
Secercah cahaya bulan menyinari lorong sempit kota yang gelap. Semilir angin berhembus, seolah menyapu segala keresahan yang terjadi. Kota Vorheis nampak tenang, damai, dan sejahtera saat ini, namun tidak dengan lorong sepi ini. Ada ketegangan di hati Kenshin.
Sosok jubah bertudung hitam muncul dari kegelapan di belakangnya. Kenshin mengernyitkan dahi, wajahnya tertutup topeng, dan hanya sepasang sayap hitam yang bisa ia lihat darinya.
"Maaf, sebelumnya, apa kita saling kenal..?" Tanya Kenshin dengan waspada, sebilah pedang sudah siap ditarik gagangnya kapan pun ia mau.
Aura yang ia pancarkan dapat Kenshin rasakan sebagai sesuatu yang berbahaya, namun bukan sebuah tanda permusuhan. Kenshin yakin sosok di depannya ini adalah seorang pria, jika dari suaranya. Terlebih lagi, ia bukanlah orang biasa.
Ketegangan itu hanya berlangsung beberapa saat, sampai sosok itu berdeham dan menghela nafas panjang. Kenshin tak lagi merasakan aura berbahaya tersebut.
"Saat ini, kita memang tidak saling mengenal. Tapi esok, lusa, atau nanti mungkin, iya," ucapnya sambil terkikik menjawab pertanyaan Kenshin sebelumnya.
"Kenapa kau sangat yakin bahwa aku akan mau mengenalmu? Kau bukan keluargaku. Kalau kau ingin menyampaikan sesuatu, katakanlah, aku tak punya banyak waktu sekarang," pungkasnya ketus.
Mendengar ucapan ketusnya, sosok itu tertawa terbahak-bahak, "Sebenarnya, aku sangat ingin mengatainya saat ini, tapi kalau aku mengatakannya sekarang, pulang nanti kakakku pasti akan marah padaku. Jujur saja, aku tertarik dengan topeng milikmu. Apa kau bisa menukarnya dengan kepunyaanku ini," meskipun masih sambil tertawa, sosok itu mengeluarkan Seni Surgawi dan menunjuk topeng Kenshin untuk ditukar.
Kenshin mengerutkan dahinya mendengar hal itu. Bagaimana tidak, topeng yang ia gunakan hanya artefak biasa peringkat 4 menengah, tak bisa dibandingkan dengan Seni Surgawi peringkat legenda putih, yang ada di tangannya tersebut.
Kenshin mencoba menarik sedikit pedangnya, menunjukkan sikap waspada. Matanya menyisir dari atas hingga bawah kaki sosok tersebut. Tatapannya terfokus sejenak saat melihat topeng bermotif awan yang dikenakannya.
"Sepertinya aku terlalu curiga. Meski begitu, aku harus tetap waspada walaupun ia tak menunjukkan sedikitpun aura permusuhan," batin Kenshin, mendorong lagi gagang pedangnya.
"Aku memang tidak tahu, untuk apa paman menginginkan topeng milikku, karena ku lihat, paman sendiri memilikinya juga. Selain itu, aku tidak memiliki yang lain. Ini satu-satunya topeng milikku," jelas Kenshin. Ia tak bisa memberikan topeng miliknya, dan mana mungkin ada orang bodoh yang menukarkan sebuah artefak biasa peringkat 4 menengah dengan Seni Surgawi peringkat legenda putih.
Terdengar suara helaan nafas kecewa dari balik topengnya. Bagaimana bisa, pikirnya, ada seseorang yang berani menolak saat ada orang yang menawarkan Seni Surgawi peringkat legenda putih dengan topeng biasa peringkat 4 miliknya. Ia seakan terpukul oleh jawaban Kenshin.
"Nak, kau membuatku sedikit terpukul. Aku pikir, mana ada seseorang yang menolak di depan keuntungan seperti ini, tapi ternyata aku salah," ucapnya lalu meringis malu.
"Tangkap ini," pria itu melempar Seni Surgawi tersebut ke arahnya, refleks Kenshin pun menangkapnya.
"Ehh, paman, ini-?!"
"Meskipun kau menolak pertukarannya, aku tak pernah bilang kalau aku akan tetap memberikannya kepadamu. Jaga dan pelajarilah dengan baik, mulai sekarang itu adalah milikmu," pungkasnya sambil berjalan ke arah lain. Kenshin sedikit terpesona akan sayap hitam miliknya.
Seketika pandangannya pun berubah terhadap sosok yang mulai pergi meninggalkannya tersebut, "Tapi, paman, ini berlebihan. Kalau begitu, aku akan.."
"Tak perlu. Simpan saja topeng itu, aku hanya bercanda sebelumnya. Bukankah kau tak punya banyak waktu? Cepatlah kembali ke teman-temanmu. Aku sangat yakin, itu akan sangat cocok dengan Dewa Bayangan Cahaya," pungkasnya sambil melambaikan tangan.
Mata Kenshin melebar mendengar ia menyebutkan nama esensi rohnya dengan benar. Tanpa ragu, Kenshin menarik gagang pedangnya dengan sigap, dalam satu tarikan nafas, ia sampai di sampingnya, mengarahkan pedangnya dengan hati-hati ke lehernya.
"Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa sebenarnya nama dari esensi rohku adalah Dewa Bayangan Cahaya. Dan sampai saat ini, hanya ayahku yang mengetahuinya, dan kau... Kau bukan ayahku," ujarnya dengan curiga.
Melihat sifatnya yang penuh kecurigaan, sosok itu menghela nafas lumayan panjang, "Waspada itu baik, tapi bukan berarti kau bisa mengarahkan pedang sesuka hatimu. Bukannya berterima kasih, kau malah berniat ingin membunuhku. Kalau kau benar-benar ingin mengetahuinya lebih jauh, kembalilah ke tempat ini. Aku akan menunggumu selama satu bulan di sini," ucapnya.
Pria itu melangkahkan kakinya tak memedulikan sebilah pedang yang ada di depan lehernya. Kenshin terperangah melihat pedangnya langsung hancur sebelum menempel di kulitnya.
"Ahh, hampir saja aku lupa," sosok itu berbalik ke arah Kenshin, "tapi jika kau kembali ke tempat ini, itu artinya kau bersedia menjadi muridku dan meninggalkan sekte kebanggaanmu, Sekte Kobaran Api Sejati," pungkasnya lagi, lalu ia pun berbalik dan menghilang di kegelapan malam.
Pikiran Kenshin dipenuhi banyak tanda tanya, namun sebelum ia bisa bertanya, sayangnya sosok itu telah pergi meninggalkannya. Jadi, ia pun menyimpan segala pertanyaannya untuk nanti.
"Sebenarnya apa yang ayah sembunyikan dariku?" gumamnya pelan, bergantian memandangi pedangnya yang rusak dan seni surgawi pemberiannya.
"Seni Surgawi Legenda Putih, Ilmu Pedang Tak Berwujud? Jadi, itu namanya. Kupikir ini teknik pengendalian roh setelah mendengarnya bilang kalau ini cocok dengan esensi rohku, tapi ternyata, ini teknik pedang," gumam Kenshin melihat tulisan di atas gulungannya.
---
"Apa?!! Jadi, kali ini kita.." Jerit Kesha tak percaya mendengar apa yang Moegi katakan dengan nafas tersengal-sengal.
"Ya, kita lulus," jawab Shiro datar, seolah sudah tahu bahwa mereka akan dipulangkan.
Moegi berbicara dengan nafas memburu karena kecerobohannya. Setelah mendengarkan pesan dari Taki, ia langsung berlari tanpa tahu tujuan. Karena ketidaktahuannya tentang tata letak Kota Vorheis, ia sempat tersesat di jalan. Sampai akhirnya, ia kembali ke tempat di mana mereka pertama kali berpisah. Beruntung saat itu ada seorang perempuan paruh baya yang menunjukkan jalan ke penginapan terdekat dari tempatnya berdiri.
"Yang benar saja. Bukankah itu misi kita? Mengapa Kenshin membiarkan senior mengambilnya dari kita? Kalau begini terus, bagaimana kita bisa berkembang?" pungkasnya dengan rasa tidak puas.
Shiro memutar bola matanya malas, "Cukup, Kesha. Aku tahu kau senang dengan hasil ini. Aku memahamimu, namun kau hanya tak enak hati memperlihatkan kegembiraanmu di depan Moegi yang kesal karena misinya diambil alih," ujarnya. Shiro kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan, yang entah sejak kapan mereka berdua melepas topengnya.
Kesha sedikit meringis malu di depan Moegi; Shiro benar-benar merusak suasana.
Moegi menghela nafas lelah, "Awalnya aku memang kesal, tapi setelah aku memikirkannya, kalaupun kita tetap melanjutkannya, bukan pengalaman yang akan kita dapat, melainkan kematian," katanya.
Sang pelayan kembali setelah mencatat apa saja yang Shiro ucapkan.
"Kita hanya beruntung masih selamat setelah membombardir beberapa perkemahan para pengganggu. Jika kita bertemu dengan mereka, satu-satunya cara untuk tetap selamat adalah dengan melarikan diri, dan itu pun belum tentu akan berhasil. Justru, keputusan Tetua Helio adalah yang terbaik saat ini, dengan menyuruh Senior Taki untuk menggantikan kita," tambahnya setelah menyelesaikan pesanan mereka.
Kesha mengelus punggung Moegi, mencoba menenangkan temannya tentang situasi ini. Dialah yang paling bersemangat tentang misi ini awalnya.
"Hei! Kalian benar-benar sulit ditemukan, ya. Menyembunyikan aura dan membuatku kesulitan mencari. Kalau bukan karena itu, mungkin aku takkan pernah menemukan tempat ini sekarang," teriak Zaraki kesal, memasuki lantai satu penginapan yang merupakan area restoran.
Mata Moegi seketika langsung membulat sempurna, dia juga sadar akan kesulitannya mencari dua orang ini yang tak bisa ditelusuri keberadaannya. Moegi lalu menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangan, sambil memandangi mereka berdua.
"Oi, Shiro! Kau ternyata cukup b-"
__ADS_1
"Oi, Zaraki. Mungkin sebaiknya kita segera ke atas, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan soal kelanjutan misi ini. Kita tinggalkan saja mereka berdua, kehadiran kita hanya mengganggu keromantisan mereka di sini," potong Moegi lalu menarik tangannya menuju lantai atas.
"Hei, Moegi, jangan bicara sembarangan! Aku tidak, aku tidak seperti yang kau pikirkan! Aku hanya... hanya menekan auraku, benar kan, Shiro? Benar kan?" Ujarnya sambil menggoyang-goyangkan Shiro yang hanya diam tanpa merespons perkataan mereka berdua.
"Tapi, bukannya kita me-"
"Shirooo...!!! Jika kau berani melanjutkan ucapanmu, aku akan membencimu mulai sekarang!!" Teriak Kesha malu, wajahnya langsung memerah.
Moegi terkikik melihat mereka, sedangkan Zaraki masih kesal dengan kesulitan mencari mereka.
---
Moegi masih terkikik melihat Kesha, dia masih merasa malu tentang kejadian sebelumnya. Sekarang mereka berada di tengah ruangan dengan lima bilik, ruangan yang telah dipesan oleh Shiro untuk mereka bermalam. Setelah Moegi dan Zaraki pergi, Shiro meminta kepada sang pelayan untuk mengantarkan pesanannya ke ruangannya.
"Jadi begitu, sebenarnya kita telah lulus semenjak kita berhasil membersihkan kelompok-kelompok pengganggu di sekitar Kota Api Suci," Zaraki memahami setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Moegi.
Karena kejadian sebelumnya, Moegi hampir saja melupakan tentang kemenangan pihak aliansi tujuh sekte besar di perbatasan.
Zaraki, yang sudah mengetahuinya lebih dulu, hanya mengangguk sambil mengambil camilan di atas meja.
Bunyi deret pintu memutar perhatian mereka, Zaraki yang tengah mengambil camilan langsung menoleh ke arah pintu. Seseorang memasuki ruangan sembari tersenyum.
"Kenapa kau begitu lama? Apa kau juga pergi bersenang-senang dengan Moegi sebelumnya, saat kalian berduaan?" pungkas Zaraki.
Moegi langsung memukul perutnya setelah selesai berbicara, "Berani bicara omong kosong, aku pukul kau," ancam Moegi.
"Kau sudah memukulku," ucapnya meringis kesakitan.
Kenshin masih mengerutkan dahinya, tidak paham dengan ucapan yang dikatakan Zaraki. Namun, dia bisa melihat ada sesuatu yang telah terjadi, mengamati Kesha yang meremas celananya dengan wajah memerah, seperti sedang menanggung malu. Namun sebelum pikirannya melayang terlalu jauh, Kenshin menggeleng pelan mencoba melupakannya.
"Jadi, sepertinya, aku tidak perlu menjelaskan semuanya lagi, bukan?" Tanya Kenshin, meringis canggung, dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Mereka semua menganggukkan kepala. Memang, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan saat ini, Moegi telah menjelaskannya.
---
Setelah beberapa saat membicarakan Turnamen Seni Bela Diri yang akan digelar dalam waktu kurang dari 2 tahun, Moegi menggeliat bosan duduk di tempat tersebut.
"Kenshin, sepertinya kita harus pergi sekarang juga," ujarnya sambil bangkit berdiri.
"Pergi?" Kenshin mengerutkan dahinya, tidak mengerti.
"Moe..!! Sudah kubilang itu bukan seperti yang kau pikirkan! Kenapa kau begitu keras kepala..!!" Jerit Kesha, merasa malu, ia menutupi wajahnya dengan tangan.
"Aku juga tak menyangka, Shiro yang rupanya banyak diam, malah lebih dewasa dari yang kubayangkan," ucap Zaraki sambil tertawa.
"Shiro! Kenapa kau hanya diam saja?! Cepat, bantu aku bicara!" Jerit Kesha sambil mencubit lengan Shiro.
"Aww! Mengapa aku harus menjelaskan? Mereka tetap tidak akan percaya padaku, lagipula..."
"Terus saja bicara atau aku akan membencimu!" Potong Kesha dengan cepat.
Zaraki dan Moegi terkikik melihat pertengkaran di antara mereka berdua, bahkan Kenshin pun ikut tertawa karena kelucuannya. Ia benar-benar terkejut mengetahui bahwa di belakang mereka berempat, termasuk Asta, Kesha dan Shiro menyembunyikan hubungan seperti ini.
Kenshin pun akhirnya paham mengapa Kesha mengatakan kata-kata semacam itu saat ia memintanya bersama Shiro untuk mencari penginapan. Ternyata, Kesha hanya takut hubungannya terbongkar, tapi pada akhirnya hubungan mereka terungkap juga.
"Kalau kalian begitu dengan perasaan kalian, aku yakin Tetua Rena dan Tetua Zain pasti akan merestui hubungan kalian. Kalau kalian malu, biar aku yang menjadi pembicara kalian berdua," goda Kenshin.
Shiro tak seperti Kesha yang kelihatan sangat malu dan tak ingin hubungannya terbongkar, tapi di sisi lain, Shiro, justru tak peduli jika hubungannya terbongkar. Hanya wajahnya yang ikut memerah, tapi ia tak mengelak sama sekali.
"Kenshin! Jangan bicara omong kosong! Ahhh!! Zaraki! Ini semua gara-gara kau! Kalian, juga, Shiro! Dasar menyebalkan! Kalian menyebalkan!" Jerit Kesha semakin malu, ia pun buru-buru menarik tangan Moegi dan membawanya pergi dengan cepat.
Sambil terkikik, Kenshin membuka salah satu pintu bilik kamar dan memasukinya. Ia berniat untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Shiro hendak menyusulnya, namun sebelum itu, Zaraki meraih tangannya, "Apa kau masih belum puas berpacaran dengannya?" Pungkasnya.
Shiro menghembuskan nafasnya pelan, "Apa yang ingin kau katakan, katakan saja," ujar Shiro lalu kembali duduk.
"Ini masih terlalu sore untuk beristirahat, biarkan saja dia. Lebih baik kau ikut denganku," ajak Zaraki.
"Memangnya, kau mau mengajakku kemana?" Tanya Shiro penasaran.
"Aku berniat mengikuti pelelangan yang akan diadakan di kota malam ini. Ketika aku pergi untuk membeli perbekalan dan material untuk senjataku, seseorang memberitahuku tentang sebuah pelelangan yang akan diselenggarakan malam ini," ujar Zaraki dengan antusias.
Karena Shiro juga membutuhkan beberapa material untuk memperbaiki kerusakan pada senjatanya, maka tak ada salahnya untuk melihat apa yang akan dipamerkan dalam pelelangan tersebut.
---
Suasana di Kota Vorheis pada saat itu sangat ramai dengan orang-orang, terutama setelah berita tentang pelelangan yang akan diadakan sebentar lagi menyebar.
"Hei, kudengar Manager datang ke Cabang Asosiasi di kota ini, dan kabarnya pelelangan yang akan digelar malam ini juga, adalah atas inisiatifnya sendiri,"
__ADS_1
"Maksudmu pelelangan yang akan digelar oleh Asosiasi Fajar Merah? Jika memang benar seperti itu, seharusnya berita tentang pelelangan ini sudah menyebar sejak tadi. Jika Manager sendiri yang datang, pasti akan menjadi sorotan utama,"
"Apa kau membawa berita yang asli?"
"Aku tidak bercanda. Para pedagang yang baru tiba tadi sore, melihatnya sendiri. Dan ketika aku tadi ke sana, Asosiasi sangat ramai dengan pengunjung, mungkin banyak di antara mereka yang akan duduk di kursi VIP,"
"Kalau benar begitu, kita harus bergegas sebelum tempatnya habis. Manager selalu membawa barang-barang bagus dan sangat berharga, sehingga acaranya selalu menjadi kejutan setiap kali kunjungannya,"
Orang-orang pun mulai berbondong-bondong datang ke Asosiasi Fajar Merah, tempat di mana pelelangan akan digelar.
"Kau dengar itu? Manager sendiri yang akan mengadakan acara, kita harus bergegas," ajak Zaraki dengan terburu-buru.
Shiro mengangguk setuju, dan mereka pun menyusul kerumunan orang sebelumnya menuju Asosiasi Fajar Merah.
Belasan penjaga yang berjaga di gerbang asosiasi tampak kewalahan menghadapi tamu-tamu yang berusaha untuk masuk ke ajang pelelangan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya giliran Zaraki dan Shiro untuk diperiksa. Seperti halnya penjaga kota, mereka hanya diminta untuk menunjukkan Giok Penanda milik mereka sebelum membayar biaya masuk.
"Simbol Api, ya. Tak kukira akan menyambut kalian di sini. Kalau begitu, masuklah. Kalian boleh berpartisipasi tanpa harus membayar biaya, tunjukkan saja Giok Penanda kalian kepada pelayan," ujar penjaga memberi izin untuk masuk.
"Terima kasih, paman," ujar Zaraki dan Shiro bersamaan, lalu masuk ke dalam dengan penuh antusiasme.
---
Seorang gadis pelayan langsung mendatangi mereka untuk melakukan sesi pengecekan kedua. Gadis itu sedikit terkejut melihat dua Giok Penanda di tangannya, yang memunculkan simbol api, lambang dari Sekte Kobaran Api Sejati.
"Tak pernah kukira Giok Penanda ini amat berguna. Kupikir ini hanya penanda identitas semata," pungkas Zaraki senang setelah mendapat pelayanan terbaik dan bahkan ditempatkan di tempat VVIP karena Giok tersebut.
"Itu karena simbol api adalah lambang sejati sekte kita. Sebagai salah satu sekte besar, wajar jika kita mendapat perlakuan istimewa seperti ini," timpal Shiro.
Selang beberapa saat menunggu, akhirnya tiba waktunya untuk pembukaan acara pelelangan Asosiasi Fajar Merah. Semua orang sangat antusias untuk menawar barang-barang yang ditawarkan.
Seorang pria yang terlihat berusia 30-an tahun keluar dari belakang panggung. Di atas satu tangannya, ia membawa sesuatu yang ditutupi dengan kain. Semua orang yang ada di sana langsung mengenali sosok itu sebagai Manager Row, pemilik Asosiasi Fajar Merah yang telah memiliki pijakan kuat di Daratan Gitou dan menyebar ke 5 Kekaisaran dan 6 Negara.
"Shiro, lihat, itu dia, itu Paman Row! Orang yang kita temui sebelumnya!" teriak Zaraki sembari menunjuk.
Shiro langsung berdiri dari tempat duduk, matanya membulat sempurna, mulutnya seperti terkunci tak mau bersuara. Ia tak menyangka sosok yang memiliki nama besar seperti Manager Row, justru memiliki wajah yang awet muda. Ia pikir Manager Row adalah seseorang yang berwajah tua.
"Ya, siapa sangka orang yang kau hina itu adalah Manager Row. Kau sungguh berani, ya," pungkas Shiro.
Zaraki hanya berkacak pinggang mendengar ucapannya,"Sejujurnya aku sudah tahu, saat melihat respon orang-orang terhadapnya. Aku hanya tidak mau melepaskan kesempatan untuk berbicara dengannya dan membahas kultivasi, itu kenapa aku langsung pergi ke sini sebelumnya," ujarnya.
---
Sorakan meriah dari para peserta pelelangan mengikuti langkah kakinya. Saat Manager Row mengangkat tangan, seketika ruangan kembali menjadi sunyi.
"Terima kasih kepada para tamu dan pengunjung sekalian, yang telah datang dan meluangkan sedikit waktu untuk mengikuti acara yang sederhana ini," ucap Manager Row tersenyum ramah.
"Kai ini, barang pertama yang akan dilelang adalah Pil Obat peringkat 4 dengan kualitas sedang, yaitu Pil Nutrisi Jiwa. Pil ini memiliki khasiat untuk memulihkan kondisi roh yang terluka atau memperbaiki kecacatan dari ketidakmurnian roh. Harga pertama untuk pil ini adalah seribu keping emas, dengan minimal tawaran dua ratus keping emas," jelasnya sambil membuka kain penutup wadah kotak di tangannya.
Semua mata langsung tertuju pada pil tersebut, karena selain memiliki khasiat yang bagus, semua orang tahu bahwa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pil tersebut cukup langka di Kekaisaran Arkhan.
"Seribu dua ratus!"
"Dua ribu!"
"Dua ribu delapan ratus!"
Sorakan dan teriakan para penawar terus bergema, harga pil tersebut pun terus melonjak naik. Beberapa orang terlihat berusaha memperebutkan dengan keras.
"Lima ribu!" Teriak salah seorang pemuda dari ruangan biasa, mengakhiri lonjakan naik harga pil tersebut. Pil Nutrisi Jiwa jatuh di tangannya dengan harga lima ribu keping emas.
---
"Shiro, apa kita hanya akan terus berdiam di tempat ini? Memperhatikan orang-orang berebut barang berharga di bawah sana. Rasanya, aku seperti orang miskin yang salah masuk ruangan ini," keluh Zaraki putus asa melihat barang pertama saja terjual dengan harga lima ribu keping emas.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak kembali ke penginapan sendiri? Karena sudah terlanjur di sini, aku harus membeli sesuatu sebelum pulang," timpal Shiro.
"Hehh, memangnya berapa banyak uang yang kau bawa? Mana mungkin kan..." Zaraki terdiam tak melanjutkan kata-katanya saat Shiro memperlihatkan cincin penyimpanan yang muncul tersemat di jarinya.
"Kau... Kau benar-benar membawa semua yang kau punya?!" Teriak Zaraki tak percaya.
"Aku tak sebodoh seperti dirimu. Aku dan Kesha sudah menebak hal ini dari jauh sebelum kita memulai misi ini. Maka dari itu, kami berdua memutuskan untuk membawa cincin penyimpanan kita sendiri. Setidaknya aku harus membawa sesuatu dari perjalanan ini, aku juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini," ujarnya.
"Apa?! Jadi kau, benar-benar sudah mengiranya?!" Tanya Zaraki terkejut.
Shiro mengerutkan dahinya mendapati pertanyaan itu,"Lagipula, mana mungkin Tetua mempercayakan tugas berbahaya kepada sekelompok anak 10 tahun?" Tanya balik Shiro.
Zaraki memegang dagunya sambil mengangguk,"Kau ada benarnya," gumamnya pelan.
"Diamlah, barang kedua sudah mau dikeluarkan, kalau kau mau pulang, pulang saja sendiri. Aku takkan meminjamkan uangku sedikitpun padamu," ujarnya menyuruh diam.
__ADS_1