
Arena meledak dahsyat. Lantai-lantai berhamburan keluar dari tempatnya. Benturan keras antara palu dan tangan semesta menggema di seluruh kota. Sebuah pertarungan yang sengit dengan skala kekuatan yang sangat besar bentrok di arena.
"Saudara Cang sangat kuat bisa menahannya dengan baik,"
"Palu mu juga ternyata sangat kokoh,"
Sesaat kemudian terlihat mereka berdua yang masih baik-baik saja. Mereka tampak terbang di udara dengan sayap.
"Arena sudah hancur lebur menjadi seperti ini. Sepertinya siapapun yang jatuh ke bawah akan langsung kalah,"
"Sepertinya peraturan yang berlaku dalam turnamen ini, mereka hanya bisa bertahan dan bertarung di udara,"
"Aku penasaran siapa yang akan memenangkan pertandingan ini,"
Tang San kembali menyerang Cang Hue, dengan sengit mereka kembali bertarung. Tang terdorong ke belakang karena hempasan telapak tangan Cang. Mengambil kesempatan tersebut ia langsung menerjang.
Buru-buru Tang San melemparkan palunya, Cang Hue hampir saja terkena palu tersebut. Ia menghindar lalu menangkap palu tersebut seketika Tang San tertarik padanya sangat cepat. Satu pukulan dari Tang San mengenainya.
Cang Hue memuntahkan darah segar dari dalam perutnya. Tak ia sangka ketika ia menangkap palu itu justru memberi kesempatan pada Tang San.
Tak diam saja Tang San segera mengaktifkan transformasi lanjutannya.
"Transformasi Sempurna, Naga Bumi"
Sayapnya menjadi bertambah besar. Tanduk mencuat keluar dari dalam kepalanya. Sebuah ekor naga keluar darinya. Tang San berubah menjadi makhluk setengah Naga setelah mengaktifkan esensi rohnya.
Tang San menggenggam palunya erat-erat, ia pun menggunakan jurus yang sama seperti sebelumnya. Cang Hue membuka matanya lebar-lebar, ia tak bisa menahan serangan tersebut jika hanya dengan kekuatan rohnya, ia perlu mengaktifkan transformasi juga untuk menahannya.
Naga yang menggenggam palu raksasa sudah membuat banyak penonton terkejut dan terpukau, kini Cang Hue juga menunjukkan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Transformasi Sempurna, Naga Langit"
Tang San mengerahkan seluruh tenaganya secara penuh untuk mengayunkan palu tersebut. Dengan santai Cang Hue membalas serangan tersebut dengan tangan semesta miliknya.
Ledakan dashyat selanjutnya benar-benar menghancurkan arena secara tidak tersisa. Tak henti-hentinya Asta berdecak kagum melihat pertarungan mereka berdua.
"Aku pun akan kesulitan jika menghadapi salah satu dari mereka berdua,"
Tak terlihat apapun di atas arena, debu yang di hasilkan dari benturan keras serangan mereka berdua menutupi pandangan seluruh penonton.
Beberapa orang berteriak melihat ada satu yang tumbang di atas tanah, sedangkan yang lainnya masih terlihat terbang di atas arena. Mereka pun bertanya-tanya siapakah yang berhasil menang dan akan lolos ke babak berikutnya.
Kaisar Arkhan kemudian memerintahkan kepada para penjaga untuk segera membersihkan debu-debu tersebut, terlihat sosok pemenang yang masih terbang di udara.
"Pemenangnya adalah Cang Hue dari Sekte Istana Awan...!!!!!!"
Tak lama setelah wasit mengumumkan kemenangannya ia memuntahkan darah segar dari mulutnya, ia pun terjatuh ke tanah karena kekuatannya sudah habis tak tersisa untuk serangan terakhir itu. Tubuhnya di penuhi luka, ia membayar harga yang tinggi untuk memenangkan pertandingan tersebut.
Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan Cang Hue. Fase berikutnya adalah penentuan peringkat kelima di Turnamen Seni Bela Diri.
Turnamen dihentikan sementara untuk memberi waktu istirahat para peserta yang akan bertarung kembali sekaligus untuk memberikan waktu para penjaga dalam memperbaiki arena yang sudah dihancurkan tersebut.
Asta pun pergi mengunjungi Kenshin di ruang istirahat, terlihat ia sudah sadar dan sedang memulihkan diri.
"Sepertinya di arena terjadi pertarungan yang sangat meriah bukan..."
"Heemm, Cang Hue dan Tang San itu memiliki kekuatan yang setara di tambah dengan Esensi Roh mereka yang merupakan Roh tingkat tinggi membuat pertarungan menjadi sangat meriah. Saat ini kita di beri waktu dua jam istirahat, sepertinya pertarungan mereka berdua mempengaruhinya,"
"Aku tahu itu, Wen Han saja sudah cukup kuat hingga bisa memaksaku menggunakannya. Jika saja aku bertemu dengan salah satu dari mereka takutnya aku pun belum tentu bisa menang,"
Asta pun mengangguk setuju, karena ia sendiri juga merasa begitu saat melihat kekuatan mereka yang sangat besar sehingga menciptakan sebuah gelombang ledakan yang menghancurkan arena hingga hancur lebur.
"Bagaimana dengan lukamu..?"
__ADS_1
"Aku tak apa-apa sekarang. Ngomong-ngomong terima kasih, Asta,"
"Tak perlu. Kau adalah sahabatku dan orang pertama yang ku kenal, sudah pasti aku akan membantumu,"
"Jika suatu saat kau juga membutuhkan bantuan, carilah aku. Sebisa mungkin aku juga pasti akan membantumu,"
Selesai berbincang-bincang dan menanyakan keadaannya Asta pun pergi meninggalkannya. Seperti biasa perutnya sedikit lapar jadi ia pergi ke jalanan untuk membeli jajanan Kota Hansu yang memang terkenal sangat enak.
"Kalau kau ingin bersenang-senang jangan lupakan guru," ujar Flares tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Tentu," jawab Asta ringan lalu pergi ke jalanan tempat dimana para pedagang makanan berada.
Asta membeli banyak sekali makanan untuknya sendiri dan juga Gurunya, ia pun pergi ke ruang istirahatnya untuk memakan makanan tersebut.
Ditengah-tengah makannya seseorang datang mengetuk pintu ruangannya, sontak Flares pun menyipitkan matanya sembari memandang pintu.
Asta pun bergegas ke luar untuk melihat siapa yang mengganggunya makan. Ternyata ia adalah sosok Manager Row, rupanya ia khawatir akan keselamatan dirinya.
"Aku mencarimu kemana-mana, kupikir kau kenapa-kenapa dan pergi begitu saja. Ternyata kau baik-baik saja kalau begitu aku akan pergi dulu," ujar Manager Row.
"Ahh, Manager tenang saja aku baik-baik saja. Sebelumnya aku hanya pergi ke jalanan untuk membeli beberapa makanan, guruku yang memintanya," jawab Asta menyuruhnya agar tak khawatir.
"Guru mendengarnya...!!!" Teriak Flares di dalam.
"Master jangan lupa untuk menjaga pola makanmu atau kau akan kehilangan banyak penggemar kalau perutmu berubah," ujar Manager Row sambil tertawa pelan.
Sontak Flares pun menghentikan makannya sembari menatap perutnya tersebut.
"Asta kemari, guru sudah kenyang kau bisa memakan semua ini," teriaknya memanggil Asta.
"Aku juga hampir kenyang dan juga guru lihat sisa makan ku juga masih banyak. Guru habiskan saja makanan guru, bukankah kemarin-kemarin juga guru makan sangat banyak, mengapa sekarang tiba-tiba merasa kenyang setelah baru memakan sedikit makanan," ujar Asta sambil tersenyum menahan tawanya.
"Kalau begitu kau saja yang habiskan, Row," panggilnya lagi.
"Maaf Master, tapi aku juga sudah makan dan kenyang. Aku harus menolak niat baik Master," balasnya juga sembari tersenyum menahan tawa.
Flares pun hanya terdiam memandangi perut dan makannya. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang begitu saja setelah Row berpesan begitu padanya.
Dua jam waktu istirahat pun berlalu, para peserta kembali dipanggil ke arena pertarungan yang baru.
"Bagaimana menurutmu..?" Tanya Kenshin.
"Aku mempunyai firasat Tang San yang akan memenangkan pertandingan ini," jawab Asta asal.
"Apa karena sebelumnya pertarungan Tang San yang paling menyita perhatian jadi kau berpikir ia yang akan menang..?" Tanya Kenshin.
"Seharusnya kau belajar mengevaluasi lawan, kau terlalu sederhana apa kau tahu," lanjut Kenshin sembari menghela nafas pelan.
Asta tertawa canggung di balik topengnya,"memangnya siapa lagi yang akan memenangkan pertandingan kalau bukan dia," ujarnya.
"Bukankah sudah sangat jelas. Jika saja ia tak bertemu denganmu mungkin ia lah yang akan sampai ke final," jawab Kenshin.
"Han Bin..?!!" Asta terkejut dengan heran.
"Jika saja aku yang bertemu dengannya, bukan Wen Han aku pasti yang akan kalah. Kemampuan susunan Han meskipun hanya tingkat 2 itu bukan sesuatu yang mudah untuk ku, selain akan meningkatkan kekuatannya juga menurunkan kemampuanku,"jelas Kenshin.
"Saat kau mengalahkannya dengan kekuatan jiwa, aku menjadi lebih terkejut lagi. Bagaimana bisa seseorang yang merupakan master susunan tingkat 2 kalah oleh kekuatan jiwa seorang Kultivator bela diri. Aku rasa kau tak sesederhana itu kan, Asta...?" Tanya Kenshin.
Asta pun tertawa canggung membalasnya,"sudah ku duga kau pasti menyembunyikan sesuatu. Sudahlah lebih baik kita perhatikan saja pertarungan ini," ujar Kenshin.
Pertandingan pertama penentuan gelar peringkat kelima adalah Wen Han dari Keluarga Han melawan Han Bin dari Sekte Biru Bulan Sabit. Mereka berdua menaiki arena untuk bersiap memulai pertarungan.
Memulai pertandingan keduanya langsung mengeluarkan jurus yang hebat. Tak segan-segan Wen Han memutarkan tongkatnya demi menghancurkan susunan yang di ciptakan Han Bin.
__ADS_1
Dengan transformasi serta memanfaatkan esensi rohnya Wen mencoba sebisa mungkin memberikan serangan fatal pada Han Bin. Tak mau kalah Han Bin meningkatkan kekuatan susunan dan serangannya dengan esensi rohnya. Efektivitas yang di hasilkan nya berhasil menghentikan gerakan Wen Han yang terbilang gesit. Han Bin pun mengalahkan Wen Han hanya dalam beberapa serangan.
Ucapan Kenshin masih terngiang di kepalanya. Asta pikir Wen Han mungkin mampu menghancurkan susunan tersebut hanya dengan tongkatnya namun ternyata ia salah. Susunan Es Pembeku milik Han Bin sangat kuat ditambah dengan penguatan dari esensi rohnya membuatnya sulit di hancurkan. Jika tak menyerangnya dengan tekhnik aura Asta pun yakin bahwa ia juga mungkin tak akan bisa menang darinya.
Selanjutnya ada Yan Jian dari Sekte Tanah Leluhur melawan Tang San dari Sekte Pulau Dewa. Di awal pertandingan Yan Jian langsung serius mengaktifkan esensi rohnya, tak ingin lagi bersikap remeh seperti sebelumnya.
Yan Jian memutarkan pedang durinya, pedang tersebut kemudian bisa memanjang juga melengkung. Di tambah dengan racun dari esensi roh Kalajengking Batang Ungu pedang tersebut menjadi sangat berbahaya. Bahkan Tang San tak berani menyentuhnya secara langsung.
Tang San terlihat kelabakakan melawan pedang duri tersebut. Ia tak bisa melemparkan palunya dengan ceroboh, karena kalau tidak maka Yan Jian akan mengambil kesempatan tersebut untuk bisa mengalahkannya.
Tang San melompat ke udara, langsung bertransformasi sempurna menjadi Naga Bumi. Serangkaian serangan Yan Jian semakin sulit ia hindari, racun kalajengking batang ungu terkenal karena bisa meracuni lewat udara sekalipun tak mengenai langsung.
Dari atas Tang San membantingkan serangan palu raksasanya ke atas arena, namun dengan gesit Yan Jian memanjangkan pedangnya dan memanfaatkan pegangan palu tersebut untuk berayun-ayun ke udara.
"Transformasi Sempurna, Laba-laba Racun Biru"
Yan Jian bertranformasi di udara dan menembakkan peluru jaring laba-laba dari tangannya. Jaring tersebut sangat kuat dan menjebak Tang San hingga tak bisa bergerak ditambah lagi jaring tersebut seperti mengeluarkan sebuah racun yang melemahkan kekuatannya.
Dalam satu ayunan Yan Jian melemparkan Tang San keluar dari arena dan mengakhiri pertandingan.
Betapa terkejutnya Asta melihat Tang San yang sebelumnya berpenampilan sangat kuat menjadi mudah di kalahkan oleh Yan Jian. Sebelumnya ia tak sempat memperhatikan Yan Jian melawan Hao Chen, namun di fase penyisihan ia melihat beberapa kali pertarungannya dan ia menang dengan cepat.
"Sudah ku bilang untuk belajar mengevaluasi kemampuan setiap lawan. Kau terlalu mengabaikan mereka hanya karena kau merasa cukup kuat," ujar Kenshin yang melihat keterkejutannya.
Pertandingan ditunda selama lima belas menit karena arena sedikit mengalami kerusakan dari pertarungan sebelumnya.
Perbaikan pun selesai, Han Bin dan Yan Jian sama-sama maju ke atas arena. Pertarungan lagi-lagi dimulai dengan Han Bin yang mengeluarkan Susunan Es Pembeku miliknya.
Pergerakan Yan Jian dalam waktu yang sangat singkat tertekan oleh aura dingin susunan tersebut. Racun kalajengkingnya tak bekerja dengan baik di bawah kekuatan es yang merupakan elemen racun alami terkuat. Yan Jian pun di kalahkan setelah Han Bin mengeluarkan jurus Ledakan Pulau Es yang mengakhiri pertandingan.
Dengan begitu penentuan peringkat kelima pun berakhir dengan Han Bin dari Sekte Biru Bulan Sabit yang memenangkan pertandingan. Dalam penampilannya selama di Turnamen Seni Bela Diri ia mendapat julukan sebagai Pedang Es.
Dengan berakhirnya fase penentuan peringkat kelima ini pertandingan hari ini pun berakhir tepat saat matahari akan terbenam. Setiap pertarungan pada hari ini memakan waktu yang cukup lama, karena para pesertanya bertarung dengan mengeluarkan tekhnik dan jurus yang telah mereka simpan untuk babak ini.
"Apa kau percaya padaku, Asta..?" Tanya Kenshin membanggakan diri karena menebak dengan benar pemenang di penentuan peringkat kelima.
"Kekuatan mereka memang hampir setara, namun kelebihan yang kau jelaskan tentang Susunan Es Pembeku milik Han Bin memang sangat menentukan pemenangnya," ucap Asta.
"Ia sangat sial karena ada kau di turnamen ini. Jika tidak ada kau mungkin ia yang akan menjadi juara dalam Turnamen Seni Bela Diri ini," ujar Kenshin.
"Kenshin kau terlalu memandang tinggi diriku," balas Asta.
"Tak perlu kau tutup lagi. Meskipun aku pernah dikalahkan olehmu tapi aku akan mencari cara untuk mengalahkanmu di atas arena," ujar Kenshin.
"Kalau kau bicara seperti itu tentu aku tak akan membiarkanmu menang," balas Asta.
"Hei, Asta. Apa kau berani membuka topengmu di babak semifinal besok?" Tanya Kenshin.
"Akan ku coba. Bagaimana denganmu...?" jawab Asta singkat.
"Kalau kau berkata seperti itu maka aku juga akan memperlihatkan wajahku di atas arena. Berjanjilah kau tak akan mengalah padaku, Asta," ujar Kenshin.
"Brengsek. Mana mungkin," jawab Asta singkat yang kemudian dibalas dengan tawa olehnya.
"Baiklah aku akan pergi dulu. Aku tak ingin mengganggu acara kencan mu dengan Moegi. Sampaikan juga salam ku pada mereka," ujarnya lalu pergi.
"Brengsek apa yang kau katakan..?!!"
"Kudengar dulu ada yang berkata merasa buta karena menyukai seseorang wanita yang seperti singa. Apa aku salah dengar ya..?" Ucap Kenshin bergumam menyindirnya.
"Kau..?!! Brengsek jangan lari..!!!" Teriak Asta lalu berlari mengejarnya.
Kenshin pun tertawa terbahak-bahak sambil berlari.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, dadah..!!" Seketika Kenshin pun hilang dari pandangan mata. Asta hanya bisa berdecak kesal padanya.
"Awas saja besok, akan ku tendang pantatnya itu,"