
MENCINTAI OM ASISTEN 56
Bab 56 Gagah nya calon suami ku
Sepanjang meeting berlangsung, Brenda tak melepas pandangannya dari Han. Sosok Han hari ini sungguh berbeda. Han menampilkan aura berbeda dari sebelum sebelumnya. Atau karena Brenda selama ini hanya melihat dan menikmati pertemuan nya dengan Han sebatas urusan cinta. Begitu melihat sisi lain Han, gadis remaja itu sungguh terpesona.
Bahkan Brenda tak mengerti isi meeting dengan baik. Karena sekilas Ia terlihat begitu memperhatikan, tapi isi dalam kepalanya hanya melihat penampilan Han yang begitu gagah memimpin rapat.
‘Aih, gagah nya calon suami ku memimpin rapat.’ Gumam Brenda dalam lamunannya.
“Bagaimana Nona Brenda, apakah semua sesuai?” tanya Han.
“Hah, apanya, ehh, menurut saya oke, dilanjut saja.” Jawab Brenda terbata bata. Ia malu sendiri karena sejak tadi sudah gagal focus pada meeting. Rona merah di pipi Brenda muncul seiring dengan bisik bisik beberapa direktur dan sekertaris mereka.
Terlihat beberapa orang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Pak Han, memangnya ada masalah apa sampai Pak Yanto tidak bisa datang ke kantor. Apakah Pak Yanto berada di luar kota?” ~ bapak A
“Nona Brenda masih kuliah mungkin belum mengerti dengan kondisi perusahaan.” ~ bapak B
“Ya benar, menurut saya, kita atur saja ulang jadwal pertemuan dengan beberapa client. Ya saya bukan mau mengecilkan anda Pak Han, tapi untuk beberapa persetujuan harus di lakukan oleh Pak Yanto sendiri.” ~ bapak C
“Bapak bapak dan rekan rekan sekalian, saya mohon maaf sebelumnya. Terkait kondisi kesehatan Pak Yanto piminan kita yang sedang kurang baik. Makanya Nona Brenda disini untuk mewakilkan jika ada persetujuan yang harus di lakukan oleh beliau sendiri. Saya rasa Nona Brenda yang paling berhak melakukan itu selain Pak Yanto sendiri. Untuk itu saya mohon dengan sangat agar Nona Brenda merasa nyaman akan tempat yang baru untuk beliau.”
Han menundukkan kepala nya seraya menghormati rekan rekannya yang jauh lebih tua dibading dirinya. Brenda pun melakukan hal yang sama kemudian mereka berdua meninggalkan ruang rapat.
“Om, sepertinya Opa diluar sana memandang tak suka padaku. Om liat kan tadi?”
“Mereka berhak menilai, berargumen, tapi kamu yang berkuasa menentukan. Belajar menjadi seorang pemimpin membutuhkan waktu seumur hidup. Kecuali menjadi seorang pemimpi.”
“Om, aku lapar, kita makan dulu yu.”
__ADS_1
“Kita punya waktu satu jam, setelah itu ada investor dari Malaysia, untuk kedatangan Mr Hafiz sudah sangat di tunggu oleh papa kamu. Jadi saya harap kamu bisa menempatkan diri sebagai pengganti pimpinan yang tak bisa hadir.”
“Tapi bener Om, apa kata Opa opa tadi, aku tuh baru masuk kuliah mana jurusannya bisnis managemen, aku bener bener buta dengan bidang perusahaan papa Om. Jujur dengerin Om presentasi aja aku mumet.”
“Brenda, untuk mencapai titik sukses seseorang perlu menjadi pemimpi baru bisa jadi seorang pemimpin. Tapi dalam prosesnya pemimpi juga butuh belajar. Ayo nanti am makan siang kita akan habis.”
Pasrah dengan tempat dan menu makanan yang dipilih oleh Han, Brenda mulai bertanya tanya dalam hati.
‘Apakah setiap hari papa sesibuk ini? Apakah menjadi pemimin sesulit ini? Sekecil apapun kesalahan yang kita buat walau tidak disengaja, selalu pemimpin yang disalahkan.’
“Om, apakah tidak bisa kita menemui pemilik hotel di Bali untuk membicarakan lagi baik baik, aku rela memohon sampai Ia mau berbaik hati memberikan kepanjangan waktu untuk membangun ulang.”
“Kita bisnis sayang, bukan sekedar pacaran. Begini, dalam bisnis tidak ada kata maaf memaafkan. Tidak menggunakan perasaan dan hati. Bisnis itu kejam. Kalau secara pribadi, kamu salah kita pasti saling memaafkan. Sampai disini paham?”
“Terima kasih Om ku yang ganteng mau jelasin panjang dan lebar.”
__ADS_1