MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 51


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 51


Bab 51 Penyelamat bagi Papa


Semburat cahaya sore membangunkan pasangan berusia senja itu dari istirahat lelahnya.


“Pa, Brenda kok belum pulang ya?”


“Ya biarkan lah Ma, mereka butuh waktu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Mereka harus memantapkan hati masing masing.”


“Bukan begitu Pa. Sekitar tiga minggu lalu, saat Papa ke Bali berdua Han, ada wanita yang mengaku sebagai mantan kekasih Han. Mungkin usia nya sama dengan Han. Mereka pernah menjalin kasih tujuh tahun lalu.”


“Lalu, dimana masalah nya Ma, itu kan sudah masa lalu. Papa rasa Han tahu dimana harus menempatkan dirinya.”


“Papa tahu, Bela mengaku hamil anak Han?”


“Kurang ajar, jadi karena itu Brenda putri kesayanganku menangis tak berkesudahan.”


“Ya Mama rasa Brenda sudah terlanjut jatuh hati pada Han. Pa, Mama rasa kita perlu bertemu lagi dengan Han dan Rita. Rita harus tahu masalah yang terjadi. Atau jangan jangan Rita sudah tahu dan..”


“Dan apa Ma, jangan berpikir yang tidak tidak, Rita bukan orang seperti itu. Papa kenal baik dengan Rita.”


“Ya semoga saja Pa. Mama cuma gak mau Brenda jatuh ke tangan laki laki yang salah.”

__ADS_1


“Kita atur pertemuan saja dengan Han dan Rita untuk membahas masalah ini. Tapi sore ini Papa ada janji bertemu dengan pemilik hotel di Bali.”


“Hotel yang bermasalah itu Pa?”


“Iya Ma, doakan lancar ya, agar segera ke tahap negosiasi.”


“Iya Pa, amin, semoga semua baik baik saja.”


Pasangan itu memilih menyudahi perbincangannya karena Papa harus bersiap siap untuk bertemu dengan Client.


Sore itu Papa Brenda akhirnya menepati pertemuan yang memang sudah di rencanakan oleh dirinya dan sang pemilik hotel.


Di sebuah café di pinggir kota Jakarta.


“Baik. Dalam hal ini saya mengerti kondisi dan posisi Pak Yanto. Saya selaku pemilik hotel tidak keberatan jika ada penambahan waktu. Tapi kami tidak bisa menambah jumlah deposit sampai pembangunan mencapai 50%. Perihal pembayaran akan mengacu ke perjanjian di awal saja. Saya rasa cukup sampai disini saja Pak.”


“Baik Ibu Bela, terima kasih atas pengertian Ibu. Kami sungguh merasa terbantu dengan sikap Ibu.”


“Sama sama Pak, kita sesame manusia sudah sepatutnya saling membantu.”


Bela menyambut uluran tangan Pak Yanto dengan anggung dan senyum yang mampu membuai laki laki usia senja itu.


Pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk, Papa Brenda bergegas membersihkan diri dan berkumpul di ruang makan bersama anak dan istrinya.

__ADS_1


“Pa, gimana tadi pertemuannya? Apakah menemui titik terang?”


“Ya Ma, pemiliknya cukup baik dan masih mau melibatkan hati nurani dalam berbisnis. Papa juga kagum wanita seperti Ibu Bela bisa berpikiran legowo dan memberikan papa tenggang waktu lebih. Hanya saja….”


Byurr


Brenda menyemburkan air yang baru saja di teguknya.


“Maaf, Maaf, tadi siapa nama client Papa? Bela?” Tanya Brenda.


“Bela, ada apa? Dia itu baik dan dewasa, orang nya juga anggun. Nanti papa kenalkan sama kamu. Mungkin kalian bisa berteman.”


“Pa, itu wanita masa lalu Han yang mama ceritakan tadi.” Mama Brenda menyela.


“Tante Brenda, saat ini sedang mengandung anak Om asisten Pa.”


“Kalian yakin? Apa mungkin ini Bela yang berbeda?”


“Maksud Papa?’


“Ya bisa saja kan? Yang bernama Bela itu kan banyak di dunia ini, kalian jangan berburuk sangka dulu. Ibu Bela ini beda, dia penyelamat bagi Papa.”


“Semoga Pa.” jawab Brenda yang terlanjur lesu.

__ADS_1


Sejak hari itu, Papa Brenda menghubungi tim terkait dengan pembangunan di Bali agar lebih berhati hati dengan para tukang bangunan. Buru harian atau para pekerja tetap agar tak lagi ada kasus kecolongan serupa yang terjadi. Jujur Pak Yanto sangat keberatan ketika harus menggelontorkan uang pribadi untuk masalah perusahaannya. Tapi apa boleh buat, demi menyelematkan perusahaan dan nyawa ratusan pekerja lainnya. 


__ADS_2