
Setelah menangis sepanjang hari, Asta akhirnya tertidur pulas sambil masih memeluk Ace yang juga tertidur dalam dekapannya.
Helio Utake menggelengkan kepala perlahan sambil memindahkan Asta ke tempat tidurnya.
Keesokan harinya, Asta terbangun dengan perut yang sangat lapar. Helio sudah ada di sana dan memberikan makanan kepadanya.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Helio, yang kemudian Asta menjawab, "Sangat buruk."
Setelah makan, Helio mengajak Asta keluar rumah untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan kultivasi.
Asta mengangguk dan berusaha menyerap semua penjelasannya. Ia sangat menyesali keputusannya menolak untuk belajar kultivasi ketika Arai Ken ingin mengajarinya. Ternyata, alasan di balik ketangguhan Arai Ken yang tidak pernah terluka saat diserang binatang buas adalah karena tingkatannya dalam Raga Tubuh.
"Semua yang perlu kau ketahui telah Paman jelaskan. Sekarang, mari kita periksa Esensi Roh milikmu terlebih dahulu," ujar Helio sambil menyodorkan batu roh kepada Asta. Saat Asta menyentuhnya, muncul sesuatu seperti api kehitaman kecil di dalam batu roh tersebut.
Esensi Roh merupakan aspek yang ada dalam setiap makhluk hidup, dan melambangkan karakteristik individu tersebut. Kultivator yang fokus pada peningkatan pemahaman mereka terhadap Esensi Roh dikenal sebagai Master Roh.
Esensi Roh dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Esensi Roh Manusia:
Esensi Roh Manusia merupakan jenis Esensi Roh yang paling sulit untuk dilatih pada tahap awal, dan semakin tinggi tingkat kultivasi, semakin sulit untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi.
2) Esensi Roh Langit:
Esensi Roh Langit merupakan jenis Esensi Roh yang relatif mudah untuk dilatih pada tahap awal, tetapi semakin tinggi tingkat kultivasi, semakin sulit untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi.
3) Esensi Roh Dewa:
Esensi Roh Dewa merupakan jenis Esensi Roh yang sangat fleksibel. Individu yang terlahir dengan Esensi Roh Dewa cenderung memiliki bakat dalam kultivasi. Esensi Roh Dewa tidak terlalu sulit atau terlalu mudah untuk dilatih, sehingga mencapai tingkatan keseimbangan yang tepat.
Helio tercengang melihat hasilnya; Esensi Roh Asta ternyata merupakan jenis Esensi Roh Dewa. "Selanjutnya, kita akan belajar metode pernapasan sederhana untuk mengumpulkan Sumber Surgawi," ujar Helio.
"Fokus pikiran dan ketenangan jiwa adalah dasar untuk dapat menyerap Sumber Surgawi yang tersebar di sekitar dan mengalirkannya ke dalam tulang, otot, dan darah."
Asta tertawa kecil sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal, menyadari bahwa ia sama sekali tidak memahami penjelasannya.
Helio Utake tersenyum, "Coba saja terlebih dahulu," kata Helio.
Mengikuti instruksinya, Asta segera mencobanya.
Helio tersenyum lembut, "Bukan begitu caranya. Kalau seperti itu, hanya menutup mata yang kamu lakukan," katanya sambil tertawa.
"Aku tidak mengerti maksud Paman dengan fokus pikiran dan ketenangan jiwa, apa maksudnya...?" tanya Asta sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Sebaliknya, bisa Paman mengajarkan padaku cara mengenali tingkatan Raga Tubuh...?" tanya Asta.
"Sangat mudah, gunakan Sumber Surgawi sebagai perantara untuk mengidentifikasi Raga Tubuh," jelasnya. Asta mengernyitkan kening, akhirnya kembali lagi pada metode pernapasan sederhana itu.
"Bagaimana kalau..." Helio bangkit dari duduknya, "Kita melanjutkan latihanmu di rumahku...? Kamu juga bisa bertanya pada Kenshin tentang hal itu," ajaknya. Helio khawatir Asta kehilangan minatnya dalam berkultivasi.
Asta terdiam sejenak memikirkan sesuatu, "Maaf, Paman. Tapi aku tidak bisa," ujarnya, membuat Helio terkejut.
"Ahh... maksudku bukan seperti itu. Paman lihat kan postur tubuhku...? Selain itu, ibu juga meminta agar aku rajin berolahraga agar tidak tertinggal dalam pertumbuhan dibandingkan dengan Kenshin dan yang lainnya," Asta menjelaskan maksud ucapannya.
Helio merasa lega mendengarnya. Dia pikir Asta kehilangan minatnya dalam berkultivasi hanya karena alasan yang sulit.
"Sepertinya aku salah paham," ucap Helio sambil tertawa kecil.
"Setelah kamu siap dan memahami lebih lanjut tentang makna pernapasan itu, datanglah ke rumahku," pesan Helio sebelum berpamitan pergi. Asta tersenyum sambil mengangguk mengerti.
"Jaga dirimu dengan baik. Jika ada yang kamu butuhkan, katakan saja pada Kenshin," pesannya sekali lagi sebelum benar-benar pergi.
---
Hari sudah siang, sudah waktunya untuk makan siang. Asta kemudian bersiap-siap memanggang sisa daging rusa yang tersimpan di dalam mesin pendingin.
"Hmm..." Asta berpikir sambil menunggu dagingnya matang.
"Aku lupa menanyakan pada Paman Helio tentang cara meningkatkan Raga Tubuh...?" gumam Asta.
"Tidakkah itu mudah...? Kamu hanya perlu membuat tubuhmu terbiasa dengan merasakan rasa sakit di luar batas dalam waktu yang lama," terdengar suara yang dikenal Asta, tetapi dia tidak yakin dari mana suara itu berasal.
Pria yang terlihat berusia 27 tahunan dengan rambut panjang ini adalah calon guru Asta, Flares.
"Ka... kau...?!" Asta terkejut melihat sosok pria di hadapannya. Sosok yang selama ini ia pikir hanya ada dalam mimpinya.
Asta mengusap matanya dengan cepat, berharap bahwa itu hanya ilusi, tetapi sayangnya sosok pria itu tidak menghilang. Di sisi lain, Ace terdiam, memperhatikan dengan cemas.
"Tidak! Ini harus ilusi! Ini ilusi...!!" Asta terus mengusap matanya.
Dengan wajah kesal, pria itu memukul kepalanya, "Ilusi kepalamu yang palsu...!! Aku nyata! NYATA..!!" teriaknya, menekankan kata "nyata".
"Aduh..!!" pekik Asta.
"Namaku Flares, dan mulai sekarang, aku adalah gurumu. Tidak ada penolakan. Sama sekali tidak!" ujar Flares, menekankan kata-kata terakhirnya.
"Bukankah ini terlalu berlebihan?" Ace berdiri dan berkata kepadanya. Asta terbelalak, tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Ace mendekat, "Datang dan memaksa seseorang menjadi murid, siapa yang kau pikir kau ini?" Aura kebiruan membara di sekeliling Ace.
"Uhh! Ini...!" Asta terdorong ke belakang, tidak bisa berkata-kata saat menyadari bahwa Ace bukanlah serigala biasa.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku... Aku sering bermimpi hal-hal aneh akhir-akhir ini..." gumamnya pelan, tidak percaya.
"Pffftt...!" Flares menahan tawa, "Kau ingin melawanku...? Dengan itu saja...? Pffftt... Hahahahahaha...!!" ujarnya, lalu tertawa. Kemudian, ia menjentikkan jarinya.
"Whusshh...!!"
Aura kebiruan yang dipancarkan oleh Ace langsung terhembus oleh angin. Seketika, Ace langsung berkeringat dingin.
"Apa alasanmu? Aku penasaran mengapa sosok yang seharusnya arogan sepertimu tunduk padanya," Flares memukul kepalanya seperti ketika ia memukul Asta.
__ADS_1
Setelah makan siang bersama Ace dan gurunya, mereka pergi ke hutan untuk berlatih.
Selama perjalanan menuju hutan, Asta merasa ada yang aneh. Sepertinya hanya mereka berdua yang dapat melihat Flares. Tidak ada seorang pun yang bertanya tentang kehadirannya.
Ketika mereka tiba di sisi air terjun di hutan, Asta mengungkapkan rasa keheranannya, "Guru, sepertinya hanya kita berdua yang bisa melihatmu. Mengapa begitu?"
"Tentu saja. Itu karena aku hanya seorang roh, jadi siapa yang bisa melihatku tergantung pada kehendakku," jawab Flares dengan santai.
"Tapi daripada memikirkan hal itu, lebih baik kamu bersiap untuk latihanmu yang dimulai hari ini. Harap diingat, latihanku tidaklah mudah," tambahnya.
Flares menjentikkan jarinya, dan sesuatu keluar dari kalung yang tergantung di lehernya. Asta terkejut dan baru menyadari ada kalung di lehernya.
"Guru... Aku merasa latihan ini terlalu sulit, bisakah kita menggantinya dengan yang lain...?" tawar Asta, melihat daftar latihan yang diberikan oleh gurunya.
"Tentu saja tidak bisa," jawab Flares singkat.
Raga Tubuh merupakan struktur yang membentuk tubuh makhluk hidup. Raga Tubuh terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Darah, Tulang, dan Otot.
Tingkatan Raga Tubuh terdiri dari 10 Ranah. Meskipun ada kesamaan dengan Ranah Kultivasi, Tingkatan Raga Tubuh hanya mencapai tingkat Tetua Langit.
Terdapat beberapa metode untuk meningkatkan Raga Tubuh, termasuk menggunakan metode umum, menggunakan Tanaman Obat, atau mengonsumsi Pil Obat.
Metode umum meliputi membersihkan darah, menguatkan tulang, dan memperbaiki otot. Untuk mencapai Tingkatan Raga Tubuh tingkat 1, langkahnya adalah memperkuat ketiga komponen tersebut hingga mencapai 10 persen, dan seterusnya.
Latihan yang panjang dan intens dimulai bagi Asta. Daftar latihan itu termasuk berlari menaiki dan menuruni gunung dengan beban yang semakin berat, berdiri di bawah air terjun sambil mengangkat beban, serta latihan-latihan berat lainnya yang tampak tidak manusiawi. Latihan yang ekstrem itu sering kali membuat Asta hampir kelelahan setengah mati.
Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, tiga bulan berlalu begitu saja. Asta benar-benar mengalami peningkatan yang signifikan pada postur tubuhnya. Berkat bantuan Flares, Asta juga mampu memahami metode pernapasan sederhana tersebut.
Hari ini, Flares mengakhiri latihan mereka karena latihan tersebut sudah tidak memberikan manfaat lagi bagi Asta.
"Untuk menghindari kecurigaan bahwa kamu berlatih denganku, pergilah ke rumahnya dan bertanyalah seolah-olah kamu baru memahami tentang metode pernapasan itu," ujar Flares, dan Ace setuju dengan rencana tersebut. Asta pun bergegas bersiap-siap menuju kediaman Helio Utake.
---
"Ohh... jadi bagaimana kabarmu sekarang? Sepertinya kamu terlihat rajin berlatih, ya?" sapa Kenshin saat melihat siapa yang datang mengunjunginya.
Kenshin Utake, berusia 7 tahun, merupakan seorang anak yang pemberani dan memiliki jiwa kepemimpinan. Ia adalah putra dari Helio Utake.
"Tentu saja. Rasanya tubuhku terasa ringan," ujar Asta sambil meregangkan badannya.
"Kemana ayahmu...?" tanya Asta, mencari Helio Utake.
"Ayah sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Tunggu sebentar," jawab Kenshin, menyuruhnya untuk menunggu.
Tak lama kemudian, Kenshin kembali. "Aku benar-benar terkejut saat ayahku berbicara tentangmu. Aku ingat kau dulu menolak ajakan ayahku, bukannya begitu...?" tanya Kenshin.
"Ya, dulu aku merasa bahwa berkultivasi sangat melelahkan. Jadi, aku memutuskan untuk menolak saat itu," jelas Asta.
"Kalau begitu, semangatlah untuk mengejar tingkatanku sekarang. Aku adalah kultivator puncak Ranah Pemula sekarang," ucap Kenshin, dengan sedikit sombong.
"Pffttt... hahaha...! Dua tahun hanya untuk mencapai Ranah Pemula? Kau sepertinya malas berlatih," kata Asta, memanggil Ace mendekat.
"Ace, kuharap kau membantuku dan juga Paman Helio untuk memberikan sedikit hukuman pada anak nakal yang sering malas-malasan ini," pinta Asta. Tanpa ragu, Ace langsung menuruti permintaannya.
"Sialan kau, Asta...!!" teriak Kenshin, berlari menjauh saat Ace mencoba menangkapnya.
Asta tertawa terbahak-bahak menikmati situasi tersebut, hingga akhirnya Ace berhasil menangkap Kenshin. Kenshin berusaha melindungi kepalanya dari cakaran Ace.
Beberapa saat kemudian, Helio datang dengan nampan penuh makanan dan minuman. Asta meminta Ace untuk melepaskannya.
"Sialan kau!" keluh Kenshin sambil mendengus kesal.
Asta tidak peduli dan lebih memilih untuk makan dari nampan yang ditawarkan oleh Helio.
"Jadi... Apa kau sudah memahaminya sekarang...?" tanya Helio.
Asta mengangguk cepat, "Ya, aku sudah memahaminya dan bahkan sudah bisa melakukannya," jawab Asta dengan tegas.
"Baiklah. Ikuti aku, ada sesuatu yang akan kukunjukkan padamu," ajak Helio. Ace dan Kenshin pun juga mengikutinya.
Helio membawa mereka masuk ke dalam ruangan yang mirip dengan perpustakaan di kediamannya.
"Apa kamu memiliki minat dalam bela diri atau hal lainnya...?" tanya Helio.
"Untuk membantumu menapaki jalan kultivasi yang kamu pilih, aku akan memberikanmu satu set seni surgawi," ujarnya.
Seni Surgawi adalah sebuah catatan yang ditulis oleh para pendahulu untuk generasi berikutnya. Seni Surgawi mencakup Teknik Bertarung, Susunan Roh, Resep Pil, Cetak Biru Artefak, Teknik Roh, Domain, dan Teknik Kultivasi.
Seni Surgawi terdiri dari 7 jenis, yang diurutkan dari yang terendah hingga tertinggi:
1. Rendah
2. Menengah
3. Tinggi
4. Bumi
5. Langit
6. Legenda
7. Dewa
Setiap jenis Seni Surgawi memiliki 3 tingkatan, yaitu:
1. Putih
2. Emas
3. Hitam
__ADS_1
Sebelumnya, Asta memang belum pernah mempelajari seni bela diri apa pun atau memiliki ketertarikan kecuali berburu.
"Bagaimana denganmu...?" Asta mencoba bertanya kepada Kenshin untuk mengetahui seni bela diri apa yang ia pelajari.
"Aku tertarik pada seni berpedang. Namun, aku tidak hanya fokus pada ahli pedang, tetapi juga menekuni jalan sebagai Master Roh. Apakah kamu tertarik untuk mengikutiku...?" ujar Kenshin sambil mengangkat kedua alisnya.
Asta membuka matanya lebar, "Kalau begitu, bisakah kau menunjukkan sejauh mana kemampuanmu? Aku sangat penasaran ingin melihat hasil dari latihanmu selama ini," ujarnya ingin mencoba pemahaman teknik berpedang Kenshin.
Helio tersenyum senang melihat mereka berdua bersemangat, "Kalau begitu, kamu tidak boleh menolak tantangannya, Kenshin," ujar Helio.
Mereka kemudian dibawa ke halaman belakang kediaman Helio untuk melakukan pertarungan latihan.
"Terlalu berlebihan jika kita menggunakan pedang asli dalam pertarungan ini. Bagaimana jika kita menggunakan pedang kayu...?" Kenshin menyodorkan sebilah pedang kayu sambil meremehkannya.
"Hahh...?!! Kayu...?! Bagaimana mungkin kau melatih seni berpedang jika kau tidak mampu mengangkat sebilah pedang?" ucap Asta, meremehkan pedang kayu tersebut. Helio tertawa kecil mendengarnya.
"Baiklah! Tapi jangan salahkan aku jika kau terluka nantinya. Karena kau yang meminta ini sendiri," ujar Kenshin dengan percaya diri.
Kenshin pergi sejenak untuk mengambil pedang aslinya sementara Asta melakukan pemanasan sebelum bertanding.
Tak lama kemudian, Kenshin kembali dengan dua pedang di tangan kanan dan kirinya. Ia menawarkan salah satu pedang kepada Asta, namun Asta menolaknya dengan tegas.
"Tujuanku untuk menantangmu bukan untuk beradu pemahaman dalam ilmu pedang. Aku ingin merasakan hasil latihanmu dalam seni berpedang selama ini. Jika pertarungan bertujuan untuk beradu pemahaman, maaf, aku menolak karena aku belum pernah mengayunkan sebilah pedang sebelumnya," jelas Asta.
"Nampaknya kau benar-benar meremehkan kemampuanku. Jika begitu, tunjukkan semua kemampuanmu padaku. Aku tidak akan menahan diri darimu," ucap Kenshin dengan tegas.
Helio kemudian memerintahkan mereka untuk bersiap-siap memulai pertarungan.
"Jangan kecewakan aku, Asta...!!"
"Seharusnya itu kata-kataku...!"
Dalam sekejap, Kenshin menghilang dari pandangan Asta. Asta terkejut saat tiba-tiba Kenshin berada di depannya.
"Seni Surgawi Rendah Emas! Tebasan Jiwa...!" teriak Kenshin dengan keras, menyebut nama jurusnya.
Dengan cepat, Asta menundukkan kepalanya saat sebilah pedang melesat di atas kepalanya. Kenshin terus melancarkan serangan dengan tebasan demi tebasan. Asta benar-benar kewalahan dan berguling menjauh dari jangkauan serangan tersebut.
Kenshin bisa membaca pikiran Asta. Ia tidak membiarkan Asta melarikan diri dari jangkauan serangannya, meskipun Asta mencoba menghindar dan berguling ke sana-sini. Kenshin terus maju dan melancarkan serangan bertubi-tubi. Serangan demi serangan terus menghujani Asta, membuatnya kesulitan untuk menghindarinya.
Di samping mereka, Helio memperhatikan gerakan Kenshin dan Asta dengan saksama untuk digunakan sebagai bahan evaluasi bagi mereka berdua.
"Kenshin nampaknya menahan diri untuk membuatnya malu. Jika dia benar-benar serius, sebenarnya tidak sulit baginya untuk mengalahkan Asta yang belum pernah mempelajari cara bertarung," batin Helio sambil mengevaluasi Kenshin.
"Bukankah sudah kukatakan...! Kerahkan semua kemampuanmu, Asta!" seru Kenshin sekali lagi menghilang dari pandangan.
Sebenarnya Kenshin tidak benar-benar menghilang, gerakannya hanya terlalu cepat sehingga mata Asta sulit mengikutinya. Jadi yang terlihat oleh Asta adalah Kenshin seakan-akan menghilang dan muncul kembali dengan bebas. Tetapi Helio, yang mampu melihat gerakannya, tentu saja tahu di mana Kenshin berada.
Dengan tangkas, Asta menundukkan kepalanya untuk menghindari serangan Kenshin yang datang dari belakang. Dengan penuh keyakinan, Asta melancarkan pukulan, yakin bahwa Kenshin masih berada di belakangnya. Namun sayangnya, perkiraan Asta meleset, Kenshin sudah tidak berada di sana.
"Refleksmu sangat bagus. Namun sayangnya pukulanmu tidak akan pernah berhasil menyentuhku," ujar Kenshin dengan senyuman kemenangan.
Kenshin kemudian menyentuh punggung Asta dari belakang. Terlihat bahwa pedang yang digunakan Kenshin sebelumnya sudah diletakkannya di samping pedang yang lain.
"Sial! Aku menyerah..!" Asta mengangkat kedua tangannya sebagai tanda pengakuan kekalahan. Helio kemudian menyuruh mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan diri.
Helio membawa air dari dalam rumah untuk mereka berdua. "Bagaimana? Apakah kamu tertarik dengan seni berpedang?" tanya Helio.
"Seni berpedang memang menarik bagiku. Namun..." Asta sengaja memberi jeda dalam ucapannya dan menatap Kenshin.
"Apa...?" tanya Kenshin.
"Aku melihat ada banyak celah dalam setiap seranganmu yang dapat dipatahkan dengan gerakan sederhana. Hanya saja, tubuhku masih belum mampu melakukannya," lanjut Asta.
Mendengar itu, Kenshin tertawa, "Berhenti berpura-pura seolah-olah kamu bisa membaca gerakanku saja," menurutnya Asta sedang berusaha membangun kembali kepercayaan dirinya setelah kekalahan yang memalukan.
"Lalu, teknik bertarung seperti apa yang ingin kamu pelajari? Jika kamu ingin menjadi seorang Master Roh, tidak ada yang dapat aku berikan padamu. Jalan seorang Master Roh bergantung pada pemahamanmu sendiri," ulang Helio pertanyaannya.
"Apakah Paman bisa mengajariku teknik bertarung tangan kosong...? Bagiku, tangan dan kaki sudah menjadi senjata yang kuat sejak lahir," tanya Asta dengan sedikit basa-basi. Ia tahu bahwa Flares telah berjanji untuk mengajarkannya teknik bertarung yang hebat.
"Paman tidak terlalu mahir dalam seni bertarung tangan kosong. Namun, sepertinya aku memiliki Seni Surgawi yang mungkin bisa membantumu dalam hal itu. Setidaknya, Seni Surgawi ini setara dengan teknik pedang yang digunakan Kenshin tadi," jawab Helio.
Helio kemudian pergi ke dalam kediamannya untuk mengambil Seni Surgawi tersebut.
"Ini yang bisa aku berikan untuk teknik bertarung tangan kosong. Namanya adalah Seni Surgawi Rendah Emas Pukulan Peremuk Raga. Meskipun hanya teknik bertarung tingkat rendah, namun kekuatannya tetap tergantung pada kemampuanmu sendiri," jelas Helio sambil memberikan Seni Surgawi tersebut kepada Asta.
"Sedangkan ini adalah Seni Surgawi Langit Hitam Kultivasi Api Membara. Ini adalah Seni Surgawi yang berisi teknik kultivasi. Dengan ini, peningkatanmu akan menjadi signifikan," jelas Helio tentang Seni Surgawi yang lainnya. Ia memberikan Asta dua set Seni Surgawi, satu untuk teknik bertarung dan satu untuk metode kultivasi.
"Terima kasih, Paman!" ucap Asta dengan penuh terima kasih atas pemberian Seni Surgawi tersebut.
Setelah selesai, Asta membangunkan Ace yang sedang tertidur pulas. Mereka berpamitan dengan Helio dan Kenshin untuk segera kembali berlatih.
"Ahh... Begitu. Itu sebabnya pedangku menjadi begitu panas. Bahkan aura alami pun dapat memiliki dampak seperti itu. Bagaimana jika Asta menggunakan kekuatan esensi rohnya?" ujar Kenshin setelah Asta pergi.
"Lebih baik fokus pada dirimu sendiri daripada terus memikirkannya. Kamu tidak akan pernah tahu kapan Asta dapat mengejarmu," ujar Helio memberikan nasehat kepada Kenshin.
Helio kemudian pergi, meninggalkan Kenshin yang masih terdiam memandangi pedangnya.
---
Sesampainya di hutan, Asta membuka Teknik Kultivasi Api Membara yang didapatnya dari Helio.
"Apakah kau ingin mencobanya?" tanya Flares yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Tentu saja. Ini adalah hadiah dari Paman Helio untukku. Bagaimana mungkin aku tidak mencobanya?" Asta mulai mengikuti setiap langkah yang tertulis dalam Seni Surgawi Api Membara.
Beberapa jam berlalu sejak Asta mulai berkultivasi dengan Seni Surgawi tersebut. Meskipun ia berhasil memahami esensi rohnya dan meningkatkan kultivasinya ke Ranah Pemula, ia merasakan peningkatan yang signifikan dalam menyerap sumber surgawinya.
"Ini...?! Bukankah ini terlalu mudah! Sekarang aku hanya setengah langkah lagi menuju menjadi Master Roh Pemula! Sungguh luar biasa! Aku bahkan bisa melatih Teknik Bertarung Pukulan Peremuk Raga sekarang," ujar Asta dengan kegirangan. Flares tersenyum senang melihatnya.
Asta membuka Seni Surgawi Rendah Emas Pukulan Peremuk Raga untuk mempelajarinya juga.
__ADS_1
"Dengan ini, jalanku menuju puncak tidak akan lama lagi. Ayah, Ibu... Tunggulah aku. Aku pasti akan membalaskan dendam kalian berdua..." gumamnya dengan tekad dalam hati.