MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 50


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 50


Bab 50 Hanya rindu, ya hanya rindu!


Tiba waktu meninggalkan Bali, perasaan Brenda kembali was was. Ia harus siap kala bertemua atau bertatap uka dengan Han, sengaja atau tanpa sengaja. Nasihat mama nya benar. Masalah harus di hadapi dan di selesaikan bukannya dihindari. Mungkin ini lah ujian kedewasaan.


Sejujurnya ada rasa rindu membuncah yang menyesak di dada. Entah bagaimana mengungkapkan sedih dan ketidak relaan melepaskan Om asisten kesayangannya.


‘Om, lagi ngapain? Seminggu ini Om mikirin aku atau enggak?’


Banyak pikiran dan tanya yang melintas butuh di jawab dalam benak Brenda.


Bagai pelangi setelah hujan. Kerinduannya berbuah manis. Tiba di bandara, gadis itu di suguhi pemandangan penuh rasa. Han sudah bersiap menyambut keluarga atasannya sekaligus calon keluarganya kelak, itupun kalau Brenda berubah pikiran untuk menerima nya sebagai calon suami.


Melepaskan kaca mata hitam nya, Han tersenyum memandang gadis kecil yang selama ini di ridukannya. Senyum tampan itu tak hanya memantik gadis di seberang sana, tapi juga menghipnotisnya.


Brenda menyeret koper dan segera menghampiri Om asisten kesayangannya.


“Om, ehmmm sendirian?” Brenda memulai sapa nya dengan canggung.


“Tidak merindukan saya?” Canda Han sembari mencolek hidung mancung Brenda.


Berpikir sejenak, Brenda masih betah dengan aksi jual mahal nya.


“Enggak, biasa aja.”


“Kalau begitu biar saja yang peluk kamu, saya sudah berhari hari menahan rindu di kota Jakarta.”

__ADS_1


Han memeluk erat tubuh mungil Brenda. Mata Brenda memanas, hati nya menghangat seketika, hal yang sudah Ia duga sejak tadi. Jika Ia terlena dan mengabulkan rindu nya untuk berada dalam dekap Han, pertahanannya akan runtuh. Ia semakin tak rela memutuskan hubungan dengan Han.


“Han, maaf sudah merepotkan mu harus menjemput kami.”


“Oh tidak masalah Pak, ini juga sudah diluar jam kerja.”


“Apa Yono sudah siap juga?” tanya Pak Yanto pada Han.


“Sudah Pak, Yono di depan sudah menunggu.” Jelas Han. Sampai saat ini Brenda masih dengan aksi jual mahal nya dan tak tahu menahu rencana sang papa yang pulang terpisah dengan dirinya. Pak Yanto merasa perlu memberikan ruang dan waktu pada hubungan anak gadisnya dengan sang asisten.


“Papa kok duduk di belakang sih, Papa depan aja, aku sama mama di belakang.” Hardik Brenda ketika mendapati papa nya mengambil kursi di belakang.


“Loh, kamu kan pulang sama calon suami mu. Papa sama Mama pulang duluan ya. Kalian jangan malam malam pulangnya.”


“Hah, apa maksud papa?”


“Tapi Om….” Brenda berusaha melepaskan genggaman tangannya namun tak bisa. Han menggandengnya erat. Seraya memamerkan pada dunia bahwa kini mereka pasangan paling bahagia. Han tersenyum sepanjang jalan sembari mengeratkan genggaman tangannya.


“Om, apa apaan sih, lepasin aku. Aku bisa jalan sendiri.”


“Tidak, saya tidak mau lepas. Karena kamu akan kabur kaburan terus.”


Brenda merasakan rona merah di wajah nya muncul setelah berhari hari pipi itu hanya di basahi oleh air mata.


“Nah gitu dong, kamu itu sebenernya manis loh kalau lagi malu malu gitu.”


“Apa sih Om.”

__ADS_1


“Malu malu mau kan?”


“Om……” Brenda mencubit lengan Om asisten nya. Tanpa aba aba bibir nya mengembungkan senyuman. Senyum yang sudah lama hilang bagai di elan bumi, kini terpampang nyata. Cinta memang mampu mendatangkan kebahagiaan dan kesakitan bersamaan bagi penikmatnya.


Di mobil sepanjang perjalanan, Han menggenggam lagi tangan Brenda.


“Om tangan aku pegel.”


Han akhirnya melepaskan genggaman tangannya.


Akhirnya tangan Brenda bebas. Ia merapikan rambut nya dan menyelipkan ke belakang telinga.


Han meneliti gerak gerik Brenda dan menepikan mobilnya.


“Kamu cantik. Saya suka. Saya suka Brenda yang ini. Yang tersenyum malu malu.”


“Om, apaan sih.” Brenda kembali terbuai dengan puji rayu dari om asisten yang selama ini Ia rindukan.


“Brenda, boleh saya memeluk kamu? Saya rindu, ya hanya rindu.” Tiba tiba raut wajah Han berubah serius bersamaan dengan jantung Brenda yang memompa pulhan kali lipat dari biasanya.


Memeluk erat dan hangat. Tanpa paksaan, tangan Brenda pun lancar membalas pelukan yang begitu Ia rindukan. Menyalurkan rasa yang selama ini di pendam nya seorang diri. Brenda menitikkan air mata nya kembali.


Han menatap Brenda dengan penuh kasih, kekasih kecil nya yang kini lebih banyak menangis.


“Saya berjanji untuk tidak akan membiarkan setetes pun air mata ini turun karena kesakitan dan kesedihan secuil apapun. Saya berjanji untuk membuat bibir ini terus tersenyum.”


Ibu jari Han menyentuh bibir Brenda dan saat itu juga Han melabuhkan ciuman hangat dan lembut. Menyalurkan rindu nya. Selama ini bukan hanya Brenda, Han pun merindukan sosok kekasih kecil nya yang walau seminggu di Bali terasa satu tahun lama nya. Kali ini Brenda lebih cepat bereaksi. Gadis itu membalas ******* demi ******* yang di ajarkan Han selama ini pada nya. 

__ADS_1


__ADS_2