MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 73


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 73


Bab 73 Pembatalan Perjodohan


Laki laki dewasa itu mulai menjalankan tugas nya seperti biasa seperti yang di lakukan nya dulu sebelum Pak Yanto terkena serangan jantung dan kom. Ya, melayani atasannya untuk segala macam urusan keculai yang sifatnya pribadi.


Membukakan pintu mobil untuk Pak Yanto dan Brenda, Han memilih mundur beberapa langkah, seolah memang Ia harus sadar diri dengan posisi nya.


“Han, ayo kita makan sama sama. Naiklah.” Ajak Pak Yanto.


“Maaf Pak, saya sudah ada janji makan dengan teman saya.”


Sementara Brenda seperti tertampar mendengar penolakan dari Han. Sudah tak ada lagi Han yang mengejar ngejar seperti kemarin. Tak ada lagi laki laki penyabar yang selalu menjelaskan apa yang terjadi sehingga menimbulkan salah paham pada dirinya. Han berubah menjadi sosok yang menjauh dari nya.


“Om, aku minta maaf kalau tadi kata kata ku sudah membuatmu tak nyaman.”


“Saya rasa tidak masalah. Terima kasih atas ajakannya Pak. Saya permisi dulu.”


Han pergi terburu buru menuju parkiran mobilnya. Ia sadar tak seharusnya terus menerus memaksakan cinta nya pada Brenda. Jujur sejak awal bertemu dan menolong Brenda, Han merasa ada getaran berbeda yang bergejolak dalam dirinya.


Tapi mau di bawa kemana cinta yang tidak dewasa seperti ini. Brenda dengan mudahnya menyerah pada hubungan mereka. Berkali kali Han mencoba meyakinkan gadis itu tetap saja pada pendiriannya. Lelah berjuang sendirian, mungkin lebih baik pasrah dengan waktu.


-


-

__ADS_1


-


Brenda tak begitu menikmati makan siang nya bersama sang papa, lantaran di rundung rasa bersalah atas apa yang sudah terucap dari bibir nya. Ia terpaksa berkali kali menunjukkan sikap tak baik pada Han, supaya laki laki itu menyerah dan tak lagi berharap pada cintanya. Cinta yang rumit dan begitu sulit.


Tapi semakin berusaha menjauh semakin menyakitkan. Semakin ingin lepas semakin terjerat ke dalam cinta Om asisten.


Karena proyek pembangunan hotel milik Bela di Bali sudah ada titik terang, rencananya Pak Yanto akan menengok secara langsung dan memastikan segala sesuatu nya, agar tidak terjadi lagi kemungkinan buruk seperti sebelumnya.


-


-


Han bersedia ikut menemani Pak Yanto yang baru saja sembuh untuk menengok proyek pembangunan hotel di Bali.


“Pa, Papa yakin aku gak usah ikut? Kan biar aku bisa nemenin Papa.”


“Papa, aku tidak akan mengizinkan papa pergi kalau sendirian. Ingat kata dokter, papa harus rutin kontrol dan tidak boleh terlalu lelah juga stress.”


“Kata siapa papa sendirian? Papa kan pergi sama Han. Oh ya, ada yang papa mau sampaikan ke kamu sayang.”


“Ada apa pa?”


“Begini, walaupun kamu tidak berjodoh dengan Han, rasa sayang papa terhadap Han tidak akan berubah. Jika memang kamu tidak sanggup lagi melanjutkan hubungan ini, papa akan membatalkan perjodohanmu dan akan membicarakan lagi dengan Tante Rita.”


Menghela napas panjang, berat untuk diputuskan, tapi pada kenyataannya, hubungannya dengan Han memang tak bisa dilanjut atau bahkan sekedar di pertahanan.

__ADS_1


Lebih baik Ia dan Han menjalani bagiannya masing masing. Menyakitkan bila kita mencintai laki laki yang masih memiliki masa lalu yang belum selesai. Walaupun pasrah dengan keadaan juga tak kalah sakitnya.


-


-


Tiba di Bali dengan segudang jadwal untuk mengecheck para pekerja, laporan keluar masuk bahan bangunan, belum lagi harus mengunjungi beberapa rumah yang terkena imbas akibat bangunan yang roboh beberapa waktu lalu. Membuat Han dan Pak Yanto tak memiliki waktu untuk membahas masalah pribadi mereka.


Setelah menyelesaikan urusannya, Pak Yanto dan Han beristirahat masing masing di kamar hotel. Karena tak bisa tidur, han turun ke café di hotel itu untuk menikmati kopi dengan desiran angin Bali waktu malam.


“Han, kau disini rupanya.” Sapa Pak Yanto yang tak bisa tidur dan memutuskan untuk turun ke café lantai satu hotel itu.


“Malam Pak, loh Bapak belum tidur. Ini sudah hampir larut dan bapak harus banyak istirahat Pak. Mari saya antar ke kamar.”


“Tidak usah formal, ini sudah di luar jam kerja. Saya ingin menikmati waktu bersantai dan sedikit kopi.” Pak Yanto menegaskan sedikit penglihatannya dengan menurunkan kaca mata nya menatap Han. Asisten sekaligus calon menantu yang bisa di katakan gagal.


“Baik Pa, saya pesankan sebentar.” Han kemudian memanggil pramusaji untuk memesankan kopi panas bagi atasannya.


“Ada yang mau saya sampaikan pada kamu, Han. Ini mengenai putri kesayangan saya. Ya saya tahu jelas bagaimana putri saya. Tapi dalam hidup di dunia ini cinta saja rupanya masih belum cukup. Saya sudah tahu sedikit banyak dari istri saya perihal hubungan kamu dengan Ibu Bela Aninditya. Masa lalu kalian masih perlu di selesaikan. Saya harap segera. Besar harapan saya, kamu masih memiliki waktu mengejar cinta sejati mu. Perlu saya tegaskan, saat ini juga saya menyatakan saya tidak akan lagi menjodohkan kamu dengan putri saya. Tapi perasaan saya terhadap kamu tidak akan berubah. Bagi saya, kamu dan Rita adalah bagian dari keluarga saya. Tujuan saya menjodohkan kamu dengan anak saya adalah untuk memperpanjang tali silahrutahmi antara keluarga kita.”


Han terus menyimak sembari menyeruput kopi hitam nya.


“Sebagai papa bagi Brenda, tentu saya sangat kecewa dengan apa yang terjadi, melihat putri kesayangan saya menangis pilu berhari hari, sakit itu bukan hanya milik Brenda. Tapi, sebagai seorang yang memiliki tanggung jawab pada perusahaan dan ratusan karyawan, saya juga harus bersikap adil. Mungkin kamu dan dunia ini akan berfikir bahwa saya seorang yang kejam dengan mempertaruhkan kebahagiaan putri nya demi perusahaan. Tapi saya yakin yang dilakukan Brenda adalah keputusan yang harus diambil saat Ia terdesak. Brenda sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan semampu yang Ia bisa lakukan. Kalau kamu mau menyalahkan saya silahkan, walau tidak rela, saya terpaksa merelakan kamu menyelesaikan masa lalu kamu.”


Hanya menyeruput beberapa teguk kopinya, laki laki tua itu sudah berdiri dan hendak kembali ke kamar. Merapatkan jaketnya, Ia berupaya kembali menegakkan kepala. Bersiap memandang dunia lagi. Bertarung dan mengalahkan semua musuh, melakukan yang terbaik untuk istri dan anaknya.

__ADS_1


Han tertergun mendengar apa yang baru disampaikan oleh Pak Yanto. 


__ADS_2