
MENCINTAI OM ASISTEN 72
Bab 72
Pov semalam
‘Hemm, kalau tidur begini pulas mana bisa kita berbagi kehangatan sayang. Setidaknya bangun lah sebentar untuk menghangatkan malam kita. Ini kesempatanku dan mungkin tak datang dua kali.’ Bela menyempatkan mengambil foto dirinya berpelukan dan berciuman dengan Han tanpa busana.
Sampai akhirnya Ia lelah sendiri dan tertidur sembari memeluk tubuh kekar Han.
Pov end
Han tidur begitu lelap. Sampai tak menyadari bahwa kini dirinya kini sudah tak lagi menggunakan pakaian. Berbagi ranjang dengan seorang wanita di selimut yang sama. Laki laki itu mengerjapkan matanya berkali kali berusaha mengumpulkan kepingan ingatan nya semalam. Memandang sekeliling kamar yang kini di huni nya.
Memeluk tubuh mulus milik seorang wanita, entah apa yang terjadi sebelumnya.
“Bel-Bela!” Han berteriak dan bangun dari ranjangnya. Beruntung Ia masih mengenakan celana nya, Ia buru buru memungut kemeja dan segera memakainya.
“Bela bangun! Apa yang kamu lakukan. Kamu benar benar tidak waras Bel! Bangun Bel!” Han marah dan gusar pagi itu. Ia mencari ponsel nya dan memasuki ke saku celana. Ia bergegas pergi dari rumah milik Bela. Tergesa dan tak menghiraukan beberapa pekerja rumah tangga yang menyapa.
__ADS_1
Dengan kepala masih terasa pusing dan berdenyut, Han merutuki dirinya sendiri. Ia benar benar tak ingat apa yang terjadi semalam sebelum Ia memeluk tubuh polos Bela. Ia hanya bisa memukul kemudi untuk melampiaskan kemarahannya.
Seperti biasa, menghubungi Brenda akan berakhir dengan suara wanita yang menjabat sebagai operator sepanjang masa. Begitu mendapati nomor Brenda adalah yang terakhir berada di daftar panggilan semalam, membuat nya gusar bukan kepalang.
Berpacu dengan waktu Han menyempatkan pulang ke apartemennya untuk berganti pakaian kemudian Ia langsung berangkat ke kantor.
Menyadari sudah terlalu lama absen dari pekerjaannya, Pak Yanto bersiap pagi ini menyusul Brenda ke kantor. Sudah terlalu banyak masalah yang di hadapi Brenda tanpa dirinya. Walau terkadang Ia merasa cepat lelah, Papa Brenda tetap bersikeras untuk berangkat ke kantor.
“Papa?” Brenda kaget mendapati sosok pemilik asli ruangan yang kini Ia tempati selama hampir satu bulan terakhir.
“Ih Papa, aku sama mama kan larang papa ke kantor supaya Papa bisa istirahat cukup dan cepat pulih Pa.”
“Brenda, Mama kamu berlebihan. Papa bosan di kamar terus menerus. Papa ingin bisa beraktivitas lagi. Papa sudah merasa sehat Nak.”
“Tapi muka papa masih pucat.”
Tokk
__ADS_1
Tokk
Seperti biasa Han datang mengetuk, lalu langsung membuka pintu ruangan dantak menyangka bahwa penghuni asli sudah bertengger di kursi kebesarannya.
“Brenda, saya harus bicara sama kamu. Saya semalam….”
“Pagi Han.” Sapa Pak Yanto.
“Pa-Pagi Pak. Bapak sudah ke kantor. Apakah Bapak benar benar sudah sehat?”
“Ah kamu Han, apakah kamu akan sama seperti istri dan putri ku, mau melarangku kerja?” pria tua itu berdehem.
“Brenda, sudah waktu nya kamu turun dari pangkuan papa. Papa sudah lama tidak memimpin rapat, papa rindu sekali.”
“Brenda, saya…” ~ Han
“Pa, aku mau temenin papa rapat ya, nanti aku akan membantu papa memeriksa laporan dan siang nanti kita akan makan bersama.” ~ Brenda
Menyadari tak mempunyai kesempatan berbicara berdua dengan Brenda di kantor dan di jam kerja, Han pun menjaga jarak sejenak. Hal ini di lakukan agar Brenda merasa nyaman.
__ADS_1