
MENCINTAI OM ASISTEN 59
Bab 59 Memohon dengan benar
Entah bagaimana dan mulai dari mana, Ia harus menjelaskan pada Brenda. Sejak tiba di kantor, Han sudah memasang wajah tidak bersahabat kepada siapapun. Pertemuannya malam itu sangat mengganggu pikirannya. Terbukti dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.
Sejak menjemput Brenda pagi tadi, Han sudah berusaha terus mengalihkan pembicaraan Brenda yang menanyakan siapa pemilik hotel di Bali.
“Om, apakah sudah mendapatkan hasil penyelidikan Om? Siapa pemilik hotel di Bali. Kata Papa namanya Bela. Menurut papa, Ibu Bela itu orangnya baik dan ramah. Aku ingin secepatnya mengatur jadwal untuk menemui Ibu Bela.”
“Bela yang sama seperti yang kamu kenal.”
Byur, Uhukk
Brenda menyemburkan minuman yang baru saja akan membasahi tenggorokannya.
Bersamaan dengan itu, Bela datang mengetuk pintu. Kebetulan pintu belum tertutup, Bela melangkah masuk dengan anggun. Dengan cekatan Bela mengeluarkan sapu tangan untuk membantu Han mengelap jas nya yang terkena semburan dari Brenda.
“Ma-maaf Om, aku tidak sengaja.”
“Han, sini aku bersihkan.” Ujar Bela.
__ADS_1
“Tidak, tidak perlu.” Jawab Han.
“Sudahlah, tidak perlu sungkan padaku. Kamu ingat kan, aku paling tidak bisa melihatmu kotor seperti ini. Ayo aku temani, kamu harus membersihkan jas mu.” Bela menarik paksa Han yang tidak bisa berkata kata mendapat perlakuan dari Bela hanya menurut pasrah. Pada kenyataannya Ia memang harus membersihkan jas nya.
Tak lama Han dan Bela kembali dari pantry. Han sudah melepas jas nya dan menenteng di sebelah lengannya. Walau hanya menggunakan vest tanpa jas melekat di tubuhnya, toh laki laki dewasa itu tetaplah memiliki sejuta pesona.
“Oh ya, Brenda. Saya datang kesini untuk memenuhi undangan kamu. Jadi apa yang membuat kalian mengundang saya datang sepagi ini?”
“Silahkan duduk tante.” Brenda mempersilahkan Bela duduk sambil melirik ke arah Han. Memastikan calon suami nya tak sekalipun mencuri pandang ke lawan bisnisnya saat ini.
“Tante mau minum apa, biar saya panggilkan OB.”
“Tante, sebelumnya saya mohon maaf jika permintaan saya berlebihan. Tapi saya mohon belas kasih tante agar memberikan perpanjangan waktu untuk pembangunan ulang dengan tidak menuntut dalam bentuk apapun.”
“Brenda, Brenda, kamu ini bodoh atau pura pura bodoh? Kamu tahu berapa kerugian saya untuk pembangunan hotel di Bali itu? Saya sudah membayar hampir 50% biaya untuk pembangunannya. Sekarang roboh dan butuh waktu untuk membereskan lalu mengulang lagi, tanpa saya harus menuntut apapun yang menjadi kerugian saya begitu maksud kamu?”
“Tante, saya mohon tante, tante pasti sudah tahu untuk apa saya berada disini. Saya cuti kuliah demi menggantikan Papa yang sedang koma. Tante, secara pribadi memang mungkin tante tidak menyukai saya, tapi….tapi saya mohon pengertiannya Tante. Saat ini perusahaan mengalami masalah besar.”
“Lalu, kamu akan minta pengertian saya secara gratis? Maaf saya pelaku bisnis bukan pemilik panti sosial. Saya tidak menomorsatukan hati dan perasaan saat berbisnis.”
Brenda berdiri dari kursi kebesaran papa nya, kemudian berpindah posisi menghadap Bela yang masih duduk angkuh di kursi tamu.
__ADS_1
“Tante, saya mohon.” Brenda menundukkan kepalanya. Han buru buru merangkul bahu Brenda menguatkan. Di satu sisi ingin sekali Ia membantu Brenda, di sisi lain Ia pun tak sanggup berbuat banyak karena memang bergantung dari belas kasihan dan perpanjangan waktu dari Bela yang akan membebaskan Pak Yanto dari segala tuntutan.
“Memohonlah yang benar, saya ingin kamu memohon yang baik.” Tanpa menoleh Bela menunjukkan sisi lain dari dirinya. Keangkuhan seorang Bela Aninditya pemilik hotel yang bangunannya roboh akibat kelalaian tim dari kontraktor milik Pak Yanto.
“Bel, apa tidak dibicarakan lagi, sampai kita menemukan titik tengah?”
Air mata Brenda jatuh menetes membasahi pipi. Seperti mata air yang baru menemukan jalan keluar, mata itu mengurai kesedihannya di pagi hari.
Akhirnya Brenda menjatuhkan tubuhnya di depan Bela. Ia tersungkur memohon di kaki Bela.
“Cukup Bel! Dalam berbisnis memang kita tidak perlu menggunakan hati dan perasaaan, tapi kita harus menggunakan otak dan akal sehat.” Hardik Han. Hati nya sakit melihat perlakuan Bela terhadap Brenda.
Bela memberikan kode pada sekertaris yang sejak tadi hanya diam berdiri dekat pintu, agar memberikan dokumen yang berisi persetujuan baru.
“Begini saja Brenda, seperti nya kekasih mu ini tak terima kalau kamu memohon padaku. Kamu bisa memilih untuk melanjutkan perkara ini ke meja hijau dan menanda tangani surat tertulis mengenai pemberhentian sepihak yang saya tujukan ke kontraktor yang tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya pada hotel saya.”
Mendengar penuturan Bela, Brenda semakin menangis.
“Tante saya mohon, saya sudah memohon dengan benar tante. Lepaskan aku Om. Saya akan melakukan apa saja, saya butuh perusahaan ini tante. Tante Bela, papa saya sakit dan butuh biaya pengobatan.”
“Sejujurnya saya menjadi tak tega harus berbuat begini. Bisnis tetaplah bisnis Brenda.” Bela berdiri dan memberikan kode pada sang sekertaris agar membawa lagi surat yang belum di tanda tangani itu.
__ADS_1