MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 8


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 8


Bab 8 Bertemu Mas Tio


Brenda yang masih nyenyak bergelung di balik selimut, akhirnya terusik dengan suara ketukan pintu. Gadis itu kesulitan membuka mata setelah semalaman berlatih keliling kamarnya berlenggak lenggok seperti yang selama ini dilakukannya.


“Brenda, Brenda, ini sudah jam berapa Nak, kamu kok tumben belum bangun?”


“Iya Ma. Memangnya udah jam berapa Ma?”


“Ini sudah hampir jam delapan pagi loh. Papa mu sudah menunggu untuk sarapan, cepetan kamu mandi dan segera turun ya.”


“Astaga, ya udah Ma, Brenda siap siap dulu ya.”


Mama Brenda kembali ke ruang makan.


“Loh ma, mana Brenda, tumben gak ikut sarapan.”


“Iya tumben anak itu lagi menikmati hari hari liburnya kali, baru bangun tadi Mama samperin Pa. Ini sih sekarang lagi mandi habis itu turun sarapan. Ayo Pa, di makan dulu aja nasi gorengnya, nanti keburu dingin.”


Dengan cekatan Mama Brenda mengambilkan secentong nasi goreng untuk sang suami tercinta, tak lupa dengan telur ceplok sebagai pelengkap.


“Sudah Ma, jangan terlalu banyak, terima kasih ya.”


Tepat papa dan mama nya menyelesaikan ritual sarapan pagi, akhirnya Brenda keluar dari kamarnya.


“Papa, Mama, maaf Brenda terlambat. Semalam aku gak bisa tidur jadi kesiangan.”


Karena sudah waktunya berangkat ke kantor, papa Brenda mau tak mau meninggalkan putri kesayangannya yang baru saja mulai sarapan pagi nya.


Setelah mengantarkan suami nya berangkat. Mama Brenda segera kembali ke ruang makan menyambangi anak gadisnya.


“Sayang, habiskan sarapanmu, Mama tunggu di kamar ya, sekalian siap siap.”


“Iya Ma.” Brenda menjawab mama nya dengan mulut penuh yang terus mengunyah demi menghemat waktu.


Setelah selesai sarapan, gadis muda itu pun segera mengganti pakaianya kemudian berangkat menuju agency modeling tempat Kak Wety bekerja.


“Ma, aku kok jadi deg degan gini ya? Aku cantik gak? Tapi kalau aku gak diterima gimana ya Ma?”


“Sayang, kamu tenang dong, kamu tuh kaya lagi mau ngapain aja. Kamu gak usah khawatir, kamu tuh udah cantik, body kamu bagus, kamu pasti lolos deh jadi model. Mama doain kamu yang terbaik ya.”

__ADS_1


“Makasih mama.” Seraya memeluk sang mama.


Gadis muda itu turun dan masuk menuju lobi bersama sang mama. Namun kebetulan Kak Wety datang di saat yang sama, kemudian mengajak Brenda dan beserta mama nya untuk ikut langsung ke ruangan Mas Tio.


“Mas Tio itu manager aku langsung. Aku udah sempet bicarain soal kamu dengan beliau, jadi kamu tenang aja, muka kamu gugup banget.”


“Iya nih Kak Wety, aku belum biasa aja, pakai baju terbuka gini di depan banyak orang.” Brenda berusaha membetulkan belahan dada nya yang membuka.


“Maklum Wety, anak tante ini masih polos banget, karena papa nya juga sih terlalu banyak melarang ini itu. Jadi anaknya gak bisa mengeksplor diri.”


“Hahaha, anak nya masih polos banget sih tante. Udah tenang aja, aku pasti bantuin kamu supaya lolos ya, aku yakin kamu di terima kok. Kamu tunggu sini sebentar ya, nanti tante tunggu di ruang tunggu saja tan, disana lebih nyaman ada majalah dan kopi atau teh juga. Biar nanti Brenda aku yang temenin aja tan masuk ke dalemnya.”


Tokk


Tokk


Wety lebih dulu masuk ke ruangan Mas Tio sang manager untuk memberi tahukan perihal Brenda yang ingin sekali menjadi seorang model.


Tak lama kemudian, Brenda ikut di panggil masuk ke dalam ruangan itu juga.


Ruangan rapi di dominasi dengan warna putih dan bunga bunga meja itu memberikan kesan nyaman tersendiri bagi Brenda.


Jujur sejak awal kedatangannya dia sudah merasa gugup. Ia pun semakin canggung dan tak bisa mengontrol detak jantungnya yang menggebu gebu saat dipanggil masuk ke ruangan Mas Tio.


 


“Pa-pagi mas Tio.”


“Brend, kamu tenang aja, Mas Tio gak gigit kok, dia baik hati dan tidak sombong. Ya kan mas?” Wety berkelakar untuk bisa mencairkan suasana.


“Ya sudah aku keluar dulu ya, Mas Tio aku nemenin Mama nya Brenda dulu di luar ya.”


Di tatap nya dengan begitu seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki oleh seorang laki laki yang belum pernah di kenalnya, membuat Brenda semakin salah tingkah.


‘Ya Tuhan, apakah begini untuk jadi model?’ gadis itu hanya sanggup membatin.


“Berapa umur kamu?” Mas Tio berdiri tepat di belakang Brenda. Memberikan sensasi tersendiri bagi gadis muda yang hari ini terlihat lebih dewasa dari usianya karena penampilannya yang agak terbuka.


Beberapa kali Brenda menarik bagian dada nya agar lebih menutupi belahan gunung kembarnya. Namun tiba tiba dua tangan kekar itu membalikkan tubuh Brenda dan menyandarkan nya di meja tepat di belakang tubuh gadis itu.


Bibir tipis Brenda membelah indah pun dengan napas nya yang naik turun. Membuat sensasi tersendiri bagi yang melihatnya dari jarak dekat.

__ADS_1


“Cantik, muda, berpretasi…Itu tidak cukup untuk bertahan disini.”


“Mak-maksudnya gi-gimana mas?”


“Disini diperlukan wanita berani, berani menghadapi dunia, berani menantang dunia. Berani mengangkat dagu dan memperlihatkan keindahan diri kita.” Brenda kembali di kejutkan dengan satu tangan Mas Tio yang mengangkat dagu nya tiba tiba.


“Bisa?” tanya mas Tio lagi.


“Bi-bisa mas, aku usahakan.”


“Belajarlah dari Wety. Aku sudah mengubahnya dari seorang gadis miskin korban buli di sekolahnya dulu, menjadi sosok besar seperti sekarang. Aku yakin kamu juga bisa, baca kontraknya, setelah itu tanda tangan.”


“Ba-baik mas.”


Brenda membaca cepat cepat dan dengan kemampuannya Ia pun baru menyadari ini adalah kontrak kerjasama antara agency dengan pihak kedua yaitu model yang tak lain dirinya. Tertulis jelas dalam kontrak bahwa jika pihak kedua dan pihak pertama sudah menandatangani surat perjanjian di atas materai, maka sudah tidak dapat di batalkan secara sepihak sesuai dengan ketentuan hukum undang undang yang berlaku.


“Mas, saya sudah membaca nya dan saya setuju dengan semua ketentuannya. Ini sudah saya tanda tangani.”


“Bonus awal kamu akan aku transfer ke rekening Wety, aku butuh model yang berkelas, minta Wety mencarikan pakaian yang pantas sebagai modelku. Jangan membuatku malu dengan penampilan mu.”


Brenda bisa bernapas lega setelah keluar dari ruangan Mas Tio.


Seperti instruksi Mas Tio, bahwa sepulang dari kantor, Brenda dan sang mama diajak ke sebuah butik langganan Wety untuk belanja pakaian dan aksesoris penunjang juga sepatu.


“Kak Wety, kita beli baju nya disini?”


“Iyalah beli baju nya disini, kan ini butik langganan aku, tenang aja, mereka tahu selera mas Tio.”


‘Ya Tuhan, bagaimana kalau papa tahu, baju disini seperti kurang bahan semua. Bisa habis aku.’


“Kak Wety, memangnya model majalah tuh pakaiannya harus se-terbuka ini?”


“Hahaha…kamu polos banget ya, model majalah pria dewasa mana ada baju tertutup? Jangan becanda deh kamu. Umur berapa sih kamu udah tujuh belas tahun kan? Kaya masih kecil deh ah polosya kelewatan.”


“Hah, model majalah pria dewasa?” mata Brenda kian terbelalak, yang Ia tahu dari sang mama, bahwa Wety seorang model majalah. Tapi tidak tahu bahwa majalah pria dewasa.


Seperti bisa menangkap sinyak khawatir dari Brenda, Wety kemudian berusaha menenangkan gadis muda itu.


“Tenang saja, kita kan pakai yang begini hanya pas jam kerjan aja, bukan untuk sehari hari, gak usah terlalu di pikirin.”


“Ta-tapi Kak, kemarin mamaku gak bilang kalau Kak Wety itu model majalah pria dewasa. Mama cuma bilang….”

__ADS_1


“Memang apa masalahnya kalau aku model majalah pria dewasa, aku harus menghidupi dua adikku yang masih sekolah dan ibu ku yang sakit jantung. Kamu pikir kita selama ini bisa makan dari mana? Gak munafik ya, aku butuh mengangkat derajat keluarga ku, selain menghidupi mereka. Gak selamanya kita pasrah dengan kehidupan kita kan? Hidup perlu maju dan butuh perjuangan.”


__ADS_2