MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 82


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 82


Bab 82 Kenangan untuk masa depan


Mengenakan jas lengkap dengan kaca mata serba hitam, Han berjalan beriringan bersama para asisten rumah Bela mengantar untuk terakhir kalinya wanita yang pernah menjalin kisah special dimasa lalu.Terlihat kesedihan yang begitu mendalam dari para asisten yang sempat menggantungkan hidupnya pada Bela.


Han meletakkan pigura foto Bela pada pusara yang masih basah itu. Merasa sedih dan terkejut akan kepergian Bela yang mendadak meninggalkan kesan tersendiri untuk Han.


Malam itu Han berpamitan mengantar Brenda pulang, terpaksa Ia kembali menitipkan Bela pada para perawat yang bertugas jaga. Rupanya malam itu, kondisi fisik Bela semakin memburuk. Wanita itu memuntahkan isi perutnya setiap satu jam sekali, bahkan terakhir Bela hanya sanggup memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya. Ia hanya bisa menangis dalam diam, memaksa matanya mengeluarkan air untuk menahan semua rasa sakit.


Dari seluruh kisah hidup yang Ia jalani, Bela tersadar bahwa memiliki seseorang tidak boleh menggenggamnya terlalu erat, karena itu bisa merubah cinta menjadi sebuah obsesi.


Siang itu, Brenda, Pak Yanto dan Ibu Desi datang ke pemakaman Bela. Setidaknya untuk terakhir kalinya keluarga itupun ikut mengantar kepergian Bela.


-


-


Beberapa minggu setelah kepergian Bela, rumah megah yang kini dihuni oleh beberapa asisten, sopir dan tukang kebun itu diserahkan ke panti sosial sesuai permintaan Bela beberapa waktu sebelm kepergiannya. Han membantu mengurus semuanya sampai selesai. Sebagian pekerja Bela memilih ikut bekerja di panti sosial tetapi ada juga yang ingin pulang kampung dan memuli usaha baru dari uang pesangon yang sudah diberikan.

__ADS_1


Han sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa lagi bekerja di kantor Pak Yanto. Laki laki dewasa itu kini sudah bisa mengalihkan rasa sedih atas kepergian Bela. Ia memilih menyibukkan diri dikantor.


Sementara Brenda melanjutkan kuliah full time seperti keinginan sang papa, tanpa harus membagi waktu antara kerja dan kuliah. Saat ini Brenda hanya ingin fokus kuliah dan mulai menata kembali hidupnya yang sempat dilanda kesedihan. Pak Yanto ingin mempersiapkan Brenda menjadi penerus diperusahaannya kelak. Walaupun Brenda tetap bersikeras tak ingin melanjutkan hubungan dengan Han, nyatanya diam diam gadis itu masih suka memperhatikan keberadaan Han jika mampir ke rumahnya. Pak Yanto tak lagi bekerja di hari Sabtu, Ia memilih hari Sabtu dan Minggu sebagai waktu berkumpul keluarga.


-


-


Brenda datang ke kampus dengan wajah merengut pagi itu, apalagi kalau bukan karena jalanan macet membuat gadis itu terpaksa menjalani hukuman atas keterlambatannya.


Mengikuti seluruh rangkaian kelas hari ini, membuat Brenda bosan bukan kepalang sampai akhirnya gadis itu memutuskan mengajak temannya shopping ke mall terdekat.


“Ih Mel, elu ngapain sih buru buru banget, sabar dikit napa.” Kata Daniah.


“Iya jangan buru buru gitu dong, mall juga baru buka kok.”


“Ya jangan sampa gagal maning nih gegara dijemput calon suami.” Sindir Melia.


“Maksud elu apa sih Mel, kan gue udah bilang kalau gue single. Gue akan nemenin kalian shopping abis itu gue traktir makan.” Jelas Brenda pada dua temannya.

__ADS_1


“Eh itu … itu kayaknya kita batal deh ke mall nya, kita kan ada perlu Mel, bener kan, itu kan, itu tuh …” Daniah susah payah mencerna kode yang diberikan seseorang yang sejak tadi mengamati mereka dari kejauhan.


“Ngomong apa sih elu Dan?” Melia masih tak sadar.


“Saya rasa hari ini kalian terpaksa batal lagi shoppingnya, maaf ya.” Seru Han sembari melempar senyum.


Daniah dan Melia hanya bisa menatap temannya dengan expresi yang sama terkejutnya dengan mereka.


“Om?”


*****


note \=


Terima kasih akhirnya aku bisa sampai ditahap ini. Semoga aku.masih berkesempatan untuk terus berkarya di platform ini dan bisa menyapa kalian semua.


Bagi kalian yang bersedia silahkan mampir di karyaku pd lapak hijau.


__ADS_1


__ADS_2