MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 41


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 41


Bab 41 Saya cinta kamu


Han dan Brenda menghabiskan waktu yang tersisa malam itu untuk saling diam. Saling menenangkan diri dan hati masing masing.


Han menepikan mobilnya di kawasan perumahan agak sepi.


“Om, kok berhenti disini.” Dengan wajah sembab nya Brenda celingukan melihat daerah sekitar.


“Om, aku gak mau turun disini, ini kan maih jauh dari rumah aku.”


“Brenda, saya cinta kamu. Saya jatuh hati pada anak atasan saya sendiri. Saya berniat menawarkan hubungan yang serius.”


Han mengeluarkan kotak beludru warna biru gelap dari saku celana nya. Niat mau mengajak makan malam romantis seperti di cerita sinetron, malah terjadi pertengkaran di restoran, membuat pria dewasa itu baru sempat mengungkapkan perasaannya sekarang.


“Om…aku…” Brenda meneteskan lagi air matanya. Ia tak bisa berkata kata menjawab lamaran Han yang begitu mendadak.


“Saya akan melamar kamu secara resmi nanti, butuh persiapan matang untuk itu Bren.”

__ADS_1


“Om, aku mau tanya. Kenapa Om memilih saya? Bukan tante Bela?”


“Bela itu hanya masa lalu saya. Masa lalu itu boleh kita jadikan kenangan tapi tak pantas kita pertahankan untuk sebuah masa depan.”


“Makasih Om. Terima kasih sekali lagi untuk tawaran cinta ini Om. Aku..”


Tanpa menunggu lagi, Han menarik tengkuk Brenda. Menyesap kenikmatan tiada tara. Hadiah indah dari sebuah rasa yaitu ciuman. Han memperlakukan Brenda begitu lembut. Membuat gadisnya luluh dan terbuai.



Saling menyesap dan menikmati indahnya tautan bibir yang menghangatkan.


Brenda yang awalnya masih malu malu, kini sudah semakin membiasakan diri menerima perlakuan Han calon suami nya. Penuh rasa, nikmat, penuh cinta.


Setengah jam memagut tanpa henti, sepasang yang tengah kasmaran itu memutuskan berhenti sejenak demi mengontrol kembali napas nya yang kini memburu.


Di tempat berbeda, wanita anggun yang menangis itu menghubungi salah satu rekan nya lewat sambungan telepon untuk membicarakan sesuatu.


Hari hari baru di mulai, rasanya jah lebih lega ketika kita mengutarakan perasaan kita ke pasangan.

__ADS_1


“Pagi Ma, pagi Pa.”


“Duilah yang udah baikkan, pak Boim di tolak nih ya sekarang?” Papa Brenda melempar candaaan pada sang putri.


“Ih Papa pagi pagi udah ngeledek terus. Emang papa gak seneng kalau anaknya akur?”


“Kemarin ada yang cemberut Pa waktu di jemput nge date malem malem, eh sekarang ada yang kesenengan tuh mau di jemput calon suami sebentar lagi.”


“Tuhkan Mama ikutan ngeledek aku.” Sontak candaan itu membuat rona merah di wajah Brenda semakin jelas kentara.


Bertepatan dengan Brenda menyelesaikan sarapannya, sang di tunggu pun tiba. Kali ini han tak turun dari mobilnya, hanya membunyikan klakson saja kemudian menghubungi Brenda agar keluar.


“Sorry ya, saya gak sempet mampir dan pamitan sama orang tua kamu. Saya aa meeting pagi ini dengan klien, karena lusa mau berangkat ke Bali lagi sama Papa kamu.”


“Apa? Mau ke Bali lagi? Aku ikut!”


“Nanti saja dibicarakan ya, karena nanti takut mengganggu kuliah kamu juga. Lagian kalau kamu ikut, nanti Mama kamu sama siapa di rumah?”


“Loh Mama gak ikut?”

__ADS_1


“Seperti nya kali ini Mama kamu bisa nemenin kamu di rumah.”


 


__ADS_2