MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 28


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 28


Bab 28 Apa salahnya menikah dengan Om asisten?


Perjalanan yang tadi nya singkat terasa sangat panjang. Sepanjang perjalanan, Brenda hanya diam, cemberut dan tak bersemangat. Berbeda dengan bela, wanita anggun itu tak henti nya melempar pertanyaan yang disambut baik oleh Han.


“Love, jadi kamu masih bekerja di perusahaan yang sama seperti dulu?”


“Ya, aku masih bekerja di PT. Trinity Global Internusa.”


“Love, apakah sore ini ada waktu.”


“Datanglah ke rumah ku. Aku akan masak makanan kesukaanmu.”


“Tidak perlu repot repot Tante, malam Ini Om asisten harus menemaniku. Kami sudah membuat janji beberapa hari lalu dan tidak bisa di batalkan.” Brenda menyelak sebelum Han sempat menjawab.


‘Sial, anak ingusan ini, dia mencoba main api dengan ku. Kita lihat seberapa besar cinta Han untukku.’ Bela hanya menanggapi dengan tenang.


“Oke, maaf saya sudah lancang.”


“Tante mau turun dimana, karena Om asisten harus mengantarkan saya pulang.” Brenda semakin mengibarkan bendera perang.


“Brenda, kita akan mengantarkan Bela dulu, karena rumahnya searah dengan rumah mu.” Han kali ini menjawab.


‘Kau akan lihat seberapa besar cinta Han untukku.’ Bela menyeringai tipis nyaris tak terlihat.


‘Huh, enak aja ini Om Om mau mainin perasaan aku. Bisa bisa nya dia masih memberi harapan pada wanita lain.’ Brenda mengumpat dalam hati.


Seperti mengetahui isi hati Brenda, Han pun berjanji untuk menepati janji bertemu nanti sore nya dan laki laki itu akan menjemput setelah lewat adzan magrib.


Han bergegas kembali ke kantor. Pekerjaan sudah menanti nya.


“Brenda, nanti malam saya jemput jam 06.30 ya. Kalau bisa saya usahakan lebih cepat.”


“Memangnya kita mau kemana Om?” Tanya Brenda heran.

__ADS_1


“Loh bukannya tadi kamu yang bilang di depan Bela, bahwa saya harus menemani kamu malam ini?” Han diam diam mengurai senyum atas wajah polos Brenda.


“I-Iya sih tapi tadi kan cuma…”


“Cuma apa?”


“Ya cuma…”


“Apa?”


“Cuma supaya Om gak kasih harapan sama wanita wanita penggoda. Saya gak mau menikah sama kekasih orang Om.”


Han sempat menunduk, kemudian mengangkat pandangannya, tatapan nya mengunci Brenda. Kemudian laki laki dewasa itu kembali mengurai senyum tulus nya pada Brenda.


“Ya sudah sampai nanti malam. Kita pergi makan di luar.” Setelah berkata demikian, Han melajukan mobil nya menuju kantor.


Brenda tak langsung masuk ke dalam rumah nya. Gadis itu pergi ke halaman belakang, menyambangi sang mama yang hampir setiap siang menghabiskan waktu memandangi bunga bunga bermekaran.


“Hai Mama.”


“Iya Ma, kan cuma kasih makalah doang tadi.”


“Brenda, sini duduk Nak, Mama mau bicara serius sama kamu.”


“Ada apa Ma?”


“Nak, kamu itu anak Mama satu satu nya. Mama mau kamu bahagia. Mama mau kamu sukses dengan semua cita cita dan impian kamu. Mama mau kamu menikmati masa muda kamu dengan sebaik baiknya. Jangan sampai kamu menyesal nanti nya.”


“Maksud Mama gimana? Brenda gak paham.”


“Sayang, mengenai perjodohan kamu dengan Han. Menurut Mama, Han bukan pilihan terbaik untuk kamu.”


“Tapi Ma, Om asisten itu pilihan terbaik dari Papa.”


 

__ADS_1


“Kamu yang menikah kamu yang menjalani. Apa kamu yakin pilihan Papa itu pasti yang terbaik buat kamu?”


“Aku juga masih belum yakin sih Ma. Aku belum pernah tahu cinta yang sesungguhnya seperti apa. Memangnya menurut Mama bagaimana?”


“Ya kalau menurut Mama sih, Han itu belum mapan dari segi financial. Dia aja masih bergantung dari Papa kamu. Apa kamu yakin mau menggantungkan hidup kamu sama laki laki yang belum mapan begitu?”


“Iya sih Ma, tapi yang Papa bilang ada bener nya juga, tingkat kemapanan seseorang tidak di lihat dari segi financial saja. Om asisten itu baik, dia bisa jagain dan lindungin aku. Om juga ga mengambil kesempatan dalam kesempitan loh. Sejauh ini sih aku sreg sama dia Ma.”


“Ya semua itu gak bisa kamu jadikan tolak ukur juga dong. Mama itu hanya gak mau kamu pasrah gitu aja sama permintaan papa kamu. Papa itu sebenarnya terlibat hutang budi sama Rita, tante nya Han.”


“Hutang budi, hutang budi bagaimana Ma?”


“Sewaktu usia kamu masih dua tahun, saat papa belum punya perusahaan. Tante Rita yang udah kenalin papa ke salah seorang teman lama nya. Yang belakangan kita baru tahu bahwa laki laki itu mantan kekasih Rita. Namanya Halim Tjoeng. Halim Tjoeng adalah seorang pengusaha sukses di bidang property. Pak Halim itu sangat baik, beliau mau mempercayakan beberapa proyek ke papa kamu. Ya walau masih proyek proyek kecil awalnya. Tapi karena hasil kerja papa dan tim memuaskan, akhirnya Pak Halim mulai mempercayakan papa untuk dapat membesarkan namanya di bidang kontraktor. Pak Halim juga menaruh dana di perusahaan papa, sehingga sampai sekarang perusahaan papa semakin berkembang dan dikenal banyak kalangan.”


“Terus apa Om Halim jadi menikah dengan Tante Rita?”


“Tidak. Om Halim itu keturunan keluarga chinese. Di adat keturunan chinese tidak boleh sampai menikahi yang bukan keturunannya. Om Halim juga begitu kecewa dengan keputusan keluarganya. Om Halim dan Tante Rita sebenarnya sudah saling mencintai dan mengusahakan agar hubungan mereka dapat di teruskan. Namun keluarga Om Halim begitu menentang hubungan mereka. Hingga suatu saat Om Halim nekad memaksa untuk kawin lari bersama Tante Rita. Tapi sayangnya, keluarga Om Halim itu kaya raya, mereka dengan mudah menemukan tempat Om Halim dan Tante Rita, mereka kembali di pisahkan dan ternyata Tante Rita keburu hamil.”


“Oh jadi adik sepupu Om asisten yang keterbelakangan mental itu anaknya Tante Rita ya Ma?”


“Iya benar, anak perempuan itu salah satu keturunan keluarga Halim yang tidak pernah diakui.”


“Terus sekarang Om Halim ada dimana Ma?”


“Terakhir sih keluarga Om Halim sepakat untuk pindah ke Hongkong.”


“Ya ampun kasihan ya Tante Rita sama anaknya.”


“Makanya itu, pernikahan itu tidak mudah. Mama tidak menentang atau mau memaksakan kamu dengan perjodohan ini. Tapi ada baiknya kamu memantapkan hati dulu bersama Han. Jangan sampai pernikahan kalian bertahan sementara. Karena Han itu belum mapan dan yatim piatu. Tante nya juga hanya punya café sederhana. Café itu dulu papa kamu yang modalin, sebagai bentuk penghiburan untuk Tante Rita yang pernah bantuin papa sampai bisa seperti sekarang.”


“Tapi Ma, menurut aku Om asisten orang nya baik, yah emang sih agak kaku. Tapi dia ganteng, kadang kadang manis juga Ma.” Brenda malu malu mengutarakan penilaiannya terhadap Han.


“Ganteng, rupawan tidak akan cukup. Mama tidak bisa tenang sebelum kamu menikah dengan laki laki yang mapan secara finansial dan bertanggung jawab, dia juga teralu tua buat kamu. Kamu kan cantik, calon model terkenal nantinya, apa kamu gak salah menikah dengan laki laki yang usia nya terpaut jauh dari kamu?”


“Ma, apa salah nya kita coba mengikuti alur yang sudah di rancang Papa? Apa salahnya menikah dengan Om asisten?” Entah dari mana keyakinan Brenda saat ini datang. Tapi mulutnya begitu lancar menyatakan bahwa Ia ingin menikah dengan Om asisten nya. Walau pada awalnya dirinya juga tak setuju akan permintaan papa nya.

__ADS_1


__ADS_2