MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 17


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 17


Bab 17 My First Kiss



Menatap nanar pada laki laki setengah telanjang di depan mata nya. Memohon belas kasihan agar dapat segera terlepas dari kungkungan lelaki yang membuat deru jantungnya terus memacu semakin kencang.


Lagi lagi kilasan peristiwa ciuman semalam nya bersama pangeran terasa nyata, walau hanya sekedar mimpi tapi membekas di bibir nya.


Reflek Brenda menyentuh bibirnya sendiri, kemudian menutup matanya, Ia merasakan lagi dan lagi hangatnya sentuhan bibir sang pangeran berkuda putih semalam.


Merasakan pipi bersemu merah, rona malu tiba tiba menjalar di seluruh wajah. Bahagia menikmati ciuman pertama nya waau sekedar mimpi.


Membuka mata, Brenda kemudian mendorong laki laki yang belum juga beranjak dari dirinya.


“Om, saya minta maaf sudah merepotkan Om, saya mau pulang.” Brenda beranjak dari tempat tidur yang semalam sudah mengantarnya ke mimpi indah.


“Tunggu, saya antar kamu.”


“Tidak perlu Om makasih, saya bisa pulang sendiri.”


Brenda berlari ke arah pintu utama, kemudian menyadari bahwa dompet dan ponsel nya entah ada dimana, gadis itu berbalik arah menuju kamar tadi.

__ADS_1


“Permisi Om, ARRGGGHHHH!” Brenda kembali berteriak saat melihat tubuh polos Han yang sedang tereksplor tanpa sensor.


Han buru buru membungkus kembali bagian bawahnya dengan handuk putih yang semula sudah di letakkan di ranjang.


Setelah memakai pakaiannya, Han bergegas keluar dan menyambangi gadis muda anak dari atasannya yang tengah bolak balik di ruang tengah.


“Kamu katanya bisa pulang sendiri, kenapa main masuk ke kamar saya?”


“Eh itu Om, saya mau pinjam uang untuk ongkos pulang. Seperti nya tas saya tertinggal di tempat semalam.”


“Saya antar.”


“Gak usah Om.”


“Oke Oke Om, kalau gitu tolong antar saya pulang.” Brenda menyerah, Ia terpaksa menuruti permintaan asisten papa nya untuk mengantar pulang.


Kini gadis itu sedang merangkai kebihongan demi kebohongan untuk di sampaikan pada papa dan mama nya demi menyelamatkan diri dari kebohongan sebelumnya. Ia yakin seribu persen saat ini papa mama nya sedang khawatir mencari dirinya karena semalam pergi diam diam dan tidak pulang sampai pagi.


“Om, hemm, saya boleh minta bantuan?”


“Apa?”


“Saya mau minta tolong nanti Om jangan bilang apa apa ke papa saya. Biar nanti saya aja yang ngomong ke papa.”

__ADS_1


“Ya.”


Dret


Dret


“Ya Pak. Baik, saya ke kantor sebentar lagi. Oh ya Pak, ini anak nya sudah sama saya. Ya baik Pak.” Jawab Han pada seseorang di telepon genggam nya.


“Om, itu papa saya ya? Kenapa Om bilang kalau saya ada sama Om? Nanti kalau papa saya marah gimana, nanti kalau papa saya jadi mikir macem macem tentang saya gimana Om?”


“Ya terus saya harus jawab apa, papa kamu tanyain kamu sejak semalam, saya gak sengaja nemuin kamu. Ya saya harus kasih kabar donk ke atasan saya bahwa saya gak sengaja nemuin kamu.”


“What! Om bilang ke papa kalau saya ke klub?”


“Enggak. Saya bilang gak sengaja lihat kamu dalam kondisi pingsan terus saya terpaksa bawa pulang ke rumah saya dulu.”


Mata Brenda kian terbelalak mendengar penuturan laki laki dewasa di sampingnya.


“Gila! Om itu kenapa jujur banget sih sama papa, nanti saya bisa kena marah dong kalau gitu. Om please bantuin saya dong.”


“Kejujuran itu nomor satu dalam prinsip saya. Saya hanya bisa membantu kamu jika tidak harus membohongi atasan saya. Beliau orang yang sudah berjasa buat saya.”


“Makasih Om.” Brenda melemas dan pasrah dengan apapun yang terjadi sebentar lagi.

__ADS_1


Baru menyadari bahwa asisten papa nya memiliki kharisma tersendiri. Tampan, dewasa dan memikat.


__ADS_2