MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 32


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 32


Bab 32 Masih ada Bela diantara kita


Wety yang membawa baju ganti segera meminjamkan pada Brenda. Dua wanita itu kemudian keluar dari hotel dan berjalan ke depan untuk menyetop taxi.


Namun karena malam semakin larut, jalanan sudah sepi dan muncul dari ujung jalan mobil pajero sport putih.


“Om asisten?”


“Brenda, kamu gak papa?”


“Om, kok tahu aku disini?” Brenda masih sesekali memegang kepalanya yang terasa berat dan berputar. Namun reaksi obat perangsang itu sudah hampir hilang walau belum normal.


“Tadi saya hampir terlambat nolongin gadis nya nih Mas. Mas nya kemana sih lama amat datengnya." Wety spontan mengomel ke Han.


“Mbak, makasih Mbak.” Han segera menjabat tangan Wety sebagai ucapan terima kasih.


“Om, wajahnya kenapa babak belur gitu?” tanya Brenda dengan polosnya.


“Saya tidak apa apa. Ayo saya antar pulang, Mbak nya ikut aja sekalian, saya antar sampai rumah Mbak.”


“Kak Wety ikut aja, nanti gak aman kalau pulang sendirian, ini udah tengah malam.” Ajak Brenda.


Akhirnya Wety setuju dan diantarkan pulang oleh Han.


“Makasih ya Mas.” Ucap wanita yang perutnya sudah mulai terlihat berisi ketika sampai di rumah.


“Sama sama Mbak, hati hati.” Balas Han.


Setelah Wety turun dari mobil, suasana kembali hening. Baik Han dan Brenda taka da yang memulai percakapan. Suasana canggung tiba tiba menyerang keduanya. Terlebih tadi Han mendengar sendiri Brenda menyatakan cinta pada dirinya.

__ADS_1


"Om, kalau aku pulang dalam keadaan begini, pasti Papa..." Brenda menggantungkan kalimatnya. Ia begitu kalut menghadapi kenyataan. Bukan kenyataan bahwa dirinya hampir di foto telanjang, tapi kenyataan bahwa Papa nya saat ini sudah siaga satu dan siap menerkam nya hidup hidup di depan rumah.


Han yang fokus menyetir tak begitu memperhatikan lawan bicaranya.


"Om, kok diem aja sih?"


"Terus saya harus bagaimana?"


"Yah bantuin dong Om, Om masa tega sih aku di kulitin idup idup tengah malem begini?"


"Saya rasa Pak Yanto tidak separah itu, papa kamu itu hampir tidak pernah marah loh di kantor."


"Gak mungkin Om, Papa aku tuh galak nya minta ampun. Aku kenal gimana watak Papa kalau lagi marah. Please Om bantuin aku." Gadis yang wajahnya memucat itu minta kasihan dan Han paling tidak tega jika ada orang seperti Brenda.


"Lalu saya harus bagaimana?"


"Om, aku nginep di rumah Om aja deh please. Tolong Om kali ini aja." Tangan itu kembali mengatup di depan kening.



Sesampainya di apartemen Han membiarkan Brenda lebih dulu menggunakan kamar mandi di kamarnya. Karena kamar di apartmen itu cuma ada dua. Satu milik Tante Rita dan anaknya yang berkebutuhan khusus, satu lagi milik Han.


Kebetulan kamar Tante Rita terkunci dan Han tidak bisa meminjamkan pakaian untuk Brenda. Akhirnya Han terpaksa meminjamkan kaosnya pada Brenda. Brenda pun menggunakannya dengan cuek. Kaos Han terlihat longgar di tubuh mungil Brenda.


"Om, Tante Rita nya pulang jam berapa?"


"Besok pagi mungkin."


"Oh gitu." Brenda sebenarnya merasa risih karena mendapati situasi dimana Ia hanya tinggal berdua dalam satu atap bersama Om asisten.


"Om, aku tidur di mana?"

__ADS_1


"Ya tentu di kamar, kamu emang ada rencana tidur di koridor?"


"Eh, hehehehe..gak sih Om."


"Tapi...."


"Apalagi?"


"Tapi kamar Tante Rita kan dikunci, kalau aku tidur di kamar, nanti Om tidur dimana?"


"Di sofa."


"Oh gitu. Om...."


Brenda menggantungkan kalimatnya dan gadis itu berjalan mendekati Han yang sedang mengobati luka lebam di wajahnya.


"Kamu tidur sekarang atau saya yang tidur di dalam dan kamu di koridor?"


Tiba tiba Brenda merebut kapas yang sudah di luri betadine dan mengambil alih untuk mengobati luka luka di wajah Han. Ingatnya masih bolong bolong, gadis itu tak jelas mengingat semua kejadian barusan. Tapi Ia tahu, luka di wajah Han harus segera di obati karena wajah rupawan itu akan terlihat tidak sempurna dalam keadaan lebam.


Han hanya sanggup diam, netra nya berpusat pada manik coklat milik Brenda.


"Sudah selesai Om, selamat istirahat dan terima kasih malam ini sudah menolong aku."


"Brenda, apa kamu yakin mau memulai semua ini dengan saya?"


Lama Brenda menatap lekat kedua mata Han, mencari jejak peninggalan sejarah milik Bela. Jujur Ia belum sanggup menebak sepandai apa Han menyembunyikan luka dan cinta di masa lalu nya.


"Om, aku rasa kita tidak bisa memulai apapun kalau masih ada Tante Bela diantara kita."


__ADS_1


__ADS_2