
MENCINTAI OM ASISTEN 53
Bab 53 Halusinasi
Han akhirnya memilih untuk menyudahi perdebatannya. Sebenarnya beberapa hari belakangan Han sudah menyelidiki Bela. Tanpa sepengetahuan Bela.
“Brenda, dengarkan saya. Saya sudah menyelidiki soal kehamilan Bela. Bela berbohong. Dia hanya mengada ngada mengenai kehamilannya.”
“What! Om tahu dari mana? Mengenai alat tes kehamilan yang tante Bela tunjukkin ke aku dan mama?”
“Saya sendiri yang menyelidiki. Saya tidak pernah mengambil keputusan di saat emosi dan saya selalu mencari bukti sebelum beraksi.”
“Maksud Om apa sih?”
“Jadi gini….Eh tapi tunggu, mulai sekarang panggil saya dengan sebutan yang lebih manis. Saya itu calon suami kamu, bukan calon Om kamu.”
“Aduh Om, aku lagi penasaran, cepetan cerita abis itu aku kabulin apa yang oM minta. Sekarang cerita dulu.”
“Sekitar dua minggu lalu Bela datang ke kantor menemui saya, dia juga mengatakan hal yang sama. Bela mengaku hamil. Memang waktu awal kami bertemu setelah tujuh tahun menghilang jujur saya masih mendalami perasaan saya. Saya meyakinkan diri saya bahwa saya masih mencintai dan menunggu Bela kembali. Tapi di saat Bela kembali yang saya rasakan justru berbeda. Saya merasa hampa dan sudah tidak menginginkan dia lagi.”
“Sekitar sebulan lalu kami pergi bersama, dan saat mengantar pulang, Bela menawarkan saya kopi. Saya lelah dan saya tidak berpikir macam macam, saya minum kopi pemberian Bela. Setelah itu saya sempat merasa pusing. Tapi saya hanya bersandar di sofa malam itu. Pagi pagi saya langsung pulang.”
__ADS_1
“Tidak terjadi apa apa?” tanya Brenda.
“Tidak terjadi apa apa, sumpah.” Han mengangkat dua jari nya ke udara.
“Lalu yang membuat Om yakin kalau tante Bela tidak hamil?”
“Beberapa hari lalu Bela meminta bantuan saya untuk mengantarkan dia ke rumah sakit check up rutin.”
“Om anterin?”
“Ya, besok nya saya merasa perlu menemui Bela lagi dan membicarakan soal kehamilannya, tapi pada saat saya datang ke rumahnya Bela pingsan di halaman rumahnya, saya membawanya ke rumah sakit. Bela di periksa oleh dokter jaga. Dokter itu menuliskan resep beberapa vitamin dan obat. Pada saat saya menebus obatnya di kasir, ternyata itu obat penenang. Bela di diagnosa mengalami Hipotensi Ortostatik. Kondisi tekanan darah yang terlalu rendah. Membuat Bela sering pingsan dan dalam kondisi kurang stabil. Penderitanya akan mudah berhalusinasi.”
“Dari penuturan dokter seperti itu. Karena saya sudah mengecheck ke dokter jaga yang malam itu memeriksa kondisi Bela. Bahkan ada salah satu perawat yang menceritakan pada saya. Bahwa Bela sempat di perkosa dan mengalami keguguran sekitar satu bulan sebelum saya bertemu Bela.”
Han mengakiri cerita nya dengan mengangkat kedua bahu nya.
Jujur Brenda tak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Rasa malu berlomba memenuhi relung jiwa nya. Entah harus mengakui bahwa Ia memang masih mencintai Om asisten atau malu mengakui bahwa Ia begitu mudahnya terprovokasi dengan cerita Bela.
Han mengacak ngacak rambut Bela. Ia merasa gemas melihat tingkah Brenda yang ke kanakan.
“Om, maaf kan aku. Harusnya aku…”
__ADS_1
“Harusnya kamu percaya sama saya.”
“Tapi Om…”
“Apalagi?”
“Masih ada yang kamu raguin dari saya?”
“Jujur aku jadi kasihan dengan tante Bela.”
“Ya.”
“Tapi Om…”
“Apa?”
“Itu artinya Om menemui Tante Bela setiap hari selama aku di Bali? Om menghabiskan waktu sama Tante Bela?”
Han hanya melempar senyum sembari menggelengkan kepala.
Kemudian melabuhkan kecupan singkat di bibir tipis Brenda.
__ADS_1