MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 22


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 22


Bab 22 Di cium Mas Tio


Pagi hari yang cerah, disambut cahaya matahari, Brenda bangun dari tidur lelapnya semalam. Gadis yang masih enggan beranjak dari ranjang empuknya itu, menyunggingkan senyum malu malu nya, kala Om asisten berani menciumnya di bibir semalam.


‘Ah Om asisten bikin aku jadi mikirin dia terus. Ehmm, apa aku terima aja tawaran papa untuk nikah sama Om asisten ya.’


Binar bahagia terus bersemayam di wajah cantik Brenda hari itu. Seperti biasa pagi itu Om asisten sudah siap menunggu nya di ruangan bawah untuk menemani nya sarapan dan kemudian mengantarkan ke kantor.


“Om..sudah lama?” Brenda jadi kikuk sendiri. Setiap mengingat peristiwa ciuman nya semalam rona wajahnya tak bisa Ia sembunyikan.


“Saya baru saja datang. Ini sarapannya saya tunggu di mobil ya.”


‘Ih, om asisten kenapa sih, kayak gak inget saja semalam abis cium aku. Apa ciuman itu gak berarti apa apa buat dia?’


Memakan nasi uduk dengan lahap, Brenda kemudian meneguk air putih nya lalu bergegas ke mobil milik Han.


“Om, boleh aku tanya?”


“Ya ada apa?”


“Soal semalam, itu maksud aku….”


“Brenda, saya benar benar minta maaf soal semalam, saya tidak ada niat mengambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Ih Om kok gitu sih ngomongnya. Aku gak masalah kok Om, soal ciuman itu.”


“Tapi itu masalah buat saya. Ehmm maksud saya, tugas saya seharusnya menjaga dan melindungi kamu, tidak lebih. Sekali lagi maafkan saya atas tindakan saya semalam.”

__ADS_1


Brenda terdiam dalam lamunannya. Pagi bahagianya mendadak berubah. Entah mengapa Ia bersedih mendengarkan ucapan laki laki dewasa di sampingnya.


‘Ini Om Om tumben serius banget, kemarin masih ajak aku bercanda. Dia harus tanggung jawab udah bikin aku gak bisa tidur semaleman gara gara mikirin dia terus.’


Brenda sesekali mencuri tatap sembari menarik sedikit kemben yang Ia gunakan, melebarkan vest putih nya memperlihatkan belahan gunung kembarnya yang ****.


Beberapa kali terlihat membetulkan posisi duduk dan pakaiannya, rupanya menarik perhatian laki laki yang tengah fokus dengan kemudi.


“Kamu kenapa, kalau tadi baju nya tidak nyaman jangan di pakai.”


“Gak kok Om, nyaman ini baju nya.”


“Sebaiknya kita pulang dulu ganti baju kamu. Baju nya terlalu terbuka.”



‘Yee malah disuruh ganti baju, gak ngerti banget sih aku lagi mau godain iman dia, hehehe..’


“Aku itu kan mau pemotretan om, masa mau pakai baju tertutup? Ada ada aja deh om.”


Tak lama kemudian pajero sport putih itu masuk ke pelataran parkir kantor agency.


“Om, nanti jemput aku kan?”


“Maaf seperti nya saya gak keburu jemput kamu. Saya ada urusan penting nanti sore. Apa bisa naik taxi? Atau nanti saya minta tolong supir kantor untuk jemput kamu?”


“Ehmm gak usah deh Om, gak masalah pulang sendiri naik taxi saja.”


“Oke, nanti malam saya bawain kamu makanan dan saya temani kamu makan di rumah.”

__ADS_1


“Siap Om.”


Brenda masuk ke dalam dan segera mengganti kostum nya untuk melakukan pemotretan. Beberapa waktu belakangan ini, sikap Mas Tio banyak berubah. Mas Tio tidak lagi tegas dan galak seperti dulu awal Ia baru masuk.


Mas Tio belakangan ini lembut dan perhatian dan Brenda diam diam menikmati.


“Pagi Mas Tio. Tumben disini, sengaja nungguin aku ya?” kelakar Brenda.


“Iya, boleh kan? Hari ini aku mau nemenin kamu pemotretan boleh kan?”


“Boleh dong Mas. Oh iya Mas, gimana hasil foto foto aku, udah oke kan?”


“Oke kok, justru makin kesini aura kamu semakin keluar. Makin **** dan ….mengoda.” Mas Tio semakin mendekat mendesak Brenda sampai terhimpit antara tubuh Mas Tio dan tembok di belakang tubuhnya persis.


“Ehmm Mas….” Brenda menggantungkan kata katanya.


Kemudian sepasang tangan kekar itu menjamah tubuh mungil Brenda. Satu tangan membelai lembut bagian rambut, menciumi aroma vanilla shampo gadis yang mulai berdebar itu. Sebalah tangannya menelusup ke pinggang yang memang tak tertutup.


Belaian demi belaian, pun dengan tatapan memabukkan khas Mas Tio, Brenda terbuai. Dengan hati hati dan sangat lembut, Mas Tio menarik tengkuk Brenda. Membuat Brenda reflek bernjinjit menyesuaikan posisi nya. Gadis itu membuka perlahan belahan bibir tipisnya. Sempat menggigit bibir bawahnya dan menikmati hembusan nafas Mas Tio yang sudah memburu.


Sentuhan Mas Tio tidak sampai disitu, yang paling membuat Brenda masbuk kepayang adalah saat asset kembar nya di berikan pijatan lembut. Demi memuaskan hasrat, dua insan yang tiba tiba melebur dalam suasana panas itu saling memeluk dan memagut. Menikmati indahnya penyatuan bibir.


“Mas Tio! Brenda! Apa apaan ini?” Brenda yang kaget buru buru melepaskan diri dan sadar dirinya melewati batas wajar pertemanan dengan sang manager.


“Kak Wety.”


“Wety.”


“Gila kamu Mas. Aku kan sudah kasih semua yang kamu mau. Aku turutin semua permintaan kamu. Sekarang aku ham….” Belum selesai Wety berbicara, Tio sudah membungkam mulut wanita montok itu kemudian menyeretnya keuar ruangan. Tio tidak ingin pengakuan Wety tersebar luas dan membuat nama baiknya tercoreng.

__ADS_1


__ADS_2