Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch63 Usai Pertandingan Final


__ADS_3

Karena Asta juga sudah tak sadarkan diri maka pertandingan final turnamen seni bela diri pun berakhir dengan kemenangan untuk Hao Chen.


Turnamen pun dibubarkan, pemberian hadiah akan di lakukan pada esok hari di aula istana kekaisaran ketika para pemenang juga sudah memulihkan kondisi masing-masing.


"Akhhh-!! Sial..!! Perasaan sakit yang sama lagi..?!!" Asta meringis pelan sembari memegangi kepalanya.


"Sepertinya aku kalah dalam pertandingan itu.." gumamnya samar-samar Asta sadar sudah tak lagi berada di arena turnamen.


---


"Manager bagaimana keadaanya sekarang apa anda yakin putra kami baik-baik saja..?" Tanya Misaki risau dengan keadaan Asta yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri selama pertandingan final berlangsung.


"Jangan khawatir ia baik-baik saja. Jiwanya hanya sedikit terluka karena ia memaksakan diri untuk menggunakan pedang tersebut," ujar Manager menenangkan mereka.


"Lalu kapan Asta akan siuman?" Rai Ken gantian bertanya.


"Kapan? Sebentar lagi juga dia akan keluar dari sana," jawab Manager sembari menunjuk ke arah pintu.


Gagang pintu itu bergerak seperti ada yang hendak membukanya.


"Manager..!!! Apa kau di dalam..?!! Dimana kau sembunyikan pedang iblis malam itu..?!" Teriak Asta dari luar mencari pedangnya yang kini memang ada di samping Manager.


"Masuklah! Kebetulan Patriark Rai dari Sekte Kobaran Api Sejati dan Matriark Misaki dari Sekte Tanah Neraka Keabadian ingin menemuimu!"


"Siapa?!"


"Orang yang menyelamatkanmu di arena!!"


Sesaat Asta membuka pintu ruangan Misaki langsung berlari kearahnya.


"Maafkan ibu.. karena ibu yang terlalu lemah.. kau harus menjalani kehidupan yang menderita.." Misaki memeluknya dengan sangat erat seolah-olah ia tak ingin melepaskannya lagi.


Kepalanya masih pusing dan penglihatannya pun samar-samar, ditambah Misaki dan Rai yang masih mengenakan topeng Asta benar-benar belum menyadarinya. Ia memang merasa pernah mendengar suara itu tapi ia sedikit lupa siapa pemiliknya.


"Tunggu sebentar ibu Matriark, kepalaku masih agak pusing dan penglihatanku juga masih agak samar-samar. Meskipun aku tak tahu mengapa Matriark tiba-tiba saja meminta maaf padaku tapi aku sungguh berterimakasih karena telah menolongku. Sedangkan untuk Patriark Rai aku ada......ayah.." Asta menghentikan ucapannya ketika Rai memperlihatkan wajah aslinya. Ia tak bisa berkata-kata lagi air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.


"Sepertinya agak kurang pantas jika aku tetap disini, pedang ini aku bawa dulu. Sebelum kau benar-benar mampu aku tak akan memberikannya padamu lagi," Manager pun beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Lama tidak berjumpa sepertinya putra ayah sudah menjadi lelaki yang hebat,"


"I..ibu..?"


"Iya Asta, ini ibu,",


Misaki ikut melepas topengnya memperlihatkan wajahnya. Tak bisa berkata-kata lagi Asta pun memeluk ibunya dengan sangat erat dan menangis sekeras-kerasnya di pelukannya. Perasaan pilu, rindu serta keinginan untuk bertemu dengan mereka membuatnya tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis sekeras-kerasnya di pelukan ibunya.


"Ibu.. aku.. aku kangen ibu.. juga.. juga ayah...aku.. aku khawatir.. aku takut... Ibu.. dan ayah.. kenapa-napa..."


Misaki memeluk Asta dengan erat membiarkannya menangis sekeras-kerasnya. Disisi lain Rai Ken pun tersenyum dengan bahagia bertemu dengan putra mereka lagi.


Asta tak pernah menduga sedikit pun pertemuannya saat ini. Misaki memeluk Asta degan sangat erat membiarkannya menangis di pelukannya. Tangisan haru mengisi ruangan tersebut.


---


"Pertemuan dengan seseorang yang sangat di rindukan memang sangat mengharukan," gumam Manager Row pelan sembari menutup pintu ruangan.


"Apa Kakak Row sudah selesai dengan mereka?"


"Tentu. Dimana Kakak Hao..?"


"Kakak sudah menunggu kita di ruangan itu. Kakak bilang ia tak akan bicara dulu sebelum Kakak Row juga ikut bergabung dalam ruangan,"


Setelah keluar dari ruangan tersebut Kaisar Arkhan sudah menunggu Manager Row menyelesaikan urusannya. Ada hal penting yang harus mereka bahas bersama dengan Hao Ryun, karena kemunculannya kembali adalah tanda-tanda adanya suatu bahaya yang harus mereka hadapi.


---

__ADS_1


Satu jam berlalu kini Asta sudah terlihat tenang dan tengah berbicara bersama dengan kedua orangtuanya.


Mereka bercanda dan tertawa riang gembira sambil berbagi cerita. Asta menceritakan tentang perjalanannya selama ini dimulai dari latihannya bersama Helio dilanjutkan dengan latihan di Lembah Neraka hingga beberapa waktu yang lalu mereka pun pergi keluar meninggalkan Lembah Neraka untuk mengikuti Turnamen Seni Bela Diri.


Asta juga bercerita mengenai perkemahan Goblin yang ia hancurkan bersama dengan Helio juga ketika ia di Kota Tiandu.


"Dimana Haru dan Eni mengapa mereka berdua tidak iku?" Tanya Asta baru teringat lagi dengan dua serigala itu.


"Haru dan Eni? Mereka berdua tinggal di sekte untuk menjaga sekte. Jadi mereka berdua tak ikut kemari," ujar Rai.


"Lagipula mereka berdua sebenarnya tidak sama dengan Ace yang lebih suka berpetualang. Meskipun mereka dari ras yang sama Haru dan Eni lebih suka berdiam di rumah," sambung Misaki.


"Asta apakah kau sekarang ingin ikut ayah dan ibu pulang ke rumah? Kita pelajari Kitab Dewa Api Kegelapan bersama-sama," Ujar Rai.


Asta sedikit tersentak mendengarnya,"Ayah, Ibu sebelumnya aku minta maaf kepada kalian. Tapi aku tidak bisa pulang lagi ke rumah lagi, aku akan pergi berlatih bersama guruku. Aku sudah berjanji pada guru akan membantunya sebisaku," Asta menghela nafasnya pelan.


"Guru..? Maksudmu bukan Manager Row kan..?" Misaki heran pikirnya Manager Row lah yang kini sedang melatihnya.


"Bukan. Aku dan Manager Row sebenarnya bukan murid dan guru. Manager memang pernah membantuku dalam hal kultivasi namun hubunganku dengan Manager tak lebih dari saudara seperguruan,"


"Heii!! Asta apa yang kau bilang bagaimana jika Manager Row mendengar suaramu-!!" Ujar Misaki terkejut.


"Asta meskipun kau sudah mengenal Manager Row dengan baik tapi ia bukan orang yang bisa kau jadikan candaan," Rai ikut menegur.


Asta pun menatap heran wajah mereka yang langsung memucat.


"Aku tidak berbohong. Entah itu Manager, Kaisar ataupun Paman Hao mereka bertiga adalah kakak seperguruan ku. Mereka bertiga sendiri yang mengatakannya begitupun yang pernah guruku ucapkan," Asta menegaskan mereka.


Misaki menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Rai memijat keningnya bingung harus bagaimana lagi.


"Asta apa gurumu ini orang yang suka bercanda?" Tanya Rai Ken.


"Heemm. Dia juga kejam. Hukuman yang ia berikan seringkali tak masuk akal. Dia juga pemalas. Namun bernafsu makan besar. Tapi dia juga sangat kuat. Lebih-lebih dari Paman Hao, Manager dan Kaisar Arkhan. Namun tak seperti mereka yang memanggil guru dengan sebutan master, aku tetap memanggilnya guru,"


"Apa kejam..?! Apa yang ia lakukan terhadapmu, hukuman seperti apa dan mengapa kau masih terus berguru padanya kalau kau tahu dia kejam dan tak manusiawi," ujar Misaki khawatir.


"Pfftt.." Rai Ken dan Misaki menahan tawanya setelah mendengar hal itu. Mereka pikir hukuman di cambuk atau bagaimana yang gurunya lakukan terhadap Asta.


Rai Ken yang sebelumnya juga ikut khawatir dengan kondisi Asta yang mengatakan gurunya kejam dan tak manusiawi sekarang tak bisa berkata apa-apa selain menahan tawanya keluar.


"Apa yang ibu dan ayah tertawakan aku bicara jujur soal itu," tegas Asta karena berpikir mereka tak mempercayai ucapannya.


"Ayah dan Ibu percaya kok apa yang Asta ucapkan," Misaki masih berusaha menahan tawanya.


Setelah kurang lebih satu jam mereka berbincang dan Asta juga tak ingin ikut mereka pun pergi meninggalkan istana kekaisaran.


"Istana ini sangatlah luas aku harus bertanya pada seseorang kemana Manager Row pergi,"


Asta pun berjalan keluar dari ruangannya mencari seseorang yang tahu dimana Manager Row pergi, namun tak satupun pelayan ataupun kasim yang tahu dimana ia berada.


"Sepertinya aku hanya bisa kembali ke penginapan, tapi sebelum itu aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu,"


Asta kembali ke ruangannya dimana ia baru saja terbangun dari pingsannya, ia mengambil secarik kertas dan menuliskan beberapa pesan untuk Kaisar Arkhan yang telah menyelamatkannya dan memberinya tempat Istirahat.


"Moegi..? Apa yang sedang ia lakukan di jalanan pasar,"


Melihat Moegi yang sedang berjalan-jalan di jalanan pasar Asta pun menghampirinya, dari belakang Asta menepuk pundak kanannya.


"Siapa kau breng.... Ehh Asta kupikir siapa," dengan sigap Moegi langsung mengambil tangan tersebut dan hendak memukul Asta, namun ketika sadar orang itu adalah Asta ia tersenyum canggung padanya.


"Lain kali jangan mengagetkanku seperti tadi aku bisa saja memukulmu kalau seperti itu," Asta pun tertawa kecil mendengarnya.


Sikap Moegi memang sedikit berubah padanya namun sikap galaknya sepertinya akan tetap ada jika itu kepada orang lain.


"Sendirian saja kemana yang lain..?" Tanya Asta heran mengapa ia hanya menemukan Moegi yang sedang berjalan-jalan sendirian di pasar.

__ADS_1


"Mereka sedang bersama dengan Kenshin aku bosan di sana jadi aku pergi ke pasar untuk melihat-lihat sampai akhirnya aku juga bertemu denganmu," Moegi menampilkan wajah senyumnya yang manis dan menawan, namun sayangnya ia tak pernah memperlihatkan senyumannya tersebut.


"Bagaimana dengan lukamu kenapa kau berada di sini bukankah kau mengalami luka dalam dari pertarungan tadi siang mengapa kau sudah berjalan-jalan di pasar," ucap Moegi menanyakan kondisi tubuhnya.


Aku sudah baik-baik saja dan lebih dari mampu untuk hanya sekedar berjalan-jalan di pasar," jawab Asta sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu," tanpa berkata-kata lagi Moegi langsung menarik tangannya, Asta pun pasrah menemaninya berkeliling.


Dari jauh rupanya Kenshin dan yang lainnya juga baru sampai di jalanan, melihat Asta berduaan mereka pun tersenyum jahil.


"Moegi tadi aku bertemu dengan Patriark dan Matriark, ketika mereka bertanya kemana kau pergi aku bilang padanya kalian berdua akan jalan-jalan di pasar. Matriark tersenyum tipis mendengarnya,"


Secara bersamaan mereka menengok kebelakang dimana ternyata mereka berlima mengikutinya dari belakang sedari tadi.


"Baru saja aku bertemu dengan ibu tadi sekarang apa yang harus aku katakan padanya," batin Asta kebingungan.


Moegi langsung berlari melepaskan tangan Asta mengejar Zaraki yang sudah pergi lari duluan.


"Kau brengsek..!!! Jangan pergi kau..!!!" Sambil tertawa keras Zaraki terus berlari menghindarinya.


Asta pun berjalan mendekat ke arah mereka. "Apa kalian bertemu dengan ayah dan ibuku sebelum kemari," tanya Asta penasaran apakah Zaraki berbohong seperti biasanya atau tidak.


"Ehhh..?!! Kau sudah tahu..?!" Ucap mereka berempat bersamaan.


Asta pun langsung memukul kepala mereka berempat. "Apanya yang sudah tahu, tentu saja aku harus tahu. Dasar brengsek bukannya memberitahu ku kalian malah merahasiakannya," ujar Asta kesal.


Mendengar hal itu mereka berempat tersenyum serba salah karena itu semua memang Rai Ken lah yang telah mengaturnya bahwa jangan sampai Asta tahu sebelum Rai sendiri yang menemui Asta dan memberitahukan identitas nya.


"Lagipula sekarang kau juga sudah tahu kan jadi semuanya sudah kelar sekarang," ujar Kesha sambil tersenyum.


"Bukankah kau sedang terluka mengapa kau memaksakan diri ke pasar, apa ini semua hanya untuk bertemu dengan Moegi..?" Tanya Kenshin begitu juga dengan Gao Li dan Shiro yang ikutan bertanya beberapa hal padanya.


"Sialan apa kalian hendak mengalihkan pikiranku, cepat jawab aku apa kalian bertemu dengan ayah dan ibu ku sebelum kesini..?!" Tanya Asta mulai kesal.


Bukannya menjawab pertanyaan tersebut mereka berempat malah terkekeh.


Melihat hal itu Asta pun semakin geram, ia mengepalkan tangannya dan memukul kepala mereka berempat sekali lagi.


"Sudah kubilang apa yang kalian katakan pada ayah dan ibuku cepat jawab..?!!" Tanya Asta kesal.


"Baiklah baik akan aku katakan, tapi sebelum itu berjanjilah pada kami kalau kau takkan menemuinya terlebih dahulu, oke," ucap Gao Li.


"Gao Li apa yang kau katakan apa kau ingin Patriark menghukum...."


"Berisik!! Lanjutkan!!" Asta memotong Kesha.


"Ini sebenarnya perintah ayahmu untuk tak memberitahukan identitasnya kepadamu, ia adalah Ketua Sekte Kobaran Api Sejati, sedangkan ibumu adalah Ketua Sekte Tanah Neraka Keabadian. Tapi sekarang kau juga sudah tau yang sebenarnya. Hanya menunggu waktu saja untuk kau bertemu dengan mereka jadi sepertinya sudah tak ada gunanya lagi kami merahasiakan ini," jelas Gao Li.


"Bukan itu yang ingin ku tahu. Lagipula aku memang sehabis bertemu dengan ayah dan ibu, yang ingin ku tahu apakah ucapan Zaraki tadi benar atau tidak," tanya Asta sekali lagi.


"Ehh...!! Jadi sekarang...!!"


"Cepat katakan pada ku apa yang kalian katakan kepada ayah dan ibuku saat kalian bertemu dengan mereka tadi..?!!" Tanya Asta kembali geram dengan mereka.


"Percayalah padaku Asta ini semua hanya ide Zaraki, kami berempat sudah menentangnya namun ia bersikeras untuk melakukannya. Kami tidak ikut-ikutan," ucap Kesha membela diri.


"Memangnya apa yang ia lakukan..?!" Tanya Asta.


"Ia mengatakannya dengan secara jelas bahwa kau dan Moegi ingin bertunangan secepat-cepatnya, Matriark bahkan sampai tersipu malu mendengar hal tersebut. Aku juga mendengar ucapan yang berkata 'pantas Asta tak mau ikut kita sekarang kemari jadi dia sudah punya janji' begitulah yang Matriark ucapkan," jelas Gao Li.


"Shiro apa benar begitu..?!" Tanya Asta pada Shiro.


"Heemm. Ide itu hanya Zaraki yang punya kami tak ikut-ikutan dan saat itu Patriark juga tertawa pelan mendengarnya sambil mengatakan 'anakku memang sudah mempunyai pikiran dewasa di usianya yang masih sepuluh tahun saja ia sudah terpikirkan untuk bertunangan, anak jaman sekarang memang dewasa sebelum waktunya' hanya itu sudah tak ada lagi yang lainnya," jelas Shiro.


Wajah Asta memerah tersipu malu mendengar ucapan tersebut.

__ADS_1


"Harus bilang apa aku pada ayah dan ibu nanti. Jika pun aku bilang kalau ini hanya candaan Zaraki mereka pasti takkan percaya,"


__ADS_2