
MENCINTAI OM ASISTEN 30
Bab 30 Aku cinta sama Om.
Tanpa sadar lagi dan lagi, Tio menyodorkan gelas ke sekian kali nya dan cairan cokelat keemasan itu mengalir lancar ke tenggorokan. Panas, pahit pekat dan benar membuat pikirannya melambung. Mengawang dan melayang. Tubuhnya terasa ringan seakan ingin terbang.
“Brenda, kita ke depan yu. Kita joget, biar lebih rileks lagi.”
Brenda yang masih berusaha menstabilkan kesadarannya, menolak diajak naik ke panggung. Namun karena desakan Tio, akhirnya Brenda pasrah di ajak naik dan bergoyang. Tubuhnya benar benar ringan. Malam ini Tio mengajaknya bersenang senang. Brenda selama ini hanya bisa mendengarkan cerita dari teman teman model nya tentang dunia malam. Kini Ia merasa begitu rileks dan bahagia.
“Brend, ayo goyang dong, asyik kan?”
“Iya Mas, nyesel dari dulu gak pernah nikmatin kaya gini. Soalnya aku takut sama Papa, sama Mama dan sama Om asisten ku.”
“Nikmatin Brend. Nikmatin.” Ulang mas Tio.
__ADS_1
Brenda terus bergoyang di atas panggung dengan matanya yang terpejam. Indah dan begitu menikmati momen nya membuat Brenda benar benar lupa akan dunia nya yang asli.
“Mas Tio, aku mau pulang, aku takut di cariin sama Papa, nanti Om asisten juga pasti cariin aku. Om asisten tadi janji jemput aku. Tapi Om asisten kayanya lupa deh sama aku, karena wanita penggoda itu.”
Brenda mulai menangis, kemudian Ia tertawa terbahak bahak menertawakan dirinya yang begitu bodoh sudah menjatuhkan hati nya pada pria yang memiliki masa lalu yang belum selesai. Kemungkinan masa lalu itu datang lagi saat ini, dan ingin merebut sang pujaan hati untuk kembali ke masa lalu.
“Mas, Mas Tio, anterin aku pulang yu. Kepala aku pusing banget. Aku takut di marahin papa, kalau ketahuan mabuk.”
“Ya udah ayo gue anter.” Kemudian Tio berpamitan dan memapah Brenda. Tio memeluk tubuh Brenda yang sudah setengah sadar. Gadis itu terus saja meracau tak jelas.
Beruntung Han tiba tepat waktu. Laki laki itu melihat gadis nya sedang mabuk berat dan di papah oleh seseorang yang tidak di kenalnya, langsung menghadang Tio.
“Eh elu siapa? Dia punya gue, kalau elu mau, cari aja yang lain di dalem juga banyak.”
“Sial*n!” tanpa aba aba Han memukul rahang Tio. Membuat laki laki itu jatuh tersungkur. Walau sempat melawan Tio kalah telak dari Han. Saat di rasa sudah memenangkan pertandingan, Han segera membawa Brenda ke mobil nya.
__ADS_1
Sebelum melajukan mobilnya, Han melepas jaket nya dan memakaikan pada tubuh Brenda. Brenda mulai meracau lagi.
“Om, kamu dateng jemput aku ya? Udah telat Om, aku udah gak laper lagi. Aku udah kenyang minum tadi sama Mas Tio.” Brenda mulai tertawa lagi.
“Brenda, kita ke apartemen saya dulu ya, saya gak mungkin anter kamu pulang dalam keadaan begini, apa kata orang tua kamu?”
“Om, aku mau pulang aja, aku gak mau deket deket sama Om lagi. Om aja lebih milih wanita penggoda itu di banding aku, Om gak jemput aku tadi. Pasti Om sama wanita itu iya kan?”
“Gak, saya gak ketemu Bela. Tadi Tante Rita minta tolong saya untuk anter Michele ke rumah sakit. Michele sedang kumat alergi nya karena salah makan. Jadi saya terlambat jemput kamu.”
“Bohong, Om pasti ketemuan sama wanita itu sampai lupa jemput aku. Om bilang kita perlu kenal lebih deket. Om bohong. Om bilang mau memulai semuanya sama aku, tapi om bohonggggggg.” Brenda berteriak sambil menangis.
“Brenda tenang. Kamu tenang jangan nangis lagi. Saya bingung kalau lihat kamu begini.”
__ADS_1
“Om, saya cinta sama Om, Om tahu gak? Saya itu jatuh cinta sama Om. Kenapa sih Om gak ngerti?”
“Iya saya ngerti, makasih ya udah cinta sama saya. Sekarang kamu tidur dulu ya. Sebentar lagi kita sampai.”