MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 19


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 19


Bab 19 Menikah dengan Om Asisten?


Selepas kegiatan pemotretan nya usai, ibu dan anak itu langsung bergegas kembali ke rumahnya. Mereka tak mau ambil resiko dengan pulang terlambat.


Tiba waktu nya makan malam, Glenca keluar dari kamar dengan pakaian santai nya.


Ada yang berbeda dari biasanya, karena ada tambahan anggota di ruang makan malam itu.


“Om, kok Om belum pulang? Memang nya Papa masih mau lembur ya Pa?” Brend menatap berganti dari Om asisten dan papa nya.


“Malam ini Han akan makan disini. Brenda tolong ambilkan satu piring lagi untuk Han ya.”


Menatap sinis beberapa detik kemudian gadis itu beranjak dari kursi nya menuju dapur untuk mengambil piring kosong bagi sang tamu.


“Ini Om.” Katanya sedikit ketus.


“Brenda setelah makan nanti, ada yang mau Papa bicarain dengan kamu di ruang kerja Papa ya.”


“Iya Pa.”


Brenda merasa ada yang aneh dengan papa nya. Tidak biasanya wajah senja itu menampilkan keseriusan dalam waktu lama, biasanya sang papa paling tidak tahan untuk tidak memanjakan dirinya. Gadis itu curiga akan kehadiran asisten papa nya. Makan dalam diam dan menyimpan pertanyaan yang tidak bisa di lontarkan membuat napsu makan nya menghilang seketika. Pandangannya pun tak lepas dari asisten ganteng papa nya.


Di ruang kerja.


“Pa, aku tahu Papa pasti masih marah dan mau marahin aku lagi kan sekarang? Aku minta maaf Pa, aku sadar aku salah.”


“Gak kok siapa bilang Papa mau marahin kamu lagi. Papa minta maaf kalau tadi pagi Papa sudah kelewatan marahin kamu. Kamu sudah besar, Papa harap kamu selalu mepertimbangkan apa yang baik apa yang buruk sebelum kamu bertindak atau melakukan sesuatu.”

__ADS_1


“Iya Pa. Aku sayang Papa.”


“Nak, kamu mulai beranjak dewasa. Apa kamu sudah punya kekasih? Atau teman dekat?”


“Ehmm, belum Pa.” Brenda berpikir sejenak terus berkelana menebak arah pembicaraan papa nya. Dengan orange juice di tangan Brenda mencuri pandang ke asisten papa nya yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan yang sama.


Sampai saat ini Brenda merasa ciuman itu adalah nyata. Ciuman pertama nya dengan pangeran berkuda putih. Rasa nya begitu memabukkan.


“Begini, Papa mau kamu menikah dengan Han.” ~ Papa


“What!” ~ Brenda


Mata Brenda membelalak lebar. Ia tidak menyangka, Papa nya berniat menjodohkannya dengan sang asisten, usia mereka terpaut jauh. Han terlalu dewasa bagi Brenda. Menikah di usia muda hanya akan menghambat karir. Menikah sudah pasti harus mengurus rumah tangga dan anak nanti nya. Sementara Ia baru merasakan indahnya menggapai cita cita menjadi model.


“Ta-tapi Pa.” ~ Brenda


“Begini, Papa tahu kamu masih terlalu muda untuk menikah. Tapi Han sudah cukup umur. Kalian itu sama sama berarti di hati Papa. Han sudah lama bekerja dengan Papa. Jadi tidak ada salahnya memilihkan pendamping yang tepat untuk putri kesayangan Papa.” ~ Papa


“Brenda sayangnya Papa, kamu tenang dulu. Papa itu tidak memaksa kamu menikah saat ini juga, walau bagaimana pun kalian butuh waktu untuk saling mengenal dan mungkin setelah itu kalian bisa saling jatuh cinta.” ~ Papa


“Om, jangan diem aja dong, ayo ngomong.” ~ Brenda


“Iya Pak.” ~ Han


“Hah, kok iya sih Om, aku tuh gak mau nikah sama Om. Om itu cocok nya jadi Om aku tahu!” ~ Brenda


“Brenda jaga sikap mu Nak.” ~ Papa Brenda


“Pa…” ~ Brenda

__ADS_1


Baru saja Han membuka mulut hendak bicara, namun Pak Yanto mengangkat tangannya. Han kembali diam.


“Papa rasa Han masih sempat menunggu satu atau dua tahun. Bagaimana Han?” ~ Papa


“Saya..” ~ Han


“Om, gak bisa gitu dong nanti Om ketuaan nungguin aku.” ~ Brenda


“Eh itu…” ~ Han


“Brenda cukup. Papa rasa kamu butuh seseorang yang bisa mengawasi melindungi dan menemani mu di saat saat tertentu. Karena tidak mungkin Papa atau Mama mu harus mengawasi mu setiap saat keluar rumah. Papa hanya takut kamu terombang ambing dan salah jalan, usia kamu masih muda. Masa muda memang indah tapi sangat berbahaya kalau tidak pandai membawa diri.” ~ Papa


“Tapi Pa, Brenda kan gak kemana mana, Brenda kan mau nya di awasin Papa sama Mama aja. Gak masalah kok kalau Brenda salah Papa omelin aja Brenda. Brenda terima tapi jangan suruh Brenda nikah sama Om asisten dong Pa. Om asisten itu udah tu..” kalimat gadis itu menggantung, Ia sadar kata katanya bisa saja melukai perasaan seseorang.


“Maaf Pak, mengenai masalah ini kita bicarakan lagi nanti. Untuk perjalanan besok sudah saya siapkan akomodasi dan transportasi untuk Bapak dan Ibu.” Han akhirnya memberanikan diri untuk menyelak pembicaraan.


“Hah, Papa mau pergi kemana besok, sama Mama? Nginep? Brenda ikut, Brenda takut kalau sendirian di rumah Pa.” Gadis itu merengek dan langsung menempel di bahu sang papa.


“Brenda besok Papa dan Mama harus pergi ke luar kota. Papa akan pergi selama seminggu, tapi kamu tidak bisa ikut. Kamu harus kuliah kan. Kamu juga baru masuk jadi tidak mungkin kamu bolos. Kamu itu punya tanggung jawab dengan nilai nilai kamu.”


“Tapi Pa, nanti yang sediain makan Brenda siapa, yang temenin Brenda makan siapa? Yang nungguin Brenda tidur siapa?”


“Brenda kamu kan sudah besar, nanti akan ada Han yang bisa mengantar jemput kamu kuliah.”


“Apa? Aku di tinggal sama Om asisten? Gak mau Pa, Brenda ikut aja deh, please.”


“Brenda, Papa juga tidak tega harus ninggalin kamu, tapi ini proyek besar dan Papa harus ajak Mama untuk membantu Papa disana. Kamu tenang aja, Han itu baik dia tidak akan macam macam dengan kamu.”


“Om, kenapa gak Om aja yang temenin Papa, biar Mama temenin aku.” Brenda masih berusaha protes agar tidak di tinggal oleh orang tuanya.

__ADS_1


“Tidak bisa Brenda, perusahaan disini juga butuh perwakilan Papa. Ini proyek besar, doakan semua lancar, Papa usahakan kembali secepatnya. Istirahatlah Nak sudah malam.”


“Baiklah Pa. Permisi Om.” Gadis itu mengalah dan pasrah. Apapun yang terjadi pada nya hari esok, semoga langit masih berpihak padanya.


__ADS_2