Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch41 Menempa


__ADS_3

"Masalahnya aku tak tahu gelar seperti apa yang ia punya di dunia kultivasi ini, namun begitu bukankah ia saudara seperguruan, Manager? Dialah seseorang yang membesarkan Chen Hao sedari kecil hingga sekarang, Chen selalu memanggilnya dengan sebutan Paman Hao. Ia hanya pernah sekali memberitahuku namanya, Hao Ryun, dan nama asli Chen Hao sendiri adalah Hao Ryun," jelas Asta.


Tentu Manager tahu bahwa pedang itu hanya dimiliki saudara seperguruannya saat berlatih dibawah di bimbingan Flares, ia berdiri sambil menggebrak meja.


"Ada apa Manager?" Tanya Asta terkejut melihat sikap Manager yang seperti itu.


"Dimana kau melihatnya?!!" Tanya Manager.


"Disuatu gang kecil yang berada di salah satu tempat di sela-sela keramaian kota ini," jelas Asta.


"Kita pergi sekarang," ajak Manager Row meminta Asta untuk menunjukkan jalan padanya ke lokasi dimana ia bertemu Hao Ryun sebelumnya.


Dengan cepat mereka pun tiba di lokasi dimana sebelumnya Asta bertemu dengan Hao Ryun, namun sayangnya, mereka terlambat jika dilihat dari sebuah tulisan yang tertera di tanah. Nampaknya Hao Ryun dan Chen Hao telah meninggalkan gubuk reyot tersebut beberapa waktu sebelumnya.


Asta pun membaca tulisan yang ada di tanah tersebut,"Bocah, akan kutunggu perkembanganmu sebagai pewaris Roh Sejati Master, Api Pemakan Cahaya. Aku dan anakku, menantikanmu, Asta..!!!"


Manager Row pun terduduk lesu, ini sudah kesekian kalinya ia kehilangan jejak saudaranya itu, Asta lalu mendekatinya dan bertanya mengenai siapa sebenarnya Hao Ryun tersebut, mengapa mereka tidak saling bertemu padahal mereka sendiri adalah murid dari Guru Flares.


"Hao Ryun, atau sosok yang biasanya di kenal dengan sebutan 'Tuan Pemburu Iblis', merupakan satu dari sekian orang jenius yang menembus batas Dewata Agung dan menjadi seorang Ahli Surgawi di usia yang terbilang muda. Ia terlahir dengan Esensi Roh Jenis Semesta, Bunga Teratai Matahari. Dibawah bimbingan Master ia berkembang menjadi yang paling cepat di antara kami bertiga, Pedang Iblis Malam yang kau punya sekarang adalah artefak yang Tuan buatkan khusus sebagai hadiah untuknya," jelas Manager Row menceritakan semua hal yang ia tahu tentangnya.


Asta pun tercengang mendengar cerita tersebut tak menduga bahwa sosok yang ia kenal sebagai Paman Hao merupakan sosok yang begitu kuat di dunia Kultivasi, bahkan Manager Row saja menyanjungnya begitu tinggi.


"Apa maksud Manager diantara kami bertiga? Apa Manager memasukan ku diantara tiga orang itu?" Tanya Asta penasaran.


"Kau sendiri tak aku masukan karena kau spesial, selain Aku dan Hao masih ada satu lagi orang yang berada di bawah bimbingan Master, apa kau ingin tahu,"


"Tentu, bagaimanapun juga ia merupakan seniorku, tentu aku harus mengenalnya," ujar Asta.


"Jika ku beri tahu kau bahwa Kaisar Arkhan kita ini adalah adik ketiga dari kita berdua apa kau akan percaya?"tanya Manager.


"Jika ia memang sehebat Manager ataupun Paman Hao, tentu aku percaya, lagipula aku tidak pernah tau soal Kaisar Arkhan ini apakah kuat atau tidak aku tidak mencari tahunya," jawab Asta dengan polosnya.


Karena tak ada lagi yang bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan Hao Ryun, Manager Row pun mengajak Asta untuk kembali ke Asosiasi Fajar Merah.


"Kakak pertama sendiri sangatlah susah di temui, jika pun bertemu mungkin itu hanya kebetulan yang di akibatkan oleh suatu kejadian tak terduga. Dan kau Asta, kau malah mendapatkan sesuatu seperti Pedang Iblis Malam darinya. Itu berarti ia meyakini bahwa kau akan mampu menginjak di ketinggian yang sama sepertinya, kuharap semangat mu terus bertahan hingga nanti seterusnya," ujar Manager.


"Tentu saja, kalau tidak bagaimana caranya aku bisa menemui mereka berdua. Aku pasti takkan mengecewakan mereka," balas Asta.


Sesampainya kembali di Asosiasi Manager Row menyuruhnya kembali beristirahat di ruangannya.


Di ruangannya Asta tak benar-benar tertidur, bayang-bayang sosok kedua orang itu masih tersimpan di benaknya, ia benar-benar tak menyangka akan bisa bertemu dengan sosok besar yang juga merupakan Murid dari Gurunya.


"Paman Hao ini sepertinya orang yang sangat hebat, lantas kenapa Faksi manusia masih harus ketakutan melawan kekuatan Faksi 7 Dosa Besar. Apakah ada semacam peraturan yang membuat kultivator tingkat tinggi tidak bisa ikut campur, Manager Row pun juga tak ikut serta dalam perang itu,"


Asta bangkit dari tempat tidurnya benar-benar tak bisa tidur malam itu, seolah ada begitu banyak hal yang mengganggu kepalanya, ia pun memutuskan untuk membaca buku yang berisi informasi-informasi penting mengenai hewan ghaib.


Beberapa jam pun berlalu dengan cepat tak terasa ia sudah menyelesaikan beberapa jam membaca buku, ia pun memasukkan kembali buku-buku tersebut kembali ke dalam cincinnya dan mencoba tidur.


Baru saja ia memejamkan matanya seseorang datang mengganggu tidurnya. Orang tersebut tak lain adalah Flares, gurunya sendiri.


"Muridku sayang, cepat bangun, Guru ada hadiah untukmu," ujarnya.


"Guru.. Bukankah ada waktu esok pagi, ini sudah pertengahan malam, aku mengantuk, aku ingin tidur," ucapnya pelan masih dalam kondisi terpejam.


"Baiklah,," Flares pun mengangguk dan pergi meninggalkannya, beberapa saat kemudian ia pun kembali sambil membawa ember air di tangannya.


'Byuuurrrrr...' tanpa basa-basi lagi Flares langsung menyiramkan air tersebut kepadanya.


"Akhh-!!!"Asta pun terbangun kelabakakan, raut wajahnya terlihat kesalnya, matanya memerah karena mengantuk.

__ADS_1


"Ayolah guru, muridmu ini masih mengantuk lagipula ini masih tengah malam, tidak bisakah kita lanjutkan latihannya esok hari saja," keluhnya dengan apa yang ingin gurunya lakukan Asta sudah menebaknya kalau ia hanya ingin memberinya latihan.


"Malam dengkulmu! Cepat bangun, cepat," ujar Flares langsung menarik kupingnya dan menyeretnya keluar.


Para pelayan pun tersenyum keheranan melihatnya yang bertingkah aneh, dikarenakan mereka tak bisa melihat Flares yang tengah menarik kuping Asta dan hanya melihat Asta yang berjalan sendiri dengan kupingnya yang tertarik.


Flares membawanya keluar dari Asosiasi, sinar mentari langsung menyoroti wajahnya,"Silau sekali, lampu apa ini," gumamnya kemudian menutupi matanya yang kesilauan.


"Kau ingin tahu itu lampu apa? Ini dia,"


"Plakk..!!!"


"Aduhh..!! Guru apa yang kau lakukan mengapa kau menamparku..?!!" Teriaknya langsung sadar, melihat asal sinar terang benderang tersebut ia terkekeh merasa malu ketika menyadari bahwa ternyata hari sudah pagi.


Setelah itu Flares lalu mengajaknya kembali ke dalam ruangan yang diperuntukkan bagi Ahli Tempa.


"Alihkan seluruh isi dari semua cincin yang kau dapatkan ke dalam gelang penyimpanan ini. Lalu berikan semuanya padaku," pinta Flares.


"Ehh,, memangnya apa yang ingin dilakukan guru dengan cincinku?" Tanya Asta penasaran, iapun langsung memindahkan seluruh isi dari cincin-cincinnya kedalam gelang yang gurunya berikan.


"Guru ingin meningkatkannya menjadi gelang penyimpanan saja atau mungkin kau ingin tetap seperti ini?" Tanya Flares.


"Jika begitu tentu aku tertarik untuk menjadikannya sebagai sebuah gelang karena tiap kotaknya memiliki luas sekitar 10 kali lebih besar daripada cincin. Tapi guru, aku ingin bentuknya tetap menjadi sebuah cincin tapi memiliki luas yang sama seperti gelang penyimpanan apa bisa..?" Tanya Asta.


"Bukan hal yang sulit,"


Flares pun memulai proses perubahan bentuk pada Artefak cincin tersebut menggunakan Api Esensi Rohnya, seluruh cincin tersebut pun meleleh dan mulai menyatu menjadi gumpalan.


Flares kemudian mulai membentuknya menjadi sebuah gelang lalu ia pun memperkecil ukuran dari gelang tersebut. Dalam beberapa saat kemudian proses perubahan bentuk pada Artefak pun selesai. Lalu terciptalah cincin penyimpanan level 5 dengan ruang penyimpanan 100 meter³ per kotak. Flares lalu memberikan cincin tersebut kepadanya.


"Guru sangatlah hebat, bagaimana caranya guru membentuknya hanya dengan menggunakan pengendalian roh dan tanpa sebuah tungku..?" Tanya Asta penasaran.


Ujar Flares tersenyum lalu menjelaskan tekhnik yang ia gunakan dalam menempa cincin tersebut dan metode untuk bisa mempelajarinya.


"Tekhnik yang guru pakai tadi merupakan tekhnik menempa tingkat tinggi, yang mana menjadikan Esensi Roh sebagai Tungku pembakaran sekaligus pembentukan. Tekhnik ini sangatlah sulit dipelajari karena membutuhkan kekuatan jiwa yang kuat dalam mempertahankan temperatur suhu api," jelasnya.


Asta pun mengangguk mengerti sembari mendengarkan penjelasan gurunya lebih lanjut ia memutuskan untuk memindahkan kembali isi dari gelang pemberian gurunya ke miliknya sendiri.


"Jadi apa kau sudah paham sekarang? Untuk hal ini tentu guru tak akan membagikan pemahaman guru padamu atau nanti kau hanya bisa mengandalkan pemahaman orang lain untuk bertambah kuat, selebihnya kau pelajari sendiri," ucap gurunya.


"Aku mengerti guru," jawab Asta.


"Dalam kondisi guru yang seperti ini, akan sangat sulit bagi guru untuk membuat Artefak Roh itulah mengapa Guru menyuruhmu mencari seorang Penempa di kota ini," jelasnya.


"Dalam melakukan pemurnian artefak ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Yaitu peleburan, Penempaan, Pembentukan Inti, Penyatuan, dan Pembersihan. Namun artefak biasa maka proses nya hanya Peleburan, Penempaan, dan Pembersihan saja,"lanjutnya menjelaskan.


Flares kemudian mengambil sebuah besi tingkat 1 untuk Asta jadikan latihan membuat artefak, pertama-tama ia mulai mengajarinya tentang cara membuat artefak dari yang paling dasar sekali, meskipun sebenarnya Asta sudah mengetahuinya dari buku yang pernah gurunya berikan namun ia tidak keberatan ketika gurunya ingin mempraktekkannya lebih dulu kepadanya.


"Cobalah kau buat sebuah pisau lempar seperti itu menggunakan besi ini," ujarnya sambil menunjuk ke arah pisau lempar yang terpajang di tembok.


"Baik guru, aku akan mencobanya," jawab Asta lalu memasukkan besi tersebut ke dalam tungku dan memulai proses peleburan.


"Tungku api membutuhkan asupan energi sebagai bahan bakarnya, semakin stabil jumlah energi yang diberikan maka semakin baik proses peleburannya, krnaikan jumlah energi yang dimasukkan secara tiba-tiba bisa menimbulkan....."


'Duaaarrr!!!'


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, kejadian yang baru saja ia ingin jelaskan telah terjadi lebih dahulu, Flares pun menatapnya tajam.


"Hehehehe.. Aku minta maaf, guru," ucapnya meminta maaf sambil terkekeh pelan. Karena ledakan tersebut wajah Asta jadi hitam dan rambutnya berantakan, ia pun segera membersihkan wajahnya kembali.

__ADS_1


"Maaf guru, kupikir dengan memasukkan spirit lebih banyak maka akan lebih cepat proses peleburannya, tapi ternyata malah sebaliknya," ucap Asta pelan melihat bekas ledakan tungku api sebelumnya.


Flares menghela nafasnya pelan melihat kelakuan Asta tersebut, setelahnya ia pun mengambil besi tingkat 1 lagi untuknya karena besi yang sebelumnya hancur ikut meledak bersamaan tungku api yang meledak.


"Ikuti apa yang guru ucapkan, jangan terburu-buru seperti tadi," ujarnya sambil memberikannya besi tersebut.


"Guru apakah tidak apa-apa kita menggunakan fasilitas dari Asosiasi Fajar Merah? Memangnya tidak apa jika kita terus-menerus memanfaatkan sumber daya mereka,"tanya Asta.


"Heh,, mau guru habiskan seluruh sumber daya Asosiasi Fajar Merah sekalipun tak akan ada yang memprotes. Lagipula semua hal yang ada di Asosiasi ini adalah harta kepunyaan guru, tentu guru mempunyai hak untuk menggunakan sumberdaya Asosiasi, kau pikir Row akan berani bicara saat Masternya sendiri menggunakan fasilitas yang seharusnya milik gurunya,"jelas Flares.


Flares kemudian mengakhiri obrolan itu dan mulai mengajak Asta melakukan pemurnian artefak lagi, kini Asta tak lagi bertindak gegabah seperti sebelumnya, dengan hati-hati ia mengikuti arahan yang gurunya berikan.


Satu jam kemudian setelah gagal dalam beberapa kali percobaan Asta akhirnya berhasil menciptakan pisau lempar seperti yang gurunya arahkan.


Saking senangnya karena berhasil menciptakan artefak Asta pun melompat-lompat kegirangan, Asta kemudian meminta beberapa material tingkat 1 kepada gurunya untuk mengasah kemampuan menempanya, karena ia sendiri merasa bahwa material-material dan bahan-bahan obat yang ada di cincinnya adalah barang yang mahal dan bukanlah barang-barang biasa, tentu akan sangat di sayangkan jika ia berlatih dan merusak itu semua. Dengan senang hati Flares pun memberinya material-material tingkat 1 untuknya berlatih.


"Jika kau bisa menciptakan minimal 10 artefak tingkat 1 dengan bahan-bahan ini dalam waktu 2 hari, pergilah dan temui Row, mintalah Kitab Peremuk Jiwa padanya. Itu merupakan versi utuh dari Seni Surgawi yang kau latih selama ini, yakni Seni Surgawi tingkat rendah, Peremuk Raga. Peremuk Raga yang kau gunakan bahkan masih cacat, jika kau mempelajari versi aslinya mungkin kau akan tahu kekuatannya," ujar gurunya.


"Baik guru," balas Asta sambil mengangguk.


"Kalau begitu lanjutkan saja latihanmu, guru ingin beristirahat lebih dahulu," ujarnya lalu pergi meninggalkan Asta berlatih sendirian di ruangan tersebut.


"Akhirnya guru pergi juga, sekarang aku bisa tidur sejenak disini," ucapnya pelan sambil menguap.


Asta pun berjalan di pojokan ruangan mencari tempat yang sempurna untuk menikmati waktu tidurnya sejenak, karena sebelumnya ia belum tidur sama sekali.


Setengah jam berlalu setelah Flares pergi meninggalkan Asta di ruang tempa, Flares sendiri tak benar-benar pergi untuk tidur seperti yang dikatakannya melainkan ia memasuki ruangan tempa lainnya untuk mengawasinya.


Setengah jam lamanya Flares diam dan menunggu di ruangan tersebut namun ia tak bisa merasakan fluktuasi kekuatan apapun dari ruangan Asta selama itu, ia pun tetap berpikir bahwa mungkin Asta sedang mempelajari sebuah tungku terlebih dahulu di dalam ruangan tersebut.


Namun kemudian ia merasakan Zaru juga mengunjungi Aula Tempa Asosiasi, penasaran dengan yang ingin dilakukan beruang kecil itu Flares pun mengintipnya.


"Apa yang ingin dia lakukan disini," ucap Flares pelan.


"Sebenarnya dimana bocah itu, aku sungguh bosan sekali berdiam diri di asosiasi ini. Tuan juga sepertinya tengah memberikan latihan padanya, sepertinya akan cukup menyenangkan kalau melihatnya yang kesusahan dibanding mati kebosanan disini," ujar Zaru lalu berusaha memeriksa setiap ruangan dengan auranya, ia pun menemukan satu ruangan yang dimana ia tahu Asta pasti didalamnya.


"Apakah tuan benar-benar menyuruhnya berlatih, mengapa ruangannya begitu tenang seperti tak ada siapapun, bukankah setiap kali Penempaan pasti akan mengeluarkan fluktuasi energi, ini agak aneh aku harus mengeceknya," gumam Zaru lalu memasuki ruangan dimana Asta tertidur didalamnya.


"Bruakk..!!"


Flares pun membuka matanya lebar-lebar saat mendengar ada suara aneh di ruangan Asta ia bergegas memeriksanya.


"Za..Zaru... Apa ya..yang ka..kau lakukan disini," ujar Asta terbata-bata bingung harus memberikan alasan apa.


"Dasar pemalas bukannya berlatih kau malah tertidur disini," ucap Zaru lalu menarik telinganya.


"Aduduhhh...!!!! Zaru hentikan, itu bisa melepasnya...!!" Teriak Asta.


"Biarkan saja," balas Zaru.


"Aku juga tidak tahu mengapa aku ketiduran, sebelumnya aku memang sedang berlatih tapi sepertinya tiba-tiba aku tertidur baru beberapa saat yang tadi dan sekarang aku terbangun saat kau datang membangunkanku, aku berterima kasih padamu," ujar Asta.


"Apa yang terjadi disini..?" Tanya Flares dengan tatapan matanya tajam.


"Hiii!!!! Guru aku bisa jelaskan, aku bisa jelaskan semuanya," ujar Asta mencoba menghentikan gurunya yang sedang berjalan ke arahnya, firasatnya begitu buruk.


Zaru pun melepaskan tangannya dari telinga Asta menyerahkannya pada Flares.


"Dasar anak nakal, kau benar-benar perlu dihukum karena menyia-nyiakan waktumu,"

__ADS_1


"Aaahhhhh...!!! Tidakkk..!!!! Kumohon jangan, kumohon... Ahhh...!!!"


__ADS_2