Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch52 Keributan Diatas Podium


__ADS_3

Sementara di Arena A Harumi Ayano berhasil memenangkan pertarungan disisi lain pertarungan antara Sang Ryun melawan Wen Han masih berlanjut.


Kemampuan Harumi Ayano yang juga merupakan seorang peracik obat melemahkan kemampuan esensi racun darah Rou Zi sehingga membuatnya kesulitan.


Sang Ryun jelas unggul melawan Wen Han dalam tingkatan kultivasi akan tetapi pemahaman Wen Han terhadap seni tongkatnya melebihi pencapaian bakat Ryun.


Jelas terlihat ia kelabakakan dalam mengikuti kecepatan gerak tongkat emas Wen Han, mata penonton dibuat tak percaya melihat pemandangan dari pertarungan tersebut. Sang Ryun yang sebelumnya unggul melawan Yan Hao dari Sekte Danau Biru kelabakan oleh Wen Han dari Keluarga Han.


Pertarungan pun akhirnya berakhir dengan dimenangkan oleh Wen Han dari Keluarga Han.


Turnamen dilanjutkan kembali ke ronde berikutnya, pembawa acara menyebutkan 4 angka yang akan bertanding.


Ye Juan naik ke Arena A bersiap akan pertarungan diikuti dengan Tang Wu di arena B. Pertarungan mereka berdua sama-sama berlangsung hanya sebentar. Ye Juan dan Tang Wu lolos ke fase berikutnya.


Seterusnya ada pertarungan Asila Moegi melawan Hanka Yama dari Sekte Golok Perkasa yang kemudian dimenangkan oleh Asila Moegi yang menggila dengan hujan teratai apinya.


Beberapa ronde berikutnya ada pertarungan Shiro melawan Chong Shuang dari Sekte Tanah Leluhur.


Pertarungan Shiro melawan Chong sangat menarik untuk di saksikan. Pertarungan yang mereka sajikan tampak seperti pertunjukan akrobat seorang pembunuh cepat.


Keduanya sama-sama menggunakan dua pisau sebagai senjata dan tekhnik langkah cepat sebagai dasar tekhnik bertarung mereka. Yang mana merupakan tekhnik yang digunakan para pembunuh cepat, seni membunuh.


Mereka bertarung dengan imbang keduanya sama-sama cepat dan kuat dalam hal tekhnik membunuh.


"Pertarungan apa ini..?!!"


"Salah langkah sedikit saja bisa kalah.."


"Keduanya memiliki tekhnik dan kemampuan yang seimbang, akan sulit untuk menemukan siapa yang akan menang,"


Shiro dan Shuang tersenyum menikmati pertarungan tersebut. Dalam hati mereka berdua pertarungan tersebut tak lain hanya untuk menentukan siapa yang memiliki tekhnik yang lebih baik.


Dari atas podium Shai Ya tak henti-hentinya bersorak mendukung muridnya tersebut. Membuat suasana di atas podium menjadi sedikit heboh karenanya.


"Shai Ya! Tak bisakah kau diam?!" Ujar Liang Wen.


"Urus saja urusanmu sendiri!" Balasnya lalu kembali menyoraki Chong Shuang.


Para ketua Sekte yang lainnya tertawa melihatnya.


Namun pada akhirnya kedua-duanya berhenti di tengah pertarungan sambil menghadap penuh senyum satu sama lain.


"Ada apa..?"


"Mengapa berhenti ayo kembali bertarung..!!"


Para penonton pun di buat keheranan melihat mereka berdua tiba-tiba berhenti bertarung di tengah-tengah pertarungan. Bahkan ketua Shai Ya pun ikut heboh di atas podium tersebut.


"Brengsekkk!!! Pergilah ke tempat lain kalau kau ingin membuat keributan!!" Teriak Ketua Sekte Pulau Dewa, Liang Wen.


"Hei, hei, hei! Shai Ya bisakah tenang sedikit kau terlalu ribut! Mungkin mereka kelelahan apa kau tak mengerti?!" Teriak Ketua Sekte Danau Biru, Yu Zhao.


Lagi dan lagi Shai Ya membentak mereka untuk tak ikut campur dan diam saja. Tentu jawaban itu tidak bisa di terima mereka berdua, Misaki dan Rai Ken bergegas untuk menjauhkan mereka berdua dari Shai Ya sebelum hal serius terjadi.


Keheningan di Arena pun diakhiri dengan tawa keras dari Chong Shuang yang kemudian dengan lantang mengakui kekalahannya dari Shiro Nekoshi.


Jawaban tiba-tiba itu tentu membuat para penonton melohok, Shai Ya pun tiba-tiba berbalik ke arah Rai Ken dan menatapnya tajam.


"Ken! Apa kau menyuap murid sekteku dengan sumberdaya agar ia menyerah jika bertemu dengan murid sektemu, hah?!" Tanya Shai Ya yang tentu membuat para Ketua Sekte yang lain tertawa.


"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Shai Ya leluconmu sungguh buruk," balasnya.


Shai Ya pun menghembuskan nafasnya kesal karena yang lainnya terus tertawa menertawakannya.


Wajar mereka terkejut dengan hasil akhir pertarungan tersebut karena mata semua penonton melihat pertarungan mereka berjalan dengan baik dan seimbang. Namun nyatanya terlihat goresan kecil di leher Chong Shuang yang mana mungkin jika Shiro serius menyerangnya ia pasti terbunuh.


Ronde selanjutnya pun dimulai kembali, akan tetapi Asta yang merasa bosan pergi meninggalkan arena lebih dahulu.


"Mau kemana, Asta..?!" Tanya Zaraki melihatnya yang tiba-tiba melangkah pergi meninggalkan arena.


Sambil mengusap perutnya Asta pun menjawab,"perutku lapar aku ingin makan," ujarnya.


"Hah..?!!! Kau bahkan tidak bertarung sama sekali dan sekarang kau bilang lapar?! Sepertinya perutmu bermasalah.." Asta pun tak menggubrisnya berlalu pergi meninggalkan Arena.


Melihat Asta berjalan menjauh dari Arena Moegi pun berlari menyusulnya.


"Moe, ingin kemana kau?!" Tanya Gao Li.

__ADS_1


"Urus saja urusanmu sendiri..!!" Balasnya lalu pergi.


Gao Li mengernyitkan dahinya heran dengan jawaban tersebut. Tetapi setelah ia melihat Asta yang tak jauh di depan Moegi ia pun tahu kemana Moegi ingin pergi.


"Mau kemana singa itu..?" Gumam Zaraki melihat Moegi yang juga pergi meninggalkan Arena.


"Biarkan sajalah. Paling-paling mereka sudah membuat janji sebelumnya. Mereka pasti ingin jalan-jalan di jalanan," gumam Zaraki memilih tak mengikuti mereka berdua karena pikirnya ikut pun hanya akan di abaikan saja.


Moegi pun menyusulnya di ruang istirahat ia mengernyitkan dahinya heran melihatnya yang ikut meninggalkan arena pertarungan.


"Ada apa?" Tanya Asta.


"Apa aku tidak boleh pergi juga? Lagipula tidak ada peraturan yang menetapkan bahwa peserta yang lolos ke fase berikutnya harus tetap di sisi Arena. Aku bosan bagaimana kalau kita berjalan-jalan di jalanan..?" Ajak Moegi.


Asta pun menganggukkan kepalanya mereka berdua pun pergi berjalan-jalan bersama.


Kali ini tujuan Asta bukanlah untuk membeli jajanan seperti sebelumnya, tujuannya adalah untuk membeli bahan obat tingkat 1 untuk ia berlatih. Meskipun banyak bahan obat di cincinnya, semua itu adalah bahan obat tingkat 3 dan 4. Akan sangat disayangkan jika ia membuang-buang bahan obat untuk sebuah latihan.


Disisi lain Moegi hanya menemaninya pergi berbelanja tanpa ada niatan untuk membeli apapun.


"Untuk apa semua bahan obat tingkat 1 itu..?" Tanya Moegi bingung mengapa Asta membeli begitu banyak bahan obat dengan singkat ia menjawabnya untuk berlatih.


Setelah selesai dengan kegiatannya Asta pun mengajak Moegi untuk kembali ke arena pertarungan. Takutnya fase ketiga sudah dimulai.


"Asta apa kau merasakannya?" Tanya Moegi pelan sambil menatap penuh kebawah.


"Apa maksudmu?" Asta pun bingung apa yang Moegi maksudkan.


"Hmm, tidak ada mungkin hanya perasaanku saja," ucapnya pelan lalu mengajaknya kembali.


Nampaknya sesaat mereka berdua pergi ada sebuah pertarungan yang sangat menarik hingga membuat suasana arena menjadi sangat ramai sekali.


"Apa sudah selesai berpacarannya..?" Tanya Zaraki secara tiba-tiba membuat jantung Moegi berhenti berdetak sesaat.


"Apanya yang berpacaran!!" Refleks Moegi pun langsung menampar wajahnya dengan keras lalu pergi meninggalkan mereka berdua menuju ke tempat dimana ia sebelumnya berada.


Pertarungan yang menarik benar-benar terjadi. Saat ini ada Yin Fushu dari Sekte Danau Biru melawan Lin Jaza Tiandu.


Ilmu Pedang Besar Yin Fushu yang cukup terkenal sangat menarik untuk di saksikan, disisi lain Jaza Tiandu yang juga cukup di kenal dari 5 Keluarga Besar juga mempunyai bakat yang tak rendah, ilmu goloknya terlihat tajam dan mematikan.


Gerakan mereka berdua terlihat cepat meskipun sama-sama menggunakan tipe senjata berat.


"Yin Fushu itu sepertinya akan menjadi tembok penghalang bagi Jaza Tiandu untuk bisa lolos ke fase ketiga,"


"Itu adalah seni bertarung Ketua Sekte Danau Biru, sepertinya Master Yu Zhao mengajari Yin Fushu secara langsung,"


serangan tebasan pedang besar Yin Fushu sangatlah berat dan sulit ditahan, meskipun awalnya Jaza cukup sanggup mengimbanginya lama-kelamaan gerakan Yin Fushu menjadi sangat berbahaya.


Setelah beberapa kali bentrokan golok di tangan Jaza pun dihancurkan oleh pedang besar tersebut. Penonton pun bertepuk tangan pada Yin Fushu, berpikir bahwa ia yang memenangkan pertarungan.


Nyatanya pertarungan tak berhenti disana, Jaza tak mau mengalah begitu saja meski senjatanya sudah di hancurkan ia tetap bersikeras melawan sembari mengaktifkan esensi rohnya.


Seketika gerakan Jaza menjadi sangat cepat membuat Yin Fushu sedikit kesulitan untuk menyerangnya. Tentu Jaza pun tak membuang kesempatan tersebut dan memberikan serangan secara terus-menerus dari segala penjuru.


Tendangan Jaza tak hanya berarah dari empat penjuru, ia juga datang dari udara. Yin Fushu pun hanya bisa diam sembari mencoba menghadang setiap serangannya dengan pedangnya.


"Kuda Terbang memang sesuai dengan reputasinya...!!" Teriak Yin Fushu memujinya.


"Aku tau saudara Yin belum serius sama sekali untuk apa banyak omong kosong," balas Jaza.


Yin Fushu pun menampilkan senyuman di wajahnya,"jika begitu maka aku takkan sungkan,"


Yin Fushu lalu memutarkan pedang besarnya yang lalu kemudian berubah menjadi sebuah busur. Hal itu adalah karena kemampuan esensi rohnya yang merupakan Pedang Busur.


Tak hanya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam tekhnik pedang besar kemampuan memanah Yin Fushu juga terbilang sangat tinggi.


Dengan kecepatan gerak yang Jaza miliki ia bahkan tidak kesulitan sama sekali untuk memanahnya. Selain akurat dan cepat panah yang Yin lepaskan sangatlah kuat. Jaza hanya pernah mencoba menendangnya sekali namun ia malah terhempas ke belakang.


Yin Fushu bergerak cepat mengarahkan panahnya ke atas langit, lalu kemudian hujan anak panah pun terjadi.


Jaza Tiandu yang berada di sekitarnya pun tak bisa menghindarinya sama sekali dan harus dikalahkan oleh tekhnik hujan panah tersebut.


Yin Fushu kemudian membantunya berdiri untuk di bawa ke ruang perawatan.


Pertarungan ronde terakhir adalah Gao Li melawan seseorang dari Sekte Menengah, satunya adalah Yu Tiandu melawan seseorang dari Sekte Menengah pula.


Gao Li menang telak dari lawannya hanya dengan tiga jurus membuat Asta pun sampai membuka matanya lebar-lebar melihatnya.

__ADS_1


"Saudara Gao sangatlah kuat, aku mungkin akan kesulitan jika harus bertemu dengannya nanti," gumam Asta pelan.


Disisi lain Yu Tiandu juga menghempaskan lawannya ke luar arena dan memenangkan pertarungan dengan cepat.


Setelahnya pembawa acara pun kembali mengumumkan sosok yang lolos ke fase berikutnya tanpa bertarung yakni orang yang sama, Tang San dari Sekte Pulau Dewa.


Tak hanya para peserta yang iri dengan keberuntungan yang dimilikinya bahkan para penonton pun menjadi iri padanya.


Disisi lain Tang San sendiri sudah tak sabar ingin bertarung akan tetapi ia sudah dua kali ini lolos tanpa harus melakukan gerakan apapun sedikitpun. Ia pun menelan kekesalannya tersebut.


Pihak Kekaisaran pun kembali memberikan waktu istirahat, akan tetapi kali ini hanya setengah jam saja.


Di saat sebelum bubar Manager Row memberikan tanda pada Asta untuk menemuinya di luar Asta pun mengangguk dan akan segera menemuinya.


"Ada apa Manager memanggilku?" Tanya Asta.


"Plakkk..!!"


"Aduhh!! Apa yang kalian lakukan brengsek!!!" Teriak Asta kesal ketika Zaru dan Ace tiba-tiba muncul dan memukul kepalanya.


"Apa yang kau lakukan sebelumnya, apa kau ingin mengintimidasi lawan supaya bisa menang dengan mudah, hah?!" Teriak Zaru.


"Siapa yang menyuruhmu mengerahkan jurus seberbahaya itu?!!" Teriak Ace.


"Apa yang kalian katakan Manager Row sendiri yang mengatakannya kalau aku boleh menggunakan seluruh kekuatanku asalkan aku tidak melepas topengku. Lagipula di sini aku mewakili Asosiasi lalu kenapa kalian berdua yang protes,"


"Diam kau!!" Mereka berdua pun kembali memukul kepalanya dengan keras.


"Bagaimana dengan pertarungannya, Asta..?" Tanya Manager.


"Menarik untuk di saksikan," jawabnya singkat.


"Lalu mengapa kau tiba-tiba pergi di pertengahan pertandingan dengan seorang gadis, hah?!" Teriak Ace dan Zaru bersama sembari memukul kepalanya lagi.


"Sudah besar sedikit dan kau sekarang ingin berpacaran apa-apaan itu," ucap Zaru.


"Bukankah ia gadis seperti singa yang kau intip di sungai itu, bagaimana kau bisa menaklukannya sekarang," ujar Ace.


"Apanya yang mengintip aku tidak sengaja," ujar Asta mengelak.


"Apa?! Bocah ini suka mengintip juga?" Tanya Zaru pada Ace.


"Heem, saat di Kuil Api ia sering sekali melakukannya," ujar Ace sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa-apaan itu fitnah!!"


"Lalu apa kejadian di sungai itu, bukankah kau sengaja mengintip,"


"Kau mewarisi sikap buruknya di masa lalu. Kupikir kau sedikit lebih baik," ujar Zaru sambil memandangnya rendah.


"Sudah kubilang itu tidak sengaja! Apa kau tuli, Zaru!" Teriak Asta membela diri.


Manager Row yang sebelumnya ingin mengajak Asta berbicara tentang turnamen tersebut menjadi lupa dan ikut tertawa melihat pertengkaran diantara mereka bertiga yang mana biasanya Asta yang memisahkan mereka berdua, kini mereka berdua malah terlihat akur dan memojokkannya.


Kaisar Arkhan dari kejauhan mengernyitkan dahinya mendengarkan ocehan mereka bertiga, sedangkan ia melihat Row yang tertawa puas melihat mereka bertiga bertengkar.


"Bukankah mereka sudah cukup tua untuk bercanda seperti itu," gumam Kaisar Arkhan melihat tingkah laku mereka bertiga.


Kaisar Arkhan lalu menghampiri mereka berempat dan bertanya apa yang terjadi pada Manager Row dan mengapa mereka bertengkar keras disana.


"Ahh, maafkan aku karena lupa memberi hormat pada anda, Yang Mulia Kaisar," ucap Asta ketika menyadari ada Kaisar Arkhan di belakangnya, ia pun menunduk memberi hormat padanya.


"Sudah, sudah tidak perlu formal seperti itu, lagipula murid Kakak Row adalah keluargaku juga," ujar Kaisar Arkhan sambil tersenyum.


Asta pun mengernyitkan dahinya heran mencoba melihat sekitar apakah ada orang lain.


"Ada apa, Asta..?" Tanya Kaisar Arkhan. Disisi lain Manager Row kembali tertawa dengan keras.


"Maaf yang mulia, aku hanya ingin bertanya sebenarnya siapa yang anda maksud dengan murid Manager Row, karena disini tidak ada orang lain selain kita berlima, Ace dan Zaru juga bukanlah murid dari Manager Row," ujar Asta.


Kaisar Arkhan pun lebih kebingungan lagi saat Asta mengelak ditambah lagi ia memanggilnya sebagai Manager Roh, yang mana itu bukanlah sebutan yang pantas dari seorang murid ke gurunya.


"Masterku bukanlah Manager Row, Yang Mulia. Meskipun masterku lebih baik dalam hal kultivasi dan pencapaian daripada Manager Row, akan tetapi ia hanyalah sosok pemalas yang kerjaannya makan dan tidur. Tidak ada hal yang bisa di banggakan dari sifat malasnya itu," ujar Asta membicarakan Flares.


Flares pun muncul dari dalam cincin sambil tersenyum mengepalkan tangan.


"Beraninya menjelek-jelekkan nama baik guru disaat guru sedang tidur dengan tenang, apa kau ingin sebuah hukuman,"

__ADS_1


Kaisar Arkhan pun melotot melihat wujud spiritual yang keluar dari cincin milik Asta tersebut.


__ADS_2