Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch64 Berpisah Kembali


__ADS_3

Keesokan harinya aula istana kekaisaran menjadi tempat yang paling ramai orang-orang yang ingin melihat pemberian hadiah pada pemenang Turnamen Seni Bela Diri kali ini.


Turnamen Seni Bela Diri bukan hanya ajang unjuk kekuatan para jenius muda yang diadakan untuk senang-senang semata, yang menjadikan banyaknya jumlah peserta sendiri adalah karena hadiahnya juga.


Pemenang lima besar turnamen ini akan mendapatkan hadiah yang bahkan diinginkan oleh kultivator tingkat tinggi sekalipun. Selain mendapatkan arahan langsung terhadap jalan kultivasi dari Kaisar Arkhan dan Manager Row juga masih mendapatkan Pil dan Artefak tingkat 7 ditambah lagi setiap pemenang akan mendapatkan julukannya sendiri.


Pemenang turnamen kali ini adalah Han Bin, Kenshin, Cang Hue, Asta dan Hao Chen.


Kaisar memanggil kelima pemenang untuk mendapat hadiah darinya, mereka pun naik ke atas panggung untuk menerima hadiah tersebut secara langsung.


"Han Bin meskipun kau hanya bisa bertahan di peringkat kelima namun penampilan mu selama turnamen ini berlangsung kau tidak pernah mengecewakanku sedikitpun, aku yakin suatu saat nanti sang Pedang Es akan terdengar di seluruh daratan kultivasi dan membanggakan Kekaisaran Arkhan,"


Han Bin pun menerima hadiah dari Kaisar Arkhan yang berupa 1 Pil Sembilan Warna kehidupan dengan Artefak Roh Dewata Pedang Es Giok.


"Pil Sembilan Warna Kehidupan adalah pil yang dapat digunakan untuk membuat seseorang memiliki sembilan nyawa kehidupan. Pil ini membantu seseorang pulih dari serangan yang sangat kuat sebanyak sembilan kali. Aku harap kau tak menyia-nyiakan hadiah dariku ini,"


"Terima kasih yang mulia, tentu saja aku tak akan mengecewakanmu," ujar Han Bin berterimakasih.


"Di gagang pedang itu sudah ku tanamkan pemahaman tekhnik pedang yang mendalam dan ku harap kau bisa memahaminya dengan sangat baik,"


Han Bin pun di persilahkan untuk turun kembali, selanjutnya adalah giliran Kenshin yang menerima hadiah.


"Kenshin aku tahu siapa kau dan silsilah keluargamu, aku harap kau dapat di andalkan dalam hal ini. Aku mempercayaimu, kelak nama Pedang Ilusi yang merupakan seorang Kultivator Sejati pasti akan menggemparkan dunia kultivasi. Ku harap kau dapat menjaga kepercayaan ku ini,"


Kaisar Arkhan memberikan hadiah untuknya 2 butir Pil Sembilan Warna kehidupan serta Pedang Bintang Fatamorgana yang merupakan artefak roh dewata.


"Kau mempunyai tekhnik pedang yang tinggi sekalipun aku mengajarimu suatu tekhnik tetap saja itu tak sehebat dengan tekhnik milikmu yang mana tergantung pada kerasnya latihan mu,"


Kenshin pun mengangguk mengerti sambil tersenyum meninggalkan panggung. Bergantian dengan Cang Hue yang kini akan menerima hadiahnya.


"Cang Hue, bakat serta kemampuan mu sungguh membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Penampilanmu sangat menarik selama pertandingan berlangsung aku hanya berharap kau bisa terus berusaha keras untuk meningkatkan kemampuanmu dan memperkenalkan dirimu kepada dunia sebagai Utusan Semesta,"


Cang Hue menerima hadiah 2 butir pil dengan Zirah Bintang Kehancuran.


"Didalamnya terdapat sebuah pemahaman tekhnik bertarung tangan kosong yang sengaja ku masukan dalam artefak tersebut, aku harap zirah ini akan membantumu dalam pertarungan untuk menguatkan pertahananmu,"


"Terima kasih yang mulia!" Dengan senang hati Cang Hue menerima hadiah itu dan turun dari lapangan.


Kini giliran Asta yang naik ke atas panggung untuk menerima hadiah, matanya melebar saat melihat pedang yang di siapkan Kaisar sebagai hadiah untuknya adalah pedang iblis malam yang seharusnya itu memang sudah menjadi miliknya.


"Ada apa..?" Tanya Kaisar Arkhan bingung mengapa ia menatapnya dengan begitu intens.


"Kaisar apa kau sedang bercanda itu pedangku bagaimana mungkin kau dan manager mencurangiku dengan menjadikan pedangku sebagai hadiah untuk ku," Asta memprotes setelah ia teliti dengan baik-baik bahwa pedang itu memang iblis malam meskipun ada sesuatu hal yang sedikit membedakannya Asta masih mengenalnya.


"Hei Asta! Menjadi serakah itu tidak baik kau sudah mempunyai artefak roh dewata jadi untuk apa kau meminta yang lain. Terima ini," ujar Kaisar sambil tersenyum menggodanya.


Para penonton yang menyaksikan pembagian hadiah itu tertawa melihat tingkah kaisar menggoda Asta yang tengah cemberut padanya.


"Asta ini ia sangat polos dan berani sekali pada kaisar, Hahahahaa," tak hanya Han Bin, Cang Hue dan Kenshin pun ikut menertawakan tingkahnya tersebut.


"Apa? Apa kau tidak mau lagi pedang ini? Ya sudah kalau begitu biar aku simpan saja," melihat respon Asta yang begitu cemberut padanya Kaisar pun mengalihkan perhatiannya.


"Itu pedangku," Asta mengambil pedang tersebut dengan cepat. "Lalu mana pilnya?!" Ujar Asta mempertanyakan pil sembilan warna yang mana sebelumnya di terima oleh para pemenang yang lain.


"Pil apa..?" Tanya Kaisar balik sembari membuang wajahnya. "Sudah sana cepat turun, apa lagi yang kau tunggu. Husshh.. Husshh.." ucap Kaisar mengusirnya seperti seekor kucing.


"Lihat kau melakukannya lagi! Apa kau tak malu sebagai seorang kaisar mempermainkan seorang anak kecil sepertiku, cepat berikan pil itu!" Protesnya tak terima.


Orang-orang pun kembali tertawa melihat Asta yang marah-marah karena di permainkan sang Kaisar itu sendiri. Asta adalah perwakilan dari asosiasi, meskipun ia tak mendapatkan pil itu dari kaisar ia tetap bisa memintanya dari manager dengan gratis. Pikir mereka untuk apa Asta meminta pil itu pada kaisar sedangkan pil itu di berikan dari asosiasi yang ia wakilkan.

__ADS_1


Kaisar merogoh kantong jubahnya mengambil sesuatu,"kau mau pil kan? Sini kemari buka tanganmu," kaisar pun menaruh sesuatu ke telapak tangannya dan segera menutup tangannya.


"Jangan membukanya sekarang atau itu akan terbang, percayalah padaku aku memberikan pil yang sangat istimewa untukmu," ujarnya ketika Asta hendak membuka kepalan tangannya.


Asta menatap wajah kaisar tajam sebelum membuka telapak tangannya.


"Kepingan perunggu..?!! Hahahahaha.."


"Sepertinya kaisar menyukainya. Hahahahaa..."


Kaisar menahan tawanya melihat perubahan pada ekspresi wajah Asta yang semakin memerah.


"Kaisar kau membohongiku lagi, apa-apaan perunggu ini..?!!" Teriak Asta kesal lalu membanting kepingan perunggu itu ke lantai dan pergi meninggalkan panggung sambil mendengus kesal. Mau tak mau ia pun meninggalkan panggung dari pada dirinya di permalukan lebih dari ini oleh Kaisar Arkhan.


"Itulah dia sang pahlawan kita sang Topeng Api Suci! Berikan tepuk tangan yang meriah untuk pahlawan kita," seru Kaisar Arkhan, mereka pun mengiringi langkah Asta dalam menuruni panggung dengan tepukan.


"Berisik!!" Teriak Asta kesal karena tak henti-hentinya kaisar itu mempermainkannya.


"Hahahahaha..."


Asta pun menuruni arena sambil mendengus kesal karena di permainkan oleh Kaisar Arkhan.


“Pantas saja kemarin Manager tak mengembalikan pedang iblis malam ternyata untuk ini,” pikir Asta kesal terlebih Manager Row yang terus tersenyum sedari tadi ke arahnya, tebakannya benar.


Kemudian selanjutnya adalah pemberian hadiah untuk Hao Chen, meskipun hadiah yang digunakan Kaisar adalah pedang iblis langit miliknya akan tetapi ia masih menerima bagian dari pil sembilan warna ditambah ia mendapatkan 4 pil butir sekaligus.


"Hao Chen kau memang menjadi orang yang paling hebat dalam Turnamen Seni Bela Diri kali ini, aku harap kau tak meremehkan musuh kedepannya hanya karena kau bisa memenangkan turnamen ini. Aku harap kau akan terus bersemangat dalam berlatih dan tak mengecewakannya,"


Hao Chen pun mengangguk penuh antusias dan tersenyum hangat padanya, tak seperti pertama kali saat ia bersikap cuek terhadap kaisar.


Asta tak lagi mempedulikan permasalahan pil tersebut, meskipun pil tersebut pada dasarnya adalah pil tingkat 7 yang mana tentu sangat berharga, namun dengan adanya guru suatu hari jika ia membutuhkannya maka gurunya pasti akan memberinya.


---


"Guru sebenarnya kau kemana, sedari kemarin kau belum menampakkan diri dan aura mu bahkan tak terasa sama sekali," gumam Asta pelan entah mengapa ia merindukan kehadiran gurunya saat ini.


"Asta! Apa itu kau?!!" Teriak seseorang dari belakangnya.


Asta memutar kepalanya untuk melihat suara siapa itu. "Kenshin? Ada apa dengannya mengapa ia terburu-buru sekali,"


"Ada apa? Sepertinya kau sedang terburu-buru sekali," tanya Asta padanya.


"Heemm. Sekarang turnamen seni bela diri sudah usai aku tak mempunyai kegiatan lagi yang harus ku lakukan di ibukota ini, jadi aku akan pulang hari ini," ujar Kenshin memberitahunya bahwa ia akan pergi meninggalkan ibukota.


"Apa kau akan kembali ke Sekte Kobaran Api Sejati atau kemana kau akan pergi?" Tanya Asta heran.


"Tidak aku takkan kembali ke Sekte Kobaran Api melainkan aku akan pergi ke Negeri Bulan Beku, Sayap Kegelapan berada di sana dan tentu saja aku juga harus kembali kesana dan melanjutkan latihan kembali. Aku tak bisa berdiam diri terus di samping kau yang juga terus mati-matian dalam berlatih," ujar Kenshin memberitahunya.


"Baiklah kalau begitu aku akan menunggu saat-saat dimana kita akan bertemu lagi suatu hari nanti," ujar Asta menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


Kenshin menerimanya,"aku harap kau juga terus berlatih supaya nanti kita bisa bertarung dengan sekuat tenaga," setelah itu Kenshin pun pergi dan mengajak seseorang berjubah hitam untuk segera pergi.


"Sepertinya orang itu adalah penanggung jawab yang menjaga Kenshin," dengan begitu Asta dan Kenshin pun kembali berpisah untuk menempuh jalan masing-masing.


"Apa yang kau perhatikan mengapa kau sangat terfokus ke arah sana?" Seseorang mengejutkannya.


"Moegi kau mengejutkan ku," ujar Asta terkejut menghela nafasnya sejenak. "Ada apa kau mencariku?" Tanya Asta.


"Memangnya kenapa kalau aku mencari mu apa kau tak suka aku disini?!" Moegi menatapnya tajam.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku, yang ku maksud apa ada sesuatu hal yang penting yang harus kau katakan sekarang padaku?"


Moegi menatapnya dalam,"mengapa kau ingin sekali aku mengatakan sesuatu yang penting padamu?" Moegi balik bertanya.


"Ahh, jadi kau tak ingin mengatakan sesuatu..."


"Ada satu hal!" Potong Moegi cepat. Asta menatapnya penuh tanya.


"Sore ini kami akan kembali ke Sekte Kobaran Api Sejati. Apa kau benar-benar tak ingin kembali ke sana bersama kami, bukankah sekarang keinginan untuk bertemu dengan ayah dan ibumu telah tercapai," Moegi memberitahunya hal tersebut sekaligus mencoba untuk membujuknya siapa tahu Asta akan berubah pikiran dan memilih kembali ke Sekte Kobaran Api Sejati bersama mereka.


"Aku sudah mengatakannya pada ayah dan ibuku kalau aku tak akan kembali ke Sekte Kobaran Api Sejati dalam waktu dekat. Memang keinginan ku sudah tercapai namun ada hal lain yang masih harus aku lakukan, aku berhutang pada guru, jika bukan karena guru aku tak akan berada di sini sekarang,"


Moegi sudah tahu dari Matriark Misaki ketika ia bertanya apakah Asta akan kembali ke Sekte atau tidak yang mana jawabannya adalah tidak. Namun begitu tetap saja ia masih berharap Asta kembali ke Sekte.


"Baiklah karena sepertinya kau sudah memutuskan untuk tidak ikut kami pulang ke rumah, kami juga tak mempunyai hak untuk memaksamu," dari arah lain Shiro, Kesha, Zaraki dan Gao Li datang menemuinya untuk berpamitan padanya juga.


"Jaga dirimu baik-baik, Asta,"


Setelah itu mereka berlima pun pergi meninggalkan ibukota dan pulang ke Sekte Kobaran Api Sejati.


Asta yang hendak berjalan untuk kembali ke penginapannya di hadang oleh Yu Tiandu, Yami, Yu dan Jaza yang juga hendak berpamitan dengannya. Setelah itu mereka pun juga pergi meninggalkan ibukota menuju kembali ke kota Tiandu.


"Tuan muda sepertinya sedang merasa kesepian lagi setelah berpamitan dengan beberapa teman," Asta memutar kepalanya sosok yang sangat ia kenali dan juga sebagai pemenang turnamen ini masih saja memanggilnya dengan sebutan tuan muda.


"Bukankah kau juga akan pergi bersama Paman Hao?" Ujar Asta.


"Heemm. Aku masih harus terus berlatih untuk menjadi terus kuat, ayah mengatakannya padaku bahwa mungkin dalam waktu dekat akan ada perpecahan di dalam Kekaisaran Arkhan, jadi ia akan melatihku dengan sangat keras lagi kali ini demi bersiap-siap akan perpecahan tersebut," jelas Hao Chen.


"Perpecahan? Maksudmu peperangan?" Asta terkejut saat mendengar Hao Chen yang mengatakan hal yang Hao Ryun katakan mengenai perpecahan.


"Heemm. Kau juga harus berusaha dengan keras atau nanti kau tidak akan bisa bertahan hidup disaat peperangan benar-benar terjadi," ujar Hao Chen memberitahunya setelah itu ia pun pamit pergi.


Asta pun berjalan menuju ke arah penginapan namun di tengah jalan Ace dan Zaru menghadangnya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Asta heran.


"Kau tak perlu lagi ke penginapan atau ke kekaisaran untuk menemui Manager atau siapapun itu, sudah waktunya kita pergi sekarang untuk melanjutkan latihanmu yang tertunda beberapa waktu ini," ujar Flares tiba-tiba muncul mengejutkannya.


"Guru!! Kemana saja kau aku jujur sangat merindukanmu..!!" Asta berlari memeluk tubuh gurunya yang terbentuk dari roh tersebut.


"Hei! Hei! Hei! Rindu guru boleh tapi kau masih harus mendapatkan hukuman sesuai perjanjian karena tak memenangkan turnamen ini," gurunya menyeringai lebar.


Seketika raut wajah Asta yang tadinya senang menjadi masam mendengar ucapannya itu, ia baru teringat lagi kalau ada hukuman jika ia tak bisa memenangkan turnamen seni bela diri tersebut.


"Guru kau menghancurkan rasa rinduku padamu, apa kau tahu," ucap Asta pelan.


"Sudahlah guru juga sedang tak ingin melakukannya saat ini. Alasan guru menghilang adalah untuk memperbaiki pot naga kembar, sekarang sudah waktunya kita pergi melanjutkan perjalanan kita ke tempat berikutnya," ujar gurunya dengan antusias.


"Apa itu tempat dimana aku bisa meningkatkan kekuatanku dengan cepat lagi..?" Tanya Asta penasaran.


"Tentu saja..! Mana mungkin guru akan membiarkan murid tercintaku berlatih di tempat yang sangat tak efektif sama sekali. Ayo kita pergi sekarang,"


"Mari pergi ke tempat berikutnya...!!!!"


#Arc 2 End “Turnamen Seni Bela Diri”


----


Akhirnya selesai juga Arc 2, makasih ya buat yang masih ngikutin jejak karya author sampai sini;)

__ADS_1


__ADS_2