MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 7


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 7


Bab 7 Janji bertemu


Brenda menyetir kendaraan merah baru nya dengan begitu apik. Memarkirkan mobil nya tepat di pelataran sebuah restoran bernuansa pedesaan. Dari arah pintu masuk sudah terlihat dua sosok wanita beda usia yang sudah datang lebih dulu membuat janji.


“Jeng Nesya, apa kabar?” ( Mama Brenda )


“Jeng Desi, sehat kan? Ini putri Jeng Desi, aduh duh cantik, siapa namanya?” ( Mama nya Kak Wety )


“Siang tante Nesya, aku Brenda tante. Ini pasti Kak Wety ya, salam kenal kak.” Sapa Brenda sopan pada dua orang tamu nya.


“Brenda, kamu masih muda banget, tapi udah keliatan pesona nya ya, luar biasa loh Jeng Desi kamu ini. Kamu tahu Brenda, mama kamu tuh hebat banget ya.”


Brenda melempar senyum yang tak ada habisnya. Setelah memesan minuman dan snack, akhirnya Kak Wety membuka suara lebih dulu.


“Brenda, aku denger kamu itu minat banget jadi model?”


“Eh iya kak, memang dari dulu cita cita aku jadi model. Tapi aku baru lulus sekolah kak, belum ada pengalaman. Kalau boleh sih aku pengen banget belajar dari kak Wety.”


“Ih kamu jangan minder gitu, dari awal barusan kita ketemu aja aku udah lihat potensi di diri kamu yang tidak di miliki oleh semua wanita loh. Kamu cantik, bentuk tubuh juga ideal. Sebenernya di agency aku tuh lagi mencari model model baru, tentu yang masih seumuran kamu sih. Untuk cover majalah.”


“Oh ya? Aku sih mau banget kak, kira kira kapan aku bisa daftar ya kak?”

__ADS_1


“Kalau gitu besok kamu langsung dateng aja ke kantor aku. Management aku baik baik orangnya.”


Lama lama Brenda dan Ka Wety larut dalam obrolan seputar dunia modeling dan agency yang sudah membesarkan nama Kak Wety sampai sekarang.


Menghabiskan waktu dua jam membahas apa saja yang di perlukan untuk menjadi seorang model, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing.


“Hmm ma, gimana kalau sebelum pulang kita mampir dulu ke mall? Aku mau beli baju baru ma, gak banyak sih tapi untuk besok daftar ke kantor agency Kak Wety, aku harus beli baju yang oke kan?”


“Iya sayang terserah kamu saja, judul nya mama ikut aja nemenin kamu.”


“Makasih ya Ma.”


Sesampai nya di mall yang tak jauh dari rumah, tanpa membuang waktu dua wanita beda usia itu lantas ke toko baju, menggunakan uang tabungannya yang selama ini dikumpulkan, gadis itu memilih dua dres yang Ia pikir cukup oke.


Brenda menuruti saran mama nya kemudian kembali masuk ke kamar pas dan mencoba nya, berputar tiga kali di depan cermin, semakin membuat dirinya tak percaya diri mengenakan dres ketat dan terbuka seperti saran sang mama.


“Ma, kayanya gak cocok deh, kalau papa tahu, papa bisa marah.”


“Loh, kan besok mama yang antar kamu daftar, kamu kan tahu papa gimana orangnya, jangan bilang dulu kalau mau daftar jadi model. Nanti saja kalau kamu sudah lolos masuk di agency nya Wety itu, baru kita kasih tahu papa mu.”


“Iya ya, mama bener juga, nanti keburu papa marah, aku malah gak di ijinin untuk jadi model.”


“Iya sayang, lagian jadi model itu biasanya yang berani nunjukkin body goal nya itu lebih cepat terkenal, kamu percaya mama deh. Pelan pelan kita harus mengikuti trend fashion dunia modeling.

__ADS_1


“Mama, makasih banyak, mama selalu support dan ngertiin aku. Aku sayang banget sama mama.”


“Iya, sudah ayo sudah mau sore, nanti dicariin papa loh.”


Akhirnya setelah membayar dua buah pakaian pilihan mama nya, Brenda segera membawa serta sang mama pulang ke rumah.


Benar saja, tak lama tiba di rumah, sang papa pulang dari kantor, seperti biasa papa Brenda akan langsung mencecar pertanyaan pada putri kesayangannya apa saja yang di lakukan seharian.


“Brenda…..Brenda, papa pulang nih kok gak ada yang sambut papa sih?”


“Iya pa, tunggu sebentar.” Terdengar Brenda menjawab sang papa dari dalam kamarnya.


“Pa, papa sudah pulang, ini diminum dulu teh nya pa, ini mama juga bikinin  pisang goreng kesukaan papa. Ayo dimakan mumpung masih hangat.”


“Mama nih, masih selalu inget ya kalau papa suka banget pisang goreng buatan mama.”


“Iya donk pa, cinta itu gak boleh luntur oleh waktu.”


“Ehem, Ehem. Mulai deh gombal gombalan aku gak di ajak.”


Brenda menyerobot duduk di tengah orang tuanya tanpa merasa bersalah. Sementara sepasang suami istri itu hanya bisa menggelengkan kepalanya menyaksikan kelakuan putri kecil yang dulu di ambil nya dari bawah pohon saat tengah malam.


Papa Brenda mengelus pucuk kepala gadis nya dengan penuh kasih sayang. Di kecup kening Brenda lembut. Sejenak bayangannya berlayar ke bayangan sekitar delapan belas tahun yang lalu. Saat suara tangisan bayi Brenda memecah kesunyian desa tempat tinggal suami istri Yanto dan Desi.

__ADS_1


Saat itu Mama Brenda memaksa sang suami untuk pindah dan meninggalkan rumah lamanya. Memulai kehidupan baru nya bersama bayi Brenda yang sangat membutuhkan keluarga. Brenda tumbuh menjadi sosok penyempurna bagi keluarga nya.


__ADS_2