MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 70


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 70


Bab 70 Mengulang kisah lama untuk kisah yang baru


Han melangkah masuk dan mendapati wajah cemberut menggemaskan milik Brenda. Saat tangan Han menjelajah isi meja yang berantakan, hendak membantu membereskan, karena waktu pertemuan sekitar sepuluh menit lagi Brenda menolak di bantu.


“Aku bisa sendiri Om.” Membuang napas kasar, gadis itu memilih keluar dari ruangannya membawa beberapa berkas yang di perlukan untuk meeting.


“Brenda, saya ini cuma mau bantu kamu. Kamu ini kenapa sih jadi marah terus sama saya?”


“Om, aku tidak mau membahas masalah lain selain masalah pekerjaan, terutama di tempat kerja dan pada jam kerja.”


“Okey Okey, maaf.”


“Kita ke ruang meeting sekarang.” Ajak Brenda namun Ia memposisikan dirinya untuk jalan lebih dulu dan tidak lagi mau berdampingan seperti biasanya.


Jam kerja berakhir dan Brenda bersih keras ingin pulang dengan menyetir sendiri pulang ke rumah. Brenda sudah mengeraskan tekad dan hati nya. Ia tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Han dan Bela.


Han terus berusaha membujuk Brenda agar mendapat kesempatan setidak nya mengantarkan pulang.


“Brenda, ayolah kamu jangan ke kanak kanakan gini dong, saya antar kamu pulang dan mobil kamu akan diantar oleh sopir kantor ya.”


“Om cukup ya. Jangan membuat skandal di kantor semakin melebar Om. Om dengar sendiri kan, hampir seluruh karyawan membicarakan kita Om. Lagipula aku sudah terikat dengan janji ku pada Tante Bela.”


“Janji? Itu kan janji kamu sama Bela. Bukan jadi kewajiban saya juga kan untuk ikutan di dalamnya? Ayolah Brenda saya butuh bicara sama kamu. Kita tidak bisa seperti ini terus.”


“Yah memang gak ada yang perlu di bicarain lagi kok Om. Semua jelas, aku akan berusaha menepati janjiku pada Tante Bela untuk menyerahkan Om pada nya kembali. Aku tidak akan menghalangi Tante Bela untuk merebut Om dari sisiku.”


“Tapi Brenda….”

__ADS_1


“Sekalipun aku akan sakit dan menanggung luka nya. Aku siap.”


Brenda berlari menuju mobilnya, Ia mengunci pintu mobil nya tak membiarkan Han mencegahnya. Walau Han terus menerus mengejarnya, sekuat tenaga pula Ia akan berusaha menjauh.


Han meremas rambutnya frustasi.


‘Usia ku tak lagi muda Tuhan. Harus bagaimana lagi aku memperjuangkan cinta ku ini?’


Dret


Dret


“Ya halo, ada apa Bel?”


“Ya Oke, saya jemput sekarang.”


Han buru buru memacu kendaraan nya menuju kantor Bela. Sesuai janjinya pada sang keponakan yang berkebutuhan khusus, Ia akan membawakan Bela ke hadapan Cyntia. Hubungan Bela dan Cyntia memang sangat dekat sejak dulu. Bela tulus menyayangi Cyntia begitupun dengan Cyntia yang begitu menyayangi Bela.


Tokk


Tokk


“Han, apa aku boleh minta tolong?”


“Ya Bel, ada apa?”


Bela masuk ke kamar Han membawakan secangkir kopi hitam panas di tangan dan dengan santai nya Ia duduk di tepian ranjang Han.


“Terima kasih Bel kopinya, tapi tidak perlu repot.”

__ADS_1


“Tidak Love, aku hanya membiasakan diriku untuk memulai kembali kisah lama kita. Setidaknya ijinkan aku menjemputmu kembali ke masa masa dimana kita dulu saling mencintai dan menyayangi. Kita pasti bisa sayang. Kita akan mengulang kembali masa masa indah kita. Aku sudah siap untuk menikah dengan kamu. Aku…”


“Kamu semakin tidak waras Bel. Sudah berapa kali saya bilang. Kisah kita sudah berakhir, saya sudah tidak mencintai kamu lagi. Saya mencintai Brenda. Cinta saya terlalu dalam untuk dia.”


“Han, cukup, jangan kamu sebut nama wanita lain jika sedang bersama ku. Brenda sudah terikat janji denganku untuk melepasmu dan tidak lagi mengganggu kehidupan pribadi mu. Apalagi setelah aku membantu menyelamatkan perusahaan papa nya. Aku yakin dia akan tau dimana tempatnya.” Bela menyeringai tipis.


“Janji kalian itu kewajiban kalian. Hak ku adalah memperjuangkan cintaku. Satu hal yang perlu kamu tau Bel, masalah hati tak pernah bisa di paksakan.”


Hening


“Tadi kamu bilang perlu bantuan….apa yang bisa…”


“Tolong antarkan aku pulang.” Bela menghambur keluar. Ia tak kuasa menahan bendungan air matanya agar tak tumpah.


Berpapasan dengan Tante Rita, Bela masih sempat melempar senyum dan berpamitan karena hari sudah malam.


‘Love, apakah sudah tak ada lagi kesempatan untuk ku. Aku benar benar menyesal melepasmu dulu. Kalau tahu begini, aku tidak akan menuruti Papa dulu. Aku begitu mencintaimu.’


Ketika sampai di rumah Bela berulah lagi dengan berpura pura tidur.


“Bel, bangun sudah sampai di rumahmu.”


“Bela bangun.”


“Bel, Bel.”


Tiga kali membangunkan Bela, Han akhirnya mendapatkan hasil.


“Hemm, Love, bolehkah kamu menggendongku sampai ke kamar, karena aku merasa pusing sekali. Seperti penyakit darah rendahku sedang kumat.”

__ADS_1


Han mendengus kesal, mendengar permintaan Bela yang berlebihan.


__ADS_2