Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 027 Sedikit Pelajaran (revisi)


__ADS_3

"Guru...!!! Kau mengerjai ku...!!!" teriak Asta sambil berlari dengan cepat dan panik. Namun, domba-domba tersebut tidak membiarkannya pergi begitu saja. Sangat jelas dari raut wajah mereka bahwa mereka tengah marah. Kehadiran Asta yang mengganggu waktu makan mereka telah membangkitkan amarah para domba-domba itu. Mata domba-domba itu menyala-nyala, dipenuhi emosi dan dendam.


Flares terkikik puas, lalu berlari mendahului Asta di depan. "Nak, berhati-hatilah dengan mereka! Asalkan kau tahu, mereka sangatlah buas..!" serunya dari depan sambil terus menertawakan Asta yang berlari mati-matian menghindari domba-domba itu.


Asta merapatkan giginya kesal. "Guru! Apa-apaan kau ini! Kau sungguh tak berperikemanusiaan!" teriak Asta dari belakang.


"Untuk apa guru berperikemanusiaan sedangkan guru hanyalah segumpal roh!" ujar Flares balik sambil terus tertawa.


"Jangan lupakan tugasmu! Kau yang menangkap mereka, atau mereka yang menangkapmu..!!" ujar Asta.


Asta berdecak kesal, mana mungkin ia bisa melakukannya. Gurunya benar-benar tak pernah bosan mengerjainya. Namun, karena tak punya pilihan lain, Asta berbalik menghadap mereka, mencoba keberuntungannya untuk melumpuhkan mereka.


Asta bersiap dengan pukulan yang diperkuat seni peremuk raga, untuk melancarkan serangan. Namun sebelum itu, dari arah depan Flares juga ikut berbalik, ia menjentikkan jari ke arah Asta. Peluru angin dengan kecepatan tinggi datang ke arahnya.


Asta menundukkan kepala, berpikir bahwa Gurunya hendak membantunya. Namun saat ia mengangkat kepalanya, domba-domba itu nampak tersenyum karena akhirnya berhasil mengejarnya. Asta dihantam tanduk salah satu domba dan terbang terlempar ke udara.


"Bukankah Guru sudah memberitahukanmu aturannya, bahwa kau tak boleh menyakiti mereka. Dan kau malah berpikiran hendak melumpuhkannya," seru Flares dari depan.


Setelah satu jam kemudian, domba-domba itu pun kembali ke tempat asal mereka, setelah puas menghajar Asta.


Asta terlihat babak belur karenanya, untung saja domba-domba itu tak membunuhnya. Ia sangat bersyukur atas hal itu.


"Guru, kau benar-benar hampir membuatku terbunuh kali ini," protesnya kesal.


Asta merasakan tubuhnya sangat sakit di segala bagian. Bahkan ada beberapa bagian tubuhnya yang mati rasa. Domba-domba itu menjadikannya seperti sebuah bola yang mereka mainkan dengan tanduk mereka.


"Salahmu sendiri karena menggunakan metode asal. Sudah tahu mereka hewan ghaib dan kau sok hebat dengan metode asal-asalan. Bukannya menggunakan Domain Dewa Api Kegelapan, kau malah melakukan hal yang tak perlu sehingga membuat mereka sangat marah. Sebagai hewan ghaib, tentu mereka juga sadar akan siapa mereka. Namun kau malah meremehkannya dan lagi, mereka tengah makan, tentu saja hasilnya akan seperti tadi," jelasnya.


Asta tersenyum canggung, ia baru mengingat hal itu. Andai saja ia menggunakan Domain Dewa Api Kegelapan, mungkin hasilnya akan sedikit berbeda. Dan lagi, ia sekarang sudah bisa melakukan pelepasan hewan roh dengan potensi penuh. Mungkin ia benar-benar bisa melakukannya jika ia tak ceroboh.


"Apa kau sudah tahu dimana letak kesalahanmu?" tanya Flares melihat muridnya terdiam begitu lama.


"Eum, sekarang aku tahu kesalahan-kesalahanku sebelumnya, Guru. Jika seandainya aku melakukan pelepasan hewan roh dan pelepasan roh secara bersamaan, lalu melepaskan domain api dan domain dewata milik Ace, seharusnya akan sangat mungkin untukku menangkap mereka. Sekalipun tanpa menyakiti mereka," jawab Asta.


Flares tersenyum mendengar hal itu, setidaknya meskipun muridnya selalu bertindak ceroboh, namun ia cepat menyadari apa kesalahan dan kekurangannya dengan cepat. Tanpa harus ia yang mengoreksinya lebih jauh. Semakin hari pemahaman Asta semakin tinggi, yang membuat Flares tak perlu susah-susah menjelaskannya.


"Tetaplah tenang, guru akan mengoleskan krim penyembuh pada tubuhmu," ujar Flares pada muridnya yang sedari tadi hanya bisa tiduran di tanah.


"Terima kasih, Guru."


Flares kemudian mengeluarkan krim penyembuh dan mengoleskannya ke seluruh tubuh Asta yang memar. Sesekali ia menekan tubuhnya membuat Asta berteriak.


"Alirkan sumber surgawimu ke seluruh bagian tubuhmu, fokuskan konsentrasi pada penyembuhan. Guru akan pergi sebentar untuk mencari beberapa informasi yang mungkin bisa digunakan," kata Flares.


Asta mengangguk menuruti perkataannya dan membiarkan gurunya itu pergi entah kemana, melayang di atas langit lalu melesat hilang dengan sangat cepat di udara.


---


Satu tahun berlalu setelah Ace pergi, meninggalkan Asta bersama gurunya. Pemahaman dan pencapaian Asta terus meningkat pesat.


"Peningkatan yang signifikan. Dalam waktu satu tahun, ia hampir mencapai tingkat Master. Namun, untuk menerobos ranah Master bukanlah hal mudah. Ia masih harus bisa melakukan penciptaan roh untuk melakukannya," gumam Flares sepanjang jalan.


"Namun, apa yang membuatnya tidak terlahir dengan bakat yang tinggi? Tapi jika dilihat dari perkembangannya, seharusnya bakatnya tak terlalu buruk. Kalau tidak salah, itu karena..." Flares terdiam tanpa mampu berkata-kata. Sebuah api berwarna kehitaman memakan sebagian hutan di Lembah Neraka.


"Sudah kuduga! Andai bocah ini lebih sabar mungkin takkan seperti ini. Bocah nakal itu pasti sedang melakukan penciptaan roh secara asal. Ia benar-benar meremehkan Esensi Roh Dewa," Flares melesat dengan cepat menembus kobaran api tersebut. Matanya mencari keberadaan Asta, memastikan apakah ia selamat atau tidak.


Beruntungnya, Asta terlihat baik-baik saja. Flares bernafas lega melihat muridnya bermeditasi di tengah-tengah kobaran api tersebut. Alasan mengapa Flares lega adalah karena api itu adalah esensi rohnya sendiri, jadi tidak mungkin berefek padanya.


"Meskipun dengan kontrol dasar tingkat tingginya, mana mungkin bisa menciptakan ledakan roh sebesar ini. Alasan mengapa peningkatan kontrol dasarnya sangat lambat pasti dikarenakan terlalu fokus menggunakan dan menciptakan sesuatu tanpa mengendalikannya. Anak ini benar-benar ceroboh dalam berlatih," ucapnya.


"Tapi, siapa sangka ia hampir berhasil menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada penciptaan roh. Meskipun itu agak mustahil dengan ranahnya saat ini. Hukum surgawi bersifat mutlak dan tak bisa dilanggar di dunia ini. Jika aku terus membiarkannya lebih lama, bisa-bisa lembah ini berubah menjadi seperti namanya," tambahnya.


Flares berjalan mendekat di antara api tersebut tanpa kekhawatiran apapun, seolah-olah tengah berjalan-jalan di sebuah taman. Flares lalu memukul kepala muridnya agar segera terbangun dan menghentikan kebakaran hutan tersebut.


"Aaww..!!! Guru, apa yang kau lakukan..?!" ucap Asta kesal.


Seketika api padam tepat setelah Asta terbangun.


"Apa kau benar-benar berniat menjadikan lembah ini seperti namanya?! Kontrol rohmu tinggi, tapi kau tak mencoba mengendalikannya sama sekali," ujar Flares menegurnya.


Asta terkejut mendengar ucapan gurunya dan segera melihat area sekelilingnya. Benar saja, terlihat pepohonan disekitarnya hangus terbakar.


"Ehh... Kenapa bisa begini, ya," ucapnya pelan sambil memegang dagu tersenyum canggung.


"Plak...!!"


"Aduhh..!!! Guru, kenapa kau memukulku lagi..?" ujar Asta.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu untuk menciptakan teknik roh..?!" ujar Flares sambil mendelik tajam ke arahnya.


"Ehh...?!! Guru, apa kau lupa? Guru yang menyuruhku untuk berlatih, tapi kenapa sekarang guru menyalahkan ku..?!" ujar Asta membela diri.


Dengan cepat, Flares langsung menarik kuping Asta. "Memang guru menyuruhmu untuk berlatih. Tapi bukan berarti kau bisa melakukan segala hal mengenai esensi rohmu. Apa kau benar-benar ingin mati karena ulahmu sendiri, hah...?!"


"Aduduhhh... Guru, maafkan aku. Aku mengaku salah!" ujarnya meminta maaf.


"Benar-benar tak bisa ditinggalkan sendirian. Jika sekali lagi aku lengah, mungkin Lembah Neraka ini benar-benar akan menjadi seperti namanya," ujar Flares menggelengkan kepalanya.


"Guru, kontrol rohku mungkin tinggi. Tapi, entah mengapa aku tak terlalu memahami arti dari kata-kata yang tertulis di halaman pertama dan kedua Kitab Dewa Api. Saat aku mencoba memahaminya, yang kudapatkan bukanlah pemahaman, melainkan peningkatan kontrol rohku. Bisakah guru membantuku?" Tanya Asta.


Flares menyipitkan matanya tak paham. Jika kontrolnya meningkat, itu artinya ia telah memahami maksud dari halaman pertama dan kedua Kitab Dewa Api.


Flares menggosok rambutnya tak gatal, bingung dengan hal itu. "Kalau kontrolmu meningkat, itu artinya kau memahaminya. Memangnya bagian mana yang tak kau mengerti?"


Asta mengeluarkan Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan dari dalam cincin. "Ini dia. Memasukkan jiwa ke pikiran lalu menyelami hati dan mengalihkan perasaan. Bisakah guru jelaskan ini..?" Tanya Asta sambil menunjuk bagian yang tak ia mengerti.


Flares menghela nafas panjang. Meskipun Asta saat ini merupakan kultivator ahli, pemahamannya terhadap jalan surgawi masih sebatas anak kecil yang baru belajar berjalan.


"Baiklah. Guru akan menjelaskannya dengan jelas. Jadi, dengarkan apa yang guru katakan. Kau tidak sedang bermain-main juga, bukan?" Tanya Flares.


Asta memasang wajah masam,"Ayolah, guru. Untuk apa aku bermain-main. Kalaupun aku mengerti, mungkin sudah lama muridmu ini menguasai Api Kegelapan Membumbung Nirwana," Flares kemudian mulai menjelaskannya,"Memasukkan jiwa ke dalam pikiran, bermakna memasukkan roh ke dalam pikiran. Sekarang, pusatkan konsentrasi dan pikirkan sebuah jirah api yang menyelimuti tubuhmu,"


Asta langsung memikirkan sebuah bentuk jirah api yang ingin ia kenakan. Seketika rohnya aktif dan langsung membentuk sebuah jirah api.


"Lalu kalimat di halaman kedua, menyelami hati dan mengalihkan perasaan, bermakna memasukkan sumber surgawi, roh, dan lainnya ke dalam hati dan mengubahnya dalam bentuk perasaan. Sekarang coba pusatkan sumber surgawi di dalam tubuhmu, kemudian hempaskan keluar setelah itu terkumpul,"


Api yang menyelimuti tubuhnya berbentuk jirah secara perlahan kembali padam. Asta mencoba mengumpulkan seluruh sumber surgawi dan rohnya ke dalam hati.


"Lepaskan.." ujar Flares.


Asta menghempaskan kekuatan yang telah terkumpul, menciptakan hembusan angin kuat ke sekitarnya. Pepohonan di sekitar sampai roboh karenanya.


"Seharusnya kau sudah memahami hal ini sedari lama, dan bakatmu pun tak buruk. Hanya saja kau tak pernah memikirkannya sama sekali, yang kau pikirkan hanya metode untuk menciptakan sebuah teknik roh. Padahal kau sendiri belum cukup memenuhi persyaratan untuk bisa menciptakan teknik roh. Tujuanmu saat ini adalah menyelesaikan proses penciptaan roh terlebih dahulu. Dan halaman pertama yang baru kau pelajari berisi pemahaman untuk mencapai penciptaan roh dengan sempurna," jelas Flares.


"Jadi, apa aku harus fokus pada rohku saja?"


"Ya, untuk sekarang lebih fokuslah pada pengendalian roh-mu. Kontrol dasarmu telah mencapai tingkat tinggi, jika kau masih tak mampu menggunakannya, kau akan ditertawakan orang di luar sana. Untuk teknik roh, guru mempunyai banyak teknik roh yang berhasil guru ciptakan, namun guru takkan mengajarkannya padamu sekarang. Tujuanmu sekarang adalah untuk menstabilkan ranahmu di Ranah Ahli dan segera menyelesaikan semua prasyarat untuk menerobos ke ranah Master. Karena untuk menciptakan teknik roh, kau perlu menjadi seorang Master di jalan surgawimu," jelas Flares.


"Baiklah, guru. Mulai sekarang aku akan berfokus pada pengendalian rohku terlebih dahulu," ucap Asta dengan nada kecewa.


Asta pun mencoba mengingat kembali penjelasan gurunya. Namun kemudian,


"Heeeyaaahhhh....!!!"


Asta berteriak sangat kencang sambil membuka matanya. Flares menatapnya tajam melihatnya malah bermain-main.


"Ehh....?!! Mana sarung tinju apiku?! Kenapa tidak muncul?!" ucap Asta sambil menggenggam dan membuka telapak tangannya.


Flares pun hilang kesabaran dan memukul kepala Asta. "Heyah, heyah, matamu. Aku bilang hempaskan. Hempaskan. Bukan berteriak-teriak bodoh. Apa kau benar-benar tak memahami kata hempaskan. Sudah kukatakan fokuslah pada penguasaan, apa kau benar-benar tak mendengarkan gurumu, hah..!!!" ujar Flares kesal.


"Kalau kau benar-benar tak mengerti kata hempaskan, maka guru akan memperlihatkannya padamu sekarang juga. Apa itu yang dinamakan hempaskan. Diam dan perhatikan ini," lanjut Flares seketika menghempaskan energi.


Saking tiba-tibanya, Asta pun tak sempat mengantisipasi hal tersebut. Yang seketika itu juga membuat lapisan energi yang Ace berikan padanya hancur. Begitu pula dengan lautan surgawinya yang langsung berantakan hanya karena hempasan kekuatan dari gurunya.


"Apa-apaan itu, Guru sangat kuat. Padahal ia tak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Akh-!! Lapisan pelindung dari Ace, hancur. Bagaimana ini?! Tekanan tempat ini sangat kuat! Aku tak mampu menahannya lagi," gumam Asta dalam hati.


Disaat-saat Asta hampir tak sadarkan diri, ia merasakan tubuhnya kembali bisa bergerak dengan bebas di tempat tersebut. Asta lalu mendongakkan kepalanya dan melihat gurunya tengah menghela nafas pelan.


"Sungguh memalukan. Apa jadinya jika dunia tau bahwa roh dewa api pemakan cahaya terwariskan pada bocah bodoh sepertimu," ujar Flares, menyinggung Asta sambil menghela nafas berat.


Asta hanya tertawa kecil mendengar keluhan gurunya. Sebenarnya ia sudah paham makna dari penjelasannya sebelumnya. Namun, ia lebih senang ketika melihat gurunya bertingkah seperti itu. Karena itu, Asta mempermainkannya.


"Guru, sabar saja. Sebentar lagi aku pasti akan mengguncang seluruh Benua Alam Surgawi dan mengalahkan sang Dewa Api hingga merebut gelarnya. Guru lihat saja nanti," ujar Asta dengan sangat percaya diri.


"Oh, begitu rupanya. Kalau begitu, kenapa harus nanti? Bukankah sekarang kau bisa melakukannya?" ujar Flares sambil tersenyum meremehkannya.


"Lagipula, kau pikir siapa orang yang memiliki gelar sebagai Dewa Api di dunia ini?" tambahnya.


Asta pun tersenyum dan langsung segera berlari menjauh dari gurunya saat itu juga.


"Sia-sia kau berlari, Nak...!! Hahahaha...!!!" Flares langsung berlari mengejarnya dan dengan sekejap ia pun sampai di hadapan Asta.


"Guru, maafkan aku. Tadi aku hanya bercanda. Hanya bercanda," Asta pun langsung bersujud di depan gurunya, berharap gurunya tak memasukkan perkataannya ke dalam hati.


"Terlambat..!!"

__ADS_1


Dengan cekatan, Flares mengangkat salah satu kaki Asta dan memulai aksinya kembali memukuli bokong Asta.


"Murid kurang ajar seperti mu pantas dihukum. Bisa-bisanya kau berkata ingin mengalahkan gurumu sendiri dan merebut gelarnya tepat di hadapannya. Dasar murid durhaka. Benar-benar harus diberi pelajaran," Asta berteriak kesakitan, "Akhhh....!!! Ampun..!!! Ampun, guru...!!!! Aku bercanda...!!!!"


"Tidak akan...!!!!!" Balas Flares.


Hingga setengah jam kemudian, Flares benar-benar memukuli pantatnya tanpa berhenti sekalipun Asta berteriak-teriak. Asta pun memegangi bokongnya yang terasa berdenyut karena ulah gurunya tersebut.


Flares terlihat tertawa senang setelah berhasil memberinya sebuah pelajaran.


"Guru, kau benar-benar tak manusiawi, shh," ujar Asta.


"Untuk apa aku bersikap manusiawi. Lagipula aku kan sudah bukan manusia lagi," balas Flares lalu tertawa.


Asta benar-benar tak menyangka bahwa gurunya akan memukul bokongnya kembali. Saat ini, Asta bahkan tak bisa duduk dan fokus untuk berlatih. Rasa sakit di bokongnya benar-benar mengganggu konsentrasinya.


Melihat Asta yang ingin sekali duduk namun tak bisa, Flares pun tertawa terbahak-bahak melihatnya. Asta pun memasang ekspresi masam di wajahnya melihat kelakuan gurunya tersebut.


"Pulihkan saja dulu kondisimu. Barulah kita melanjutkan latihannya lagi," ujar Flares, lalu berjalan meninggalkannya.


Semakin jauh, Flares terdengar semakin keras tertawa. Asta pun kesal dengan sikapnya tersebut.


"Sialan, guru benar-benar sangat kejam! Bisa-bisanya dia melakukan hal memalukan seperti ini pada muridnya sendiri. Sudahlah, lebih baik aku memulihkan kondisiku terlebih dahulu. Guru pasti akan marah-marah terus kalau aku tak segera melanjutkan latihanku," gumamnya pelan, takut Flares mendengarnya.


---


Setengah jam berlalu, kondisi Asta sudah kembali pulih seperti semula. Namun, sampai saat ini gurunya benar-benar menghilang entah kemana dan belum kembali.


"Guru suka sekali menghilang meninggalkanku, kemana sebenarnya ia pergi," gumamnya heran.


Seketika, perutnya berbunyi pelan, dan Asta baru sadar ia belum makan apa-apa. Ia pun segera menyalakan api dan memasak sesuatu untuk dimakan.


Bahkan setelah ia selesai makan, Flares belum juga kembali. Karena ia belum kembali, Asta memutuskan untuk berlatih kembali.


"Apa mungkin guru sedang ada di sisi lain lembah?" gumam Asta sambil melihat ke dalam gua yang mengarah ke pintu masuk lembah.


Asta memusatkan konsentrasinya untuk menyelesaikan proses penciptaan rohnya. Sebenarnya, Asta sudah paham mengenai proses penciptaan roh sejak lama, namun yang ia pahami hanyalah menggunakan satu penciptaan dalam satu waktu. Sedangkan yang ingin ia pelajari adalah menggunakan dua penciptaan dalam satu waktu.


Namun, berkat penjelasan gurunya, sekarang ia sudah mengerti metode menggabungkan dua penciptaan dalam satu waktu. Karena jalan yang Asta lalui bukan hanya Jalan Roh, melainkan juga Jalan Tanpa Senjata, Asta ingin juga jalan bela dirinya sampai di tahap yang sama dengan rohnya. Dan yang ingin Asta lakukan adalah menyatukan keduanya.


Asta mencoba berkonsentrasi dan melakukan penciptaan tinjunya, secara perlahan Asta mencoba mengalirkan esensi roh ke dalamnya.


"Akhh..!!"


Asta langsung menghentikan latihannya ketika tangannya merasakan panas yang luar biasa. Asta menyadari apa yang dilakukannya masih terlalu tergesa-gesa dan buru-buru.


"Sepertinya aku harus menyeimbangkan kedua pemahamanku dan menyatukannya di dalam raga tubuhku. Kalau terus seperti ini, aku takkan bisa bertarung langsung menggunakan keduanya," gumamnya kesal.


Asta pun pergi lebih dalam ke dalam hutan, mencari keberadaan Gorila Gila yang merupakan hewan ghaib peringkat 5. Teman latihannya setiap ia ingin meningkatkan pengalaman bertarungnya.


Ketika Asta datang, Gorila itu tengah tidur siang di bawah pohon, menikmati ketenangan sebelum Asta datang mengganggunya.


"Hai, teman lama. Kulihat kau sedang menganggur, bagaimana kalau kita beradu tinju lagi," sapa Asta pada sang Gorila.


Gorila Gila itu pun bangun dengan sangat terkejut. Wajahnya terlihat marah saat Asta datang membangunkannya.


"Grrooaaarrr...!!!!"


Gorila itu bangun sambil menghantamkan kedua tangannya ke tanah. Asta membuka matanya lebar terkejut.


"Ehhh.. mengapa kau sangat marah. Aku hanya ingin berlatih, bukan hal yang lain," ujar Asta, bersiap.


Tinju tangan besar gorila pun datang, Asta pun membalasnya dengan tinju yang telah mencapai tahap penciptaannya. Tak ada salah satu dari mereka yang kalah, tinju keduanya sama-sama kuat.


"Kau sangat ganas. Apa kau tak bisa bersikap lebih lembut?"


Gorila itu tak peduli dengan apa yang Asta katakan, ia hanya fokus memberikan serangan.


Setelah beberapa serangan, Asta terdorong mundur beberapa langkah. Bagaimanapun juga, Gorila itu berada dua tingkat di atasnya.


Saat tinju Gorila itu hampir mengenainya, secara tak sengaja Asta melakukan hal yang ingin ia lakukan, yaitu menggabungkan kedua jalan surgawinya. Gorila itu pun terhempas mundur, matanya melotot tajam melihat apa yang baru saja ia pukul.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tak menyerang lagi?" tantangnya penuh percaya diri.


Terkaget oleh hasil dari penggabungan kedua jalan surgawinya, Asta tersenyum puas. Kini dia menyadari bahwa dengan mengintegrasikan kekuatan dari Jalan Roh dan Jalan Tanpa Senjata, ia mampu mencapai level pertarungan yang lebih tinggi. Namun, dalam kegembiraannya, Asta tidak menyadari bahwa Gorila Gila berada di ambang kemarahan.


"Sudah cukup main-main!" ujar Gorila itu sambil mengeluarkan serangan yang lebih ganas daripada sebelumnya. Asta pun kembali siap bertarung dan dengan percaya diri, ia menyambut serangan sang Gorila dengan kekuatan gabungan dari kedua jalan surgawinya.

__ADS_1


Serangan itu menghasilkan ledakan besar yang mengguncang hutan sekitarnya. Asta dan Gorila Gila sama-sama terdorong mundur oleh kekuatan benturan yang luar biasa. Tampaknya pertarungan ini benar-benar serius.


__ADS_2