MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 9


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 9


Bab 9 Mengenang kasih sayang Mama


Menghabiskan makan malamnya dengan cepat membuat gadis muda yang baru saja lulus dari sekolah SMA itu memperjelas seberapa gelisah dirinya saat ini. Masuk ke kamarnya Glenca kembali di rundung rasa gelisah yang kian membuncah. Tak lain adalah profesi yang sebentar lagi akan di jajaki nya sebentar lagi.


Bagaimana mungkin Ia bisa menyimpan terus menerus rahasia sebesar ini dari papa nya. Bukan nya Ia tak mau membagi pengalaman pertama nya bekerja menjadi seorang model, sudah pasti papa nya akan marah habis habisan dan melarangnya untuk meneruskan pekerjaan baru yang bahkan belum mulai.


Menimbang nimbang ada baiknya dirinya menyimpan rapat rapat semua rahasia mengenai profesi nya sebagai model majalah dewasa bersama sang mama. Masa kontrak akan berakhir tahun depan. Tertulis kontrak awal adalah satu tahun, perpanjangan bias di lakukan jika memang kedua pihak menyetujui dan mendapatkan rekomendasi dari manager masing masing modelnya.


Sejak kecil, Brenda memang sangat tertarik dengan dunia modeling. Ini salah satu kesempatan baik untuk dirinya agar dapat lebih mengeksplor potensi nya.


Bolak balik mengitari kamar, akhirnya Brenda duduk di tepi ranjang, bersandar pada dipan, gadis muda itu membuka laci di sampingnya.


Di pandanginya selembar foto yang terlihat usang itu lekat lekat. Sepintas bayangan bertahun tahun lalu pun kembali. Saat dimana Brenda merasa Ia pasrah akan hidupnya, jika memang untuk sekolah saja orangtuanya sudah tak sanggup membayar, ada baiknya Ia mengubur cita cita menjadi seorang model.

__ADS_1


Masih melekat di ingatannya bahwa sering terjadi mereka bahkan harus berpuasa demi menghemat makan. Terkadang orang tuanya bahkan rela tidak makan seharian, demi putri kesayangannya bisa menikmati makan sampai kenyang.


Masih bisa mengenyam pendidikan sampai tamat di jenang SMA sudah sangat di syukuri sekali. Tapi kini kehidupannya perlahan berubah, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Seperti kata pepatah, jika seseorang berusaha dengan baik, maka pasti ada jalan. Begitulah yang terjadi, karena Papa Brenda seorang pekerja ulet, pelan pelan bisa membangun perusahaan kontraktor.


Tidak terlalu besar, tapi bisa menghidupi mereka sekeluarga denagn layak. Bisa memberikan Brenda kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah unggulan, bisa mengangkat derajat mereka sekeluarga.


Tokk


Tokk


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Brenda, segera Ia menghapus jejak air mata haru nya.


“Belum ma, masuk aja pintu gak aku kunci.”


“Sayang, kamu habis nangis, ada apa? Cerita sama mama.”

__ADS_1


“Gak kok ma.”


“A-apa tadi manager nya Wety nyakitin atau ngomong kasar sama kamu?”


Brenda mengangkat pandangan atas mama nya yang tengah khawatir menatap dirinya.


“Mama minta maaf ya, mama lupa memberi tahu kamu bahwa Wety itu memang seorang model majalah pria dewasa. Mama yang salah. Kamu jadi terlanjur menandatangani kontrak nya. Atau mama yang bicara ke papa deh, biar mama yang ngaku, karena memang ini salah mama.”


“Mama nih ngomong apa sih? Aku cuma lagi terharu aja ma inget kisah kita yang dulu sewaktu aku masih kecil. Tadi Kak Wety sempet kasih nasihat ke aku. Semua hal yang Kak Wety itu bener banget, aku janji ma, mulai sekarang aku akan lebih menghargai kesempatan. Karena kesempatan belum tentu datang dua kali. Menjadi seorang model majalah tidak lah salah, tapi biasa nya model majalah pria dewasa itu identik dengan perempuan gak bener Itu aja sih ma, yang bikin aku gelisah, awalnya aku takut ketauan sama papa. Tapi kalau niat kita baik, aku yakin kok hasil nya juga pasti baik ke depan.”


”Kamu tuh baik banget sayang, mama bersyukur Tuhan menghadirkan kamu untuk mama dan papa.”


Brend tak kuasa menahan air mata nya. Dua wanita beda generasi itu berpelukan.


“Ma, kak Wety bener, sudah saat nya aku membalas budi baik orang tuaku. Selagi aku mampu, aku akan lakukan apapun. Aku juga gak mau ma, hidup kita kaya dulu lagi. Aku yakin Tuhan selalu punya rencana indah untuk hidup kita. Mama gak perlu mikir macem macem hanya perlu bantuin aku setiap papa tanya soal kegiatan kegiatan yang aku lakuin. Aku mohon sama mama.”

__ADS_1


“Kamu tenang saja kalau soal itu.”


Ibu anak itu akhirnya larut dalam obrolan ringan sampai malam mengantar mereka untuk beristirahat sejenak menunggu pagi datang.


__ADS_2