Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch80 Salah Paham


__ADS_3

Entah sudah berapa lama waktu berlalu semenjak Asta melakukan proses pemurnian ranah dewata. Bangun-bangun Asta tak menemukan keberadaan siapapun entah itu Flares ataupun yang lainnya.


“Sial! Tubuhku bau sekali!”


Asta berlari dari tempatnya mencari sungai untuk membersihkan kotoran di tubuhnya. Mendengar adanya suara gemericik air Asta langsung bergegas pergi tanpa menunggu lagi.


Tanpa menunda lagi Asta langsung menceburkan diri ke sungai dan mulai membersihkan tubuhnya sambil menyelam.


“Latihan hari ini sungguh melelahkan. Apakah ini yang guru rasakan saat ia sedang berlatih,” Lira berjalan sembari mengelap keringat menuju ke arah sungai. Badannya terasa lengket karena keringatnya bercucuran dengan deras, berlatih bersama Ace dan Zaru membuatnya kelelahan bukan main.


Lira tak memperhatikan arah di depannya dan hanya terus berjalan ke arah sungai sampai ketika ia mendengar suara orang lain.


“Haahhh... Mandi saat siang hari memang sangat menyegarkan,” ucap Asta sambil mengelap wajahnya naik ke pinggiran sungai.


Tanpa sadar mereka berdua pun berpapasan di sana, Lira terdiam sejenak memandangi perutnya sebelum kemudian pandangannya beralih pada sesuatu yang menggantung di bawah perutnya. Lira menjerit keras saat itu juga.


“Guruuu..!!! Kau mesum..!!!”


“Apa..?!!”


Asta pun terkejut bukan main, Asta sadar ia masih belum mengenakan pakaiannya. Wajah Asta memerah ketika sadar Lira memergokinya saat masih dalam keadaan telanjang. Lira menutup mata dengan tangan, namun bisa Asta lihat ia mengintip dari sela-sela jarinya.


“Tunggu, Lira! Aku bisa jelaskan semua ini..!”


“Guru..!!!! Kau cabul..!!!”


Lira berbalik dan berlari ke arah yang lain meninggalkan Asta yang kebingungan harus bersikap bagaimana. Ia pun buru-buru mengenakan pakaian dan bergegas mengejarnya.


“Lira! Tunggu! Ini bukan seperti yang kau pikirkan..!!” teriaknya memanggil.


“Dasar cabul..!!” balas Lira.


Lira berlari ke arah Ace dan Zaru yang sedang bermain catur dengan ditemani Flares yang sepertinya menjadi penengah, Lira berteriak-teriak memanggil Flares dan juga yang lainnya sehingga membuat konsentrasi keduanya buyar.


“Lira ada apa denganmu? Bukankah kau bilang ingin membersihkan badan?” tanya Flares heran.


“Master Guru! Tolong aku! Guru ingin memperkosa ku..!!!” teriak Lira mengadu. Asta yang berlari tak jauh di belakangnya terkejut mendengarnya.


“Apa..?!! Tidak, Lira tunggu dulu aku bisa menjelaskannya..!!!”


Lira bersembunyi di balik tubuh berbulu Zaru yang memutar matanya malas.


“Asta! Kapan kau bangun?” tanya Flares.


“Itu.. beberapa saat yang lalu. Lira dengarkan aku ini hanya salah paham,” ucap Asta.


“Tidakkk!!! Guru cabul!!!” teriak Lira menolak mendengarkan.


Flares menutup mulutnya menahan tawa melihat mereka berdua.


“Guru! Jangan tertawa! Bantu aku menjelaskan semua ini padanya!”


“Sudah ku bilang kan waktu itu? Kau benar-benar keras kepala,” ucap Ace pada Lira.


“Sumpah, Lira! Ini hanya tidak sengaja!” Asta mencoba menarik tangan Lira.


“Tidakk..!!!”


“Plakk..!!”


Tamparan keras mendarat di wajahnya,“Dasar mesum..!!” teriak Lira.


Flares dan yang lainnya kemudian tertawa melihatnya mendapat tamparan keras dari Lira.


-----


Di tempat lain tepatnya di Pegunungan Negeri Terlantar, tempat dimana Tian Wei dan bawahannya tinggal.


“Aaron bagaimana dengan persiapannya sudah siap?” tanya Tian Wei.


Aaron menelan ludah sebelum berbicara,“ada sedikit masalah yang mengganggu di Lembah Negeri Batu, seseorang menghancurkan beberapa perkemahan kita. Tapi meski begitu kita masih bisa menjalankan operasi ini,” jelas Aaron.


Tian Wei sedikit mengerutkan keningnya sembari bertanya mengenai siapa dia. Aaron pun menjelaskan tentang Asta yang bersama Ace dan Zaru yang kemungkinan besar adalah penyebab dari hilangnya komunikasi beberapa perkemahan disekitar Kota Permata Biru.

__ADS_1


“Apa kau benar-benar tidak pernah melihatnya Aaron..?” tanya Tian Wei.


Aaron terdiam sejenak mencoba mengingatnya kembali, ia merasa tidak asing dengan Asta beserta 2 hewan kuno yang di sampingnya.


“Mustahil!” ujar Aaron mengingat kembali topeng tersebut.


“Apanya yang mustahil, Aaron?” Tian Wei menatapnya tajam.


“Aku pernah melihat pedang yang digunakannya sebagai peserta turnamen seni bela diri, tapi aku tidak yakin itu dia,” jelas Aaron.


Tian Wei terbangun dari duduknya sambil tertawa kecil,“jika itu dia bocah yang kau yakini sebagai pewaris roh Flares maka bukan hal yang aneh. Justru akan sangat aneh kalau dia belum menjadi seorang kultivator abadi,” ucap Tian Wei.


“Tetap jalankan operasinya. Biarkan saja dia mengamuk sesuka hatinya untuk sekarang karena aku merasa dia pasti akan datang menemuiku dengan sendirinya,” lanjutnya.


Di ujung pintu ruangan singgasana tiba-tiba terbuka lebar menampil sesosok gadis cantik dengan pakaian serba merah masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Kupikir ayah brengsek itu ada disini,” matanya memeriksa setiap sudut ruangan,“sepertinya kakek sedang membahas tentang suatu operasi penyerangan bolehkan aku ikut mendengarkan,” gadis yang berusia 24 tahun itu tak lain adalah Rosalina.


Setelah peperangan 5 tahun lalu Negeri Bulan Beku Rosalina kembali ke Istana Kehancuran di Pegunungan Negeri Terlantar untuk melakukan pelatihan tertutup. Saat ini ia baru saja keluar dari latihan tertutupnya dan berhasil menjadi Ahli Surgawi peringkat Dao Agung.


Tian Wei memuji keberhasilan cucunya tersebut atas keberhasilannya dalam menembus ranah tersebut.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka tentang operasi penyerangan lainnya yakni ke Negeri Tanah Api Suci.


-----


Kembali lagi pada situasi dimana Asta sedang menjelaskan kesalahpahaman antara dia dan Lira mengenai kejadian di sungai.


“Lagipula yang datang ke sungai dan mengintip adalah kamu! Kenapa aku yang dituding sebagai cabul?!” ujar Asta tak percaya.


“Karena aku perempuan! Mana mungkin aku melakukan hal tak senonoh seperti itu! Guru pasti ingin mencari alasan untuk melecehkan ku!!” teriak Lira tak percaya.


Pada akhirnya mereka berdua berujung pada sebuah perdebatan dimana untuk menunjukkan yang salah dan yang benar. Flares bersama Ace dan Zaru hanya menikmati pertengkaran antara keduanya dengan tertawa.


“Tapi kau membuka sela-sela jarimu! Aku tahu kau melihatnya!” teriak Asta.


“Itu karena Guru yang memperlihatkannya kepadaku!” balas Lira.


“Hah?! Untuk apa aku memperlihatkan sesuatu hal yang seperti itu padamu?! Aku baru saja selesai membersihkan tubuhku dan kau kemudian datang sambil berteriak-teriak!!” teriak Asta membela diri.


Asta tersentak kaget mendengarnya,“apa?! Cukup omong kosong itu! Aku juga tak melecehkan mu dan jelas-jelas disini aku yang dilecehkan! Jangan bicarakan soal pernikahan aku masih muda!” teriak Asta.


“Apa?!” Tanpa basa-basi lagi Lira langsung menendang bolanya dengan cepat.


“Ukh-!”


“Aku seorang wanita! Mana mungkin mengintip pria mandi! Hmphh!” Lira langsung pergi meninggalkan Asta yang memegangi perutnya kesakitan.


“Bahaya! Itu pecah!” teriak Flares dengan raut wajah pura-pura panik membuat Ace dan Zaru semakin tertawa terbahak-bahak.


“Omong kosong....” Asta pun terjatuh pingsan.


Satu jam kemudian Asta pun terbangun. Setidaknya rasa sakit itu sudah hilang jadi ia tak merasakan hal itu lagi.


“Sepertinta kau sudah terbangun,” Ace mengejutkannya.


“Kemana yang lainnya pergi? Juga sudah berapa lama waktu mengalir semasa aku berlatih?” tanya Asta penasaran.


Ace mengangkat tangannya menunjuk ke satu arah,“Lira sedang melatih domain dewa penghancur jadi ia meminta mereka berdua untuk membantunya. Ini sudah satu bulan berlalu semenjak saat itu memangnya ada apa?” tanya Ace.


Asta memandangi awan di langit,“entah kenapa tiba-tiba aku merindukan ayah dan ibu serta yang lainnya. Aku ingin kembali ke rumah sebentar tapi aku rasa aku harus bersabar dan percaya bahwa mereka pasti bisa melewati semua ini,”ujarnya.


Ace memiringkan kepalanya heran,“tumben sekali kau mengatakan hal seperti itu bocah manja. Ada apa denganmu? Apa kau mengkhawatirkan mereka?” tanya Ace.


“Hei! Apa kau tak ingin bertemu dengan Haru dan Eni juga? Bukankah mereka orang tuamu? Kau benar-benar tidak tahu diri,”


Ace menyipitkan matanya,“apa kau lupa aku pernah bilang bahwa mereka adalah paman dan bibiku?” ujar Ace.


Seketika Asta terkejut mendengarnya karena ia baru tahu selama ini Haru dan Eni ternyata bukanlah induknya.


“Kenapa dengan ekspresi wajah terkejut itu?” ujar Ace masih menatapnya tajam.


“Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Kupikir kau adalah putra mereka berdua, memangnya kapan kau pernah mengatakan soal ini? Ini adalah pertama kalinya aku mendengar soal ini,” ujar Asta.

__ADS_1


Ace terdiam dan mencoba mengingat-ingat lagi. Ia merasa telah memberitahunya perihal ini beberapa tahun yang lalu.


Setelah dipikir-pikir waktu benar-benar telah mengalir begitu cepat, tak terasa sekarang sudah beberapa tahun sejak pertama kali datang ke Kekaisaran Arkhan hanya untuk mencari Haru dan Eni yang diusir keluar dari Istana Dewata.


Ace tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa ia juga akan pergi meninggalkan rumah serta singgasananya kepada yang lainnya hanya untuk menjadi Roh Hewan Asta saat ini.


”Oyy! Ace kenapa kau tiba-tiba melamun?” Asta menyadarkannya dari lamunan.


“Setelah kau berbicara seperti itu aku jadi teringat dengan kabar mereka juga,” ujar Ace setuju.


Di saat mereka tengah bercerita tentang masa lalu terlebih ketika Asta masih kecil tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah dimana Lira sedang berlatih.


“Siapa kau?! Apa tujuanmu kemari?!!” suara teriakan Lira terdengar hingga ke tempat dimana Asta dan Ace berada.


“Senior Taki?!” betapa terkejutnya Asta saat melihat sosok tersebut tak lain adalah Taki Garaki yang saat ini berusia 24 tahun dengan kultivasinya yang sudah mencapai Ahli Surgawi Dao Master.


Taki langsung memalingkan wajahnya ke arah suara yang agak dikenalnya itu,“Asta! Kau baik-baik saja?!” tanya Taki khawatir.


Lira terdiam melihat mereka berdua yang tampaknya saling mengenal satu sama lain,“sudah kubilang ia bukanlah musuh. Kau tak mendengarkan ucapanku,” ujar Zaru.


Disisi lain Flares sudah menghilang dan kembali ke dalam cincin milik Asta sebelum Taki sampai di sana.


“Aku baik Senior! Bagaimana dengan keadaan senior dan yang lainnya?” tanya Asta yang kebetulan sedang penasaran dengan kabar mereka semua saat ini.


Taki terdiam mendapati pertanyaan tersebut dan tak tahu harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak.


“Aku baru saja selesai dari kunjunganku ke Kediaman Keluarga Besar Han dan mendapati sebuah panggilan darurat sekte, kebetulan sekali aku bertemu denganmu disini jadi sekalian saja kita pulang bersama,” ujarnya tak langsung memberitahukan kejadian yang sebenarnya.


Asta tahu Flares sudah kembali ke dalam cincinnya jadi ia mencoba untuk berbicara padanya perihal tersebut.


“Kita bisa melanjutkan perjalanan kita nanti. Nampaknya ada suatu kejadian yang sedang terjadi bukankah kau juga sedang merindukan pacarmu itu?” ujar Flares berbicara melalui pikiran menggodanya namun Asta mengabaikannya begitu saja.


“Baiklah kalau begitu aku akan ikut dengan senior kembali ke sekte. Lira, Ace, Zaru! Kalian juga ikut,” ujar Asta.


Lira memicingkan matanya,“bukankah itu sudah pasti untukku ikut? Kau sudah berjanji pada ayah akan menjagaku guru,” ujar Lira.


Taki tertawa kecil melihat tingkah laku mereka berdua terlebih saat ia mendengar gadis itu memanggil Asta sebagai gurunya. Ini sungguh membuatnya terheran-heran melihat usia mereka yang nampak sebaya.


“Bukankah usia kalian sebaya? Mengapa gadis ini memanggilmu dengan sebutan guru?” ucapnya heran.


Asta pun tertawa canggung mendapati pertanyaan tersebut,“ceritanya cukup panjang dan agak sulit diceritakan. Tapi ini memang benar Lira adalah muridku meskipun aku baru mengangkatnya satu bulan yang lalu,” ujar Asta mencoba mengingat kembali.


Taki pun mengangguk mengerti. Ia berpikir mungkin saja gadis ini menyukai Asta yang lebih berbakat darinya sehingga memintanya untuk menjadi gurunya. Karena agak mengherankan baginya melihat guru dan murid yang ranahnya berdekatan. Asta saat ini baru saja menginjak Ranah Dewata Agung 1 bintang sedangkan Lira sudah menginjak Ranah Master Suci 2 bintang.


“Takutnya sekte sedang mengalami keadaan darurat dan sedang membutuhkan bantuan segera. Bagaimana kalau kita segeralah pergi sekarang juga?” tanya Taki.


“Tentu. Tapi akan lebih cepat jika kita menggunakan transportasi portal dimensi bukan, senior?” ucap Asta sembari memandang ke arah Ace.


Tentu saja Taki takkan pernah melupakan tentang siapa Ace.


“Baiklah karena semuanya sudah diputuskan mari kita pergi,” ucap Zaru.


Ace mengangkat tangannya dan membelah udara, seketika sebuah portal dimensi benar-benar terbuka di depan mereka berlima.


“Portal sudah siap. Kita bisa berang...” Ace tiba-tiba terdiam tak melanjutkan kata-katanya. Matanya terbuka lebar namun hanya sebuah tatapan kosong.


“Ace! Ada apa?!” Asta panik karena tak biasanya ia bersikap seperti itu.


Mereka langsung bersiap bertarung sembari melihat kearah tatapan mata Ace menuju, namun tak ada apapun selain pepohonan.


“Sekte Kobaran Api Sejati sedang di serang! Mereka dalam bahaya! Aku merasakan aura kehidupan paman dan bibi terluka! Kita harus bergegas sampai ke sana secepat mungkin!” ujar Ace panik langsung memasuki portal tersebut.


“Apa?!!” Asta dan Taki sama terkejutnya mendengar hal itu berbeda dengan Flares yang sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi.


Tanpa pikir panjang lagi mereka semua pun mengikuti Ace masuk kedalam portal begitupun Zaru dan Lira.


Dari dalam ruang hampa Ace dan lainnya dipaksa keluar sebelum mereka sampai di Sekte Kobaran Api Sejati. Seperti ada yang sengaja memblokir ruang dimensi di sekitar Sekte Kobaran Api Sejati untuk mencegah seseorang berteleportasi kesana secara cepat.


“Sialan! Untung saja kita dikeluarkan di Hutan Hewan Ghaib Tanah Api Suci. Meskipun jarak dari sini ke sekte lumayan kita masih bisa untuk sampai tepat waktu disana! Lira! Cepat naik ke punggung ku!” teriak Ace bertransformasi menjadi serigala dewasa dan langsung berlari mendahului mereka bersama dengan Lira yang menungganginya.


“Ayo! Asta! Kita juga harus cepat!” ajak Taki.


\_\_\_\_

__ADS_1


Maaf ya, aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini jadi gak bisa update tepat waktu. Sekali lagi maaf banget. Kemungkinan Rabu pun masih tak bisa update lagi.


__ADS_2