
MENCINTAI OM ASISTEN 26
Bab 26 Di peluk Om asisten
"Brenda, tunggu, saya mau bicara sama kamu."
"Apalagi Om? Belum puas yah mempermalukan aku di depan semua orang?"
"Brenda, saya bukan bermaksud mempermalukan kamu. Saya hanya minta waktu untuk memantapkan hati. Saya rasa kamu pun juga harus meyakinkan diri kamu untuk menerima perjodohan ini."
"Saya itu cuma mau Papa saya bahagia Om. Papa saya akan bahagia kalau saya menuruti keinginannya."
"Lalu kamu pikir kita bisa menikah tanpa ada rasa cinta?"
"Cinta itu bullshit Om. Nikah ya nikah gak perlu panjang lebar mikir ini itu. Yang penting ada uang, semua bisa."
__ADS_1
"Brenda saya rasa kamu belum mengenal saya. Untuk itu mari kita mulai dari saling mengenal satu sama lain. Baru kita memutuskan untuk ke hubungan yang lebih serius. Masa depan kamu masih panjang, saya ingin kamu yakin tidak ada penyesalan setelah kamu menerima perjodohan kita. Saya tidak mau ikut andil dalam penyesalan kamu nantinya."
Han tiba tiba memeluk Brenda. Erat dan hangat. Brenda sempat memejamkan matanya sesaat. Larut dalam buaian kata kata indah Han.
"Om, apa Om sudah punya kekasih? Makanya Om nolak dijodohin sama saya ya?"
"Tau apa kamu soal kekasih?" Han tiba tiba mencubit hidung mancung Brenda.
"Belum. Hampir."
"Serius? Ditinggal?"
"Ya, dia pergi tiba tiba ninggalin saya. Tuh papa mama kamu udah nungguin. Saya juga harus balik ke kantor."
__ADS_1
Keduanya berdiri siap pergi ke arah berbeda, walau tak rela berakhir, nyata nya Brenda harus pulang bersama orang tuanya.
Kantor agency terpaksa di tutup sementara waktu sampai kasus bunuh diri itu terbukti jelas. Sementara itu Brenda membuat alasan dengan sang Papa bahwa Ia sudah tak lagi bekerja di restoran milik teman nya. Lagipula keuangan perusahaan sudah jauh lebih baik dan stabil di bandingkan beberapa bulan lalu.
Brenda masuk ke rumah dengan langkah gontai. Apalagi kini Om asisten begitu memenuhi isi kepalanya. Pikirannya terus saja berkelana tanpa henti bertanyantanya kisah masa lalu Om asisten. Brenda tertidur memeluk gulingnya. Berusaha memejamkan mata nya yang sudah lelah namun tak mau diajak kompromi.
'Om asisten lagi ngapain ya? Kenapa sih aku jadi mikirin dia terus. Walau bukan dia first kiss aku tapi kayanya dia first love aku. Sebenernya kriteria wanita nya om asisten itu kaya apa ya? Kenapa dia gak tertarik sama aku? Apa kurang nya aku?' Lelah dengan pikirannya, akhirnya Brenda terperangkap di alam mimpi.
Sementara di sudut ruangan berbeda, Han tengah menatap selembar foto lama. Di foto itu nampak Han masih berusia dua puluh delapan tahun. Ya foto itu diambil sekitar tujuh tahun lalu ketika dirinya masih menjalin asmara bersama Bela.
Bela wanita cantik yang pernah menghiasi hari hari Han, dengan senyuman, canda dan tawa. Wanita yang mampu membuat Han menjadi lelaki penuh damba. Wanita yang selaau menjadi penyemangat di kala Han merasa sepi.
Tujuh tahun lalu, saat hubungan keduanya sedang hangat hangatnya, Bela memutuskan hubungan sepihak dan memilih menikah dengan pria berusia senja yang kaya raya. Bela mengaku dirinya sudah tidak sanggup lagi menunggu Han entah sampai kapan. Ia ingin segera bisa menikmati keindahan dunia dengan menjadi nyonya kaya raya.
Menyakitkan, ya seperti di iris belati. Hanenangis berhari hari, menunggu Bela pulang. Kisah kasih yang di jalani nya selama lima tahun bersama Bela selesai sudah. Tak ada lagi bahagia, yang ada hanya duka. Bela pergi, berbahagia menikahi duda kaya raya. Han tak menyangka wanita yang dipacarinya tega meninggalkannya demi harta.
__ADS_1