Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch78 Korban Kekacauan


__ADS_3

Karena Ace dan Zaru yang turun tangan tak butuh waktu lama untuk mereka menghancurkan perkemahan tersebut. Keadaannya sama seperti sebelumnya, ada beberapa gadis yang juga dikurung di sana namun ketika Asta melepaskannya mereka malah memutuskan untuk bunuh diri.


Lira sampai mematung ditempatnya melihat mereka yang memilih untuk mati karena mungkin sudah tidak bisa menanggung malu itu seumur hidupnya.


Asta semakin mendendam terhadap sikap bejat demon, ia bertekad akan membunuh mereka di manapun berada. Mau tak mau mereka pun harus mengurus jasad para gadis itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.


Ketika hari mulai gelap mereka pun memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan menuju perkemahan terakhir.


Di perkemahan ini Asta menghentikan Ace dan Zaru yang hendak ingin melompat masuk ke sana. Asta juga memerintahkan kepada yang lainnya untuk tetap diam dan menunggunya.


Asta mengeluarkan pedang iblis malam beserta langit kelam, ia melompat dan turun di tengah-tengah goblin yang sedang mabuk.


Satu ayunan pedangnya membunuh tiga goblin raja yang sedang mabuk tersebut. Musuh pun berteriak marah mulai menyerbunya.


“Penyusup...!!!!”


“Majulah! Biar ku persembahkan darah kalian untuk kematian saudara dan bangsaku..!!!”


Asta langsung mengaktifkan tekhnik roh kobaran gejolak raga beserta api pemakan cahaya yang sudah ia sempurnakan. Tubuhnya benar-benar tak bisa disentuh sedikitpun oleh mereka jadi ia tak khawatir sama sekali akan terluka.


Dibawah tekanan dua domain besar yang ia aktifkan kekuatan, kecepatan serta tekhnik yang mereka gunakan seakan-akan tidak berguna sama sekali. Organ-organ dalam tubuh pun terasa seperti terbakar, yang tak tahan dengan itu tubuhnya langsung terbakar oleh api hitam.


Melihat kebolehan gurunya meski ditengah-tengah musuh yang nyata ingin membunuhnya Lira terkejut sampai berdiri.


“Nona ada apa..?” tanya Fen Shan.


“Nona..?” Lira celingak-celinguk seperti mencari orang lain tapi karena tak ada yang lain ia pun menunjuk dirinya sendiri bertanya.


“Ahh! Maksudku senior,,” ujar Fen Shan merevisi ucapannya setelah Xiao Jun menatapnya tajam.


Lira menyipitkan matanya,“nona lebih baik daripada senior, gunakan kata yang sebelumnya. Panggilan senior membuatku terasa seperti nenek-nenek,” suruh Lira.


“Lagipula usiaku baru 15 tahun sedangkan kalian ini mungkin lebih tua dibandingkan dengan ku dan juga guru,” lanjut Lira.


“Ah..hahaha.. Nona Lira kami tidak se-tua yang nona pikirkan. Kami tidak akan menjadi murid elit jika kami baru menginjak ranah raja di usia lebih dari 15 tahun. Kami baru saja berusia sekitar 14 tahun-an,” jelas Xiao Jun sambil terkekeh.


“Seseorang dengan bakat besar seperti nona di sekte kami sekalipun adalah sesuatu yang langka, apalagi seseorang seperti senior Asta. Senior seperti sebuah pengecualian, sebagai Kultivator Sejati senior Asta meskipun berlatih dengan seni surgawi yang biasa-biasa saja ia masih tetap akan lebih berbakat daripada siapapun,” jelas Fen Shan menunjukkan kekaguman pada Asta.


Lira pun mengangguk tak membalas ucapan mereka dan kembali memperhatikan Asta yang sedang bertarung. Begitu juga dengan mereka.


Asta bagai dewa kematian yang sedang memanen nyawa, goblin-goblin itu mulai kehilangan keberanian untuk melawannya. Sang ketua yang melihat kelakuan prajuritnya yang mulai ketakutan langsung turun tangan langsung menghadapinya bersama dengan 4 bawahannya langsung.


Tingkatan sang ketua setidaknya merupakan dewata agung, sedangkan empat orang bawahannya tersebut adalah master suci.


Asta melompat mundur menjaga jarak dari mereka, ia tak bisa gegabah melawan 5 kultivator lanjutan secara bersamaan.


“Ini pertama kalinya aku melawan gabungan kultivator lanjutan, ini adalah kesempatan yang langka juga kesialan yang paling buruk. Aku harus memanfaatkan pertarungan ini untuk menembus ke ranah Dewata Agung,” gumam Asta dalam hati.


Asta mengayunkan pedangnya kesamping menghempaskan darah yang menempel di pedangnya. Entah sudah berapa banyak goblin yang mati dipedangnya.


Lira panik dan sempat ingin berlari masuk ke perkemahan untuk menolong gurunya, namun sebelum itu Ace dan Zaru menghadang dan menyuruhnya untuk tetap diam.


“Kau terlalu meremehkan kemampuannya. Kehadiranmu hanya akan membebaninya jadi tetap disini dan lihat baik-baik bagaimana ia mengatasinya. Beberapa tahun ini ia sudah sering merasakan pertarungan melawan beberapa hewan ghaib yang setingkat lebih tinggi darinya, namun pada akhirnya ia selalu menang,” jelas Zaru.


“Aku tidak meninggalkan ras hanya untuk orang lemah yang tak bisa mengakali kekurangannya, kalau kau hanya merasa khawatir mungkin aku tak masalah tapi kalau kau juga mengambil tindakan dari rasa khawatir itu sama halnya kau merendahkan penilaianku,” ujar Ace menyuruhnya untuk diam dan memperhatikan.


Lira pun mengangguk pelan mengerti untuk tidak mengganggunya,“aku lupa bahwa Master Guru juga bersama dengan Guru setiap saat jadi untuk apa aku berpikir berlebihan,” batin Lira.

__ADS_1


Kembali lagi dengan Asta yang berhadapan dengan 4 goblin master suci dan satu dewata agung. Ia tak membuang waktu begitu saja, Asta mengeluarkan sebuah rantai dan mengaitkannya pada dua lengan dan dua pedangnya.


Asta menerjang maju memberikan serangan pertama pada sosok goblin yang besarnya lebih besar daripada yang lain, Asta yakin ia adalah ketuanya.


“Bocah! Beraninya kau membunuh anak-anakku di depan mataku!” teriaknya penuh amarah dan niat membunuh.


Disaat pedang iblis malam beradu dengan gada sang ketua goblin tersebut, empat goblin yang lainnya menyerangnya dari sisi kanan dan kirinya bersamaan, goblin-goblin yang tingkatannya lebih rendah pun ikut membantu menyerangnya.


Tak kehabisan akal Asta melempar pedang langit kelam kebelakang menancap tepat disalah satu kepala goblin, Asta pun menarik rantai tersebut.


“Apa..?!!”


Yang membuat mereka terkejut adalah bukan pedangnya yang kembali melainkan dirinya yang menjauh ditarik pedang tersebut. Asta pun lolos dari serangan mereka dan mundur kembali kebelakang.


Dibalik topengnya Asta tersenyum penuh kesenangan, akhirnya ia bisa menggunakan cara bertarung yang ia pernah coba ketika berlatih bersama Ace dan Zaru di Lembah Obat selama bertahun-tahun.


 


Sepasang rantai tersebut adalah artefak roh tingkat 5 buatan Flares, yakni Rantai Pengikat Jiwa. Saat ditarik sifat menarik pada ujungnya akan aktif dan menarik bagian yang lainnya, apapun yang diikatkan juga akan ikut tertarik bersama.


 


Kali ini Asta memutarkan pedang iblis malam di atas kepalanya dan melemparkannya kepada mereka, sang ketua goblin itu tersenyum melihat pedangnya terarah padanya.


Sebisa mungkin ia pun menangkapnya tapi tentu saja Asta tak berdiam diri, ia menggoyangkan rantainya sehingga perang tersebut berubah haluan menyerang goblin-goblin disampingnya. Asta terus melakukan itu sembari tangan kirinya yang menghabisi goblin-goblin yang lebih lemah.


“Kena kau..!!!” ujar salah satu dari empat bawahannya senang setelah berhasil menangkap pedang tersebut.


“Kalian benar-benar bodoh,” ucap Asta pelan seketika pedang iblis malam mengeluarkan api pemakan cahaya miliknya sehingga membakar tangannya.


“Jangan lepaskan..!!! Tarik itu..!!” teriak sang pemimpin goblin tersebut. Asta semakin tersenyum lebar dibalik topengnya.


Goblin itu pun menuruti perintah ketuanya untuk menarik rantai pedang tersebut namun yang terjadi adalah pedang tersebut malah melesat kembali dengan cepat ke arahnya, karena tak menyangka hal itu akan terjadi goblin tersebut lupa dengan gadanya. Asta mengangkat pedang di tangan kirinya tinggi-tinggi.


“Tekhnik Roh, Tebasan Membara”


Satu tebasan pedang memisahkan kepalanya, satu goblin master suci mati ditangannya tanpa memberikan perlawanan.


“Siapa selanjutnya...?!” ujar Asta dengan lantang menantang mereka.


Sang ketua goblin itu pun merapatkan giginya menahan amarahnya yang sudah mencapai batasannya.


“Anak-anakku..!!! Serang..!!!”


 


“Bagaimana mungkin..?!!” Xiao Jun terkejut melihat bagaimana Asta bertarung dengan pedang juga rantai.


“Bukankah sesaat sebelumnya ketika senior menarik rantai senior lah yang ditarik ke arah pedang, lalu kenapa ketika goblin itu yang menariknya malah pedangnya yang kembali?” ucap Fen Shan dengan sangat yakin.


Lira bahkan tak bisa berkata-kata saking terkejutnya, pikir mereka diamnya ia karena ia sudah pernah melihatnya bertarung jadi pikir mereka diamnya Lira adalah karena ia sudah terbiasa melihatnya. Apalagi Lira memanggilnya guru, sebagai muridnya tentu pasti pernah melihatnya bertarung seperti itu pikir mereka.


Akan tetapi kenyataannya ini adalah pertarungan Asta yang ketiga yang baru ia lihat, di kota permata biru pun Lira tak melihat bagaimana Asta bertarung dengan demon tapi Lira yakin Asta bertarung menggunakan pedang karena ketika menyelamatkannya pun ia sudah memegang pedang yang ada di tangan kanannya.


Ace dan Zaru secara kompak menjelaskan tentang rantai tersebut dan bagaimana Asta mengaturnya supaya ia bisa bertarung dan bergerak seperti yang mereka lihat sekarang. Mereka bertiga mengangguk mengerti, menurut Xiao Jun pilihan yang dilakukan Asta dalam menyetelnya adalah suatu pilihan jenius, kebanyakan orang pasti menggunakan kedua ujungnya ditangan dan tidak menempatkannya di pedang.


Dari hanya melihat pertarungannya saja mereka bertiga mendapatkan banyak pencerahan dalam tekhnik bertarung, terlebih lagi mereka juga bertarung menggunakan pedang. Mereka mendapatkan banyak inspirasi dan cara bertarung yang lebih matang lagi darinya.

__ADS_1


“Melihat sosok peringkat kedua saja sekuat ini bagaimana dengan sosok yang memenangkan turnamen seni bela diri?” pikir Chen Yan.


 


Asta tak sembarang melempar pedangnya ke segala arah, ia juga memikirkan rencana dan strategi untuk melempar pedangnya. Asta melempar dan mengendalikan pedangnya dengan sengat lincah, pergerakannya yang tak terbaca oleh mata mereka membuatnya semakin sulit di serang.


“Berhenti melempar pedangmu..!! Keparat..!!” teriak ketua goblin tersebut kesal, empat bawahannya yang merupakan master suci kini hanya tersisa satu. Ratusan pasukannya hanya tersisa beberapa puluh.


“Jangan bercanda! Aku bukan orang bodoh seperti kalian!” balas teriak Asta memainkan tekhnik pedang rantainya.


Beberapa pukulan juga serangan mengenainya dengan sangat tepat, akan tetapi semua itu tampak tak melukainya karena serangan apapun seakan menembus tubuhnya. Kitab Surgawi Api Pemakan Cahaya membuat Asta dapat menghindari segala serangan yang mengenainya, selama kekuatan jiwa musuh tak lebih kuat darinya maka serangan mereka sama sekali seperti tak mengenainya.


Asta melompat ke atas langit dan memainkan pedangnya, tebasan pedangnya menghujani mereka satu persatu. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk meloloskan diri dari pedangnya.


Melihat satu-satunya goblin yang master suci itu lengah, Asta melesat dan menghilang dari pandangan. Ia muncul dan menusukan pedangnya dari belakang goblin tersebut.


“Tidakkk...!!!!!!” teriak sang ketua goblin tersebut frustasi dibuatnya, pasukannya benar-benar dibuat hancur dan tak berdaya hanya dengan ia sendiri.


“Siapa dan darimana kau sebenarnya..?! Kenapa kau ikut campur dengan permasalahan kami dengan Kekaisaran Arkhan, aku tak pernah mendengar tentang seorang kultivator yang bertarung dengan cara seperti ini di Kekaisaran Arkhan..!!” teriaknya meminta penjelasan, ia sudah kehilangan semangatnya untuk bertarung.


“Kau bertanya siapa dan darimana aku berasal..? Kau tahu Sekte Kobaran Api Sejati..? Kau tahu Sekte Tanah Neraka Keabadian..? Kau tahu dua nama sekte itu kan..?” ucapnya sembari menarik pedangnya dari mayat goblin.


“Kau.. kau.. kau dari sana rupanya. Aku yakin kau berasal dari luar Kekaisaran Arkhan tapi kau mempunyai hubungan dengan sekte itu sehingga kau bertarung untuk mereka, kalau begitu tunggu apa lagi,” goblin itu menyerahkan dirinya tak melawan sama sekali.


“Kau pikir aku akan termakan jebakanmu hah?!” ujar Asta.


“Jebakan apa?! Aku memang kultivator iblis ranah Dewata Agung dan satu tingkat lebih tinggi darimu. Akan tetapi kemampuan bertarung yang kau gunakan sangat aneh dan juga kau tidak seperti kultivator biasanya. Kultivator luar memang sangat mengerikan,” ujarnya lagi.


“Asal kau tahu dalam hati ku pun aku tak mau tergabung dalam kekacauan ini. Aku yakin kau pasti telah menghancurkan perkemahan lain di sekitar sini, kau bisa lihat bukan apa yang berbeda dengan perkemahan ku? Meskipun aku goblin aku tidak merampok manusia ataupun menculik gadis-gadis cantik ras kalian! Apa kau bisa lihat seluruh area perkemahan ku?! Kau lihat kan?! Tidak ada harta ataupun gadis disini!!” teriaknya kesal.


“Bagaimana caranya aku bisa percaya ketika melihat sebangsa dan sekutumu bersemena-mena dengan bangsaku! Kau pikir mataku buta!” balas teriak Asta.


“Aku tahu kau pasti sangat membenciku. Tapi dalam hatiku aku sangat menghormati Kaisar Arkhan yang telah berhasil menyatukan kita, yang kemudian ku pikir kita bisa hidup berdampingan. Tapi kemudian diam-diam kak Wei mengirimkan beberapa demon untuk memancing kekacauan sehingga terjadilah ras kami yang memang sudah direncanakan oleh kak Wei untuk membuka sebuah pertempuran baru,” jelasnya.


“Banyak dari anak-anakku dikorbankan untuk keinginannya, aku pernah ingin mencoba melawannya tapi kemudian leluhurku tahu rencanaku dan akan membunuhku jika aku melawannya. Pada akhirnya aku beserta anak-anakku ditugaskan di sini untuk mengambil wilayah dan kota-kota kalian. Tapi apa kau tahu? Aku tidak pernah bergerak menuju sebuah kota selama disini, kami hanya mendirikan perkemahan dan hidup dari berburu hewan ghaib. Sampai akhirnya kau datang dan membunuh anak-anakku satu persatu,”


Asta pun mulai tersentuh dengan cerita tersebut, ia mulai berpikir apakah ia benar-benar baik atau hanya sedang memikirkan sebuah rencana.


“Katakan dengan jelas maksudmu! Aku tidak punya banyak waktu lagi disini!” ujar Asta.


Goblin itu menghela nafasnya berat,“namaku Jiu Gal, kematian ku bukanlah sesuatu yang berharga tapi aku harap...” Jiu Gal merebut pedang langit kelam dari tangan Asta dengan cepat lalu menusukkannya pada jantungnya sendiri. Asta membuka matanya lebar karena saking terkejutnya, ia tak percaya Jiu Gal ternyata benar-benar serius untuk mati.


“Aku harap kau..”


“Asta Raiken,” potong Asta.


“Asta.. aku harap.. kau.. suatu saat nanti bisa.. uhukk-!! Menyatukan kita semua.. uhukk-!! Dan hidup berdampingan sebagaimana.. seharusnya.. uhukk-!!” Jiu Gal tak lagi bisa melanjutkan ucapannya karena darahnya sudah memenuhi kerongkongannya.


Asta meneteskan air matanya sambil memeluk tubuh besar Jiu Gal,“maafkan aku kawan, aku berjanji padamu,” ucapnya lirih di telinganya.


Jiu Gal tersenyum mendengar hal itu sebelum kemudian menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.


Asta memeluknya dengan erat, hatinya benar-benar sesak. Kalau seandainya ia tak dibutakan amarahnya mungkin seharusnya Jiu Gal takkan mati sebagai korban dari pertempuran.


“Aaahhhhh...!!!!!! Tian Wei..!!! Aku bersumpah dengan darah dan jiwaku..!!! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri...!!” teriak Asta histeris.


Lira dan yang lain pun terkejut begitupun dengan Ace dan Zaru setelah mendengar teriakannya.

__ADS_1


“Guru...!!!”


“Senior..!!”


__ADS_2