
MENCINTAI OM ASISTEN 75
Bab 75 Aku ingin menyerah, Om
Bali di waktu malam jauh lebih indah di banding Jakarta. Kota yang selalu hidup dengan keramaian tanpa peduli sekitar. Andai kota Bali mau berbagi bahagia nya dengan Han, mungin laki laki dewasa itu tak perlu lagi menangisi mantan calon istri kecil nya.
Untuk sebuah hubungan yang serius dan dewasa memang tidak harus di jalani oleh kita yang berusia dewasa, tapi yang pasti pemikiran kita harus dewasa.
Nyatanya Brenda, hanya seorang gadis belia yang belum bisa membalas cintanya secara dewasa. Brenda dengan mudahnya pasrah dan menyerahkan dirinya untuk kembali pada Bela. Namun, siapa yang bisa mengatur hati seseorang?
-
-
Sampai di rumah mama Brenda masih terus berusaha menenangkan putri nya dari kemarahan yang melanda. Seharusnya mereka ke salon untuk melakukan treatment agar membantu mengurangi stress. Tapi nyata nya malah bertemu Bela, sehingga harus mengalami kejadian yang tak di inginkan.
Brenda begitu tak terima jika keluarganya di hina oleh bela. Walau kondisi keuangan mereka jauh menurun dari sebelumnya, tapi sampai saat ini Brenda hanya pernah menggunakan uang perusahaan untuk membantu pengobatan sang papa. Itu pun hanya sekali, karena setelah itu Bela yang menanggung semuanya.
“Sudah lah Nak, mungkin sudah nasib kita seperti ini. Mama jadi ingat kehidupan kita yang dulu. Kita berangkat dari nol sampai seperti sekarang. Itu berkat sifat ulet papa mu. Papa itu pekerja keras, bukan seperti yang di bicarakan Bela itu.”
__ADS_1
“Ma, sampai kapanpun aku gak rela kalau tante sihir itu menghina keluarga kita. Aku janji mah, aku akan berusaha untuk membantu papa, agar perusahaan kita bisa Berjaya lagi seperti dulu.”
“Iya Mama tahu, kamu anak baik. Terima kasih ya.”
Brenda memilih menghabiskan waktu di rumah. Beberapa investor yang kemarin datang, sudah dalam tahap verifikasi data lebih lanjut. Jika semua nya berjalan lancar, perusahaan Pak Yanto akan kembali normal.
Brenda tertidur di kamar nya masih menggunakan pakaian yang tadi.
‘Iya Om, aku juga cinta sama Om, tapi aku harus bagaimana. Pilihan ini begitu menyakitkan buat aku.’
Dalam tidurnya, isi kepala Brenda ternyata hanyalah Han, Om asisten kesayangannya.
“Baik Ma.”
Malam itu mama Brenda memasak makanan sederhana tapi bisa membuai suasana. Nasi pecel, orek tempe, ayam goreng limau dan sambal.
“Brenda, kalau kamu mau mempertahankan hubungan kamu dengan Han, Mama akan bicarakan lagi ke papa, bagaimana?”
"Tidak, Tidak Ma.”
__ADS_1
“Nak, mama itu mama kamu, mama yang besarin kamu. Mama tahu isi hati anak mama. Memang sakit rasanya. Tapi kamu sudah menunjukkan yang terbaik untuk orang tuamu. Saat nya kamu memikirkan hati mu. Kalau memang cintamu ini begitu menyakitkan, maka hentikan lah. Perasaan mu hanya kamu yang bisa mengontrolnya.”
Brenda mulai merasakan kabut di mata nya. Tak sanggup tenang walau hanya memikirkan apalagi membahas persoalan hati.
“Ma, aku tidak mungkin mengorbankan papa dan perusahaan nya demi keegoisan ku Ma.”
“Ya mama tahu. Kita juga tak mungkin memaksa han harus tetap di pihak kita. Kta hanya perlu menunggu dan melihat seberapa dalam dan serius cinta Han untuk kamu. Cinta akan berjuang dengan sendirinya. Percayalah. Semua akan indah pada waktunya.”
“Ma, aku hanya sakit saat melihat Om berdekatan dengan tante Bela. Aku sakit sekali melihat kedekatan mereka Ma.”
“Nak, mama rasa, kalian harus bertemu dan berbicara dari hati ke hati. Menyusul lah ke Bali jika perlu. Mama masih punya sedikit tabungan. Disana ada Papa, bisa sekalian kamu jaga papa mua agar teratur minum obat."
“Ma….”
“Ya sayang.” Mama Brenda mengangguk tanda setuju, karena memang Ia tak tega melihat raut kesedihan yang terus menempel di wajah putri kesayangannya.
‘Mempertahankannya lebih sulit dari pada yang ku bayangkan. Om, aku ingin menyerah saja.’
__ADS_1