
Keesokan harinya arena turnamen bela diri pun kembali ramai dikunjungi para penonton yang sudah tak sabar untuk menyaksikan pertandingan fase keempat Turnamen Seni Bela Diri.
Peserta yang sebelumnya lolos ke fase keempat pun kembali memenuhi sekitar arena bersiap untuk bertarung memperebutkan posisi teratas di Turnamen Seni Bela Diri tersebut.
Pada pertandingan pertama Cang Hue maju ke arena melawan Zaraki, para penonton berharap bisa melihat kekuatan Cang Hue terungkap dalam pertarungan tersebut.
Sesaat wasit memulai pertandingan tak segan-segan Zaraki langsung mengaktifkan esensi rohnya dan langsung memberikan serangan pertama.
Cang Hue menangkap kapak Zaraki dengan tangan kosongnya seperti bukan sesuatu yang berbahaya sama sekali untuknya.
Ia kemudian melepaskan sebuah gelombang kejut yang sangat kuat hingga menyebabkan Zaraki terjatuh pingsan. Lagi dan lagi Cang Hue mengakhiri pertandingan dengan cepat.
"Cang Hue itu kenapa sampai saat ini belum ada yang bisa menguak kekuatan aslinya, seberapa kuat dia sebenarnya," gumam Asta pelan.
Selanjutnya Gao Li melawan Kenshin, mereka berdua pun menaiki arena, Gao Li menyapa Kenshin sejenak.
"Keluarkan seluruh kekuatanmu, aku takkan menahan diri jika lawanku adalah dirimu, Gao," ujar Kenshin.
"Baru saja aku ingin mengaku kalah semenjak aku melihat bahwa kau adalah lawanku, Ken," ujar Gao Li.
Gao Li melepaskan aura bertarungnya disisi lain Kenshin juga melepaskan aura bertarung yang sama kuatnya. Pertarungan pun dimulai dengan keduanya sama-sama memberikan serangan kuat.
Asta membuka matanya terkejut melihat pemahaman pedang Gao Li ternyata sama kuatnya dengan Kenshin.
Kenshin melepaskan serentetan tekhnik pedang tak berwujud namun Gao Li terlihat tak kesulitan sama sekali menghadapinya seolah-olah ia bisa membacanya.
Pertarungan begitu sengit, arena pertarungan terlihat sudah kembali rusak karena tebasan pedang mereka, tekhnik Pedang Aliran Sungai milik Gao Li sangat tenang dan mengalun indah menepis tekhnik Pedang Tak Berwujud milik Kenshin.
"Tak disangka ternyata ada seseorang yang mampu membuatnya menjadi lebih serius. Kekuatan mereka berimbang!"
"Kupikir pertarungan ini hanya akan seperti pertarungan biasanya yang berakhir cepat!"
Sorak-sorai mengalun di udara dari bangku penonton, pertarungan semakin sengit, tekhnik Aliran Sungai milik Gao Li sangat kuat dan bisa menghadapi Kenshin dengan mudah.
Kenshin menebaskan pedangnya terus-menerus dengan santai Gao Li mengangkat pedangnya menangkis semua tebasan tersebut. Tak hanya itu bahkan Gao Li juga sempat memberikan serangan pada Kenshin hingga membuatnya mendapatkan luka, disisi lain Gao Li terlihat masih baik-baik saja.
Kenshin terlihat memuntahkan darahnya, sedari dulu di Sekte Kobaran Api Sejati diantara para murid muda hanya Gao Li yang pemahaman ilmu pedangnya setara dengannya.
Kenshin pun kembali menyerang kali ini ia juga berhasil membuatnya muntah darah, Gao Li pun langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Aku menyerah..!!" Teriak Gao Li.
"Gao Li apa maksudmu?!!" Teriak Kenshin tak terima jika ia menang hanya karena Gao Li menyerah begitu saja.
"Ini sudah batas kemampuan ku untuk bertarung denganmu, kalau ini di teruskan hanya akan membahayakan nyawaku, seranganmu sangat berbahaya dan mengarah ke vital," ujar Gao Li sambil menunjukkan luka tebasan pedang Kenshin yang memang mengenai titik vitalnya, sedang luka yang Gao Li tinggalkan padanya tidak mengenai titik vitalnya sama sekali.
"Dari sana kelihatan bahwa kemampuanmu lebih tinggi daripadaku, jadi untuk apa aku mempermalukan diriku lebih jauh lagi," lanjut Gao Li sambil tersenyum.
Mendengar hal itu Kenshin pun hanya menghela nafasnya pelan sembari membiarkannya turun dari arena.
Pertarungan selanjutnya adalah giliran Tang San yang naik ke arena. Hal yang sangat di tunggu-tunggu olehnya akhirnya kini kesampaian.
"Akhirnya aku mendapat giliran unjuk kekuatan juga,"
Tang San pun naik ke atas arena, sambil tersenyum Yan Fushu menyambutnya hangat.
"Tak perlu basa-basi lagi. Kerahkan seluruh kekuatan dari Sekte Danau Biru. Aku Tang San murid dari Sekte Pulau Dewa tak akan segan untuk mengalahkanmu," ujarnya penuh senyum percaya diri.
__ADS_1
"Sepertinya saudara Tang penuh percaya diri," timpal Yan Fushu.
Pertarungan pun dimulai, Tang San melemparkan palu menyerang lebih dulu, dengan cekatan Yan mencoba menepisnya dengan pedang besarnya.
"Duang!!"
Yan terlihat kewalahan dengan palu tersebut, tak dapat ia sangka palu milik Tang San memiliki bobot berat yang tak kalah dari pedang besarnya.
"Apa palu ku begitu membuatmu terkejut? Kalau begitu aku akan memberikanmu serangan itu lagi,"
Tang San menarik tangannya kemudian palu itu secara sukarela kembali ke tangannya. Dengan cekatan Tang San kembali melempar dan menarik palunya secara terus-menerus setiap kali Yan menepisnya.
Hanya dalam waktu singkat Yan di buat kehabisan nafas dengan serangan Tang San tersebut. Tang San tak hanya mampu melempar dan menariknya ternyata ia juga bisa menggunakan palunya dari jarak jauh.
Setiap kali pedang tersebut berbentrokan dengan palu miliknya, Yan merasakan tekanan didalam tubuhnya. Karena bagaimana pun juga pedang tersebut merupakan esensi rohnya sendiri.
Tang San hanya duduk bersila di atas arena sembari mengendalikan palu miliknya, disisi lain Yan kelabakan mencoba menepisnya yang ternyata semakin ia tepis palu itu memberikan tekanan yang semakin kuat pada organ dalam nya.
Tang San lalu memukulkan palunya ke arena, Yan pun terjatuh tak bisa menyeimbangkan dirinya. Dengan cepat Tang San menghilang dari pandangan lalu muncul di hadapannya dengan palu miliknya.
Yan Fushu mengakui kekalahannya dari Tang San, siapa kira kemampuannya berada jauh di atasnya.
Pertarungan selanjutnya juga tak kalah menarik, turnamen pun berjalan dengan lancar tanpa masalah. Dengan cepat Asta mengakhiri pertandingannya fase keempat pun selesai, kali ini seseorang yang lolos ke fase kelima tanpa bertarung adalah Yin Fushu, saudara kembar dari Yan Fushu.
Dari 31 peserta yang berhadapan di fase keempat tersisa menjadi 16 orang lagi, turnamen pun di tunda sejenak dan para peserta 16 besar tersebut diberikan waktu untuk beristirahat sebanyak satu jam.
Di ruang istirahat yang Asta lakukan adalah mencoba untuk tertidur sejenak, bukannya berlatih ataupun bersiap dengan pertarungan di fase kelima.
"Guru benar-benar serius menanggapi ucapanku semalam, sekarang gantinya aku sangat mengantuk sekali karena kehilangan waktu tidurku,"gumam Asta di dalam hati ia pun memejamkan matanya.
Balik lagi ke kejadian semalam setelah Asta kembali dari Asosiasi Fajar Merah untuk mengambil Tungku Obat Naga Kembar.
Flares pun tersenyum dan segera mengajarinya tekhnik meracik, ia memperlihatkan sebuah proses pembuatan pil obat dimulai dari Peleburan, Penyatuan lalu Pembentukan Pil.
Kemudian Flares mengajarkan kepadanya untuk mengendalikan api dengan kekuatan jiwanya sama seperti saat ia menempa artefak, akan tetapi dengan suhu dan tentunya kestabilan yang berbeda.
Disaat mengajarkan kepadanya proses Penempaan ia juga menjelaskan bahwa dalam peracikan juga ada tekhnik meracik tanpa tungku yang juga tekhnik tingkat tinggi seorang peracik. Flares pun menunjukkan padanya tekhnik tersebut, Asta pun terkagum-kagum melihatnya.
Kemudian Asta pun di suruh untuk membuat satu set pil level 1 berdasarkan resep yang gurunya berikan. Dalam percobaan pertamanya Asta langsung meledakkan tungku obat tersebut.
"Apa yang kau lakukan! Sudah guru ucapkan jangan sama proses peleburan pil dengan artefak..!!" Teriak gurunya sembari memukulnya.
"Ahaha, maaf guru aku lupa," ucapnya sambil tertawa canggung.
Perbedaan dalam proses peleburan antara meracik dan menempa adalah saat mengendalikan api. Jika dalam menempa harus meningkatkan suhu api dari yang terendah hingga ke suhu yang paling pas lalu kendalikan api agar tetap di suhu tersebut. Berbanding terbalik dalam proses peleburan meracik suhu api saat pertama kali melebur bahan harus tetap sama sampai memasuki proses selanjutnya.
Lagi dan lagi percobaan Asta pun gagal untuk yang ke berapa kalinya, beberapa kali ia meledakkan tungku naga kembar tersebut.
Lalu selanjutnya ada proses Penyatuan, yakni proses penyatuan dari seluruh bahan obat yang sudah di leburkan, seringkali Asta juga menggagalkan peracikan pada proses ini. Proses selanjutnya adalah pembentukan pil, proses setelah menyatunya seluruh bahan pil barulah memasuki proses pembentukan.
Setelah melakukan banyak kegagalan dan kesalahan yang ia lakukan Asta pun akhirnya berhasil menciptakan satu pil level satu, meskipun khasiat pilnya hanya bisa menampil 10 persen dari khasiat pil yang seutuhnya.
Dibawah bimbingan serta ajaran Flares Asta terus berlatih membuat pil obat tersebut sampai ia mampu menciptakan pil obat tingkat satu dengan khasiat sempurna, seperti keinginannya sendiri tak akan tidur sampai menjadi peracik level satu.
Setiap kali kekuatan jiwa Asta terkuras memanfaaatkan bahan obat yang ada di cincinnya Flares langsung membuatkan pil obat penutrisi jiwa sebagai persediaan kekuatan jiwa jika ia kehabisan kekuatan jiwa karena terus-menerus menggunakannya.
Lama-kelamaan tak hanya Asta berhasil menaikkan khasiat obatnya kekuatan jiwanya juga terus bertambah seiring ia menghabiskan kekuatan jiwanya, setiap kali ia memulihkannya lagi kekuatan jiwanya bertambah banyak. Sehingga yang sebelumnya Asta kelelahan hanya setelah mencoba membuat 2-3 pil, kemudian ia bisa bertahan sampai bisa membuat 5-8 pil dengan kekuatan jiwanya.
__ADS_1
Semalaman Flares benar-benar terus memperhatikan siapa tau Asta akan tertidur di tengah-tengah latihan. Setelah bisa menciptakan satu pil obat dengan khasiat diatas 90 persen barulah Flares membiarkannya beristirahat.
Mereka berdua berlatih hingga shubuh, saat paginya Flares pun membangunkannya lagi untuk bersiap-siap menuju ke lokasi turnamen. Jika tanpa mengenakan topeng tersebut mungkin para peserta lain bisa melihatnya yang sedari awal memasuki arena terus saja menguap. Ia berusaha untuk tetap sadar jangan sampai tertidur di sekitar arena dan melakukan hal yang memalukan seperti kemarin.
Waktu satu jam pun berlalu dengan cepat, ke-16 peserta yang lolos ke fase kelima pun mulai bersiap kembali menuju arena. Melihat Asta yang masih berbaring di ruang istirahat ketika bunyi panggilan berbunyi Moegi mendatanginya. Terlihat dari lubang mata topengnya Asta memejamkan matanya, Moegi pun tersenyum ia menarik Asta hingga membuatnya terjatuh ke lantai.
Asta mengusap matanya sambil mencoba melihat siapa pelaku yang membuatnya terjatuh ke lantai. Sesaat kemudian pandangannya pun menatap jelas bahwa sosok itu tak lain adalah Moegi.
"Apa? Apa kau kurang puas tidur, cepat bangun ini sudah waktunya bodoh," ujar Moegi.
Asta pun bangun samar-samar terdengar suara lonceng yang masih di bunyikan. Ia pun mengikuti Moegi kembali menuju arena tempat bertanding.
"Perasaan baru saja aku memejamkan mata kenapa cepat sekali. Moegi, apa kita tak jadi di beri waktu istirahat..?" Tanya Asta.
Moegi pun diam sejenak sambil memandangi topengnya,"apa kau bergadang semalaman? Jelas-jelas kau tertidur selama satu jam dan kau masih merasa belum cukup? Baiklah aku akan membantumu sadar,"
Asta pun menganggukkan kepalanya lalu Moegi tiba-tiba memukulnya dengan keras.
"Apa belum cukup?" Tanya Moegi.
"Cukup, sudah cukup," ujar Asta sambil memegangi perutnya.
Mereka berdua sampai di arena tepat saat pembawa acara sedang mengumumkan bahwa mulai dari fase ini semua lawan sudah di tentukan, tak ada pengundian nomor seperti sebelumnya.
Pembawa acara pun menyebutkan nama-nama yang lolos ke fase kelima serta lawan dari masing-masing peserta yang akan bertanding untuk maju ke fase keenam yakni 8 besar.
Ye Juan sedikit tersentak saat mendengar namanya disebutkan di pertarungan pertama melawan Asta. Ia pun melirik ke arahnya, kenapa harus dia begitulah pikirnya.
Setelah pembawa acara selesai, Ye Juan dan Asta pun naik ke arena untuk memulai pertandingan pertama di fase keenam.
"Saudara Ye, aku harap kau tak segan-segan padaku," ujar Asta.
"Tentu saja. Kuharap kau pun," balasnya.
Dengan cekatan Ye Juan langsung mengaktifkan esensi rohnya, 7 Roh Pedang demi mengikuti kekuatan Asta yang sangat di luar nalar baginya.
Pengaktifan esensi 7 Roh Pedang membuatnya mampu mengendalikan 7 Pedang sekaligus, dengan kata lain Ye Juan mempunyai bakat tekhnik pedang terbang sedari lahir.
Selama turnamen berlangsung Ye Juan terus memperhatikan kemampuan Asta, kemampuannya tak lebih lemah dari Kenshin yang mengalahkan Yami Tiandu. Ia paham kekuatan Yami serta kehebatannya akan tetapi melihat ia langsung kalah di fase pertama melawan Kenshin ia yakin bahwa Asta juga setidaknya memiliki kekuatan yang tak kalah hebat dengannya.
Melawan Ye Juan ditambah dengan 7 Pedang Terbang sekaligus membuat Asta sedikit kewalahan, meskipun kemampuannya lebih tinggi daripadanya tetap saja bukan hal mudah jika ia di tekan dengan cara yang seperti ini.
"Tekhnik saudara Ye sungguh mengesankan aku tak bisa melawannya," puji Asta.
"Saudara Asta, kau masih belum memperlihatkan kemampuanmu secara penuh sedangkan aku sudah memperlihatkannya padamu sedari awal pertandingan. Jadi siapa yang seharusnya mengesankan," puji Ye Juan balik.
Setelah menepis pedang Ye Juan Asta melompat mundur ke belakang seketika muncul darinya aura semangat bertarung yang sangat kuat. Ditambah dengan aura haus darah pedang Langit Kelam membuatnya menjadi semakin gila bertarung.
"Tekhnik Roh, Kobaran Api Peperangan,"
"Saudara Ye ku harap kau tak mengecewakanku setelah aku menggunakan tekhnik rohku yang ini,"
"Asta...!!! Kau sangat menarik...!!!" Ye Juan pun membuka matanya terkejut melihat perubahan aura yang terjadi padanya.
Tak mau kalah Ye Juan pun ikut mengeluarkan aura semangat bertarung yang juga kuat.
***
__ADS_1
Catatan Surgawi
Proses Peracikan Obat menjadi tiga proses, peleburan, penyatuan, dan pembentukan pil.