Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 012 Pergi (revisi)


__ADS_3

"Mengganggu saja," gumam Ace pelan di dalam hatinya setelah mengarahkan auranya pada Kenshin Utake.


Setelah mengancamnya agar diam, Ace kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu mengejek Asta. Pakaiannya terlihat basah kuyup karena keringatnya yang mengalir deras. Bahkan dari sorot matanya, bisa dipastikan bahwa ia sudah setengah langkah menuju tak sadarkan diri. Namun sebelum ia benar-benar pingsan, Ace segera menarik kembali auranya.


Setelah tekanan tersebut menghilang, barulah Asta bisa bernafas lega. Kesadarannya benar-benar hampir menghilang jika bukan karena Ace yang menarik kembali auranya. Namun, bukannya bisa langsung berdiri, Asta malah ambruk ke tanah karena saking lelahnya.


"Apakah hanya segini saja kemampuan dari seorang Master Roh Ahli…?" sindir Ace sambil tertawa melihatnya kewalahan.


Asta tak menanggapi sedikitpun apa yang Ace katakan. Daripada menanggapi, menstabilkan kembali nafas adalah hal terpenting yang ia pikirkan saat ini. Menanggapi ucapannya hanya akan membuatnya semakin terpojok dengan segala ucapan dan perkataan bawelnya itu.


"Apa yang harus kulakukan dengan penguntit itu? Apakah kau punya cara?" Tanya Ace kepada Flares melalui telepati.


"Biarkan saja. Bukankah tujuannya kesini untuk mengantarkan segala barang-barangnya yang tertunda?" Balas Flares sambil melihat ke arah Asta.


"Ahh, iya juga. Aku lupa kalau aku yang memintanya pada Helio sebelumnya,"


Selesai berbicara dengan Flares melalui telepati, Ace kembali melanjutkan mengomentari kekurangan dan kelemahan yang dimiliki oleh Asta. Menurutnya, sebagai seorang Master Roh yang juga terlahir dengan Roh Dewa, Asta Raiken masih sangat lemah, meski terlahir dengan Esensi Roh yang terkenal akan daya kekuatannya.


"Kontrol Rohmu memang meningkat secara signifikan, tapi sebagai Master Roh, kontrol Auramu sangat buruk, sama halnya seperti kontrol Rohmu sebelumnya," ujar Ace memberinya komentar.


"Tapi bagaimana aku..."


"Master Roh adalah Kultivator Sejati yang berfokus pada akumulasi pemahaman terhadap roh, sedangkan kekuatan esensi roh terpaku pada aura yang dimilikinya. Meskipun kau terlahir dengan Roh Dewa yang memiliki keunggulan sebagai tingkatan Esensi Roh tertinggi, bukan berarti kontrol aura itu hal sepele yang perlu dipelajari," potong Ace saat Asta ingin berbicara.


Setiap kali ia mencoba untuk berbicara, namun saat itu Ace terus memotongnya dengan cepat sebelum Asta bisa menyelesaikan ucapannya. Sembari menghembuskan nafas pelan, Asta mencoba untuk memulihkan diri. Ace terus mengoceh tentang segala kekurangan yang dimiliki Asta hingga membuatnya menguap bosan.


Lagi-lagi, Ace berbicara tentang pondasi yang rapuh, peningkatan Kultivasi yang tidak stabil, kontrol roh dan aura yang lemah, serta kurangnya keberanian dalam melakukan penempaan raga tubuh secara terus menerus. Ucapannya terus berputar-putar di sekitar kata-kata itu.


Meskipun awalnya dapat menerima ocehan serta sindiran yang diberikan oleh Ace, lama-kelamaan Asta pun geram mendengarnya. Tak tahan, ia pun membalas.


"Diamlah..!! Kau mencemoohku dengan ucapan seperti itu seakan-akan aku tidak pernah berlatih. Apa hakmu berkomentar tentang kultivasiku?!" Bentak Asta balik seketika, membuat Ace terdiam.


"Beruntunglah aku mengenal Guru sehingga bisa berlatih dengan baik, tapi meski begitu aku hanyalah anak berusia 10 tahun saat ini, apakah selama ini kau buta?! Jika kau memang percaya akan ucapanmu tentang 'serigala istimewa', seharusnya kau mengajariku tentang kontrol aura dari awal, bukannya asal berkomentar!!" Lanjutnya lagi.


Mereka berdua pun saling diam dalam keheningan tanpa ada yang memulai bicara. Flares, yang awalnya masih tertawa, seketika terhenti saat Asta tiba-tiba mengeluarkan emosinya.


Ace pun terdiam menyesal karena terlalu banyak bicara. Memang, sebenarnya tidak seharusnya Ace terus-menerus berkomentar tentang hal itu. Namun, bagaimanapun, Ace ingin Asta menjadi sekuat mungkin dalam waktu singkat. Namun, ia lupa kalau Asta hanyalah anak usia 10 tahun yang masih membutuhkan bimbingan dalam proses belajar.


Ace lalu segera meminta maaf padanya seraya berjanji akan membawanya ke suatu tempat di mana Asta bisa berkultivasi lebih cepat. Tempat itu juga akan memungkinkan Asta melatih kontrol aura dan rohnya dengan lebih mudah dalam waktu bersamaan.


"Tidak perlu dipikirkan, aku hanya asal bicara. Lupakan saja," balas Asta sambil membersihkan pakaiannya dari debu.


"Apakah aku bisa meminta pengulangan?" ucap Asta meminta pengulangan.


"Mengulang?" Tanya Ace memastikan.


"Ya, mengulang," seru Asta lalu melesat cepat mengarahkan pukulannya.


"Hah... Sepertinya kau tak belajar dari sebelumnya," gumam Ace pelan dan tampak santai menyambut pukulannya.


Meskipun Ace berdiri dengan tubuh besarnya, namun tidak satu pun pukulannya yang berhasil mendarat di badan berbulunya. Pukulan demi pukulan terus ia lancarkan, berharap dapat menyentuhnya dengan pukulannya.


"Dengan badan sebesar ini saja, kecepatannya sama sekali tak berbeda dengan bentuk mungilnya. Sepertinya akan cukup sulit untuk mengenainya," gumam Asta di dalam hatinya.


Meski begitu, menyerah bukanlah pilihan. Asta terus menyerang, sambil menambahkan beberapa tendangan di setiap pukulannya. Bahkan Asta Raiken tak segan untuk mengerahkan teknik bertarung seni surgawinya.


Dengan sekuat tenaga, Asta menerapkan semua pemahaman serta teknik bertarung tangan kosong yang telah ia pelajari. Namun, tak satupun dari semua itu yang mampu mengenainya.


Dengan tubuh dan badan besarnya, Ace tak terlihat kesulitan sama sekali menghindari serangan-serangan itu. Gerakannya yang cepat benar-benar sangat menyulitkan Asta untuk bisa mendaratkan pukulannya.

__ADS_1


Di sisi lain, Flares mengevaluasi efisiensi dari serangan yang dilancarkan oleh Asta pada Ace. Setiap beberapa menit sekali, Flares langsung memberitahukannya pada Asta hasil evaluasinya, dengan harapan membuatnya belajar menjadi lebih baik.


Sedikit demi sedikit, Asta meningkatkan pemahaman seni tangan kosongnya dengan lebih baik. Sekarang, Asta bahkan mampu melakukan beberapa gerakan kompleks dalam sekali serangan.


Ace sudah tahu bahwa di balik kemajuan itu, Flares-lah yang sengaja membantunya dengan memberikan pemahaman dan arahan. Ace tentu tak keberatan dengan itu, apalagi karena Asta takkan pernah bisa menandinginya, terutama dalam hal kecepatan.


"Bocah, tampaknya kau masih belum belajar dari kejadian sebelumnya. Bahkan jika pemahamanmu terus meningkat, kau tetap takkan mampu mengenai ku. Masih butuh waktu lama bagimu untuk dapat menyaingiku," ucap Ace.


"Omong kosong! Lihat saja, aku pasti bisa mendaratkan pukulanku padamu," balas Asta dengan penuh percaya diri.


"Memang benar, kau bisa mengenai ku, akan tetapi bukan pukulanmu, melainkan perutmu yang mengenai kakiku," ujar Ace pelan lalu menendangnya sehingga Asta terhempas ke belakang dan menabrak pohon di belakangnya.


Asta meringis pelan sembari memegangi perutnya, "Akhh, sial! Bagaimana mungkin?!" Asta bergumam lirih tidak percaya.


"Apanya yang bagaimana mungkin? Semua hal dapat terjadi di dunia ini. Sedari awal seharusnya kau menyadari perbandingan kekuatan kita yang sangatlah jauh. Penting bagimu untuk memahami dengan jelas kemampuan lawanmu," ucap Ace lalu duduk mendekatinya.


"Bagaimana caranya bagiku untuk menyadarinya, sedangkan peringkatmu saja tidak bisa kurasakan? Kau terasa seperti tak memakai sumber surgawi sama sekali, sehingga sulit bagiku untuk menganalisis kecepatanmu. Hanya saat kau menahan ku dengan auramu, barulah setelah sekian lama aku bisa merasakan samar-samar kekuatanmu dari sumber surgawimu," tanya Asta.


Ace tertawa mendengar hal itu, "Tentu saja. Itu karena aku menyamarkannya hingga ke batas terendah sehingga hanya mereka yang menguasai kontrol aura tingkat tinggi yang dapat merasakannya, atau paling tidak mereka yang satu tingkat denganku," ucap Ace menjelaskan.


Mendengar hal tersebut, Asta pun terkejut bukan main, karena itu artinya tingkatan kedua kontrol dasar Ace telah berada di pemahaman tingkat tinggi. Asta pun teringat kembali dengan apa yang pernah Helio Utake katakan padanya, agar tidak meremehkan siapapun yang tak bisa di sadari kekuatannya dan terasa janggal. Karena biasanya mereka adalah para Master tingkat tinggi yang sedang menyembunyikan identitasnya.


"Ace, bukankah sebelumnya kau bilang kontrol dasarku rapuh? Lalu mengapa kenaikan kultivasiku ini cukup cepat daripada orang pada umumnya?" tanya Asta penasaran.


"Apa aku perlu menjelaskan hal yang sudah kau ketahui sebelumnya? Kontrol dan akumulasi pemahaman itu berbeda. Penting bagi seorang Master Roh untuk menguasai keduanya agar bisa menampilkan secara penuh potensi dari Esensi Roh," Ace menjelaskan dengan singkat.


"Maksudmu tingkatan seseorang tidak bisa menentukan seberapa kuat seseorang?" tanya Asta.


"Apa-apaan kesimpulan yang kau ambil itu," Ace langsung bergerak memukul kepalanya.


"Tingkatan seseorang memang menentukan tingkat kekuatan seseorang. Tidak semua kultivator memilih jalan sebagai Master Roh dalam Menapaki Jalan Takdir Surgawi. Ada banyak jalur surgawi lainnya, termasuk seni bertarung tanpa senjata yang merupakan salah satu dari berbagai jalur surgawi yang ada," jelasnya lebih lanjut.


Perbedaan tingkatan ranah seseorang memang menjadi patokan seberapa besar kekuatan penuh seseorang, akan tetapi dengan kontrol aura ataupun roh, bisa menutupi perbedaan kekuatan yang terpaut jauh tersebut.


"Meskipun aku dan dia menuntunmu untuk menjadi Master Roh, bukan berarti kau tak bisa menapaki jalan yang lainnya. Karena jika kau ingin membantunya untuk hidup dan mendapatkan tubuhnya kembali, kau pun harus menjadi seorang Master Tempa sekaligus Peracik Obat tingkat tinggi. Perjalananmu akan panjang dan sangat melelahkan, tapi bukan berarti akan membosankan," ujar Ace.


Asta memasang raut wajah cemberut mendengarnya, "Memang tidak akan membosankan, tapi lebih ke menegangkan. Aku tidak tahu tempat apa yang akan kau perlihatkan padaku serta musuh seperti apa yang akan kuhadapi ke depannya. Aku yakin akan lebih berbahaya daripada berlatih dengan tenang di sini."


"Selain itu, aku perlu mencari kejelasan tentang hilangnya ayah dan ibu. Jika pun aku tak bisa menelusuri kebenarannya, maka aku harus membalaskan dendam ini pada siapapun yang merusak kedamaian. Dewa Iblis sekalipun, jika mereka yang menjadi dalang di balik semuanya, aku tidak akan takut untuk menentangnya," lanjut Asta.


Flares beserta Ace kemudian tertawa mendengar hal itu. Sungguh keberanian yang nekat menantang seorang dewa seperti itu tanpa persiapan apapun.


"Tentu saja. Untuk itu pertama-tama aku harus mengalahkanmu terlebih dahulu," ujar Asta sembari tersenyum dan tinjunya menyentuh bulu-bulu halus Ace.


"Lihat kan, aku berhasil menyentuhmu dengan kemampuanku sekarang," ucapnya, membuat Ace langsung terdiam tak berkata-kata. Flares menertawakan Ace yang mudah terkecoh hingga menurunkan pengawasannya.


Meskipun tujuan Ace memang untuk menjadi Hewan Rohnya, tetapi ia sungguh tak menyangka akan kalah dengan cara dibodohi seperti itu. Asta pun tertawa kegirangan karena berhasil memenuhi persyaratannya.


Di sisi lain, Kenshin yang sudah tak sabar pun akhirnya keluar setelah merasa situasinya cukup tenang, "Ahh, maafkan aku. Tapi aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, ada hal yang harus aku sampaikan sekarang juga," ucap Kenshin pada Ace yang mendelik tajam ke arahnya.


Asta menengok ke samping untuk melihatnya yang sedang tersenyum canggung, "Ahh, Kenshin, jadi itu kau. Kupikir siapa," sapa Asta dengan senyuman tipisnya.


"Asta, aku mempunyai pesan untukmu dari ayahku. Ayah sudah mengijinkanmu untuk pergi dari desa. Jika kau memang ingin, maka pergilah sekarang sebelum Moegi datang," jelas Kenshin menyampaikan pesan ayahnya.


"Apa?! Sekarang juga?! Tapi aku belum mengemas barang-barangku di rumah. Lalu aku juga belum berpamitan dengan orang-orang desa. Kenapa harus tiba-tiba?" ujar Asta terkejut.


"Untuk semua barang-barangmu tak perlu khawatir, aku sudah memasukkan semuanya ke dalam cincin penyimpanan ini," Kenshin menyodorkan cincin tersebut padanya.


"Cincin Jade Samudera ini adalah pemberian dari ayahku untukmu, dan kuharap kau menggunakannya dengan sebaik mungkin. Untuk menggunakannya sendiri, kau pasti sudah mengetahuinya tanpa perlu kujelaskan lagi, bukan?" ujar Kenshin.

__ADS_1


Baru saja Asta hendak membuka mulutnya untuk bertanya, Kenshin pun langsung memotongnya dan menceritakan kejadian beberapa saat sebelumnya. Kenshin juga menyampaikan pesan ayahnya agar Asta berhati-hati dan lekas kembali pulang.


Beberapa saat sebelumnya,


Sepulang dari rumah Asta, Kenshin langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kejadian hari ini membuat kepalanya sedikit pusing dan berat. Helio mengangkat kedua alisnya heran.


"Ada apa?" Tanya Helio Utake.


"Brengsek itu memintaku untuk membangun kembali rumahnya mulai besok. Dia pikir perkara mudah ya membangun rumah itu," Kenshin mendengus kesal yang kemudian dibalas dengan tawa kecil oleh Helio Utake.


Helio Utake tertawa kecil mendengarnya, "Dengarlah, ayah ingin berbicara penting tentang suatu hal yang sedang kita hadapi saat ini,"


"Hal lain..? Apa itu..?" Tanya Kenshin, penasaran mengenai apa yang ingin ayahnya sampaikan.


"Dengarkan ini, ayah ingin kau pergi ke rumah Asta kembali dan temui dia. Ingat, jangan sampai Moegi melihatmu kembali ke sana. Kau tahu apa ini?" Ucap Helio sambil memperlihatkan padanya sebuah cincin Jade Samudera.


"Pergi dan ambil semua pakaian serta barang-barang milik Asta. Kau sudah tahu bukan cara menggunakannya, jadi bergegaslah," lanjutnya memerintah putranya.


Helio menyodorkan cincin penyimpan tersebut pada putranya. Sambil mengangguk mengerti, Kenshin pun menerima hal tersebut.


"Lalu setelahnya apa yang harus kulakukan dengan barang-barang miliknya itu, ayah...?" Tanya Kenshin.


"Setelah dipikir-pikir, ayah memutuskan untuk mengijinkannya pergi meninggalkan tempat ini, dan tugasmu sekarang adalah memastikan bahwa Asta tidak meninggalkan barang-barang miliknya sekaligus untuk menggagalkan rencana Moegi yang berniat ikut dengannya. Kemarin, Ryu sempat berpesan padaku mengenai hal ini. Kau sudah mengerti, kan? Kalau begitu ambil ini dan pergilah ke rumah Asta. Ambil segala peralatannya yang tertinggal, lalu susul ia di hutan. Ini adalah kesempatannya untuk pergi sebelum Moegi menyadarinya," ujar Helio Utake.


"Ya, Ayah. Aku mengerti," ucap Kenshin sambil mengangguk. Setelah itu, ia pun pergi menuju rumah Asta.


Setelah Kenshin pergi dengan membawa cincin penyimpanan yang diberikan oleh ayahnya, Helio Utake menghela nafas panjang, "Mungkin kau memang ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang sangat hebat di masa depan nanti. Maka dari itu, jagalah dirimu baik-baik," gumam Helio pelan.


Dengan cepat, Kenshin berhasil menuju rumah Asta tanpa menemukan Moegi di jalan. Kenshin pun bernafas lega. Pikirnya, Moegi mungkin tengah berlatih saat ini, sehingga itulah mengapa ia bisa dengan mudah pergi ke rumah Asta tanpa harus berdalih dulu padanya.


Setelah selesai memasukkan semua barang milik Asta ke dalam cincin tersebut, Kenshin melanjutkan misinya dan menuju ke hutan, tempat Asta berencana mencari Ace.


Setelah beberapa saat mencari, terdengar teriakan yang tak asing di telinganya. Dari suara itu, Kenshin langsung menyadarinya dengan cepat, yakin bahwa itu adalah suara orang yang sedang dicarinya, Asta. Ia pun bergegas menuju sumber suara tersebut.


Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di lokasi, di mana Asta berada, namun begitu ia tak bisa langsung menghampirinya. Ace langsung memancarkan auranya ke tempatnya berada, sehingga ia pun terhenti di sana.


Awalnya, Kenshin Utake cukup terkejut melihat sosok serigala sebesar sepuluh orang dewasa, namun melihat corak bulunya yang persis dimiliki oleh Ace...


Dengan bantuan Kenshin, sekarang ia tak harus kembali ke rumahnya untuk mengemas barang. Juga, Asta bisa menghindari Moegi yang memaksa untuk ikut.


"Ahh, jadi kau yang telah mengemas semua barang-barang milikku, kalau begitu terima kasih karena telah mengemasnya. Dengan begini, aku tak perlu lagi kembali ke rumah," ucap Asta berterima kasih pada Kenshin.


"Kau simpanlah cincin itu dengan baik-baik. Awas jangan sampai hilang. Karena itu termasuk barang berharga," jelas Kenshin mengingatkannya.


"Pasti aku akan menjaganya dengan baik. Kalau begitu, aku pamit ya, sahabatku. Kuharap kau tak merindukanku nanti. Oh, iya, tolong sampaikan salamku juga pada yang lainnya," ucap Asta berpamitan dengan Kenshin.


Kenshin pun mengangguk cepat dan menyuruhnya untuk segera pergi.


"Ayo, Ace..!! Kita berangkat sekarang juga. Kita lanjutkan obrolannya sembari menuju tempat yang kau janjikan itu," ajak Asta pada Ace yang hanya dibalas dengan anggukan.


"Hati-hati di jalan!! Ingat untuk tidak kehilangan cincin itu!!" Teriak Kenshin memperingatkannya supaya berhati-hati.


Bersama Flares dan Ace, Asta pun memulai perjalanan mereka meninggalkan tempat yang Asta tahu hanyalah desa kumuh di tengah hutan. Padahal kenyataannya, tempat tinggalnya tersebut adalah Desa Kuil Api Tersembunyi, salah satu tempat tersembunyi milik Sekte Kobaran Api Sejati yang akan dijadikan tempat berdirinya Sekte Kobaran Api Sejati yang baru.


Tanpa memikirkan rintangan, tanpa takut akan jebakan, Asta dengan semangat memulai perjalanan panjang tersebut bersama Gurunya dan Ace. Dengan harapan, ia dapat mengetahui alasan mengapa kedua orangtuanya menghilang, yang merupakan alasan utama mengapa ia berkultivasi dan Menapaki Jalan Bela Diri menuju Jalan Takdir Surgawi.


"Jaga kesehatanmu, sahabatku, Kenshin..!!!" Teriak Asta dari kejauhan.


"Kau juga, Asta...!!!" Balas Kenshin.

__ADS_1


__ADS_2