
“Kalau kau masih tetap ingin menyerang kota tersebut lakukan, aku takkan ikut-ikutan denganmu,” melihat Lao Yue Liang terdiam dan tak bereaksi Aaron berjalan meninggalkannya.
“Aku sudah mengatakannya padamu. Yang berbahaya bukanlah sosok bertopeng itu, melainkan Beruang Bertanduk dan Serigala Dewata yang disampingnya. Mungkin hanya perlu satu gerakan salah satu dari mereka untuk membunuhmu,” ulang Aaron memberitahunya, setelah itu ia benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan.
Alekondra yang melihat Lao Yue Liang terdiam memejamkan matanya tak bersuara mencoba mengajaknya berbicara, namun ia masih saja terdiam tak menyahutnya. Alekondra mulai khawatir ada yang terjadi padanya.
“Uhuk-!! Aaron brengsek..!! Uhukk-!! Uhukk-!!” Lao Yue Liang terbangun dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Alekondra panik melihatnya,“Tuan! Jangan bilang kau melakukannya,,” tanyanya.
“Sialan..!! Bukan hanya dua hewan ghaib kuno di sana, ada suatu keberadaan lagi yang lebih-lebih menakutkan daripada hewan kuno itu sendiri. Aaron brengsek itu-!! Uhukk-!!” Lao Yue terbatuk-batuk mengeluarkan darah.
“Tounra maafkan aku. Dendam ini suatu saat pasti akan aku balaskan. Semuanya!! Bersiap kembali!!” teriak Lao Yue Liang menarik mundur pasukannya menjauhi kota tersebut.
“Hawa keberadaan seberbahaya itu hanya pernah kurasakan ketika berhadapan dengan Tuan Wei, untungnya dia hanya memintaku untuk pergi,” gumamnya pelan.
-----
“Baguslah mereka menurut. Jika tidak mungkin setidaknya akan ada korban jiwa lagi yang terjatuh dan lagi aku tak bisa meresikokan diriku untuk bertarung,” batin Flares tenang.
“Master Guru! Ada apa?” tanya Lira heran melihat dirinya selalu memandang kearah utara.
Flares tersenyum kearahnya,“tidak ada apa-apa memangnya kenapa?” ia balik bertanya.
“Entahlah kupikir aku hanya merasa ada sesuatu yang terjadi,” ucapnya.
Flares pun tertawa mendengar hal itu dan menyuruhnya kembali untuk berlatih.
Seminggu kemudian Asta pun mengunjungi Flares dan Lira yang masih berlatih, matanya terbuka lebar karena saking terkejutnya melihatnya yang sudah tembus ke ranah suci.
“Bagaimana bisa?!” ucapnya tak percaya.
“Ada apa guru? Kau tampaknya terkejut sekali,” tanya Lira.
“Ahh, tidak-tidak,” jawabnya tersenyum canggung,“guru bisakah kita berbicara sebentar,” lanjutnya berbicara dan Flares pun setuju.
“Bagaimana bisa ia melakukan 7 proses pemurnian ranah sekaligus dan menjadi kultivator suci secepat ini?!” Asta berbisik bertanya padanya.
Flares tersenyum dan mulai menjelaskan keunikan yang Lira punya sehingga membuatnya bisa meningkatkan kultivasinya lebih cepat.
“Terlahir dengan Raga Tubuh Abadi juga dengan Esensi Dewa Penghancur Sejati? Kalau Kita terlahir dengan bakat seperti itu kenapa dia hanya ada di kota ini, bukankah seharusnya sekte-sekte besar seharusnya tertarik padanya?” lanjut Asta bertanya.
“Kau pun sudah tahu kelahiran Roh Sejati akan diikuti dengan darma surgawi yang tergambar jelas di langit, namun ia terlahir di waktu yang sama dengan seseorang lainnya yang juga sama-sama memiliki Roh Sejati sehingga darma surgawi miliknya bertabrakan,” jelas Flares.
“Guru! Master Guru! Apa yang kalian berdua bisikan di sana? Aku juga ingin mendengarnya,” ujar Lira berjalan mendekat.
“Hanya beberapa hal penting yang harus dibicarakan sudah itu saja,” jawab Asta singkat, Lira pun mengangguk.
Setelah itu Asta pun mengajak mereka kembali ke kota sekaligus untuk meminta Lira bersiap. Asta memberikan satu cincin hitam pemberian gurunya yang lain untuk Lira bawa.
“Kau sudah tahu cara menggunakannya kan? Cincin penyimpanan itu adalah sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh Guru Flares jadi jangan sampai kau menghilangkannya, kita bertemu di gerbang selatan,” pesan Asta.
Lira pun mengangguk mengerti lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana. Flares kembali masuk kedalam cincin penyimpanan sambil berkata bahwa ia mengantuk sekali karena beberapa hari ini harus melatih Lira.
Asta pun bergegas kembali ke kota karena takutnya beberapa orang sudah menunggunya.
-----
Sesampainya di kediaman walikota Yun untuk berpamitan Asta melihat Zaru dan Ace yang malah bertengkar entah karena apa. Ia pun memukul kepala mereka satu persatu untuk menghentikannya.
“Kita sudah mau pergi dan kalian masih saja membuat keributan,” ucap Asta.
Mereka berdua pun akhirnya berhenti. Walikota Yun dan empat orang yang berasal dari Sekte Alam Langit baru memberanikan diri untuk muncul setelah akhirnya Asta datang.
__ADS_1
“Kami sedikit takut ketika melihat tuan-tuan tengah bertengkar tadi jadi ya begitulah, hahahaha,” ucap salah satu dari mereka.
“Walikota Yun kalau begitu aku pamit pergi, jaga diri baik-baik. Sekalian pergi aku pasti akan mampir di Sekte Alam Langit untuk meminta bantuan,” ujar Asta.
“Terima kasih kalau begitu Tuan, aku harap perjalananmu juga akan bisa berhasil,” ucapnya mendoakan.
“Bagaimana dengan kalian, apa sudah siap semuanya?” tanya Asta pada mereka berempat.
“Xiao Jun siap, senior,”
“Chen Yan juga sudah,”
“Fen Shan sudah siap senior,”
“Niu Yang juga sudah,”
Mereka berempat serentak mengungkapkan kesiapan mereka. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan kediaman walikota menuju ke arah gerbang selatan.
-----
“Kau sudah akan pergi..?!” ucapnya terkejut.
Yao Shen sangat terkejut ketika putrinya pulang dan mengatakan akan pergi meninggalkan kota hari itu juga bersama dengan Asta dan yang lainnya.
Yao Shen mencoba untuk menahannya agar tidak pergi dengan menjelaskan bahwa dunia mereka dan para kultivator adalah tempat yang berbeda, namun putrinya tetap bersikeras untuk pergi.
“Ayah jangan khawatirkan aku lagi karena sekarang aku adalah seorang gadis yang mandiri dan kuat,,” Lira memukulkan tangannya ke udara menciptakan hembusan angin yang kuat.
Yao Shen tersentak dan hanya bisa tersenyum pasrah melepaskannya namun ia akan ikut dengannya ke gerbang selatan untuk berbicara dengan Asta sejenak.
Sesampainya mereka di sana Asta dan yang lainnya masih belum juga sampai, jadi Yao Shen pun harus menunggu terlebih dahulu untuk bisa berbicara dengannya.
Tak berapa lama kemudian Asta pun kelihatan bersama dengan dua hewan itu di pundaknya juga empat murid dari Sekte Alam Langit dibelakangnya.
“Senior! Sepertinya ada seseorang yang menunggu kita di sana,” ujar Xiao Jun menunjuk ke arah Lira.
Mereka berempat pun mengangguk mengerti, melihatnya yang tak menutupi auranya sama sekali sebagai Kultivator Suci mereka tak berani meremehkannya sama sekali.
“Hei! Hei! Hei! Apa dan bagaimana itu bisa terjadi?!” teriak Ace dan Zaru bersamaan keheranan melihat Lira yang sekarang.
Tentu saja mereka berdua bertanya-tanya, selama hampir dua mingguan tersebut mereka tak melihatnya sama sekali dan menghabiskan waktu dengan bermain dengan orang-orang di kota. Jadi mereka pun terkejut ketika melihatnya tiba-tiba saja menjadi kultivator suci.
Mereka berdua menerjang Asta dengan begitu banyak pertanyaan sekaligus namun dengan santai Asta menjawabnya apapun bisa saja terjadi.
Melihatnya yang bersikap semena-mena tanpa rasa takut kepada dua hewan kuno yang jelas-jelas bisa membunuhnya kapan saja membuat Xiao Jun, Chen Yan, Fen Shan dan Niu Yang semakin kagum dengannya.
Mereka berempat sudah mengetahui nama dan identitasnya yakni Asta Raiken kultivator Topeng Api Suci, tapi mereka sedikit pun tak pernah mendengar nama tersebut. Identitasnya itu sangat asing dan juga baru sekali di telinga mereka. Mereka hanya tau kemampuan domain miliknya serta juga caranya bertarung dari orang-orang di kota yang selalu menceritakan aksinya tersebut.
Yao Shen berjalan mendekatinya,“tuan Asta! Aku titipkan putriku pada anda! Maafkan aku karena telah membebanimu dengan putriku!”ujarnya sambil membungkukkan badannya.
Asta tersentak kaget benar-benar tidak menebaknya,“sudahlah paman Yao, paman jangan seperti ini,” ucapnya meminta ia untuk jangan membungkukkan badan padanya. Ia merasa tak nyaman dengan hal itu.
“Mulai sekarang aku meminta izin kepada paman, aku berjanji akan menjaga keselamatan dan kesehatan tubuhnya dengan baik. Jadi kuharap paman tak membenciku,” ujar Asta.
“Tidak tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku membenci seseorang yang menyelamatkanku! Aku harap kau menerima hadiahku yang tak berharga ini sebagai ucapan terimakasih dariku! Ini adalah satu-satunya peninggalan istriku yang masih ada,” ucapnya sambil memberikan sebuah batu permata padanya.
“Batu Bintang Nirwana..!!! Asta! Ambil itu..!!!” teriak Flares didalam pikirannya.
“Ada apa memangnya dengan batu ini..? Apa sepenting itu..?” tanya Asta pada gurunya dalam pikiran.
“Benda ini adalah salah satu dari kesekian material yang guru butuhkan..!!! Cepat ambil sebelum ia berpikir ulang..!!” teriak Flares membuat kepala Asta menjadi pusing karenanya.
Asta pun menerima hadiah pemberian tersebut dan tak lupa ia juga berterima kasih padanya. Xiao Jun serta yang lainnya melongo melihat hadiah pemberian itu, mereka tahu batu itu bukanlah permata biasa.
__ADS_1
“Terima kasih atas hadiahnya Paman Yao, aku pastikan ini akan sangat berguna bagiku di masa yang akan datang,” ucapnya berterima kasih sambil tersenyum.
“Ayah bukankah kau terlalu lebay..? Lagipula apa-apaan ucapan ayah barusan,” ujar Lira kesal.
“Apa? Ayah hanya mengucapkan beberapa kata terima kasih memangnya ada apa,” ucapnya sambil mengalihkan pandangan.
“Jelas-jelas ayah bilang kalau aku ini beban..!!” teriak Lira.
“Tuan kapan kau akan pergi..?” tanya Yao Shen mengalihkan pembicaraan.
“Sekarang aku akan pergi, kalau begitu paman jaga diri baik-baik. Setelah kami membereskan beberapa perkemahan musuh disekitar sini mereka berempat akan kembali ke kota ini, jadi aku pinjam mereka untuk menunjukkan arah,” ujar Asta.
“Ayah..”
“Kalau begitu kami bisa lega. Semoga tuan selamat dalam perjalanan,” ujarnya lalu pergi.
Asta mengerti apa yang sebenarnya Yao Shen inginkan, jadi ia mengajak Lira dan bergegas pergi.
“Guru! Aku belum selesai dengan ayah tunggu aku sebentar!” ujar Lira.
“Kalau begitu lebih baik kau tinggal saja di kota dan jangan ikut kami pergi,” ujar Asta.
Lira terkejut mendengarnya,“apa yang guru katakan, tentu aku ikut!” ujar Lira. “Ayah aku pergi..!!” lanjutnya berpamitan dengan ayahnya.
Lira pun buru-buru berlari menyusul Asta dari belakang melihatnya berlari dengan sangat cepat, alangkah terkejutnya ia dengan kecepatan larinya sendiri yang berkali-kali lipat lebih cepat daripada ketika ia belum berlatih sama sekali.
Beberapa jam kemudian langit pun terlihat semakin gelap, Asta memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat untuk makan. Sebenarnya bukan ia yang ingin makan melainkan gurunya yang tiba-tiba memintanya berhenti dan mengatakan perutnya lapar.
Asta menyuruh Xiao Jun dan yang lainnya untuk membuat beberapa api, Asta mengajak Lira untuk berburu mencari hewan ghaib yang bisa dimakan. Hal itu Asta jadikan sebagai latihan untuknya.
Asta melebarkan auranya untuk mencari hewan ghaib disekitar, ia pun menemukan seekor Rusa Tanduk Merah tingkat 8. Asta mengajarkan tekhnik langkah angin dasar untuknya supaya bisa bergerak lebih cepat, setelah itu ia pun menyuruhnya untuk mempraktekkan itu secara langsung.
Mendengar itu Lira terkejut bukan main, sebelumnya ia tak pernah bertarung sama sekali dan lagi ia belum melatih tekhnik bertarung apapun. Bersama Flares pun hanya berlatih tekhnik kultivasi dan cara untuk mengaktifkan esensi rohnya saja.
“Tak perlu khawatirkan hal itu, setelah kau berhasil mengalahkannya guru akan mengajarkanmu tekhnik bertarung dari Kitab Peremuk Jiwa. Sekarang fokus sajalah untuk mengalahkannya dengan kemampuanmu,” ujar Asta.
Mau tak mau Lira pun mengangguk mengerti daripada nanti ia dipulangkan kembali ke kota bersama dengan ayahnya lagi.
Lira meneguk ludahnya melihat sosok rusa yang tingginya dua kali darinya, ini benar-benar menjadi pengalaman pertamanya.
“Lakukan seperti yang ku ajarkan lalu aktifkan esensi rohmu, percayalah kau bisa mengalahkannya dengan pukulanmu,” teriak Asta memberikan dukungan keberanian padanya.
Lira pun mengangguk mengerti namun sebenarnya ia takut dan cukup ragu, bahkan ia tak tak henti-hentinya meneguk ludahnya sendiri.
“Meskipun dia hanyalah rusa tingkat 8 yang setara dengan kultivator suci puncak namun ia hanya hewan ghaib tanpa kekuatan bertarung yang tinggi. Ditambah dengan tubuhmu seharusnya kau tak perlu khawatirkan masalah keselamatanmu, rusa itu takkan bisa melukaimu sama sekali,” teriak Asta sekali lagi.
Kali ini Lira pun mengangguk dan merasa yakin dengan kemampuannya, ia baru saja melupakan keistimewaan tubuhnya. Ia merasa rasa takut itu membuatnya menjadi seperti orang yang bodoh dan tolol.
Sebelumnya Lira memejamkan matanya ketika berlatih bersama dengan Flares dalam mengaktifkan esensi rohnya untuk pertama kalinya, hal itu ia lakukan karena ia cukup kurang berkonsentrasi. Ia tak mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya saat ia mengaktifkan esensi rohnya sendiri.
Saat ini ia terkejut bukan main melihat tato kemerah-merahan muncul di kedua tangannya, malam tampak terang bulan sehingga ia bisa melihatnya. Tato tersebut menjalar ke seluruh bagian tubuhnya membentuk sebuah pola armor merah kelam yang tercipta menutupi tubuhnya.
Merasakan kehadirannya rusa tersebut terlihat marah lalu menyerang dan menyeruduknya.
Refleks Lira mengangkat tangannya menahan kepala rusa tersebut,“ups! Sepertinya aku telah membuat masalah,” ucapnya sambil tersenyum.
Rusa itu berniat menarik kembali tanduknya akan tetapi Lira memegangnya dengan sangat erat, rusa itu tertahan dan tak bisa bergerak lebih jauh.
“Maaf tapi aku harus membunuhmu atau kalau tidak master guru akan marah begitu pun dengan guru, bisa-bisa aku dipulangkan kembali ke kota jika tak membunuhmu,” ujar Lira.
Lira menarik tangan kanannya ke belakang dan melakukan satu pukulan telak, pukulan tersebut menghancurkan lautan energinya sehingga membuatnya mati dalam satu pukulan.
Dentuman dari pukulannya terdengar sampai ke telinga Xiao Jun dan yang lain, mereka bergidik ngeri membayangkan apa yang sedang terjadi. Burung-burung dan hewan-hewan yang lain berlarian ketakutan menghindarinya.
__ADS_1
Sambil tersenyum bangga Lira menggotong mayat rusa tersebut,“bagaimana dengan penampilanku, guru,” ucapnya tersenyum bangga.
Asta pun tersenyum senang,“cukup bagus,” pujinya ringan.