Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 029 Rekan Baru (revisi)


__ADS_3

Tidak peduli seberapa keras Flares memanggil, Asta menolak dengan keras. Sikapnya itu berhasil memancing kekesalan Flares.


"Baiklah, kalau begitu, tetaplah di sana," ujar Flares, sambil mendekati Asta.


Asta tak mau kalah. Ketika Flares memerintahkannya untuk diam, dia dengan cepat melompat mundur untuk menjaga jarak.


"Tidak akan, Guru," tegas Asta, lalu berlari menjauh.


Flares menggertakkan giginya dengan frustrasi, tangannya menggenggam erat sementara rasa kesal memuncak. "Nak, dengan sikapmu seperti itu, sepertinya kamu benar-benar ingin menjadi santapan monster ini."


Asta segera melarikan diri, adrenalinnya memacu detak jantungnya lebih cepat dari biasanya. Dia merenung tentang siapa yang mau menjadi santapan monster, pikir Asta.


Flares masih berdiri di tempatnya, tetapi dalam sekejap dia sudah muncul di samping Asta. Tangannya bergerak dalam pukulan yang mendarat di bokong Asta.


"Kau pikir Gurumu ini siapa, ha?" tantang Flares.


Asta terlempar ke depan, menabrak dinding gua dengan keras. Flares kembali mendekat dan menendangnya, membuatnya menabrak kaki makhluk besar di depannya.


Mata Asta dan mata makhluk besar itu bertemu, menciptakan momen yang tegang. Tak sadar, Asta menelan ludah saat mata mereka saling mengunci dalam jarak yang sangat dekat.


"Bocah! Kau benar-benar berani datang kemari dengan keberanian sebesar ini! Apakah kau mencoba untuk meremehkanku dengan kultivasimu yang rendah?" teriak makhluk besar itu, gemuruh suaranya menggetarkan gua.


Asta tercengang oleh apa yang didengarnya. Makhluk setinggi 50 meter ini ternyata mampu berbicara seperti manusia.


"Tidak, Tuan. Saya bukan datang untuk menundukkan Anda. Guru saya yang mengajak saya kemari untuk bertemu Anda. Dan tentu saja, saya masih ingin tetap hidup," jawab Asta berusaha menjelaskan.


"Guruku ini memang tidak manusiawi," gumam Asta sambil membuang pandangan ke arah gurunya.


Flares menyipitkan mata mendengar komentar Asta.


"Hahaha...!!! Aku adalah Zaru, Penguasa salah satu dari 12 Ras Hewan Kuno, Beruang Neraka Bertanduk! Tampaknya kalian, manusia, mulai merendahkan kehadiranku. Kalian berani mengirim bocah sepertimu untuk menaklukkan penguasa ini! Meskipun aku terikat rantai, itu tidak berarti aku akan dengan mudah ditundukkan!" ucap makhluk tersebut, memperkenalkan diri sebagai Zaru, Penguasa dari Ras Beruang Neraka Bertanduk.


Asta bersujud beberapa kali dengan tulus. Dia memohon pengampunan atas sikapnya yang kurang sopan.


"Tuan Zaru, tolong ampuni kami, guru saya dan saya. Saya sangat mengagumi Anda sebagai sosok yang mulia selama ini. Saya merasa beruntung bisa bertemu dan berbicara langsung dengan Anda. Namun, guru saya memang keras kepala. Mohon maafkan kelalaian kami," pintanya dengan rendah hati.


Flares hanya tersenyum melihat Asta bersujud. Namun, kemudian dia mendengar Asta berbicara lebih lanjut tentang dirinya.


Sejak awal, Zaru tak mampu melihat wujud Flares sama sekali. Hal yang membuatnya merasa dipermainkan adalah ketika Asta mengatakan dia datang bersama gurunya, padahal Zaru tidak merasakan kehadiran siapa pun selain Asta di sekitarnya. Yang dia lihat adalah Asta berbicara sendirian, lalu tiba-tiba terlempar ke sana-sini.


Perlahan-lahan, Flares mulai memunculkan dirinya di depan mata Zaru, Sang Penguasa Ras Beruang Neraka Bertanduk. Zaru terpaku, matanya menatap dengan kagum ketika melihat wujud Flares yang tersenyum hangat.


"Lama tak bersua, Zaru," sapa Flares dengan senyum hangat yang merekah di wajahnya.


Tatapan tajam Zaru terus fokus pada wajah Flares, mencari tahu apakah ini benar-benar sosok yang dulu ia kenal.


Tak berapa lama, segala belenggu yang mengikat tubuh Zaru tiba-tiba hancur menjadi serpihan. Zaru berubah wujud menjadi beruang kecil bertanduk dan berlari cepat menuju pelukan Flares.


Asta terkejut dan panik saat melihat rantai-rantai besar yang membelenggu Zaru tiba-tiba hancur. Dia tidak menyadari bahwa Flares telah dengan sengaja menghancurkannya.


"Guru, hati-hati!" seru Asta, mencoba memperingatkan Flares. Namun, tindakan itu terlambat karena gerakannya tidak cukup cepat untuk menandingi kecepatan Zaru.


Asta merasa air matanya menetes, takut kehilangan gurunya. Dadanya terasa sesak, hampir tak bisa bernapas.


"Tidaaakkk..!!!" Teriak Asta.


"Tuan! Akhirnya kau kembali! Aku sudah tahu, aku sudah tahu! Kamu pasti akan datang menjemputku lagi! Aku tahu Row adalah seorang pembohong! Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa kamu telah mati? Dia adalah murid durhaka, dan kamu harus menghukumnya, Tuan!" Teriak Zaru sambil menangis dan memeluk Flares dengan erat.


Flares hanya memeluknya tanpa berkata-kata. Meski diam, Flares bisa merasakan betapa dalamnya penderitaan yang dialami oleh Zaru selama penantian panjang ini.


Asta memandang kaget pada adegan ini. Ia duduk dan memberi mereka waktu untuk berdua. Asta merasa ada cerita besar di balik hubungan erat antara Flares dan Zaru selama hidup Flares.


"Maafkan aku karena janjiku terlambat terpenuhi. Karena aku, kau harus menderita selama ini. Seandainya saat itu..."


"Cukup, Tuan. Jangan bicarakan itu lagi. Keputusan ini adalah pilihanku sendiri. Kalau saja aku menuruti perkataanmu, aku juga akan menerima Hukuman Surgawi," potong Zaru dengan cepat, menghentikan Flares.


Setelah beberapa saat, Zaru akhirnya meredakan tangisannya dan melepaskan pelukan.


"Tuan, apakah dia anakmu? Kalian agak mirip. Meskipun dia tidak setampan Tuan," tanya Zaru.


"Hahaha... Jelas dia bukan anakku. Kau tahu itu, kan?" balas Flares sambil tertawa.


Zaru adalah Roh Hewan yang telah mengikat kontrak dengan Flares, sehingga ia mengetahui banyak hal tentang Flares selama hidupnya.


"Lalu siapa dia? Dan mengapa Tuan membawanya kemari? Bukankah Tuan bisa datang sendiri?" tanya Zaru penasaran.


Flares tersenyum tipis, "Zaru, sebelumnya, ada satu hal yang perlu kukatakan padamu. Sebenarnya, aku sudah lama mati. Row tidak pernah berbohong tentang itu. Untuk menghindari hal terburuk, aku menyisihkan sebagian dari jiwaku dalam Kitab Dewa Api Kegelapan. Dan seperti yang kamu tahu, aku kalah dalam pertarungan itu," terang Flares.


Zaru terkejut, tak pernah menyangka bahwa kata-kata tersebut akan keluar dari mulut Flares.


"Jadi, Tuanlah yang memindahkanku ke Sekte Kobaran Api Sejati. Lalu, kalau begitu, bukankah hidupmu sekarang tinggal sebentar lagi...?" Tanya Zaru dengan nada khawatir.


"Ahh, tak perlu khawatir. Bocah nakal itu adalah Asta. Dia adalah pewaris Roh Dewa Api Pemakan Cahaya. Jadi, selama aku berada di sekitarnya, tubuhku tidak akan pudar. Aku bisa tetap hidup dengan menyerap esensi rohnya," jelas Flares sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Apa..?! Bocah itu..?!" Tanya Zaru sambil menunjuk Asta dengan jari telunjuknya.


Asta ikut menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa denganku?" Tanyanya bingung.


"Ya, itulah sebabnya aku membawanya dan menjadikannya muridku. Aku datang kemari untuk menyelamatkanmu dan juga mengajakmu bekerjasama denganku sekali lagi untuk membimbingnya," terang Flares.


"Tuan, dengan kemampuanmu sekarang, apakah Anda berencana untuk membalas dendam atas apa yang terjadi ratusan tahun yang lalu? Apakah Anda tahu? Puluhan tahun yang lalu, Kaisar Arkhan menjalin perjanjian dengan Gunung Tengkorak. Alih-alih menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, dia malah menjamin keamanan mereka dengan merebut daerah Gunung Tengkorak, yang kini menjadi Provinsi Shan, Pegunungan Negeri Terlantar. Padahal dia sendiri telah merasakan kekejaman mereka selama ini," jelaskan Zaru.


"Satu tahun yang lalu, perjanjian itu hancur. Tidak ada lagi Provinsi Shan, hanya Gunung Tengkorak yang kini menjadi Negara Bagian Lembah Terkutuk. Selain itu, siapa yang saat itu dan hingga kini menjadi Kaisar Arkhan?" Tanya Flares.


Zaru mengangkat alis, "Tuan, apakah Anda benar-benar melupakannya? Dia adalah bocah yang selalu melekat pada Anda. Bagaimana mungkin Anda bisa melupakannya?"


Mata Flares melebar, "maksudmu bocah itu? Sudah berabad-abad berlalu, bagaimana mungkin dia bisa bertahan sampai sekarang? Apakah dia menemukan suatu harta karun yang membuatnya tetap awet muda dan memerintah selama berabad-abad?"


Zaru mengedipkan mata, "Tidak, Tuan. Anda sendiri yang mengajarinya cara berkultivasi. Meskipun kemampuannya masih jauh dari Anda, tetapi dia memiliki kultivasi yang sangat tinggi."


Setelah itu, Zaru melanjutkan dengan menceritakan tentang Kaisar Arkhan yang melakukan perjanjian dengan Gunung Tengkorak, mengambil wilayahnya, dan menggabungkannya dengan Kekaisaran Arkhan.


Namun, puluhan tahun kemudian, seseorang datang lagi ke Pusat Provinsi Shan dan menciptakan kekacauan. Tempat itu hancur berantakan dan banyak korban jiwa. Sosok itu mengaku sebagai utusan Kaisar, dan ini memicu perang yang terjadi dua tahun yang lalu. Perang yang kemudian dimenangkan oleh Aliansi Faksi 7 Dewa, gabungan dari 7 Sekte Besar Ras Manusia di Kekaisaran Arkhan.


Flares menghela nafas, mengingat peristiwa-peristiwa selanjutnya yang dia saksikan.


"Baiklah, mari kita akhiri pembicaraan ini. Aku tidak akan memaksamu ikut jika kau ingin kembali ke tempatmu. Aku yakin kehadiranmu telah dinantikan," ujar Flares.


Zaru merengut, menyadari bahwa keluarganya tidak akan senang melihatnya kembali. Namun, pertemuan dengan Flares adalah sesuatu yang telah dia tunggu lama.


"Orang-orang bodoh itu pasti kecewa melihatku kembali. Lebih baik aku memilih bergabung denganmu," jawab Zaru dengan setuju.


"Sebelum kita melanjutkan, bagaimana dengan Ras Hewan Kuno lainnya? Apakah mereka sudah tak tertarik dengan kultivator yang terlahir Roh Dewa?" Tanyanya sambil mengamati bahwa Asta tidak ditemani oleh hewan roh apapun.


"Mereka tidak mengetahui kelahirannya. Tidak ada Ras Hewan Kuno yang mengetahuinya, karena Kyuichi menemukannya terlebih dahulu. Dia bisa menjalin perjanjian dengan bebas bersama kedua orangtuanya. Demi keamanannya, dia bahkan mengganti namanya menjadi Ace," jelas Flares.


"Para serigala itu benar-benar ahli dalam sabotase. Jadi, di mana dia sekarang?" Tanya Zaru ingin tahu keberadaan Ace.


"Istananya mengalami konflik internal, jadi dia harus pergi. Sudah satu setengah tahun sejak dia pergi," jawab Flares.


"Ahh, begitu. Lalu, kemana kita akan pergi selanjutnya?"


Flares merenung sambil memegang dagunya. "Mungkin ke turnamen seni bela diri. Aku mendengar akan ada turnamen dalam waktu kurang dari dua bulan. Aku ingin membawanya ke sana, itu bisa menjadi tempat yang baik bagi dia untuk mendapatkan pengalaman."


Mereka berdua berjalan mendekati Asta yang sedang bermain-main dengan lahar.


"Ada apa?" Tanya Asta, tampak heran.


"Apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Asta mulai merasa ada sesuatu yang tak beres melihat tatapan mereka.


"Sebelumnya, kamu membicarakan hal buruk tentang tuanku. Jadi, jelas aku tidak akan membiarkanmu begitu saja," kata Zaru.


Asta menelan ludahnya, tak menyangka perkataannya diambil serius. "Ehh, itu hanya lelucon. Kenapa kalian begitu serius? Lagipula, nyatanya memang..." Sebelum Asta bisa menyelesaikan kalimatnya, Zaru melepaskan serangan.


Tentu saja, Asta tak tinggal diam. Menghadapi Zaru yang tampaknya tidak ingin mendengar alasan apa pun, ia terpaksa harus melawannya. Meski tidak yakin ia bisa bertahan dari serangan itu.


"Boom..!!!" Suara dentuman keras terdengar saat tinju Asta dan Zaru beradu.


Tampaknya, usaha Asta takkan mampu menandingi pukulan Zaru. Asta terhempas dan menabrak dinding gua di belakangnya.


"Hanya itu saja kemampuanmu? Kamu benar-benar mengecewakan, nak," ejek Zaru.


Sebenarnya, Zaru tidak bermaksud serius melukai Asta karena alasan tadi. Ia sedang menguji kemampuan seseorang yang mewarisi esensi roh dari tuannya.


"Kau belum melihat semuanya. Jadi, bagaimana kau bisa tahu?" balas Asta.


Asta bangkit lagi dan melancarkan serangan balasan. Zaru tersenyum meremehkan, menangkis serangan dengan mudah.


Pertarungan ini mengingatkan Asta pada saat dia menantang Ace. Kenangan itu mirip dengan situasi saat ini, di mana Asta kesulitan mengenai satu pukulan pun.


"Zaru, dia setara dengan Ace. Aku terlalu sombong berpikir bisa mengalahkannya. Aku nyaris lupa siapa dia sebenarnya," gumam Asta pelan.


"Teknik Roh, Tebasan Membara!" Asta mengeluarkan pedangnya dan melepaskan serangan Teknik Roh ke arah Zaru.


Pertarungan terlihat semakin memanas. Asta mengeluarkan segenap kekuatannya untuk mampu bertarung menyaingi Zaru. Meskipun hasilnya masih sangat jauh dari kata cukup.


"Bocah itu, benar-benar memberikan nama pada tekniknya," kata Flares sambil menepuk-nepuk jidatnya.


Zaru, yang mengetahui tingkatan kultivasi Asta, merasa terkejut saat mendengar Asta meneriakkan teknik roh. Namun, Zaru tidak goyah sedikit pun.


"Teknik lambat seperti itu tidak akan pernah mengenaiku. Coba lagi," tantang Zaru.


Asta tidak bodoh. Mengeluarkan Tebasan Membara membutuhkan sekitar sepertiga dari sumber surgawinya. Dia tidak bisa menghamburkan sumber surgawinya begitu saja.


Zaru menarik kedua tanduk di kepalanya, dan tanduk-tanduk itu berubah menjadi sebuah tombak dengan dua mata tombak di setiap sisi. Tombak tersebut berwarna hitam pekat dan mengeluarkan lingkaran cincin yang membentuk tornado kecil di ujung masing-masing mata tombak.


"Tombak Penghancur Semesta," Zaru menyebutkan nama senjata barunya.

__ADS_1


Zaru bermain-main dengan tombaknya dengan lincah sebelum tiba-tiba menerjang maju.


"Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan! Api Kegelapan Membumbung Nirwana," Asta memanggil kekuatan dari halaman pertama Kitab Dewa Api Kegelapan, melepaskan energi roh untuk meningkatkan kekuatannya dalam beberapa saat.


"Pelepasan Roh Serigala Dewata, Mata Surgawi," Asta berusaha menggabungkan pelepasan roh dengan hewan rohnya.


"Booommm...!!!!"


Terdengar ledakan energi saat Asta mencoba menggabungkan dua teknik peningkatan tersebut. Dengan tingkat raga tubuh dan kontrol rohnya saat ini, Asta tidak khawatir akan efek samping dari pelepasan hewan rohnya. Oleh karena itu, ia mencoba menggabungkan kedua teknik peningkatan itu.


"Lumayan. Kau cukup cerdas mencari cara untuk menggabungkan dua pelepasan sekaligus. Namun, itu masih tidak cukup untuk menutupi jarak kekuatan kita," Zaru berkomentar dengan nada memuji, sambil menusukkan tombaknya.


Asta melompat untuk menghindari serangan tombaknya, "Terima kasih atas pujianmu. Sekarang, giliranku menyerang."


"Maju! Dengan senang hati aku akan menerimanya!" tantang Zaru.


Asta maju menyerang, mengalirkan kekuatannya ke dalam pedangnya. Pedangnya bergerak gesit melepaskan tebasan-tebasan kuat.


Setiap kali mata tombak Zaru bertemu dengan pedang Asta, terjadi dentuman energi yang menggetarkan udara di sekitarnya. Namun, jelas terlihat bahwa tombak Zaru lebih kuat dari pedang Asta. Keduanya terus saling beradu dengan semangat dan tekad yang tak tergoyahkan.


Tiba-tiba, Zaru berputar di tempat dengan kecepatan yang luar biasa. Tombaknya membentuk lingkaran berputar yang menciptakan angin kencang yang menghantam Asta.


Asta menghindar dengan sigap, menerapkan kecepatan dan kelincahannya. Ia bergerak seperti bayangan yang sulit ditangkap, mengelak dari serangan tombak Zaru dengan gerakan yang presisi dan terukur. Meskipun keduanya berada dalam pertarungan yang seru, Asta tetap menjaga ketenangan pikirannya dan berusaha mencari celah untuk mengatasi kekuatan besar lawannya.


Tetapi serangan Zaru tidak berhenti begitu saja. Ia melompat ke udara dengan lincah, sementara tombaknya terus berputar menghasilkan aliran energi yang membelah udara. Dengan penuh keahlian, Zaru melemparkan tombaknya ke arah Asta dengan kecepatan yang menakutkan.


Asta merasakan ancaman yang semakin mendekat, namun dia tidak menyerah. Dengan cepat, dia mengayunkan pedangnya dan mengarahkan serangannya ke arah tombak Zaru. Ledakan energi terjadi ketika pedang dan tombak bertemu, menghasilkan kilatan cahaya yang menyilaukan. Meskipun sulit, Asta berhasil memblokir tombak Zaru.


Lambat-laun Asta merasakan tangannya mulai mati rasa setiap kali pedang dan tombak Zaru beradu. Hingga kemudian, Asta pun tak dapat mempertahankan genggamannya. Pedang miliknya jatuh ke tanah. Tubuhnya bergetar merasakan efek dari benturan-benturan tersebut.


Namun, keberanian Asta tak surut. Dalam sekejap, dia merubah fisiknya menjadi api, yang membuatnya kebal dari segala serangan berbentuk fisik. Namun begitu, pusaran angin yang ada pada ujung tombak itu nyatanya tetap mampu melukainya.


"Uhukk! Uhukk! Aku menyerah! Mustahil aku bisa mengalahkanmu menggunakan teknik yang juga kau lihat sepanjang hidupmu," ujar Asta sambil mengangkat kedua tangannya. Asta sadar bahwa ia tak dapat terus melanjutkan pertarungan ini dalam kondisinya yang semakin melemah.


Zaru mengubah kembali tombaknya menjadi tanduk yang ia pasangkan lagi di kepalanya. Senyuman puas terukir di wajahnya.


"Hahaha... Sungguh menarik. Ku pikir kau hanya anak manja yang ditemukan oleh Tuanku. Ternyata kau memiliki sedikit kemampuan juga. Dengan begini, aku takkan ragu untuk membantumu," ucap Zaru sambil tersenyum puas memujinya. Asta masih tercengang mendengar pujian dari Zaru.


"Sudah, tak perlu memaksakan diri lagi. Sekarang kau boleh beristirahat. Lagipula kita akan memulai perjalanan besok," lanjut Zaru sambil berjalan menjauh.


Mata Asta mulai berkunang-kunang, menandakan tubuhnya sudah tak sanggup menahan beban yang diterimanya. Sesaat kemudian, Asta pingsan tak sadarkan diri di atas tanah yang masih hangat dari pertarungan tadi.


Sambil menghela nafas panjang, Zaru merubah ukurannya sedikit lebih besar. Dia berjalan mendekati Asta dan memungut tubuhnya dengan lembut. Dengan tenang, Zaru mengikuti jejak Flares, membawa Asta yang tak sadarkan diri, meninggalkan tempat yang telah membelenggunya selama ini.


Keesokkan harinya, Asta pun terbangun dengan tubuh yang pulih sepenuhnya. Matanya berkedip mencari keberadaan gurunya.


"Hei, Nak. Apa kau sudah siap sekarang?" Tanya Zaru sambil membangunkannya dari lamunannya.


"Ehh, kemana...?" Tanya Asta sambil mengusap matanya yang masih kantuk.


"Tentu saja menerobos ke Ranah Master," ujar Flares menimpali dari belakang dengan senyum lembut.


Namun tiba-tiba terdengar suara yang tak asing. Suara perut Asta yang lapar seakan mengingatkan akan realitas sehari-hari. Asta hanya meringis canggung sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. Untungnya Flares telah menyiapkan hidangan untuknya.


Setelah makan, Flares mendekati Asta dan dengan lembut memegang kedua pundaknya. Sebuah sensasi yang akrab merayap perlahan di seluruh tubuhnya - sensasi nyeri saat menerobos ranah.


"Akhhhh...!!!" Teriak Asta tersedu-sedu karena sensasi yang tak terduga ini. Flares benar-benar tak memberinya kesempatan untuk beristirahat, bahkan saat dia mencerna makanannya.


"Zaru, lakukan!" Perintah Flares. Zaru memegang pundak Asta dan ikut menyalurkan kekuatannya. Hal itu guna membantu mempercepat proses penerobosannya agar tak memakan waktu yang lama.


Proses penerobosan ranah menjadi semakin menyakitkan ketika dia merasakan energi dari Flares dan Zaru mengalir padanya. Asta merasa jiwanya seperti dicabik-cabik dan otot-ototnya dirobek dari dalam.


Meski begitu, Asta menekan rasa sakitnya dengan tekadnya. Ini berbeda dengan penerobosan sebelumnya. Kini, bukan hanya tenaganya yang bekerja, melainkan juga stimulasi energi dari Flares dan Zaru yang memaksanya melangkah maju.


Hanya dalam dua hari, pemurnian ranah berhasil diselesaikan. Asta telah mencapai Ranah Master pada usia yang masih muda, baru menginjak 12 tahun.


Keesokan harinya, mereka siap meninggalkan Lembah Neraka, menuju petualangan baru.


"Guru, apa kita akan pergi sekarang?" Tanya Asta, penuh semangat.


Flares menganggukkan kepalanya dengan tulus. Mereka bertiga bersiap meninggalkan Lembah Neraka, melangkah menuju tahapan baru dalam perjalanan mereka.


"Ayah, Ibu! Tunggulah aku! Aku pasti akan segera menemukan kalian!" Teriak Asta penuh tekad.


# Arc 1 End "Menapaki Jalan Takdir Surgawi"


 


Akhirnya, setelah sekian lama waktu berlalu, Arc pertama selesai direvisi. Saya ucapkan terima kasih, bagi kalian yang telah bersabar dan menunggu selama ini.


Saya juga sangat berterimakasih kepada kalian para pembaca baru yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karyaku yang ini. Sekaligus, untuk meminta maaf karena keterlambatan revisi ini.


Arc selanjutnya, akan ku mulai revisi dan kemungkinan selesai bulan depan. Jadi, ku ucapkan sampai jumpa di pertemuan selanjutnya, see you in next time :)

__ADS_1


From me, San_art (snjy_3)


__ADS_2