
5 tahun berlalu begitu cepat, tak terasa saat ini Asta menginjak usia remaja 15 tahun. Proses pelatihannya berjalan begitu mulus tanpa hambatan.
Hasil dari latihan tersebut Asta menguasai dua kitab surgawi dengan sangat baik dibawah arahan Ace dan Zaru, di samping itu hasil latihan bersama gurunya pun ikut memuaskan. Saat ini Asta adalah Kultivator Master Suci Puncak dengan pencapaian seorang penempa dan peracik tingkat 5.
“Apa kau pikir bisa mengalahkan ku kali ini?” remeh Ace.
Asta tersenyum tak membalasnya lalu mengeluarkan pedang iblis malam dari dalam cincinnya. Permainan pedangnya meningkat pesat daripada ketika di turnamen seni bela diri. Dengan kekuatan jiwanya saat ini pedang iblis malam bukan lagi masalah untuknya.
“Jika aku tak mencobanya maka aku takkan pernah tau hasilnya,”
Asta mengayunkan pedangnya dan melakukan serangkaian tebasan untuk mencoba menyerang Ace.
Pergerakan Ace yang sangat lincah cukup membuatnya kesulitan, seolah-olah Ace seperti membaca serangannya bahkan sebelum ia mengayunkan pedang.
“Sial-!!”
Asta tersungkur ke tanah tak dapat menghindari satu serangan pun darinya,“sekali lagi,” ujarnya mencoba kembali berdiri.
Ace tersenyum kearahnya,“aku siap kapanpun kau mau,” ujarnya.
Asta kembali melancarkan serangan pertama dan Ace dengan cepat menghindarinya, ia bersiap memberikan serangan balasan dari belakang.
Asta mengayunkan pedangnya ke punggungnya menahan tendangan kaki Ace, ia tersenyum karena melihat refleknya selalu mengalami peningkatan.
Ace mengubah pola serangannya menjadi lebih beragam daripada sekedar tendangan. Asta meningkatkan kecepatan geraknya untuk mengikuti pola serangannya.
Berlangsung sengit dan cukup seimbang dalam beberapa waktu meskipun kenyataannya Asta lebih banyak di serang.
“Aktifkan Kobaran Gejolak Raga,” Ace memberi arahan.
Asta melompat mundur sembari menangkis tendangannya,“seperti yang kau arahkan,” Asta menancapkan pedangnya ke tanah dan mengaktifkan tekhnik roh tersebut.
Asta meninggalkan pedangnya memutuskan bertarung dengan tangan kosong menghadapinya, pukulan dan tendangannya saling bertemu satu sama lain.
“Akhh-!!”
Asta terlempar menabrak pohon jauh ke belakang setelah beberapa kali beradu serangan kuat dengannya, ia sadar dengan perkembangannya saat ini masih tidak mungkin untuk mengalahkannya.
Asta mengusap darah yang keluar dari mulutnya,“hanya masalah waktu untukku bisa mengalahkanmu,” Asta bangkit dan meminum pil pembuluh darah miliknya untuk menyetabilkan lukanya.
Ace tersenyum meremehkan,“memangnya mau sampai kapan kau ingin disini?”
Asta mengerutkan alisnya heran,“apa maksud ucapanmu itu?”
“Kau sudah menguasai Kitab Dewa Api Kegelapan juga Peremuk Jiwa namun untuk masalah pengalaman kau tak bisa hanya mengandalkan latihan bertarung saja, kita membutuhkan lawan yang benar-benar nyata dan bertarung dengan niat membunuh untuk meningkatkan kemampuanmu lebih jauh,” Zaru menjelaskan.
“Benarkah kita sudah selesai disini guru?” Asta berpaling pada gurunya.
“Kau sudah menguasainya dengan sangat baik namun kemampuan bertarungmu masih kurang, satu-satunya cara untuk meningkatkannya hanya satu yaitu bertemu lawan nyata dengan nafsu membunuh tinggi,” Flares menjelaskan.
Asta pun bersorak kegirangan, setelah sekian lama akhirnya hari-harinya dihajar dua hewan tersebut telah usai, Asta membayangkan dirinya menuju dunia kultivasi dan bertarung untuk keadilan, ia senyum-senyum sendiri membayangkannya.
“Hehehe. Setelah sekian lama akhirnya waktu yang ku tunggu-tunggu sudah tiba! Tunggulah aku sang pangeran tampan ini akan datang membasmi kejahatan untuk kalian! Hahahaha,”
Ace menatapnya heran lalu berpaling ke arah Zaru, dirinya juga keheranan melihat tingkah lakunya tersebut. Akhirnya mereka berdua mengangguk sepakat untuk mengerjainya.
“Ahh! Jadi kau rupanya orang yang mengaku-ngaku sebagai pahlawan itu,” Ace berdiri di belakangnya dalam transformasi setengah manusianya tersenyum lebar.
“Berani sekali kau menyombongkan diri di depan penguasa ini. Tapi baguslah sekarang aku tak perlu sulit-sulit untuk menghajarmu,” disampingnya Zaru juga dalam bentuk transformasi setengah manusianya sudah siap dengan tombak semesta di tangannya.
“Ehh..?!!” Asta bingung melihat mereka berdua tiba-tiba bertransformasi dan memancarkan aura siap bertarung ke arahnya.
“Ada apa...”
“Cukup basa-basinya kita langsung bunuh saja dia dengan begitu kita akan bisa menguasai kota itu,” potong Zaru tiba-tiba mengayunkan tombaknya.
“Hei..!!! Apa kau ingin membunuhku?!!”
“Apa kau punya kata-kata terakhir..?” tanya Ace tersenyum lebar memamerkan gigi dan kukunya.
“Sial! Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua,” Asta menelan ludahnya bergidik ngeri.
“Bersiaplah untuk mati,” Zaru mengayunkan tombaknya dengan sangat cepat.
“Sialan! Apa kau benar-benar..” belum selesai bicara Ace melayangkan cakarannya.
“Kalian sudah gila ya?!!” teriaknya tak percaya, bisa-bisa ia terbunuh jika dua serangan seperti tadi mengenainya.
Mereka berdua tak menanggapi ucapannya sama sekali dan melanjutkan serangan-serangan mereka berikutnya.
Asta menengok ke arah gurunya yang tengah tertawa melihatnya kesulitan,“guru apa-apaan ini?! Bukankah latihannya sudah selesai?!” tanyanya.
Flares yang sedang tertawa tak menanggapinya, ia sama sekali tak bisa diandalkan pikirnya.
__ADS_1
“Dasar gila! Kalian berdua gila!” umpatnya kesal.
“Jadi segini saja kemampuan pangeran penyelamat,” Zaru tersenyum mengejek.
“Ehh?!! Pangeran penyelamat?! Tunggu dulu apa maksud kalian berdua tiba-tiba memanggilku seperti itu..?”
Mereka berdua tak menjawabnya melainkan langsung melancarkan serangan, sebisa mungkin Asta menghindarinya.
“Tunggu dulu, mengapa mereka tiba-tiba.. oh sial!” batin Asta menyadari alasan mereka berdua yang tiba-tiba bersikap seperti itu.
“Mereka mengerjaiku! Keparat..!” Asta menjerit didalam hatinya.
Setelah menghindari serangkaian serangan mereka berdua Asta pun berlari menuju ke mulut goa, dengan ayunan tangannya semua barang-barangnya masuk ke dalam cincin.
“Guru...!!!! Ayo kita pergi..!!!!”
“Berhenti!! Jangan lari kau pengecut!!!” panggil Zaru.
“Persetan dengan drama kalian berdua...!!” balas Asta menolak berhenti.
Dengan begitu Asta pun meninggalkan lembah melanjutkan perjalanannya yang tertunda selama 5 tahun untuk meningkatkan kemampuannya terlebih dahulu.
“Dunia aku datang..!!!”
-----
Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di suatu kota, Asta sedikit heran melihat kondisi gerbang kota yang sepi pengunjung.
“Guru apa kau tau kita ada dimana sekarang?”
“Kita saat ini sudah memasuki wilayah Lembah Negeri Batu tepatnya di Kota Permata Biru,” Flares menuding ke arah kota tersebut.
“Kota ini tampak sunyi sekali dibandingkan dengan kota-kota yang pernah kita kunjungi, benarkan guru?” ujarnya meminta pendapat.
Flares memegang dagunya,“sepertinya ada yang tak beres dengan kota ini, sangat mengherankan untuk sekelas kota perbatasan sesunyi ini,”gumamnya.
“Sudah lama aku tidak memakainya,” Asta mengeluarkan topengnya.
“Kau ingin mengenakannya?” tanya Zaru.
Asta mengangguk dan memakainya,“guru aku akan pergi untuk memeriksanya kalian tunggu saja disini,” ucapnya lalu berlari menuju menuju ke kota.
“Apa kita akan membiarkannya?” tanya Zaru.
“Kenapa kau yang menjawab? Aku tidak bertanya padamu,”
“Sudah-sudah, benar apa yang dikatakannya biarpun pengalaman bertarungnya masih kurang namun ia bukanlah orang yang mudah dikalahkan,” jelas Flares melerai mereka berdua.
-----
Dua penjaga berdiri di depan gerbang dengan wajah lesu tak bersemangat membuatnya semakin penasaran tentang apa yang terjadi. Asta menekan auranya untuk menutupi identitasnya sebagai kultivator.
Mata mereka berdua terbuka lebar saat melihat Asta yang sedang menuju ke arahnya, penjaga buru-buru berlari ke arahnya dengan wajah panik.
“Nak! Berhentilah jangan melangkahkan kakimu lebih jauh lagi!”
“Pergilah! Kota Permata Biru sedang tak menerima siapapun!”
Mereka berdua menodongkan senjata kepadanya namun sorot mata mereka terlihat jelas, mereka memang menghalanginya untuk masuk tapi mata mereka seperti mengasihaninya.
“Bisakah paman ini menjelaskan padaku tentang apa yang terjadi karena aku benar-benar harus masuk ke Kota Permata Biru untuk sesuatu,”
“Nak percayalah pada paman pergilah sekarang juga, bukan hal baik untuk memasuki kota saat ini,” salah satu penjaga membujuknya.
Asta semakin penasaran mendengar bujukan tersebut dan semakin ingin tahu tentang apa yang terjadi di dalam kota sehingga para penjaga itu sebisa mungkin menghalanginya.
“Tapi Paman aku benar-benar...”
“Sudahlah biarkan saja dia masuk, tak perlu susah-susah membujuknya lagi. Kalau mereka tau kita membujuk orang untuk pergi mereka bisa membunuh kita,” ujar salah satu penjaga lagi yang baru saja keluar.
Dengan wajah kebingungan dua penjaga itu memang tak mempunyai pilihan lain,“Nak berjanjilah padaku untuk tak mengatakan apapun tentang obrolan kita saat di kota,” ujarnya.
“Aku harap kau baik-baik saja, berhati-hatilah,”
“Terima kasih paman, aku berjanji untuk tidak menceritakan ini kepada siapapun,”
Melihat kondisi mereka yang memprihatinkan ia mengeluarkan beberapa pil pembuluh darah juga memberikan mereka sekantung besar berisi daging dan dan air didalamnya.
“Ini aku ada hadiah untuk para paman sekalian, aku harap paman menerimanya,” ujarnya memberikan itu pada mereka.
Mata ketiga penjaga bersinar mencium aroma daging,“bukankah ini terlalu banyak? Lalu bagaimana dengan persediaanmu?” tanya salah satu penjaga.
“Tunggu! Nak jangan bilang kau ini...”
__ADS_1
Asta memberikan mereka kode untuk tidak bersuara lebih keras,“bisakah paman ceritakan padaku tentang apa yang terjadi di dalam kota sehingga paman menghalangiku,”
Para penjaga itu saling melihat satu sama lain sebelum mereka kemudian tiba-tiba bersujud kepadanya,“tuan aku mohon selamatkan kami! Kami tidak ingin hidup dibawah penindasan mereka lagi!” mereka bertiga berlutut dan memohon kepadanya.
Asta terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mereka,“paman bisakah paman berdiri dulu dan jelaskan permasalahannya padaku, aku masih belum tau apa yang terjadi,” ucapnya membujuk mereka untuk bangun.
“Tuan kami tidak bisa bertahan dari penderitaan ini lebih lama lagi, bukankah tuan ingin masuk ke dalam kota? Jadi kumohon tuan bantu kami,” ucap mereka memohon.
“Baiklah, baiklah. Aku berjanji akan membantu paman tapi bisakah paman berdiri dulu dan jelaskan apa yang terjadi..?” pinta Asta lagi.
Mereka pun akhirnya mau disuruh untuk berdiri dan menceritakan permasalahannya.
"
Masalah dimulai pada saat 5 tahun lalu ketika pihak kekaisaran dikalahkan oleh pasukan musuh, ketiga orang terkuat kekaisaran yakni Kaisar, Tuan Pemburu Iblis juga Manager Row berhasil dikalahkan oleh Tian Wei dan pasukannya.
Setelah peperangan itulah kekaisaran mengalami kekacauan besar, 5 Keluarga Besar dan 7 Sekte Besar bahkan tak sanggup menahan tersebut. Semua tempat di kekaisaran menjadi arena kekacauan.
"
Asta terdiam mendengarkan penjelasan mereka secara seksama dan menyerapnya secara perlahan-lahan. Hatinya sesak mendengarnya, berapa banyak orang yang menderita selama 5 tahun ini dan berapa banyak orang yang mati karena kekacauan ini.
“Paman aku memang tidak bisa berjanji sekarang tapi nanti aku pasti akan menghentikan era kekacauan kekaisaran Arkhan,” ujarnya.
Mereka bertiga pun tersenyum dan berterima kasih kepadanya atas niat tulusnya tersebut.
“Nak aku percaya padamu, Takdir Surgawi pasti akan berubah ditanganmu suatu hari nanti,”
Asta mengangguk pelan,“bisakah paman menunggu disini aku akan masuk ke kota sekarang,”
“Nak siapa namamu?”
“Asta Raiken,”
Mereka pun mengangguk dan membiarkannya pergi masuk ke kota sendirian.
Asta memasuki kota dengan hati-hati, banyak rumah-rumah besar dan toko-toko namun tak ada satupun orang di sana.
“Tidak!! Kumohon jangan, kumohon!! Dia adalah satu-satunya putriku!! Akan ku berikan apapun selain putriku, kumohon!!!”
Asta langsung berpaling ke salah satu rumah dimana teriakan itu berasal,“siapapun kau tunggu saja,” Asta mengeluarkan pedang langit kelam dari cincinnya dan menerjang masuk ke dalam rumah tersebut.
“Tidak, tidak. Tuanku akan marah jika aku melepaskan salah satu gadis, untuk masalah hartamu aku juga tetap akan membawanya jadi.....”
“Slaasshh..!!!”
Sebilah pedang melewati tempat dimana seharusnya kepala demon berada.
“Aaahhhhh,”
Seorang gadis yang berada digenggaman demon tersebut berteriak histeris ketika melihat kepala demon tersebut tak lagi berada di tempatnya. Asta mengibaskan darah dari pedangnya dan memasukan kembali ke sarung pedangnya.
Pria paruh baya itu juga sama terkejutnya dan buru-buru memeluk anak gadisnya untuk melindunginya.
“Maafkan aku. Sepertinya aku membuat paman dan saudari ini terkejut,” Asta mengangkat tangannya damai.
“Kau, kau bukan bagian dari mereka?” tanya sang ayah memastikannya.
“Demon itu? Tentu saja bukan,” jawab Asta.
Ayah gadis itu menghela nafasnya lega,“Tuan terima kasih karena telah menyelamatkan putriku dari mereka, tapi tuan aku tidak mempunyai apa-apa untuk membalas budi tuan. Aku hanya memiliki sedikit persediaan kalau tuan mau....”
“Cukup. Aku kemari bukan ingin merampas harta atau apapun, tujuan ku kemari justru untuk menyelamatkan kalian,” ujarnya menolak tawaran paman tersebut.
Sang paman pun tersentak mendengarnya, ia buru-buru menyuruh anak gadisnya untuk berterima kasih kepadanya.
“Tuan terima kasih karena telah datang menyelamatkanku,” ucapnya berterimakasih.
“Tunggu bisakah kalian tak memanggilku dengan sebutan tuan? Dan juga sepertinya usia kita tak berbeda jauh, namaku Asta Raiken panggil saja Asta,” Asta membuka topengnya.
Ayah dan anak itu terkejut ketika melihat wajahnya yang tampak sangat muda,“Nak apa kau berasal dari keluarga besar? Atau mungkin dari sekte besar?” tanya sang ayah.
“Aku tidak berasal dari sekte manapun, aku kultivator tunggal. Aku baru saja keluar dari pelatihanku bersama guruku di sebuah lembah di dalam hutan yang tak jauh dari sini,” jelasnya.
“Apa di sana banyak ditumbuhi herbal obat?” tanya sang ayah.
Asta pun mengangguk pelan,“apa paman tahu tempat itu?” tanyanya.
“Tentu saja. Dulu orang-orang kota sini sering sekali mengunjungi lembah obat di sana untuk mengambil beberapa tanaman obat untuk dijual. Namun 5 tahun lalu sebelum kekaisaran mengalami kekacauan seseorang melihat adanya Roh Hewan Kuno yang menjaga lembah tersebut, jadi setelah itu kami tak pernah pergi ke sana lagi dan hanya memanen tanaman obat di sekitarnya,”
Asta tersenyum canggung mendengar cerita dari paman tersebut, ia yakin sosok hewan kuno itu kalau bukan Zaru pasti Ace.
Selama ia bercerita anak gadisnya memandangi wajah Asta lekat-lekat, ia tertarik dan kagum melihatnya yang masih berusia muda tapi sudah menjadi kultivator hebat.
__ADS_1