti lebih tinggi punyaku! Apa matamu buta?!” Ace merasa yakin dirinya lah yang memiliki bunuhan paling banyak.


Asta menatap mereka malas. Tanpa basa-basi Asta langsung membakar dua tumpukan mayat tersebut menggunakan api pemakan cahaya, seketika aroma kulit terbakar mengudara diiringi dengan terbakarnya dua tumpukan mayat tersebut dengan sangat cepat.


Ace dan Zaru terdiam melihat hasil bunuhan yang sengaja mereka tumpuk dengan rapih itu langsung dibakar hangus saat itu juga.


“Apa yang kau lakukan?!” teriak mereka berdua secara bersamaan.

__ADS_1


“Membakarnya. Bukankah tujuan kalian berdua menumpuk mereka seperti itu supaya aku langsung membakarnya?” Asta memiringkan kepalanya heran.


“Apa kau tak lihat pemenangnya masih belum ditentukan?!” teriak Ace dan Zaru sekali lagi secara bersamaan.


Asta terdiam sejenak memegang dagunya terlihat seperti sedang berpikir,“dari pandanganku jelas-jelas tak ada satupun dari kalian berdua yang lebih tinggi. Tumpukan kalian terlihat seimbang dan sama rata, jadi akan aku katakan bahwa hasilnya adalah seimbang,” ujar Asta.


Mereka berdua mendengus kesal mendengar jawaban tersebut, bagaimana bisa menentukannya semudah itu sedangkan ia datang-datang langsung membakarnya tanpa memperhatikannya dengan teliti.


“Bocah! Kau datang-datang langsung membakarnya tanpa memperhatikannya! Bagaimana bisa dibilang hasilnya seri?!” Zaru menolak hasil tersebut.


“Tentu saja tidak seri! Itu karena aku pemenangnya! Matamu saja yang sudah rabun dasar Beruang Tua..!!” teriak Ace sembari menunjuknya.


“Apa kau bilang?! Kalau aku sudah tua lalu apa kau ini?!” teriak Zaru menunjuknya balik.


Asta hanya bisa menepuk jidatnya pelan melihat kelakuan mereka yang jarang sekali akurnya, sekalinya akur selalu saja untuk mengerjainya ataupun menakut-nakuti orang lain. Sama halnya ketika di Kota Permata Biru.


“Sudah! Sudah! Kalian berdua tinggal tunggu saja sebentar lagi sampai apinya benar-benar padam. Siapa yang terbakar habis lebih dulu maka ia yang kalah, bukankah seharusnya begitu..?” ujar Asta menyarankan.


“Ide bagus..!!” ujar mereka setuju.


Meski mereka setuju bukan berarti mereka akan tenang diam dan menunggu, mereka masih saja memperebutkan gelar siapa yang tumpukkan mayatnya paling lama terbakarnya.


Beberapa saat kemudian tumpukan mayat itu pun terbakar habis secara bersamaan, Ace dan Zaru hanya terdiam saling tatap-menatap.


“Lihat saja di perkemahan yang kedua aku pasti akan menang,” ucap Zaru.


“Beruang tua sepertimu mana mungkin sanggup untuk melakukannya,” cibir Ace.


Asta pun langsung menghentikan mereka berdua agar tidak berdebat lagi, ia membawa mereka berdua kembali. Masih ada banyak demon dan goblin yang seharusnya ia kumpulkan dan bakar saat itu juga.


-----


Angin berhembus diiringi dengan cahaya mentari yang mulai bersinar. Asta, Xiao Jun, Chen Yan dan Fen Shan tengah berdiri mengelilingi mayat Niu Yang yang sudah siap dikremasi.


“Ini adalah permintaannya dahulu ketika kami baru saling mengenal dan berjanji saudara. Niu Yang pernah mengatakan kepada kami dia ingin ketika nanti saatnya dia pergi, dia ingin.. dia ingin agar jenazahnya di kremasi,” ucap Xiao Jun.


Asta pun memulai proses kremasi Niu Yang. Xiao Jun dan yang lainnya tak berhenti meneteskan air mata, mereka masih tak percaya Niu Yang pergi mendahului mereka.


Setelah Niu Yang selesai dikremasi Xioa Jun, Fen Shan dan Chen Yan mengambil abunya. Mereka akan membawa abu tersebut kemanapun mereka pergi, sebagai tanda bahwa mereka akan terus mengingatnya sampai kapanpun.


Setelah itu Asta memeriksa keadaan dan kondisi para gadis yang telah dilecehkan itu, terlihat dari mata mereka yang memandang kosong Asta tahu keadaan mereka masih belum juga membaik.


“Apa ada perkembangan?” tanya Asta pada Lira.


Lira menggelengkan kepalanya pelan, tak ada perkembangan apapun terhadap kesehatan mental mereka yang sudah dilecehkan. Lira prihatin melihat kondisi mereka namun tak ada hal yang bisa ia lakukan untuk membantu mereka selain mencoba memberikan dukungan.


Dalam hatinya Lira bersumpah akan menghabiskan waktunya sebagai pemburu demon dan para sekutunya sepanjang hidupnya.


Asta pun berjalan menuju ke arah mereka dan melihat wajahnya satu persatu. Mereka tak menghiraukannya sama sekali. Asta memberi mereka sekantung emas beserta pisau tingkat 2 untuk mereka.


Asta mencoba memberikan mereka motivasi agar mereka mau tetap berjuang untuk hidup, setelah itu ia pun menyuruh mereka untuk pergi ke arah selatan dimana Kota Permata Biru berada. Dengan wajah tanpa ekspresi mereka mulai berjalan tanpa semangat mengikuti arahannya, Asta berharap mereka benar-benar terus berjalan sampai ke Kota Permata Biru sehingga mendapatkan pertolongan.


“Guru apa mereka akan baik-baik saja dibiarkan seperti itu?” tanya Lira khawatir.


“Senior tenang saja. Mereka pasti baik-baik saja sampai ke kota,” ujar Xiao Jun.


Asta pun mengangguk dan mengelus kepalanya pelan,“hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mereka, meskipun guru memang kuat tapi tidak semua hal dapat guru selesaikan. Segala apapun memang berkaitan dengan kekuatan tapi bukan berarti dengan kekuatan bisa menyelesaikan segalanya,” ujar Asta menasehati.


Lira pun mengangguk mengerti mendengarkan nasehatnya tersebut.

__ADS_1


“Sebelum melanjutkan perjalanan kita sarapan terlebih dahulu. Lira ini saatnya kembali berlatih,” ujar Asta mengajaknya untuk berburu.


-----


Selesai makan sarapan dengan daging panggang berbumbu sederhana buatan Asta mereka pun pergi melanjutkan perjalanan menuju ke perkemahan selanjutnya. Tak lupa Asta menghancurkan perkemahan tersebut terlebih dahulu sebelum berangkat.


“Guru aku penasaran darimana guru belajar memasak dan membuat bumbu seperti itu, bisakah guru ajarkan padaku?” tanya Lira.


“Ehh..?! Itu karena dulu ketika umur guru masih 7 tahun guru sudah hidup sendirian, jadi mau tak mau guru belajar memasak. Awalnya guru hanya coba-coba membuat resep dan bumbu sendiri, meskipun awalnya selalu gagal tapi kemudian dari pengalaman itu guru akhirnya bisa memasak dan membuat makanan yang enak untuk diri sendiri. Kau ingin belajar memasak juga?” Asta menjelaskan awal mulanya mengapa ia belajar memasak.


Xiao Jun dan yang lainnya terkejut mendengar kisah tersebut, ia pikir Asta adalah seseorang yang setiap harinya selalu ditemani pelayan. Setelah tahu identitas Asta yang sebenarnya mereka benar-benar terkejut mendengar ceritanya yang pernah hidup sendirian ketika masih kecil.


“Heemmm, masakan guru sangat enak lebih-lebih dari masakan restoran Bangau Putih di ibukota Hansu,” ujar Lira.


Asta terkejut mendengarnya,“kau pernah ke sana?” tanya Asta balik.


“Dulu sebelum era kekacauan aku selalu ikut ayah berbisnis kemanapun ia pergi, dari pengalaman itulah aku sering mampir ke berbagai restoran untuk makan bersama dengan ayah,” ujar Lira memberitahunya.


Xiao Jun, Fen Shan dan Chen Yan tersenyum mendengar mereka berdua yang terlihat begitu akrab.


“Gurunya adalah Kultivator Sejati yang sangat hebat, sedangkan muridnya adalah jenius yang terlahir seribu tahun sekali. Benar-benar pasangan yang mengerikan,” gumam Xiao Jun dalam hati melihat pasangan guru dan murid itu.


Beberapa saat kemudian akhirnya mereka pun sampai di perkemahan selanjutnya. Asta pun menghentikan mereka semua dan menyuruhnya untuk tetap tenang.


Ace dan Zaru yang melihat perkemahan tersebut langsung mulai berdebat kembali.


“Cukup! Beruang Tua! Kau tunggu saja disini melihatku menghancurkan mereka semua!” ujar Ace kesal.


“Omong Kosong! Serigala Bau! Lebih baik kau diam disini dan perhatikan aku beraksi!” balas Zaru berteriak.


Asta menutup kupingnya pusing mendengar suara mereka yang berteriak di telinganya.


“Cepat turun diri pundakku! Kalian ingin membuatku tuli?! Kalau kalian ingin membuktikan siapa diantara kalian yang paling hebat maka buktikan itu dengan jumlah bunuhan kalian!” teriak Asta melerai mereka.


“Ide yang bagus!” ujar mereka berdua setuju.


Ace dan Zaru pun melompat turun dari pundaknya, Zaru langsung menggunakan tombak semesta bersiap menyerang sedang Ace langsung mengaktifkan kemampuan surgawinya.


“Jangan sampai membunuh korbannya..!! Ingat itu...!!!” teriak Asta mengingatkan.


Xiao Jun, Fen Shan dan Chen Yan hanya bisa tersenyum canggung melihat mereka berdua. Pasalnya tanpa bantuan mereka sekalipun Ace dan Zaru yang merupakan dua hewan kuno ditambah lagi dengan tingkatannya yang tinggi seharusnya salah satu dari mereka saja cukup untuk menghancurkan perkemahan tersebut. Akan tetapi mereka tidak paham dengan cara pikir hewan kuno itu yang kadang kala mudah marah kadangkala suka sekali bermain-main.


“Senior, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Chen Yan sembari tersenyum canggung.


“Kau masih bertanya-tanya apa yang harus dilakukan? Tuan Ace dan Zaru sudah bergerak memangnya apa lagi yang harus dilakukan selain menunggu. Jangankan melawannya kabur pun mereka takkan mempunyai kesempatan sama sekali,” ujar Lira lalu duduk bersila melihat Ace dan Zaru yang masuk ke dalam perkemahan secara terang-terangan.


Chen Yan pun tersenyum canggung menggaruk pipinya yang tidak gatal, benar yang dikatakannya menunggu adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan saat ini.


“Kita diam saja disini menunggunya selesai, kalau kalian masuk ke sana dan berpikir untuk membantunya mereka berdua pasti akan merasa diremehkan oleh kalian. Bisa-bisa dia akan membunuh kalian nantinya,” ujar Asta memberitahu mereka untuk tetap duduk.


Xiao Jun tertawa canggung,“ada dua senior di sana mana mungkin aku bersikap sok hebat didepannya. Menunggu dan duduk tenang menikmati angin sepoi-sepoi lebih baik daripada menggangu mereka,” ujarnya setuju untuk tidak mengganggu mereka dalam pertarungan.


Teriakan pertarungan juga jeritan kesakitan terdengar hebat dari dalam perkemahan, Fen Shan hendak bangun ketika melihat Werewolf yang hendak lari melarikan diri namun kemudian sebuah tombak melesat cepat menembus dadanya. Tombak itu melayang dan kembali mencari mangsa yang lain.


“Sudah ku katakan dengan jelas, kalian ini masih tak percaya saja dengan ucapanku. Kemampuan surgawi tuan Zaru bisa mengendalikan tombaknya sesuka hati dari jarak jauh entah dari ukuran ataupun bentuknya. Jadi tetap diam dan tunggu,” ujar Lira kesal melihat Fen Shan yang tiba-tiba berdiri.


***


**Maaf ya, kalo kebahasaannya masih belepotan soalnya aku dulu setiap belajar bahasa Indonesia gak sampe selesai:v

__ADS_1


Jadi ya gitu deh:v


Jangan lupa makan apalagi gantungin harapan ya, semangat**..!!!!!


__ADS_2