
Kenshin merasa pemahamannya terhadap jalan pedang semakin meningkat ke tingkat master. Namun, karena hanya mengandalkan latihan sendiri tanpa lawan, Kenshin tak tahu seberapa jauh kemampuannya telah berkembang. Karenanya, Kenshin memutuskan untuk mencari seekor hewan ghaib sebagai lawan latihannya.
Ia berjalan semakin dalam menyusuri hutan, mengedarkan pandangannya mencari siapapun yang dapat dijadikan sebagai lawan.
Setelah beberapa saat, telinganya menangkap suara riuh berisik pertarungan yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri. Kenshin menyipitkan matanya memandang ke arah itu, namun pepohonan menghalangi penglihatannya.
Dengan waspada, insting bertarung Kenshin langsung aktif. Pedangnya siap melancarkan serangan apabila perlu. Batinnya bergejolak, pikirannya menebak bahwa suara itu berasal dari pertarungan antara perampas dan seseorang yang mungkin sedang mempertahankan hartanya.
Namun, mulutnya menganga lebar setelah tahu bahwa dugaannya salah. Rupanya suara itu berasal dari Moegi yang tengah berlatih sama seperti dirinya.
Kenshin menggendong lengannya, berdiri dengan santai memperhatikannya yang sedang berlatih. Rasanya tak enak jika mengganggunya yang tengah dalam konsentrasi penuh.
Moegi melakukan gerakan rumit yang bahkan sulit diikuti oleh Kenshin, terlihat seperti penari handal namun juga nampak seperti meriam api yang meledak-ledak di segala titik.
Batin Kenshin bertanya-tanya, "Kontrol Rohnya mencapai tingkat tertinggi, Moegi benar-benar jenius. Namun, mengapa ia selalu membuang-buang sumber surgawi setiap kali berlatih?"
Moegi memejamkan matanya, rasa-rasanya ada seseorang yang tengah menguntitnya. Moegi melemparkan satu bola api ke arah dimana ia merasakannya. Kenshin tersentak kaget dan langsung mengeluarkan pedangnya untuk menangkis bola api tersebut.
"Ohh, itu kau. Kupikir siapa," ucap Moegi ketus melihat Kenshin yang meringis canggung.
"Apakah begitu cara kamu menyapa?" Ujar Kenshin memasukkan kembali pedangnya. Ia berjalan mendekatinya.
"Heehhh... Untuk apa bersikap sopan pada seorang penguntit? Dasar tidak tahu malu," balasnya ketus.
"Hah?! Kau pikir aku tak mempunyai kesibukan sampai harus mengikutimu? Aku juga sedang berlatih dan aku bosan berlatih sendirian. Awalnya aku sedang mencari hewan ghaib, sampai kemudian aku tak sengaja melihatmu," jelas Kenshin.
"Ohh, jadi begitu. Jadi, karena kebetulan melihatku, kau berpikir untuk terus memperhatikanku? Lantas apa yang terjadi kalau aku sedang di sana dan kau melihatku. Apa kau juga akan berhenti sejenak untuk itu...?" Tanyanya menginterogasi curiga.
"Kau pikir aku ini Zaraki? Bocah nakal yang berpikiran mengintip orang dewasa?" Ujar Kenshin mengelak.
Moegi mengedarkan pandangannya, "Jadi begitu rupanya. Jika kau tak bilang, mungkin aku takkan pernah menyadari keberadaannya,"
"Maksudmu...?" Tanya Kenshin tak mengerti.
Pandangannya terhenti pada semak-semak yang lumayan tak jauh dari tempat mereka berada. Kenshin ikut menoleh memperhatikan semak-semak tersebut.
"Semak-semak itu tampak aneh. Tak seperti semak-semak yang lainnya," gumam Kenshin mencoba membandingkannya dengan semak-semak di sekitarnya.
"Ketemu!" teriak Moegi melepaskan esensi rohnya, api yang berwarna jingga kekuningan menyelimuti kepalan tangannya.
Zaraki yang sejak tadi berada di sana, menelan ludahnya saat tiba-tiba Kenshin dan Moegi menatap ke arah persembunyiannya. Dengan terburu-buru, Zaraki keluar dari persembunyiannya, takut Moegi akan melancarkan bola api ke arahnya.
Mata Kenshin melebar membulat sempurna; ia tak menyangka bahwa Zaraki benar-benar menguntit Moegi. Benar-benar tak disangka, di depan mereka, Zaraki selalu membuat Moegi kesal, namun di belakang ternyata ia malah melakukan tindakan tak senonoh.
Zaraki melesat dengan cepat meninggalkan persembunyiannya. Kenshin menghela nafasnya pelan melihat kelakuannya.
"Kau pikir bisa lari kemana, hah?!!" seru Moegi berlari mengejarnya sembari melancarkan serangan jarak jauh.
Kenshin hanya diam memperhatikannya, duduk bersila menunggu mereka berdua kembali. Sesaat kemudian, terdengar suara teriakan Moegi mengumpat, diikuti teriakan rintihan Zaraki yang memohon ampun.
Mendengar teriakannya yang begitu lantang, Kenshin khawatir Moegi akan melakukan tindakan yang berlebihan. Baru saja Kenshin hendak berlari menyusul, terdengar suara teriakan Zaraki dari atas langit akan mendarat tepat di tempatnya berdiri.
"Bagaimana..."
"Jangan hanya diam disana..!! Aku tak dapat mengendalikan tubuhku, sebaiknya cepat menyingkir..!! Singa betina itu benar-benar ganas..!! Ia melemparkanku layaknya sampah..!! Cepat, menyingkir..!!" teriak Zaraki memotong pertanyaan Kenshin.
Kenshin langsung buru-buru menyingkir dari tempatnya berdiri. Sebisa mungkin, Zaraki mencoba mengendalikan tubuhnya agar tak mendarat dengan posisi kepala terlebih dulu.
"Ahhhh...!!!"
Zaraki terjatuh dengan kecepatan tinggi menabrak pohon hingga ambruk. Kenshin berguling ke samping untuk menghindarinya.
Meski begitu, tak ada waktu baginya untuk bersantai-santai. Dari kejauhan, Moegi bersiap melemparkan teratai api ke arahnya. Buru-buru ia bangkit melarikan diri. Serentetan teratai api melesat dengan cepat bertubi-tubi, sehingga Kenshin sampai harus ikut menghindarinya.
Ledakkan api terjadi dimana-mana, teratai api tersebut menciptakan ledakan yang lebih besar dan kuat daripada bola api yang biasanya Moegi lemparkan.
Zaraki menundukkan kepalanya saat teratai api lewat tepat di atas kepalanya, Moegi lalu mengambil lompatan jauh dan mendarat di sampingnya dengan sempurna.
Zaraki meringis takut melihat wajahnya yang penuh dengan amarah.
"Aku benar-benar minta maaf. Sejujurnya aku hanya sedang lewat dan tak sengaja melihatmu. Sebelumnya aku membuat janji dengan Kenshin untuk bertemu dan berlatih bersama," ucapnya terbata-bata, mencoba mencari pembenaran.
Moegi menatapnya tajam tanpa sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya. Zaraki semakin bingung dan takut untuk berbicara.
"A.. aku se.. serius. Aku.. hanya tak.. sengaja.." ucapnya terbata-bata.
"Katakan lagi dan aku akan memukul wajahmu sekeras mungkin!" ancam Moegi menarik kerah bajunya.
Zaraki menelan ludahnya takut, memaksa otaknya untuk berpikir cepat agar selamat darinya. Seketika muncul ide aneh di kepalanya.
"Emm... Moegi, sebenarnya aku..."
"Yang jelas!" Bentak Moegi.
__ADS_1
Zaraki menelan ludah bergidik ngeri. Dia mengumpulkan keberanian untuk berucap kembali dengan keras tanpa terbata-bata.
"Aku juga mencintaimu, Moegi...!!!" Seru Zaraki dengan keras.
Mulut Kenshin langsung menganga lebar, terkejut melihat apa yang telah dikatakan oleh Zaraki. Kenshin menepuk jidatnya bingung, tak menyangka Zaraki malah mengungkapkan perasaannya dengan cara yang mungkin akan membahayakan dirinya sendiri.
Emosi Moegi memuncak pada tingkat tertinggi mendengar alasan konyol yang Zaraki ucapkan.
"Brengsekkk!!"
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di perut Zaraki, membuatnya terbatuk-batuk dan muntah darah. Pukulan itu menembus hingga ke organ bagian dalamnya.
Di sisi lain, Kenshin tak berniat sama sekali membantunya setelah mendengarnya berkata konyol. Kenshin tertawa terpingkal-pingkal melihatnya menunduk menahan sakit di perutnya.
Zaraki mengerang sakit sembari memegangi perutnya, tak pernah disangkanya Moegi akan sekejam itu. Pukulan yang dirasakannya lebih menyakitkan daripada pukulan beberapa hari yang lalu.
Zaraki sudah mempersiapkan diri untuk menerima pukulan selanjutnya, tapi ternyata Moegi malah pergi meninggalkannya.
"Daya serang kekuatan fisiknya, sungguh kuat sekali. Isi perutku hampir keluar semua karenanya. Untungnya, hanya serangan fisik tanpa sumber surgawi," gumam Zaraki.
"Bukan hal aneh jika ia memiliki kekuatan fisik sekuat itu, mungkin sekarang penempaan raga tubuhnya sudah mencapai ranah master. Ia hanya kurang beberapa hal untuk meningkatkan ranahnya," timpal Kenshin.
"Uhukk! Uhukk! Apa yang akan terjadi jika teratai api itu mengenai diriku tadi, mungkin aku sudah menjadi daging panggang karenanya. Peningkatan di jalan roh dan raga tubuhnya benar-benar signifikan," Zaraki masih terkejut akan teratai api yang Moegi lepaskan sebelumnya. Ini kali pertama mereka melihatnya melepaskan teratai api.
"Kubiarkan kau kali ini, Zaraki," ujar Moegi mengampuninya.
Kenshin kemudian menyusulnya dengan cepat, tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih dengannya. Kenshin tertarik dengan teratai api miliknya, jadi ia berniat mencobanya.
Tanpa basa-basi, Kenshin langsung memintanya menemaninya berlatih, melihat keadaan Zaraki yang terbujur lemah, Moegi pun setuju. Ia mempercayai ucapannya yang beralasan ingin berlatih dengan Kenshin, karena itu ia pun berniat menggantikannya.
Kenshin tersenyum senang karena Moegi mau menemaninya berlatih ilmu pedang tak berwujud. Ia benar-benar membutuhkan lawan untuk mengetahui seberapa besar ia telah meningkat.
"Zaraki, apa kau baik-baik saja?" Ujar Kenshin mempertanyakan keadaannya.
"Aku tidak apa-apa. Kau pergilah berlatih dengannya, aku membutuhkan beberapa waktu untuk memulihkan kondisi tubuhku kembali," jawab Zaraki dengan tenang.
Kenshin pun mengangguk, lalu memberinya pil penyembuh yang selalu ia siapkan di dalam cincin untuk kebutuhan mendadak. Kenshin benar-benar membutuhkannya juga untuk menjadi teman berlatihnya.
"Kalau kau sudah merasa cukup baikan, kuharap kau akan membantuku. Kebetulan aku membutuhkan beberapa orang untuk mencoba teknik baru," ujar Kenshin yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala darinya.
Takut akan serangan yang salah sasaran, Kenshin mengajak Moegi untuk berpindah tempat. Moegi menuruti dan mengikutinya. Kenshin sedikit lega karena khawatir tentang keselamatan Zaraki nantinya.
"Aku benar-benar tertarik dengan teknik teratai api-mu. Apa kau baru saja mempelajarinya?" Tanya Kenshin penasaran.
"Maksudmu ini? Ini adalah pembentukan roh lanjutan, sesuatu yang kudapatkan setelah sekian lama berlatih. Aku terkejut juga bisa menguasainya dengan sempurna beberapa saat yang lalu, saat aku kesal," Moegi membuka telapak tangannya, teratai api kuning-jingga berputar di atasnya.
Mendapat pertanyaan itu, Moegi mengernyitkan dahinya, "Kau membaca buku ku kira untuk meningkatkan pemahaman, tapi nampaknya hanya melamun. Ungkapanmu kurang tepat, pembentukan roh adalah landasan utama teknik roh yang mana syarat utama untuk menembus ke ranah master."
"Aku lebih bingung lagi denganmu, kau terlahir dengan roh dewa tapi malah menapaki jalan berpedang," ucapnya lagi.
Kenshin meringis canggung mendapat pertanyaan itu, "Lupakan itu. Apa kau tak ingin menggunakan senjatamu?" Kenshin telah siap dengan pedangnya.
"Tidak perlu. Roh-ku, senjata-ku," jawabnya singkat.
"Kalau begitu, bisa kita mulai sekarang?" Kenshin memastikan.
"Ya. Kau bisa menyerang lebih dulu kalau kau mau, kapanpun itu,"
"Terima kasih," Kenshin melesat mengayunkan pedang, memberikan tebasan pertama sebagai pembuka.
Moegi cukup tenang menghindari serangan demi serangannya. Moegi mengubah teratai api menjadi sarung tangan api, tapaknya bertemu dengan ujung pedang Kenshin.
Sejenak, Kenshin sempat ragu, membuat tebasannya menjadi tumpul. Dengan mudah, Moegi mendorong pedang dan memberikan pukulan di perutnya. Kenshin terpental sedikit ke belakang.
"Keluarkan kekuatanmu, tebasan seperti itu takkan pernah menembus pertahananku. Apa kau sedang meremehkanku?"
Kenshin meringis malu, serangan selanjutnya pun datang dengan cepat.
"Kekuatan fisiknya sekuat ini?! Sejak kapan Moegi menyembunyikan kemampuannya. Tanpa sumber surgawi, hanya mengandalkan esensi roh, tinju apinya sekuat berlian. Aku ragu pedangku mampu melukai tangannya," batin Kenshin terkejut melihat kekuatan fisik Moegi yang sangat kuat.
Kenshin menebaskan pedangnya, dan dengan cepat Moegi melompat ke belakang. Dalam satu tarikan nafas, ia menciptakan tiga teratai api sekaligus.
"Seni Surgawi Tinggi Hitam, Tarian Langkah Senja," ucap Moegi sambil berjalan di angin, membentuk formasi teratai api ke langit. Seketika, belasan teratai muncul di langit, siap menghujani Kenshin.
Kenshin tak bisa menutup matanya terhadap teknik ini. Meski ia pernah menyaksikan tariannya saat menjalankan misi, namun kali ini berbeda, karena dirinya menjadi target. Matanya tertuju pada belasan teratai api yang perlahan bertambah besar di atasnya. Kenshin melebarkan matanya, buru-buru menarik pedangnya.
"Bukan waktunya untuk melamun. Aku harus segera menahannya," pikir Kenshin.
Kenshin memasang kuda-kuda bersiap menghadapi serangan yang tak bisa dihindari, terkurung di bawah formasi teratai api yang diciptakan oleh Moegi.
"Seni Surgawi Tinggi Hitam, Tebasan Pengiris Nyawa," ucap Kenshin sambil melakukan lima tebasan cepat, mengiris belasan teratai yang mengepungnya. Setiap teratai yang ditebasnya meledak di tempat. Moegi tersenyum tipis, menambahkan lebih banyak teratai api dengan cepat.
Kenshin menarik nafas dalam-dalam, tebasan pedangnya semakin tumpul seiring berjalannya waktu. Teratai-teratai tersebut semakin sulit untuk ditebas. Agar berhasil menebasnya, Kenshin harus mengeluarkan lebih banyak sumber surgawi.
__ADS_1
Pedangnya menjadi tumpul dan tak mampu menebas teratai api tersebut. Pedangnya seakan memukul permata yang sangat keras dan panas, akibat digunakan terus-menerus untuk menebas api.
Sebelum empat teratai api menyentuh tubuhnya, Kenshin melepaskan ilmu pedang tak berwujud, gerakan pertama untuk mencoba menebasnya.
"Ilmu Pedang Tak Berwujud Gerakan Pertama, Jejak Pedang Tak Berwujud," seru Kenshin.
Kenshin memasukkan pedangnya kembali ke sarung, lalu serentetan tebasan bulan sabit hitam memotong belasan teratai yang mengarah padanya. Moegi membuka matanya lebar-lebar, tak dapat melihat dengan jelas apa yang Kenshin lakukan. Yang Moegi lihat hanyalah Kenshin memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
Moegi yang masih terpana, merasakan hawa dingin di lehernya. Moegi mengedipkan matanya, namun bayangan Kenshin yang berada jauh di depannya tiba-tiba lenyap begitu saja.
Perlahan, Moegi menurunkan pandangannya ke bawah lehernya, "Ken, jelaskan padaku teknik apa itu tadi. Bagaimana bisa kau memasukkan rohmu ke dalam jalan pedang...?"
"Jangan bilang kau mencapai tahap penciptaan pedang dan pembentukan roh saat ini," ucap Moegi sembari menjauhkan pedang Kenshin dari lehernya.
Kenshin menaruh kembali pedangnya ke sarung, "Ilmu pedang tak berwujud, itulah namanya. Penciptaan pedang dan pembentukan roh? Aku masih jauh dari itu," jawabnya.
"Hanya kekuatan dari seni surgawi? Aku tahu persis, sekte kita tak mempunyai seni berpedang yang memiliki aura kelam seperti itu. Darimana kau menemukannya, Kenshin?" Tanya Moegi, sedikit menginterogasi.
"Aku tak sengaja menemukannya di jalan, kira-kira hanya gulungan kertas biasa. Tak ku duga ternyata sesuatu yang sangat berharga," jawab Kenshin sambil membuang wajahnya ke arah lain.
"Sebenarnya, aku tak mau melakukannya. Tapi apa boleh buat," dengan cepat, Moegi membuang senjata Kenshin dan melakukan kuncian padanya. Kenshin terbaring, mengerang sakit, tak dapat bergerak.
"Jika kau benar Kenshin, perlihatkan simbol api miliknya. Kalau kau beralasan, aku akan memutar kepalamu sekarang juga," ujarnya dengan nada mengancam.
Kenshin terkejut bukan main, buru-buru ia mengeluarkan simbol api miliknya, "Ini aku, Moe! Kalau kau tak percaya, silahkan periksa sepuasnya!" Kenshin berusaha mengeluarkan suaranya.
Moegi langsung mengambil simbol api miliknya dan mulai memeriksanya. Matanya memicing tajam menatap Kenshin, ia masih kurang yakin bahwa itu dirinya.
"Ini aku! Apa kau masih mencurigai ku?!" Pungkas Kenshin jengkel karena Moegi tiba-tiba mengunci gerakannya.
"Ternyata memang benar kau, ku pikir kau siapa, menyamar dan berperilaku seperti dirinya," Moegi memberikan kembali simbol api miliknya.
"Teknik itu sangat kuat, lebih kuat daripada tarian langkah senja milikku. Darimana kau bisa menemukannya, Shiro sendiri bilang kau di penginapan tak mengikuti pelelangan waktu itu. Jangan bilang, kau juga ikut secara diam-diam?"
"Tidak, tidak. Aku tak mengikuti pelelangan itu sama sekali. Aku benar-benar tak mengikuti pelelangan itu, dan teknik ini murni tak ku dapatkan dari sana," jelas Kenshin.
"Lalu..?"
"Ahh.. Sepertinya aku memang harus menceritakannya padamu. Tapi sebelum itu, kau harus berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun," ujar Kenshin.
"Ya. Terserah apa mau mu."
Setelah itu, Kenshin pun mulai menceritakan kembali pertemuannya dengan pria misterius yang memberinya ilmu pedang tak berwujud. Moegi mendengarkan dengan seksama sampai kemudian matanya terbuka lebar mendengar Kenshin diangkat secara sepihak oleh sosok itu sebagai muridnya.
"Dia, benar-benar memberikannya padamu?" Tanya Moegi, Kenshin mengangguk pelan.
"Apa kau tak takut bahwa orang itu sebenarnya adalah seorang kultivator Iblis?" Tanyanya lagi, Kenshin menggeleng pelan, tak yakin.
"Apa kau benar-benar yakin tak mengenalinya sama sekali?! Kalau kau tak mengenalinya, bagaimana bisa ia mengenalimu. Ini tampak aneh, kalau dia mengenalmu seharusnya ia tahu bahwa kau adalah murid Sekte Kobaran Api Sejati saat ini,"
"Wajahnya benar-benar tertutup ditambah tempat itu sangat gelap, sehingga aku pun sulit untuk mengenali wajahnya. Yang ku tahu, ia adalah seorang lelaki, mungkin lebih tua dua sampai tiga tahun dari senior Taki. Justru karena dia tahu aku adalah murid sekte ini, ia berniat untuk memintaku meninggalkan sekte,"
"Kalau begitu, kenapa kau tak coba bertanya pada ayahmu terkait hal ini. Mungkin saja ia kenalan ayahmu, atau mungkin keluargamu? Kita tidak ada yang tahu, coba kau tanyakan lebih dulu padanya," ujarnya memberikan saran.
Kenshin memikirkan apa yang Moegi katakan, ada benarnya juga apa yang Moegi sarankan. Selama ini, yang tahu bahwa esensi rohnya merupakan Bayangan Cahaya, hanya ayah dan dirinya sendiri. Teman-teman yang lain hanya tahu bahwa esensi rohnya adalah tipe bintang peringkat dewa.
"Ken, aku sudah baikan sekarang. Apa kita akan mulai sekarang?" tanya Zaraki yang baru saja tiba. Nampaknya, ia sudah sembuh dari luka sebelumnya.
Kenshin tersenyum canggung, baru saja ia akan pulang untuk menanyakan hal ini pada ayahnya, "Maaf, Zaraki. Aku ada sesuatu hal yang mendadak sekarang dan aku baru ingat. Kita lakukan saja esok hari, bagaimana..?" balas Kenshin.
"Ahhh, baiklah kalau begitu. Aku juga ingin kembali ke kota, ada sesuatu yang harus ku ambil sekarang," balas Zaraki setuju.
"Kalau begitu, kita kembali bersama ke kota. Moegi, bagaimana denganmu?" Tanya Kenshin.
"Aku juga akan kembali," balas Moegi.
Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota. Penjaga kota yang sedang duduk-duduk santai langsung tersenyum menyapa tiga anak tersebut.
"Sudah selesai latihannya?" Tanya salah seorang penjaga gerbang. Kenshin pun mengangguk sambil tersenyum.
"Dasar anak muda. Mereka benar-benar bersemangat dalam menjalani kehidupan. Benar-benar mengingatkanku saat dulu," ujar si penjaga sambil membayangkan kembali masa mudanya.
"Halah, memangnya apa yang kau lakukan waktu masih muda dulu selain bermalas-malasan?" ujar penjaga gerbang yang lainnya.
"Hei... Tak baik menceritakan hal buruk seseorang di masa lalu. Lagipula bukankah kau pun sama sepertiku. Makanya kita berdua hanya bisa menjadi penjaga gerbang kota saat ini," ujar si penjaga menyindirnya balik.
Dikediamannya, Helio tampak tengah mempelajari sebuah seni surgawi yang berisikan formasi susunan. Matanya tampak fokus dan konsentrasi akan pekerjaannya saat ini.
"Sekian lamanya aku mempelajari susunan ini. Aku tetap tak bisa memahaminya lebih dalam," gumam Helio.
"Ayah... Apa kau di dalam...?" Teriak Kenshin dari luar membuatnya terkejut.
"Bisakah kau tak berteriak-teriak seperti itu, kau membuat ayah terkejut. Cepatlah masuk dan katakan dengan benar di dalam rumah!" Panggil Helio.
__ADS_1
Kenshin datang sambil meringis malu, "Maaf, Ayah. Tapi... sebentar dulu.. nafasku.." Kenshin menstabilkan nafasnya lebih dulu sebelum bertanya.
Helio pun menyuruh putranya untuk tetap tenang dan menstabilkan nafasnya, sembari ia menyiapkan teh hangat untuk putranya. Helio sangat penasaran akan apa yang ingin Kenshin katakan sampai terburu-buru seperti itu.